
Setiap lelaki identik dengan gengsinya.
Pun begitu dengan wanita, identik dengan insting-nya.
"Baiklah, kita tinggal jalan saja lurus ke depan. Tak lama lagi kita sampai di kota," ucap Juna mengayuh sepedanya.
Sepanjang perjalanan, hanya pepohonan jati yang dijumpai. Ukurannya memang tidak terlalu besar. Tower provider menjulang, itu pun hanya satu. Jangan tanya hunian, bahkan hewan pun tak dijumpainya.
Sepertinya mas Juna semakin jauh tersesat, firasat Kiran tak enak.
"Mas, berhenti sebentar!" Kiran menepuk pundak Juna.
"Kenapa?" tanya Juna.
"Aku haus." Kiran menghabiskan minumnya yang tinggal setengah lagi.
"Mas, yang nggowes sepeda gantian ya! Aku capek duduk dibonceng terus," ucap Kiran manja.
"Gantian ya, biar gak kram tuh otak yang di dengkul!" sambung Kiran. Juna menatap Kiran tajam. Sedang Kiran, sibuk menyobek kantong plastik lalu menariknya menjadi seutas tali.
Menyadari ada salah dalam perkataannya, Kiran meralat kembali ucapannya, "Otot, Mas, maksudku otot yang di dengkul!"
"Ayoyyoy ... mulut jahat! mulut jahat!" rutuk Kiran menepuk-nepuk bibirnya.
Juna terpingkal melihat kelakuan istrinya.
"Okey, kamu yakin?" tanya Juna ragu.
"Tenang saja, Mas. Aku sudah biasa bersepeda dengan berbagai medan." Tangan Kiran sangat cekatan mengaitkan smartphone-nya di besi kemudi, lalu diikat dengan tali buatannya.
Menyadari ada yang aneh dengan wanita berhidung mancung itu, Juna bertanya "Kenapa smarphone-mu di taruh di situ? nanti jatuh!"
"Oh, ini ... anu, Mas, aku gak punya saku. Lagi pula, aku ingin tahu berapa jarak tempuh kita untuk sampai ke kota," kilah Kiran.
"Jadi, aku gunakan untuk menghitung jarak," sambungnya lagi.
Tanpa berfikir panjang, Juna berdiri di antara roda belakang, dengan bertumpu pada jalu yang di pasang di sisi kanan dan kiri roda. Sepanjang perjalanan, Kiran lebih banyak bicara.
"Jadi, mahkota itu yang menjadi sebab pak sipir ngejar kita? tanya Kiran. Juna menceritakan semuanya, mereka terpingkal mengingat kelakuan Juna. Kaki Kiran begitu piawai mengayuh sepeda.
hingga suaminya tak menyadari bahwa Kiran telah berbelok arah.
Sepanjang perjalanan, mereka lalui dengan bercerita dan bercanda ria. Istri Juna menceritakan pengalaman pertamanya saat belajar mengayuh sepeda. Beberapa kali terjatuh, entah itu di parit, ataupun jalanan berbatu. Luka lebam dan berdarah, sudah menjadi teman setia ketika berpetualang.
Sampai akhirnya, Juna dikejutkan oleh Kiran yang berhenti di perempatan. Di tengahnya ada sebuah tugu menjulang, dengan burung garuda berada di puncak.
Dikelilingi beberapa patung pahlawan.
"Gantian lagi ya, Mas!" pinta Kiran, menyerahkan kemudi pada Juna.
"Lumayan capek, ya!" sambungnya.
Juna menurut meski ia masih terpaku.
Kita sudah kembali ke bumi? Bagaimana bisa Kiran mengetahui jalan pulang sementara aku tidak? pikirnya.
Kiran mengambil handphone-nya, kemudian ditaruhnya di atas keranjang.
Lalu ia bertukar tempat dengan Juna.
"Aku akan selalu ada di belakangmu, sambil terus memelukmu," ucap Kiran dengan genitnya.
****
Semburat jingga tengah menghilang tertutup pekatnya malam.
Lampu-lampu jalan menyinari seiring dengan cahaya bulan purnama.
__ADS_1
"Hai ... Tyar," sapa Kiran, pada pemuda yang sedang duduk di kursi teras.
"Kalian baru pulang?" tanyanya tanpa menoleh. Matanya sedang fokus pada layar 6 inchi yang dipegang dengan kedua tangannya.
"Hmm ...." keduanya hanya mengangguk.
"Aku ke kamar mandi dulu ya!" ijin Kiran.
Tyar beranjak dari duduknya, "Di dalam ada ibuku, mari aku kenalkan pada ibu!" ajak Tyar pada Kiran. Mereka berjalan memasuki ruang utama.
"Jun, kamu mandi di kamar aku aja!" perintah Tyar pada Juna. Di dalam kamar utama, terdapat kamar mandi.
"Ehh ... ono tamu. Wilujeng rawuh," sambut ibu Tyar.
"Kanjeng ibu!" sapa Juna, mencium punggung tangan wanita paruh baya.
"Juna, piye kabarmu, Le?"
"Sehat, Kanjeng ibu."
"Kanjeng ibu, tepangaken meniko Kiran." Tyar memperkenalkan wanita yang menjadi istri Juna.
"Kiran, Tante," ucap Kiran memperkenalkan diri.
"Wis panggil ae, kanjeng ibu, biar lebih akrab!" jawab ibunya Tyar.
"Iki calonmu, Nang?" tanya wanita yang sudah melahirkan Tyar, 28 tahun yang lalu.
"Enggeh, Kanjeng ibu. Menawi sampun pisahan kalih Juna," jawab Tyar bergurau.
Juna menyikut perut Tyar, "Aw! Bercanda kali, Jun!" kilah Tyar.
"Gak lucu!" bentak Juna.
"Owalah, garwane Juna tah? Pinter Juna pilih garwo." Ibu Tyar tersenyum, memuji Juna.
"Juna ki wis seperti keluarga sendiri." Ibu Tyar memberikan ultimatum.
"Sono mandi, Lo! Udah bau cuka, tahu gak, Lo!" perintah Tyar pada Juna.
"Bawel amat sih, Lo!" Juna berlenggang meninggalkan Tyar.
Baru beberapa menit berlalu, kepala Juna menyembul dari pintu kamar. "Gue pinjem baju lo, ya!" ijin Juna. Tyar mengangguk seraya mata masih fokus pada game online-nya.
****
Di tempat yang berbeda, Kiran begitu anggun mengenakan kebaya khas Jawa modern, dipadu dengan kain jarit instan yang melilit di pinggangnya. Gemerlap manik-manik payet terlihat kontras berpadu kulit putih pualam miliknya.
"Kamu ayu tenan, Nduk," ucap kanjeng ibu takjub.
"Ayo kita ke ruang makan!" ajaknya.
Kanjeng ibu menjelaskan setiap menu masakannya. Kiran mendengarkannya dengan seksama. Sesekali terukir senyum dari bibir keduanya. Dari berbagai macam menu masakan kanjeng ibu, Kiran hanya terpaku pada sambel dong telo. Daun ubi jalar yang di rebus, kemudian dimakan dengan cara dicocol sambal yang diberu sedikit perasan jeruk nipis dan kerupuk sebagai pelengkap.
"Yo wis, kamu makan dulu, yo! Kanjeng Ibu tak nimbali tiyang kakung." Ada segurat kekecewaan pada wajah kanjeng ibu, dengan menu yang dipilih Kiran.
"Lo tahu gak, Bro? Pemilik warung itu bilang, itu daerah Langitan. Negeri atas awan," cerita Juna terkagum-kagum.
"Dari situ, dunia kita diselimuti oleh awan. Keren pokoknya, Bro!" Wajah Tyar nampak datar menanggapi cerita Juna.
"Tapi anehnya, Kiran tahu jalan pulang, sedangkan aku saja lupa berapa kali melewati persimpangan. Berapa kali tanjakannya dan turunannya." Juna terlihat bingung.
"Ternyata penduduk langit, lebih cerdas dan mempunyai kemampuan lebih, Bro!" Tyar tetap pada posisinya, sesekali keningnya berkerut.
"Dia bisa baca pikiran gue." Suami Kiran nampak bangga dengan pengalamannya.
"Saat gue pikir gimana cara pulangnya, dia bilang sama seperti kamu datang. Keren gak tuh, padahal gue ngomongnya dalam hati." Juna masih berapi-api dalam bercerita. Kini Tyar kembali fokus pada layar smarphone-nya.
__ADS_1
"Kalau gak salah inget, pemilik warung itu ...." Juna berusaha mengingat sesuatu.
"Namanya Irsyad," sambung Tyar. Juna terkejut dibuatnya.
"Memasuki daerah Langitan, maka yang pertama kita temui adalah kedainya Irsyad. Dia temen SMA gue dulu," jelas Tyar.
"Smartphone Lo udah pinter, Lo nya jangan kalah cerdas," cerocos Tyar.
Juna dibuatnya termangu.
"Langitan yang Lo maksud adalah nama desa. Memang julukannya Negeri atas awan, karena lokasinya perbukitan. Jadi lebih tinggi dari Kota," jelas Tyar. Juna menyimaknya dengan teliti.
"Jadi?" tanya Juna.
"Kenapa Kiran tahu jalan pulang? Itu karena dia menggunakan goegle maps. Makanya hape dia di taruh di stang sepeda," imbuhnya.
"A-apa?!" Juna terbata.
Kurang ajar si Irsyad berani-beraninya ngerjain gue, geram Juna dalam hatinya. Tangan kananya mengepal lalu ditinjukannya pada telapak tangan kiri
"Irsyad gak salah, Lo nya aja yang kurang cerdas," timpal Tyar seakan mendengar gumamannya.
"Kok, Lo ...?" Juna tak menyelesaikan kalimatnya.
"Membaca pikiran itu gampang, asal kita paham ekspresi wajahnya," ucap Tyar
"Untung punya bini pinter. Udah cantik, smart lagi. Malang amat nasibmu, Kiran." Tyar menggoda Juna.
"TYAR ...!!" Juna menggenggam kerah baju Tyar, lalu diangkatnya ke atas. Saat ingin melayangkan tinjunya karena geram, terdengar ketukan pintu.
Juna melepaskan cengkramnya, sedang Tyar merapikan bajunya lalu membuka pintu. Ternyata kanjeng ibu yang datang.
"Ayo madang disik, Nang!" ajak kanjeng ibu.
"Juna, opo Kiran kuwi lagi diet?" tanya ibu Tyar.
"Mboten, Kanjeng ibu," jawabnya.
"Yo wis, kamu duluan yo, Le," pinta kanjeng ibu pada Juna.
Juna melangkah menuju ruang makan, diikuti oleh kanjeng ibu dan juga Tyar.
Sesampainya di ruang makan, Juna kaget melihat Kiran makan hanya menggunakan sambel dan kerupuk. Juna kemudian mengambilkan sepotong daging rendang, dan menuangkan sesendok kuah opor.
"Makan yang banyak, Yang. Anggap rumah sendiri," ucap Juna membelai pucuk kepala Kiran.
"Gak usah, Mas, tadi Kanjeng ibu bilang jangan."
*flash back on ....
"Ayo kita ke ruang makan!" ajak kanjeng ibu.
"Kanjeng ibu masak wuakih, lha iki Jangan ... Lombok." Kanjeng ibu menunjukkan sayur santan dengan irisan cabe hijau, bercampur tahu tempe yang dipotong dadu lalu beberapa tusuk ikan asap.
"Nek iki Jangan ... berlemak. Orang Kota ngomonge rendang," jelas kanjeng ibu, untuk sayur khas masakan padang.
"Lha ... iki, sambel dong telo. Mantul dimaem karo sego anget, cocol sambel jeruk." Kanjeng ibu menyendokkan nasi ke piring Kiran.
"Orang Indonesia kalau makan, ini gak ketinggalan." Kanjeng ibu mengangkat sebungkus krupuk. Orang Blora, menyebutnya kerupuk Bandung.
*flashback off ....
"Owalah ... Nduk, Nduk. Ngapurane sing akeh, Kanjeng ibu gak pinter bahasa Indonesia," ucap kanjeng ibu, disambut semarak tawa dari semuanya.
*****
Note: Jangan dalam bahasa Jawa berarti sayur๐
__ADS_1
Guys, pas aku nulis sambel dong telo, aku sampe ngecees๐๐. Jadi kangen kampung halaman. Semoga sehat-sehat selalu buat keluarga di kampung.
Segenap keluarga Pesona Sang Mantan mengucapkan Taqobballohu minna waminkum, taqobbal yaa Kariim. Mohon maaf lahir dan batin.๐๐