Pesona Sang Mantan

Pesona Sang Mantan
Libur Akhir Tahun


__ADS_3

Matahari seakan tak kasat mata, ketika gelapnya malam mulai menyapa. Tapi kita masih bisa merasakan bias cahayanya melalui sinar bulan. Begitu pula dengan cinta yang terpatri dalam jiwa. Tak terlihat, namun akan nampak nyata dalam netra.


Begitu dalam engkau mencintainya, Mas. Hingga setiap rindu yang membelenggu hanya untuknya. Lirih, tersembunyi di balik seulas senyuman palsu.


Semakin nyeri saat tawa gadis kecilnya nyaring, mengalahkan gema deburan ombak yang menghantam batu karang.


Ragamu memang di sini bersama kami, Mas. Tapi entah kemana hatimu menepi. Alea bergumam lirih, tersenyum tipis saat menyaksikan kebersamaan Diandra bersama Ayahnya. Berlari mengitari pohon dengan seribu manfaat yang selalu menjadi iconic setiap pantai.


Butiran pasir yang lembut seakan memanjakan setiap langkah Alea, menyusuri pantai. Puas kakinya melangkah, kini Ia bersimpuh memandang birunya samudera. Menghirup aroma laut dengan campuran garam yang menguar.


Buih-buih air laut berkilauan memantulkan cahaya matahari. Layaknya kilauan mutiara yang terombang-ambing di tepian pantai, lantas menyapu jari-jemari Alea, yang kini termenung dengan tangan memeluk lutut. Sesekali ia mengukir sesuatu di atas pasir. Sesaat kemudian, hilang tersapu ombak.


Kadang kala sang bayu berdesir, menyibak helai demi helai rambut panjangnya. Seakan angin pun turut mengerti perasaan Alea.


"Mama ... cini!" teriak Diandra, melambaikan tangan mungilnya.


Hmmmhhh ....


Alea menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghempaskannya dengan kasar. Kemudian bibir itu melengkung indah, mengiring langkahnya ketika beranjak.


"Iya, Sayang, pengen maen apa?" Alea bersimpuh, agar sejajar dengan tinggi bocah berusia tiga tahun itu.


"Kita mau bikin iccana, Ma," jawab Diandra masih cadel di beberapa kata. Dengan menggunakan sekop, tangannya sangat cekatan mengeruk pasir hingga menggunung.


"Dah banyak, Yah. epetan bikin!" titahnya, menyerahkan sekop pada Dion.


"Lah, kok jadi Ayah yang bikin?" tanya Dion, menyipitkan mata lalu melipat kedua tangan.


"Ayah cama Mama lah, Andla capek abis angkutin pacil dua gunung." jawabnya, dengan nafas dipaksakan seolah tersengal. Membuat kedua orangtuanya terpingkal.


"Ha ... ha ... Dasar! Anak pinter," puji Dion, mengacak rambut Diandra yang ikal bergelombang.


"Baiklah. Ayo Ma, kita selesaikan perintah tuan putri." Tanpa memandang istrinya, Dion kemudian membuat petak demi petak ruangan dari istana pasir, yang akan diciptakannya. Alea pun dengan sigap mendekorasi ruangan demi ruangan, menggunakan cangkang kerang dan kolomang yang ia kumpulkan saat menyusuri pantai. Sedangkan Diandra, merebahkan tubuh gempalnya di hamparan pasir. Menikmati hangatnya sinar surya yang meresap dalam kulit. Dipandanginya sang mentari, dari balik kaca mata hitam yang dikenakannya sejak tadi. Ia begitu takjub dengan benda langit terbesar, dalam tata surya kita.


"Mama, matahali itu apa?" tanya Diandra penasaran.


"Matahari itu adalah sumber kehidupan di bumi ini, Sayang," jawab Alea.


"Seperti halnya Diandra, adalah sumber kehidupan mama," imbuhnya


"Benalkah? Andla seperti matahali?" tanyanya lagi.


"Bukan seperti, tapi memang kamu adalah matahari." Dion ikut menimpali. Diandra tampak kebingungan dengan menyernyitkan kedua alisnya.


"Mataharinya Ayah dan Mama." imbuh Dion menjelaskan.

__ADS_1


"Hore ... Andla jadi matahali," seru Diandra. senyum mengembang di antara ketiganya.


Sebuah istana pasir sederhana, sedikit lagi rampung. Tinggal merapikan salah satu sisinya. Baik Alea maupun Dion terlihat semakin antusias, memadatkan pasir dan mencetaknya menyerupai pilar dengan ujungnya yang meruncing. Hingga tak sengaja kedua tangan itu saling menyentuh, menciptakan gejolak di hati Alea. Kedua pasang mata, serempak saling menatap, kemudian saling menyembunyikan senyum di balik wajah yang merunduk.


"Yeeyy ... udah jadi! Ini kulsi buat laja dan latunya," tutur gadis cilik bermanik hazel seraya meletakkan dua buah pecahan batu karang.


"Siapa yang jadi raja dan ratunya?" tanya Dion mencubit gemas hidung lancip Diandra. Sedangkan Alea, memang tak banyak bicara.


"Ayah cama Mama. Andla yang jadi putli malunya," jawabnya polos. Sontak saja membuat suasana semakin semarak dengan gelak tawa.


"Ayah, pulang dali cini Andla mau naik ambulan, boleh ya!" pintanya.


"Ambulan?!" tanya Alea heran.


"He'em." Diandra menganggukkan kepalanya.


"Mobil dengan sirine ninu-ninu? Kini giliran Dion yang mengajukan pertanyaan.


"ukan, Yah, ambulan." Diandra berdiri, kemudian melompat seraya berkata "Jump ... jump ...!"


"Ha ... ha ... itu trambolin, Sayang," jelas Dion, menggelengkan kepala.


"Ohh ... bukan ambulan ya, Yah, ambolin yak? Iya itu, Yah, Andla mau." Diandra pun berlari memeluk ibunya.


"Oleh kan, Ma?" Wajahnya menengadah, memohon kepada Alea. Memperlihatkan wajah polos dengan dipenuhi senyum dan disertai kerlingan mata genit. benar-benar menggemaskan, membuat Alea tak bisa menolaknya.


"Yeeyy ...!" seru Diandra, melompat kegirangan. Membuat kedua orangtuanya saling pandang.


"Terimakasih, Mas," ucap Alea.


Dion tersenyum dan membelai pucuk kepala Alea, kemudian beranjak menyusul Diandra.


Ya Tuhan, harus sampai kapan ...? keluhnya.


****


Di belahan bumi yang lain ....


"Nanti kita mampir ke rumah Tiar ya, Yang!" Juna melipat kain persegi panjang bergambar masjid, dengan rumbai-rumbai menghiasi sisi atas dan bawahnya. Kemudian melarak Hoodie dan mengenakannya.


"Oke, tapi apa harus berangkat sepagi ini?" tanya Kiran, memperhatikan jam tangannya. Saat ini menunjukkan pukul 04.30.


"Iya, Sayang. Perjalanan ke kota butuh waktu 1 jam. Keburu siang nanti panas." Juna menyimpulkan dua ujung tali sepatunya. Sedang Kiran mengenakan sepasang kaos olahraga berbahan Diadora, dengan warna pink dilengkapi dengan 3 garis melintang berwarna putih sebagai coraknya.


"Pakai ini," titah Juna, mengalungkan selembar pasmina turkey sebagi syal.

__ADS_1


"Supaya gak dingin," imbuhnya.


****


Membelah hutan di pagi buta, adalah momen yang tak kalah mencekam dari sedekar membaca novel horor favorit Kiran. Pasalnya, suara binatang-binatang terik masih terdengar nyaring. Ladang serta bebukitan masih terselimuti oleh kabut. Jangan tanyakan berapa jarak pandangnya, karena memang matahari masih enggan menampakkan diri sehingga dinginnya udara begitu nyata menggigit tulang.


"Hooaahhmm ... aku ngantuk." Kiran melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Juna.


"Dasar tukang tidur!" goda Juna melalui spion motor. Kiran hanya terkekeh kecil. Semakin mengeratkan rengkuhannya dengan kepala bersandar di punggungnya.


"Yang, ini jalanan. Jangan sampai konsentrasiku buyar karena ulahmu! Bisa bahaya nanti," cerocos Juna.


"Ha ... ha ... Dasar mesum!" Kiran melonggarkan pelukannya lalu menjitak helm yang dikenakan Juna. Keduanya tertawa. Sesaat kemudian, Juna kembali mengeratkan pelukan Kiran seraya mengusap jemarinya. Sedang tangan satunya begitu piawai mengendalikan kemudi.


"Hari ini aku akan membawamu, ketempat yang akan mengukir kenangan kita," ucap Juna menoleh ke belakang, mempersembahkan senyuman.


"Sungguh?" tanya Kiran antusias.


"Emh ...." Juna menganggukkan kepalanya.


"Apa kita akan nonton?" Kiran mencoba menebak.


"Tidak."


"Kulineran?" Kiran tak menyerah.


"No ... no ... no ...." Juna mengangkat telunjuknya dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri.


"Shoping?"


"Tidak," jawab Juna ketus


Kiran tampak berpikir keras. Terlihat ia menempelkan ujung telunjuknya di kening kemudian diketuk-ketuknya.


"Lalu kemana? Ke museum?"


"Salah lagi," jawab Juna semakin membuat istrinya penasaran.


Sebenarnya tempat apa yang kau maksud, Juna.


"Haahh ...." Mata Kiran membulat, dengan kedua tangan menutup bibirnya yang sudah menganga.


"Jangan-jangan kita mau ke pantai?"


****

__ADS_1


Hayoo ... siapa yang bacanya ikutan dicadel-cadelin?😂 jangan lupa untuk meninggalkan like dan komen. terimakasih😊


__ADS_2