
Pagi yang cerah.
Langit tampak mengharu biru. Awan bak gumpalan kapas yang tergelung. Sinar mentari terasa hangat tapi tak menyengat. Cuitan burung serta cicitan anak ayam saling bersahutan menambah riuh suasana pagi hari di kota Hujan ini.
Semilir angin berhembus lirih, begitu sejuk menelusup celah-celah dinding yang terbuat dari anyaman kulit bambu.
'Emmmhhh ....' Kiran menggeliat dari tidurnya, disebelahnya sudah duduk seorang Arjuna yang sejak tadi memandangi wajah polosnya ketika terlelap.
"Sudah bangun, Sayang?" Tanya Juna membelai wajah Kiran, menyematkan ke telinga, beberapa helai rambut yang menghalangi pandangan Kiran. Lalu kemudian mengusap pipi halus itu dengan ibu jarinya.
Kiran tersipu malu. Tersenyum tipis, tangannya menelusup kebelakang pinggang Juna dan membenamkan kepalanya dalam pelukan Juna.
"Mas mau ke kebun bareng Abah ya, mau lihat tanaman durian yang kemarin," ijin Juna, membelai rambut Kiran.
"Mas, aku pengen bakso," ucap Kiran manja, setengah merajuk. Persis seperti anak kecil.
"Ia, nanti agak siangan ya," jawab Juna, mencubit pucuk hidung Kiran.
"Sekarang mandi dulu, terus sarapan." Juna menunjuk nampan berisi segelas penuh susu dan dua lembar roti tawar yang sudah diolesi selai kacang.
"Siap komandan." Dirapatkannya kelima jari Kiran, lalu diangkatnya menyentuh pelipis. Juna hanya terkekeh gemas.
****
"Sayang," panggil Juna, hening. Sekali dua kali dipanggilnya, tak jua ada jawaban dari orang yang dipanggilnya.
"Sayang ... kamu di mana?!" Juna mulai panik. Ia membuka pintu kamar, tak dijumpai istrinya. Setengah berlari menuju dapur sembari terus memanggil nama istrinya.
"Kiran ...! Sayang, kamu di mana?!" Teriaknya lagi.
"Ada Mas, aku di sini." Juna segera menuju asal suara, tak jauh dari pekarangan rumah belakang, terlihat Kiran sedang menyemai biji-biji bayam dan kangkung pada gundukan tanah, tidak terlalu lebar tapi memanjang.
"Kau di sini? Ku pikir ke mana," ucap Juna dengan perasaan lega.
Kiran segera menghampiri Juna. Di pinggangnya terdapat sebuah bakul yang diapit oleh tangan kanannya. Bakul itu berisi beberapa sayur mayur, seperti kangkung dan beberapa buah terung.
"Mas pikir aku hilang, hm?" tanya Kiran, menggoda Juna.
"Aku takut kamu tersesat," jawab Juna tersenyum malu.
"Justru aku ingin tersesat, Mas." Juna tercengang mendengar jawaban Kiran.
"Tersesat di hatimu," lanjut Kiran dengan tersipu malu.
"Berani ya ... godain Mas." Juna mengangkat dagu Kiran dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Segera siap-siap! Kita beli bakso," ajak Juna.
__ADS_1
****
"Mas mie ayam satu," ucap Juna pada penjual bakso.
"Yang, kamu mau apa? Bakso atau Mie?" tanya Juna pada Kiran.
Kiran yang sedang asyik dengan 'telepon pintar' menimpali "Nanti saja, Mas, aku sedang berbalas pesan dengan adek." Sesekali ia meneguk teh botol dingin.
"Tadi bilang pengen bakso," protes Juna.
"Iya, Mas, nanti ya!" Kiran tersenyum, menggoda Juna.
"Ini ada kabar bahagia, Mas, Alhmdulillah dek Dewi sudah lahiran." Kiran tersenyum menunjukkan foto baby girl yang dikirim adek perempuannya sore tadi.
"Alhamdulillah, Normal apa Sesar, Yang?" tanya Juna.
Juna memang Antusias kalau mendengar orang lahiran. Yang di tanya pertama kali pasti 'Normal apa Sesar' bedanya apa coba, sama-sama lahiran ini.
"Normal, Mas, beratnya 2500g. Ihh Unyu-unyu gemesin. Besok adek mau pulang ya, Mas! Pengen gendong," bujuk Kiran penuh harap.
"Nanti aja, Dek, sekalian mudik lebaran. Jauh ... capek, kasihan kamunya. Lagipula supaya gak bolak-balik," jawab Juna.
"Ehh, by the way, Mas inget gak, temen Mas yang rumahnya depan Masjid? Dia juga baru kemarin lahiran lagi tahu." Kiran mencoba mengalihan topik pembicaraan.
"Siapa tuh dek?" Juna seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Anaknya cewek juga Mas. Bahagianya mbak Mila sudah punya 2 pasang keturunan." Kiran tersenyum membayangkan sedang menimang seorang bayi, Seperti yang mereka rasakan.
"Waduuh, dia kan udah 3 anaknya. Jadi 4 dong sekarang. Beranak Mulu, Demen amat ngeden." Cerocos Juna.
"Ih, Mas, melahirkan, Mas, bukan beranak. Emang kucing?" Cetus Kiran kemudian.
Seperti ada rasa sakit saat Juna mengatakan hal yang kurang pantas. Bukan cemburu, tapi lebih sakit hati sesama wanita
Dengan wajah masam, Kiran memesan makanannya "Mas, bakso beranak satu."
"By the way, tadi adek bilang bakso beranak, itu lahirannya normal apa ceasar?" Tanya Juna diiringi cengiran kuda.
"Mas Juuuneeedd!! Eh salah mas Juunaaaa!!" Teriak Kiran membahana. Sebelum kemudian melengos, membuang muka.
****
Malam tanpa bintang ....
Pov: Kiran
"Mas, ngapain?"
__ADS_1
"Ehh, Adek, ini lagi goreng tanah."
Jawab suamiku diiringi suara pan lempung beradu dengan jodohnya.
"Buat apa? Tumben-tumbenan."
Keningku menyernyit hampir menyatukan kedua alis yang seakan melepas rindu.
"Biar gembur sayang, supaya tanahnya subur."
Mataku terbelalak mendengar alasannya.
"Haaahhh... bagaimana ceritanya, tanah di goreng supaya gembur?" Tanyaku sambil terus memicingkan mata, menopang dagu (mikir_red)
"Metode dari abah, Dek, Jadi ceritanya begini, tadi sore mas pergi ke kebon kita, dan ternyata durian yang mas tanam hari sabtu lalu mati."
Kami memang membeli sebidang tanah. Dan rencananya akan ditanami buah-buahan. Dan mas lagi senang-senangnya bercocok tanam
"Kebetulan ada abah sedang di kebon. Mas tanya, kenapa kok durian mas mati ya bah?."
"Waahh, Mas, ini mah tanahnya goreng."
"Tanahnya goreng, Bah?"
"He'eh". Menirukan gaya ngomong abah.
"Makanya sekarang mas lagi goreng tanah".
" Gustiiii nu Aguung"
*tepok jidat*
"Maksudna teh lain digoreng taneuhna, Akaaaang!!"
"Lha pripun, Dek?"
"Maksud abah, tanahnya kurang subur untuk ditanami."
"Ohh jadi mas salah lagi ya, Dek?"
"Salah lah Bambaannngg...!!"
Ini kesekian kalinya dia salah mengerti.
Note: Malu bertanya sesat dijalan.
tinggalkan like untukku yaa supaya lebih semangat😍😍
__ADS_1