Pesona Sang Mantan

Pesona Sang Mantan
Zombie si Tulang Belulang


__ADS_3

"Aarrgghhh ... sial."


Dion tampak beberapa kali mengacak rambutnya kasar.


Dia menendang kursi yang tadi diduduki oleh Juna, sembari mengumpat "Breng*sek ...!!'


"Apa katanya tadi? Mantan adalah tulang belulang? Berani sekali dia. Kau belum tahu saja Juna. Tulang Belulang yang kau maksud, kini sudah menjadi zombie yang akan merebut kembali cintanya." Dion meracau, dengan geramnya.


"Kiraaan ...!!" Teriaknya, tanpa peduli bahwa dia saat ini menjadi pusat perhatian.


***


Di belahan bumi yang lain ....


Pov Juna


Kemenanganku mematahkan pernyataan Dion, tidak bisa kuanggapnya sebagai kemenangan telak. Pasalnya Dion bukanlah orang yang mudah menyerah, dan mustahil Dion tidak mengetahui bahwa Kiran sudah bersuami. Karena kami turut mengiriminya undangan saat pernikahan kami. Dan Dion sepertinya tak main-main ingin merebut Kiran dariku. Oo ... timdak semudah itu Aliandrooh!


Srreeenng ....


Klontang ... klonteng!


Suara penggorengan beradu dengan sosodet (spatulla) mengocek nasi dengan campuran bumbu cinta di dalamnya. Haha ....


Kali ini aku bangun lebih awal demi membuat sarapan untuk bidadariku. Sesekali memanjakannya, tidak akan meruntuhkan wibawaku sebagai seorang suami bukan? hehe


"Auuww panas." Pekikku terkena cipratan minyak.


Tahan Juna, ini tidak lebih panas dari kemarin. Gumamku.


Aku menyadari ada sepasang mata mengawasi dan berusaha menahan tawa, ia hanya terkekeh. Aku mengabaikannya pura-pura tak melihatnya. Sampai akhirnya, kepala itu bersandar di punggungku dan tangan mungilnya melingkar di pinggangku.


"Adek sudah bangun?" tanyaku, membelai tangan halusnya. Ia hanya mengangguk. Mungkin kantuk enggan pergi dari matanya.

__ADS_1


"Mas sudah siapkan sarapan. Mas bikin nasi goreng cinta, lengkap dengan telor ceplok," ucapku, memutar badan untuk menatapnya. Kubingkai wajahnya dengan jemariku. Betapa lucu dan menawannya wanita mungil ini. Membuatku ingin terus memanjakannya.


Cup ....


Aku mengecup keningnya dan merengkuh tubuhnya dalam dekapanku.


"Sebentar lagi adzan subuh, segera mandi lalu sholat. Setelah itu kita sarapan bareng," ujarku kemudian, disertai senyum manis.


"Males mandi ah, Mas, bosen," ujarnya, memajukan bibirnya lalu dilipatnya bibir bagian atas. Sungguh menggemaskan makhluk yang satu ini.


"Bosen?" tanyaku heran. Ia mengangguk


"Iya, gerakannya itu-itu melulu. Gosok gigi, sabunan terus keramas" Ia kembali terkekeh. Sadarlah kini aku sedang di kerjainya. Baiklah, rasakan pembalasanku Esmiraldah ....


"Bosen ya, gerakannya itu-itu mulu?


Hmm." Aku menaik turunkan sebelah alisku.


Tanpa persetujuan darinya, aku membopongnya ke kamar mandi. Membuatnya terlonjak kaget.


"Iya ... iya aku mandi, tapi lepasin dulu! Mas ...!!" Ia teriak sambil terus meronta, sedang aku tak bergeming. Malah menatapnya lekat.


Ceklek ....


Pintu telah terkunci.


"Iya aku mandi Mas. Mas, keluar ya, aku malu," ujarnya, mendorong tubuhku. Bukannya beranjak, aku malah mendekapnya semakin erat dengan tangan kiriku. Sedang tangan kananku bergerak menyalakan shower.


Seerrrtt ....


Guyuran air shower bagai rinai hujan yang menambah indah setiap lekuk wajahnya, entah berapa kali sudah ku telan saliva.


Kutautkan rambut yang terurai menutupi telinganya. "Sekarang bagaimana?" Bisikku lembut ke telinganya. Bukan bisikan, lebih tepatnya desahan. Jujur saja, rasanya aku sudah tak tahan dengan hasrat dalam jiwa.

__ADS_1


Tak ku dengar jawaban darinya, selain hanya wajahnya yang mendongak ke atas serta matanya yang terpejam menikmati setiap sentuhan yang kuberikan.


Tanganku sudah puas bergerilya, saat menanggalkan semua pakaiannya.


'Emmhhh ....' desahnya, ketika bibir ini asyik menyesapi sesuatu yang mungil nan mencuat itu. Membakar inginku untuk segera berlayar kembali mengarungi samudera cintanya, lalu tenggelam bersamanya.


****


"Sayang aku barangkat ya, kamu hati-hati di rumah," pamitku. Rasanya berat untuk meninggalkannya. Padahal hanya 8 jam saja aku bekerja.


"Hati-hati, Mas," ucapnya, saat mencium punggung tanganku. Ku kecup keningnya lama sekali seakan tak ingin beranjak.


"I love you, Honey."


"Love you too, Mas."


Sesaat kemudian ....


"Kenapa masih berdiri saja, segeralah berangkat! Nanti Mas, terlambat."


"Ada yang ketinggalan, Dek." Aku pura-pura meraba kantong baju dan mengusap pipiku.


"Dompet sudah, kunci motor sudah, helm ada. Hndphone?" selidiknya,


"Ada," jawabku.


Lalu apa yang ketinggalan?" tanyanya, agak sedikit bingung.


"Cium?" Aku mengangkat sebelah alisku lalu menempelkan telunjuk ke pipi, tak ketinggalan seulas senyum, ku persembahkan.


"Iihh ...." Ia tersipu lalu menyubit pinggangku. Sebelum akhirnya menghujaniku dengan kecupan. pipinya yang memerah semakin membuatku gemas.


Ya Tuhan, aku titipkan ia padaMu. Jangan biarkan seseorang merenggutnya dariku.

__ADS_1


****


Mohon krisannya, dan minta like nya yaa untuk apresiasinya


__ADS_2