Pesona Sang Mantan

Pesona Sang Mantan
Tak ada Akhlak


__ADS_3

Akan selalu menguar semerbak wangi, meskipun dari kuntum mawar berduri.


Pun takkan surut hasrat menguntai manik-manik hati, meskipun pertikaian selalu menghiasi.


Setelah merapikan pekerjaannya, Kiran dan Juna menemui pak satpam untuk laporan.


"Pak semuanya sudah beres, peralatan juga sudah kami kembalikan ke tempatnya masing-masing." Juna tersenyum ramah. Sementara Kiran hanya mengangguk.


"Baik! Kalian boleh ambil sepeda kalian." Jemari bapak paruh baya itu mengarah di mana tempat ia meletakkan sepeda Kiejoon.


"Silahkan pak diperiksa dulu," ucap Juna.


"Ohh ... itu pasti." Pak satpam meninggalkan keduanya.


****


"Sayang, ini untukmu." Juna memasangkan untaian kuntum-kuntum bunga mawar dan zinnia, menjadi sebuah mahkota nan indah.


"So ... sweet." Rona merah di pipi Kiran menandakan ia sedang tersipu.


Sementara di tempat lain, security memeriksa pekerjaan keduanya.


Hmm ... bagus, rapih. Ia berbicara dengan dirinya sendiri.


"Dari mana kau dapatkan ini, Mas," tanya Kiran penasaran asal mahkota bunga itu.


"Akan aku ceritakan nanti, sekarang cepat naik dan kita pergi dari sini!" jelas Juna.


Baru saja kaki akan menginjak dan hendak mengayuh pedal sepeda, suara lantang menembus gendang telinga.


"JUNAA ...!!" teriak pak satpam, saat menyadari deretan bunga mawar beraneka warna, gundul tanpa mahkota.


"Da ... Dah ...!!" Juna melambaikan tangan ke arah petugas keamanan. Pak satpam yang berang, segera mengambil langkah seribu. Menyambar kunci motor, lalu bergegas mengejar Juna. Terjadilah aksi kejar-kejaran yang cukup heroik.


Juna yang hanya berjarak beberapa meter dari petugas keamanan, menemui kegamangan saat dihadapkan dengan persimpangan jalan di depannya.


"Kanan ... kiri. Kanan apa kiri?" Juna menggerakkan jari telunjuknya sesuai arahan yang diucapkannya. Sementara pak satpam semakin dekat di belakang mereka.


"Mas, pak satpam semakin dekat. Cepat putuskan!" perintah Kiran.


"Okey, kiri." Juna memutuskan berbelok ke kiri dan mengayuh sepedanya dengan kekuatan penuh. Melewati jalan bebatuan dan berkelok.


Sementara pak satpam tersenyum miring. Ia tidak mempercepat laju motornya. Mengetahui ruas jalan yang dipilih Juna ternyata buntu. Tentu tidak sulit untuk menangkap mereka, pikirnya.


Setengah perjalanan, pak satpam dibuat kagum oleh dua orang berhijab berjalan beriringan menyapanya.


"Permisi pak," ucap salah satu dari mereka. Berparas cantik, teduh dengan lesung pipit tertutup sisi hoodie yang menutupi kepalanya.


"Oh, iya silahkan, Cah ayu," jawabnya mempersilahkan.


Bapak paruh baya berkumis tebal itu tersenyum, menggelengkan kepala, kagum.


Kok ya masih ada pemudi yang ramah lagi santun zaman sekarang, gumamnya pelan.


Satu di antaranya memiliki segurat tanda lahir berwarna coklat. Ia mengulum senyum menawan dengan kerlingan mata genitnya. Sesaat membuat hati pak satpam ingin merasakan khilaf, yang langsung tersadar dengan tujuannya. Ia kembali memacu kendaraan beroda dua dengan kecepatan sedang.


Sesampainya di ujung jalan buntu, bapak perperawakan tinggi besar itu celingukan, seperti kehilangan sesuatu. Kehilangan jejak Kiejoon.


Belgedesh! Kemana hilangnya bocah tengik itu, umpatnya.


Ia termenung, berpikir dan menganalisa ke mana kira-kira perginya mereka. Sementara ini jalan buntu. "Mana mungkin mereka bisa terbang? Atau ... jangan-jangan, mereka menghilang? Ahh ... tidak mungkin!" racaunya. Ia kembali termenung lalu tersentak saat mencapai titik temu.


"Astaga ...!"


*flashback on*


"Yah ... jalan buntu, Yang," ujar Juna.

__ADS_1


"Lalu bagaimana, Mas?" Kiran tampak begitu cemasnya.


"Mau tidak mau, kita harus kembali." Juna mengambil keputusan dalam waktu singkat.


"Kita akan menyerahkan diri kepada pak sipir itu?!" teriak Kiran tak setuju.


"Tidak untuk menyerahkan diri, tapi untuk mengelabuhi," jelas Juna, melepas hoodie miliknya.


"Kemarikan pasminamu, dan gunakan ini," perintah Juna, memberikan sweater dengan tudung kepala untuk Kiran.


Tanpa berpikir panjang, Kiran memberikan pasminanya, lalu segera memakai hoodie pemberian suaminya.


"Cantik gak?" tanya Juna setelah siap dengan pasminanya, lalu tersenyum genit dan berlenggak-lenggok. Kiran tak mampu menyembunyikan tawanya.


"Ssttt ... jangan berisik, nanti dia curiga!" ucap Juna membekap mulut Kiran.


"Pakai ini!" pinta Juna memasangkan tudung ke kepala Kiran.


"Lalu ini?" tanya Kiran mengangkat mahkota bunganya.


"Taruh saja di keranjang depan!" perintah Juna.


Kemudian mereka berjalan beriringan, menuntun sepeda gunung sambil bercengkrama. Kiran yang banyak bicara, sedang Juna hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Permisi pak," ucap Kiran cemas tapi dibuatnya agar setenang mungkin. Langkah Juna yang begitu gemulai tak membuat pak satpam curiga. Melihat hal itu, jiwa jail Juna bergejolak. Ia mengulum senyum dan mengerlingkan mata menggoda pak satpam dan berhasil mengecohnya.


Misi selesai!


*Flasback off*


"Cepet, Yang, cepet!" pinta Juna agar Kiran segera menaiki sepedanya.


Kiran langsung mendaratkan bo*ongnya pada besi melintang, lalu Juna mulai mengayuh kembali sepedanya.


"Astaga ...! Mereka membodohiku, lagi?!" tanya petugas keamanan pada dirinya sendiri.


"Dasar tak ada akhlak! Berani-beraninya mengecoh orang tua!" umpatnya melupakan beberapa menit yang lalu, ia memuji keramahan keduanya, bahkan sempat tergoda kerlingan mata Juna.


Kali ini si kumis tebal kembali mengejar sepasang suami istri itu dengan kecepatan tinggi. Ia tidak mau kalah untuk ketiga kalinya.


Juna yang selalu waspada bercampur panik ternyata mengambil ruas jalan yang salah. Jalanan yang ia pilih ternyata sebuah tanjakan tajam. Semakin ia mengayuh sepedanya, semakin terasa berat dan akhir, menyerah. Mereka menuntun sepeda dengan tertatih menggunakan sisa-sisa tenaga yang ada.


Sementara pak satpam sudah tak perduli dengan mereka.


"Terserah kalian saja!" ujarnya menyerah dan kembali ke taman tempat ia bekerja.


****


Selama tiga puluh menit mereka berjalan, kaki sudah mulai mengejang. Melewati padang rumput luas berbukit dengan beberapa bendera tertancap pada setiap hole.


Sekitar 500 meter meninggalkan lapangan golf, berdiri tegap sebuah bangunan besar layaknya benteng dengan tinggi menjulang mencakar langit. Masyarakat sekitar menamainya dengan sebutan Gudang Banyu. Berdasarkan fungsinya mengatur aliran air dari PDAM.


"Yang, kita istirahat dulu ya!" ajak Juna menunjuk sebuah saung pinggir jalan. Sepi tanpa penghuni.


"Iya, Mas, pak sipir juga gak bakalan ngejar sampai sini juga." Kiran terengah-engah memegang lutut.


"Ya sudah, kamu duduk dulu, Yang. Aku akan membeli minuman," saran Juna, menunjuk sebuah warung di ujung jalan.


****


"Bang, air mineral 2," pinta Juna kepada pemilik warung.


"Sepuluh ribu, Mas," balas pemilik warung.


Juna mengulurkan uang pecahan dua puluh ribu.


"Kembaliannya roti saja, Bang, kalau ada."

__ADS_1


Pemilik warung memasukkan 2 potong roti sobek dalam kantong belanjaan Juna.


Mata Juna memindai setiap ruas jalan. Sepertinya asing baginya.


"Mas, bukan orang sini ya?" tanya pemilik warung seakan mengerti gundah hati pemuda di hadapannya.


"Iya Bang, kalau boleh tahu, ini daerah mana ya?" tanya Juna sopan.


"Ini Langitan, Mas. Orang menyebutnya Negeri di atas awan." Juna manggut-manggut mendengar penuturan pemuda yang tak lebih muda darinya.


"Lihat! Kamu pasti dari dunia bawah sana." Pemuda itu menunjuk jalanan menurun, nampak atap-atap gedung menjulang di selimuti oleh gumpalan kapas raksasa.


Juna tampak terkejut, ia tersesat terlalu jauh.


Apa aku sedang berada di lapisan pertama langit? pikirnya.


Lalu bagaimana caranya aku kembali ke dunia? gumamnya dalam hati.


"Seperti bagaimana kamu datang kemari, Mas. Begitu pula caramu kembali," jawab pemuda itu, seakan mampu membaca pikiran orang.


"Siapa namamu, Bang?" tanya Juna.


"Irsyad." Ia tersenyum manis.


"Baiklah, Bang Irsyad, terima kasih," pamit Juna menepuk pundak Irsyad.


"Hati-hati di jalan!" pintanya, sebelum Juna melangkah pergi.


"Hey, siapa namamu?!" teriak Irsyad, saat Juna sudah mulai menjauh.


"Juna, Bang!" teriak Juna menjawab.


****


Menuju di mana Kiran singgah, pikiran Juna berkecamuk.


Aku gak mungkin memberi tahu Kiran jika kami tersesat, pikir Juna.


Kenapa tersesat sampai ke pelataran negeri atas awan? Apa gerbang ghaib itu benar-benar nyata? gumamnya lagi.


Bang Irsyad bilang, bagaimana caraku datang, begitu pula caraku kembali. Sedang aku tak sempat menghapal berapa kali aku menjumpai persimpangan, pertigaan bahkan perempatan. Ia berkeluh kesah.


Aahh ... seandainya jalanan ini lurus seperti jal tol, mungkin tak akan serumit ini, desahnya.


"Mas, baik-baik saja?" tanya Kiran khawatir melihat wajah Juna yang nampak pucat.


"Em ... gak apa-apa, Sayang. Ini minumnya. Sementara kita makan roti dulu ya!" Juna menyerahkan sebotol air mineral dan sepotong roti.


"Sepertinya kita tersesat, Mas," ucap Kiran setelah meneguk minumannya. Juna hanya terdiam.


"Sekarang bagaimana?" Kiran kembali bertanya seraya mengunyah roti.


"Kamu tenang saja, Sayang, kau lupa ini kota kelahiranku?" jawab Juna setenang mungkin. Kiran tersenyum menanggapinya.


"Baiklah, kita tinggal jalan saja lurus ke depan. Tak lama lagi kita sampai di kota," ucap Juna mengayuh sepedanya.


Sepanjang perjalanan, hanya pepohonan jati yang di jumpai. Ukurannya memang tidak terlalu besar. Tower provider menjulang, itu pun hanya satu. Jangan tanya hunian, bahkan hewan pun tak dijumpainya.


Sepertinya mas Juna semakin jauh tersesat, firasat Kiran tak enak.


****


readers, bagaimana caranya Juna kembali ke bumi? ada saran?


like dan komenmuu selalu aku tunggu.😘


kritik dan saran, dipersilahkan.

__ADS_1


__ADS_2