
"Hmm ... mmm...." Kiran
Meronta, berusah melepaskan diri. Tangan Kiran memukul, bahkan mencakar lengan yang jemari pria yang membekap mulutnya. Tak kehabisan akal, dengan tenaga penuh, gadis berlesung pipit itu menyikut perut si pembekap.
Membuat si pria mundur beberapa langkah "Aaww ...!" rintihnya, melepaskan tangan dari mulut Kiran, beralih memegang perut bagian kanan.
Sementara Kiran, membelalakkan mata, tangannya membekap mulut yang sudah membulat sempurna.
"Mas Juna?! Ish, kalau aku jantungan, bagaimana?!" decak Kiran, kesal.
"Galak benar kamu, Yang. Sakit tahu!" Juna mencoba membela diri.
Kiran berkacak pinggang, matanya melotot. Tatapannya terlihat garang saat pipinya memerah, marah.
"Apa kamu bilang, Mas?!"
Tanpa menunggu jawaban Juna, Kiran dengan susah payah melangkahkan kaki di dalam air, mencoba memberi Juna pelajaran. Seakan mendengar alarm tanda bahaya, Juna pun menghindar, mengitari batu besar sebagai pusatnya.
"Ampun, Yang ... ampun!" Sembari berlari kecil, Juna mengangkat kedua tangannya. Melindungi wajahnya, dari percikkan air yang di lontarkan Kiran menggunakan kedua tangannya.
"Aku galak, hah?! Rasakan ini!" gertak Kiran. Menjelang putaran yang ketiga, sesuatu menancap di kaki Kiran, membuat ia mengaduh.
"Aaww ...! Ssshhh ...." ia tampak kesakitan menahan perih. Kiran duduk di atas batu, mengangkat kaki lalu memeriksanya. Ternyata pecahan kaca tengah bertengger manja di ujung jari jempol.
Juna berlari kecil mendekati istrinya. "Sayang, kamu gak apa-apa?" tanya Juna, khawatir.
"Sakit ...," rintih Kiran, saat Juna membantunya mencabut benda lancip berwarna bening, yang menggores jempol kaki tambatan hatinya. Darah segar mengalir, membaur dengan air mengikuti arus. Dengan sangat hati-hati, Juna menyesap cairan kemerahan dengan aroma hanyir nan asin itu. Netranya terpejam, hatinya khusuk melantunkan doa keselamatan untuk istrinya.
Kiran tertegun meresapi ketulusan Juna, tak terasa pipinya hangat oleh tetesan bulir bening dari sudut matanya.
"Semoga ini lebih baik," harap Juna.
Kiran segera mengalihkan pandangan dan menghapus air matanya menggunakan sudut punggung jari telunjuk. Tapi ia terlambat karena Juna sudah menyadari saat tak sengaja pandangan mereka bersirobok.
"Hey, kau menangis?" Tanya Juna. Kiran tak bergeming.
"Apa sesakit itu?" imbuhnya, saat membingkai wajah Kiran dengan kedua tangannya. Juna menyernyitkan dahi, kecemasan tergambar jelas di raut wajahnya. Kiran terdiam, hanya menggelengkan kepala.
"Baiklah, ayo kita naik. Sudah terlalu lama kau bermain air." ajak Juna, saat membopong istrinya itu. Kiran tak berusaha untuk menolak seperti biasanya, bukan karena luka itu membuat ia tak sanggup berjalan. Tapi Kiran masih enggan menyudahi kekagumannya pada Juna. Ia begitu menikmati kehangatan cinta Juna.
Sepanjang perjalanan, Kiran terus saja menengadahkan wajahnya, seakan tiada jemu memandang wajah tampan nan mempesona.
Sadar dipandangi pujaan hatinya, Juna pun salah tingkah, "Jangan memandangku seperti itu. Aku takut kau akan jatuh," ucap Juna, tanpa menatap Kiran.
"A-apa ...?" Kiran tergagap layaknya pencuri yang tertangkap basah. Memerah wajahnya bak delima, kerana malu dan tersipu. Kendati demikian, ia malah mengeratkan tangannya yang mengalung di leher Juna, saat suaminya mengatakan kata jatuh.
__ADS_1
"Aku takut kau akan jatuh, jatuh hati padaku," lanjut Juna.
Senyum Kiran kembali merekah menampakkan deretan gigi gingsul taring yang menggemaskan. Saat ia tersenyum, lesung pipitnya akan menambah kadar manis nan ayu.
"Kau berat juga ya, Yang!" ucap Juna, diiringi tawa dari keduanya.
****
Disenderkannya tubuh Kiran, di bawah rindang pohon nangka. Begitu teduh saat semilir angin menerpa.
"Kamu tunggu di sini ya, Yang! Aku ambil minum sebentar," pinta Juna, sesaat setelah selesai membalut luka Kiran, menggunakan kain perca, yang didapat dari merobek bajunya.
Kiran memandangi punggung lelakinya, semakin lama semakin menjauh dan kemudian hilang di balik gubug. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dilihatnya bunga-bunga ilalang berayun tersapu angin. Tak jauh dari ilalang, kembang rumput gelagah juga melambai-lambai seakan ingin dipetik.
Gadis itu menghampiri rumpunan ilalang. Memetik beberapa tangkai bunganya, memetik sekuntum kembang gelagah yang baru merekah. Disusunnya bunga-bunga itu, lalu mengikatnya dengan beberapa lembar daun dan batang ilalang, sehingga menyerupai bucket bunga nan indah.
Saat menggapai pohon Gapahlhan dan mengambil beberapa daunnya untuk melengkapi bucket bunga, Kiran terpeleset dan terjengkang ke belakang. Beruntung Juna datang tepat waktu, hingga sempat menangkap tubuh Kiran sebelum menyentuh tanah.
"Kamu bener-benar keras kepala ya, Yang," bisik Juna, tepat di telinga Kiran.
"A-ku ... a-ku ...." Kiran terbata menanggapi ucapan Juna.
"Duduklah!" Juna kemudian memotek beberapa tangkai pucuk Gapahlhan lalu memberikannya pada Kiran. Ia mengambil beberapa lembar daunnya, kemudian memamahnya.
"Bagaimana rasanya, enak?" tanya Kiran, penasaran.
Kiran yang penasaran, ikut mencoba mengunyah sedikit daun Gapahlhan. Air mukanya berubah lucu saat indra pengecapnya merasakan getir dengan aroma yang langu dan sengir.
"Bleeehh ... Brrrtt ...." Kiran melepehkan kunyahannya. Lalu menjulur-julurkan lidah untuk mengurangi rasa getir. Juna tampak berdecak, berulang kali menggelengkan kepala.
"Ck ... ck ... benar-benar keras kepala kamu, Yang," gumam Juna.
Gadis berwajah bulat bak rembulan itu, meraih tangan Juna seraya mengucap "Terima kasih ...."
"Untuk?" tanya Juna.
"Untuk cintamu," jawab Kiran, lirih.
Juna meremas lembut tangan Kiran, lalu mengecup mesra kening pujaan hatinya. Kemudian merengkuhnya penuh haru.
"Kenapa kau begitu mencintaiku, Mas?" Kiran mendongak demi menatap Juna.
Juna melonggarkan dekapannya.
"Kau istriku, sudah selayaknya aku mencintaimu," jawab Juna, dengan tatapan lurus ke depan, memandang riak aliran sungai yang seakan bernyanyi.
__ADS_1
"Bukan itu maksudku," ujar Kiran mengerucutkan bibir. Tangannya asyik mengais tanah menggunakan sebilah ranting.
"Apa cinta butuh alasan?" tanya Juna, kini ia mengalihkan pandangannya, mencabut beberapa batang kembang suket.
"Seorang wanita itu, dinikahi karena empat hal. Kecantikannya, hartanya, keturunannya serta agamanya. dari empat itu, yang mana menjadi alasannya?" Kiran menjawab pertanyaan Juna, dengan kembali melontarkan pertanyaan.
"Lalu menurutmu, yang mana pilihanku?" Juna balik bertanya.
"Jika cantik menjadi alasan, lalu apa aku tidak berhak mencintaimu saat kecantikanmu sudah mulai memudar termakan usia?" Kiran terdiam. Sedang Juna nampak serius memilin batang-batang suket.
"Lalu jika harta menjadi patokan, bukankah setelah aku mengucapkan ikrar, sepenuhnya lahir dan batinmu, menjadi tanggung jawabku?" Kiran kembali termangu.
"Kemudian jika keturunan menjadi landasan, bukankah aku melamarmu, saat diri ini bertandang untuk pertama kalinya mengenal ayah dan ibumu?" Lagi-lagi Kiran tak bisa berkata-kata. Ia menyesali pertanyaan bodoh yang dilontarkannya.
"Aku tak tahu siapa sebenarnya orang tuamu. Apakah ustadz, atau kyai atau justru malah pengusaha?" imbuhnya lagi. Batang-batang suket itu, kini sudah terbentuk menjadi sebuah lingkaran dengan mahkota di atasnya.
"Yang aku tahu, aku mencintai seorang gadis. Tidak perduli status sosialnya, tidak tahu bagaimana dia. Karena bagiku, cinta itu tak butuh alasan dan tanpa syarat," jelas Juna sembari menghapus air mata yang sudah menganak sungai di pipi Kiran.
"Ulurkan tanganmu!" pinta Juna. Kiran mengulurkan tangannya, lalu Juna menyematkan cincin rumput di jari manisnya.
"Happy birthday, Sayang," ucap Juna.
"Ehm ... thank you," jawab Kiran, tersenyum lucu.
*ilustrasi
"Kita pulang sekarang!" ajak Kiran. Gadis itu beranjak meninggalkan bucket bunga buatannya. Menyadari hal itu, Juna kembali menarik tangan gadisnya.
"Hey ...!" Kiran menoleh ke belakang. Tersenyum geli saat mendapati Juna sedang bersimpuh, tangan kanannya memegang bucket bunga.
"Will you marry, me?" pinta Juna diiringi senyuman termanisnya. Terkekeh Kiran menerima bucket itu, lalu menghempaskan tepat di wajah Juna.
"Kita sudah menikah, Bodoh!!" cetus Kiran mempercepat langkahnya.
Kiran, kenapa sulit sekali untukmu berkata 'ohh ... so sweet' lirih Juna, kesal.
"Hey ... lukamu?!" teriak Juna, pada gadisnya yang semakin menjauh. Kiran terhenti, menyadari lukanya sudah tak terasa nyeri.
Wow ... Amazing, gumamnya.
****
Maafkan author yang tak menemukan bahasa indonesia untuk kata "sengir dan langu" mohon krisannya 💪
__ADS_1
Jempolmu, memotivasiku.😊