
Setelah menyusuri hutan dan ladang jagung selama kurang lebih setengah jam, Juna menepikan bebek besinya di pelataran sebuah rumah besar yang disangga dengan empat tiang kayu besar nan kokoh.
Berbentuk seperti pendopo khas keraton Jawa, dengan papan kayu jati sebagai dindingnya. Dilengkapi pagar kayu yang mengitari, tetapi hanya sebatas teras.
*ilustrasi
Di dalam teras terdapat 3 buah kursi mengelilingi meja kecil minimalis, cukup untuk menerima dua orang tamu.
"Yar ... Tyar ...!"
Juna berulang kali berteriak memanggil empunya rumah, setelah mengucap salam tentunya. Ini adalah teriakannya yang kelima.
"Yang, kamu duduk sini dulu, ya!" pinta Juna, menarik sebuah kursi untuk Kiran duduk.
"Sepertinya tuh bocah masih molor," imbuhnya.
"Mas," ucap Kiran ragu, menghentikan langkah Juna.
"Kamu tenang saja, aku sudah biasa keluar masuk rumah ini," jawab Juna, meyakinkan Kiran.
Lima menit setelah kepergian Juna, seorang pemuda datang dengan menggunakan jersey PERSIKABA lengkap dengan sepatu futsal, sedang berlari-lari kecil tepat di belakang Kiran. Sepertinya ia pulang jogging. Terlihat dari jersey-nya yang kuyup oleh keringat. Ia celingukan ke kanan dan ke kiri. Karena merasa tak mengenali siapakah gerangan wanita yang duduk di hadapannya, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk menyapa.
"Ehm. Cari si-apa ya ...?" Tyar terbata lalu termangu bersamaan saat Kiran memalingkan wajah, menatap Tyar.
Tuhan secepat inikah Kau turunkan bidadari untukku? sambil menelan liur sendiri, Tyar bergumam dalam hati. Tyar terpaku lalu mengingat doa yang dipanjatkannya di sepertiga malam.
Oh Tuhan, aku memang meminta salah satu dari keempat jatahku. Tapi ini terlalu cepat Tuhan. Aku belum ada modal buat resepsinya. Tyar kembali berbicara pada dirinya sendiri. Seolah sedang bernegosiasi dengan Sang Pemberi.
"Ehm ... Hai, Kau Tyar?" tanya Kiran, tersenyum ramah. Tyar mengangguk tanpa suara dan masih terpaku.
"Aku Kiran." Kiran mengulurkan tangan, memperkenalkan diri.
Pemuda tampan dengan badan atletis itu, seakan berat untuk sekedar menggerakkan tangannya.
Sepasang mata yang mengawasi mereka, tak tahan ketika jiwa usilnya meronta, saat menyaksikan uluran tangan istrinya tak bersambut.
"Hai, Kiran, aku Juna. Senang berkenalan denganmu." Juna membungkukkan badan seraya mencium punggung tangan Kiran, membuat Tyar membulatkan mata tak percaya.
Tak percaya bahwa sahabatnya ada di sini, dihadapannya. Dan tak percaya Juna seberani itu terhadap gadis yang dikiranya, jodoh kiriman Tuhan.
"Eh jurig! Maen serobot aja, Lu. Gak ada sopan-sopannya," cerocos Tyar.
"Maaf ya, si Juna memang kayak gitu orangnya," imbuhnya.
"Siapa tadi ... Kiran, ya?" Tyar mencoba mengingat sebuah nama.
__ADS_1
"Lagian sejak kapan, Lu, ada di rumah gue jurig. Udah kek jailangkung, Lu, datang gak diundang!" oceh Tyar menatap Juna tajam
"Tapi pulang diantar, kan?" Juna menaik turunkan alisnya, menggoda Tyar.
"Gak lucu," jawab Tyar kesal.
"Barusan gue datengnya, gue teriakin gak ada keluar, yaudah gue masuk aja. Mau gue guyur pakai air, dipikir masih molor, Lu," jelas Juna.
Tyar melirik tangan Juna yang masih menggenggam jemari Kiran.
"Udah-udah lepas, gandengan mulu kek truck gandeng. Haram! Tau gak, Lu?" Tyar melerai dua tangan yang saling terpaut.
"Apa salahnya coba? Pegang tangan bini sendiri," gumam Juna bersamaan ketika Tyar beranjak ingin mengambil minum.
"Gue am-bil min ...." Tyar menggantung kalimatnya, saat mendengar Juna bergumam.
"Apa, Lu, bilang ... Bini? Istri?" tekan Tyar meyakinkan dirinya sendiri. Juna mengangguk.
"Iya, gue ke sini mau ngenalin istri gue." Juna tersenyum lebar.
Tuhan, sesaat Kau membuat hatiku jatuh cinta. Dan seketika pula Kau mematahkannya. Terlihat sendu di wajah Tyar. Gurat keputusasaan tergambar nyata.
"Kenapa nikah, Lu, gak ngundang gue?"
Tyar berkacak pinggang.
"Oh ... iya ... iya, gue inget. Yaudah gue ambil minum dulu buat kalian," ucap Tyar kemudian.
"Gak usah lah, gue mau minjem sepeda, Lu, yak," ijin Juna, menepuk pundak Tyar.
"Sepeda? Buat apa?" tanya Tyar bingung.
"Mau ajak dia ke Taman Kota," bisik Juna tepat di telinga Tyar.
"Oh ... ambil sendiri di belakang ya!" titah Tyar.
"Oke." Juna mengacungkan jempol kanannya.
"Ayo, Sayang," ajak Juna, menarik tangan Kiran menuju garasi Tyar.
"Pamit, Mas." Kiran tersenyum manis.
Sepeninggal KiJun (Kiran dan Juna) Tyar tampak luruh ke kursi. Tangannya mengepal di dada, merasakan sesak yang teramat dalam. Seakan sedang meratapi, tapi entah apa yang dia ratapi.
****
"Mas, kenapa kita pakai sepeda?" tanya Kiran.
__ADS_1
Ia sudah mulai tak nyaman duduk di besi yang membentang, dengan kepala bersandar pada dada bidang Juna. Wajahnya yang menengadah, membuat konsentrasi Juna sedikit terganggu.
"Yang, syal-mu aja sudah cukup mengganggu," ucap Juna menjentikkan pasmina turkey yang berkibar tersapu angin.
"Jangan kau tambah dengan baby face-mu yang menggemaskan ini," imbuhnya lagi, sambil terus mengayuh sepeda gunung milik Tyar.
*ilustrasi
"Dasar! Jaka sembung bawa golok." Kiran membuang muka dan menutup rapat-rapat bibirnya.
Juna tertawa seraya berkata "Motor gak bisa masuk, Sayang." Kemudian mengecup puncak kepala Kiran.
Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai di sebuah Taman Kota. Taman yang dipenuhi dengan ratusan macam bunga. Dengan jalanan setapak, dihiasi dengan batuan dekoratif. Selain terlihat apik, juga memberi manfaat relaksasi jika kita melewatinya tanpa alas kaki.
Terdapat pula beberapa set kursi, untuk sekedar bercengkrama bagi para pengunjung.
"Wah, ini indah sekali, Mas," ucap Kiran takjub. Seulas senyuman mengembang di wajah Juna.
"Hmmhhh ...." Kiran merentangkan kedua tangannya dan memejamkan mata. Menikmati semerbak harum aneka bunga yang bermekaran. Perlahan ia berjalan dengan tangan masih merentang. Membelai dan menciumi setiap kuntum bunga mawar dengan aneka warna.
Kini pandangannya tertawan oleh kawanan kupu-kupu yang berayun, menghisap serbuk sari bunga Zinnia, disebut bunga kertas dalam bahasa kita. Terkadang mereka berkejaran satu sama lainnya. Kawanan kupu-kupu itu, semakin terlihat indah dengan corak serta warna yang berbeda.
*ilustrasi.
"Yang, duduk sini!" ajak Juna menepuk papan ayunan yang dihiasi oleh tumbuhan jalar. Menjuntai indah meski terbuat dari plastik.
Kiran tersenyum menghampiri Juna, kemudia segera duduk di tempat yang ditunjuk Juna.
"Terima kasih untuk hari ini," ucap Kiran bahagia. Tangannya memegang seutas tali pegangan yang terhubung di kanan dan kiri ayunan.
"Kamu senang?" tanya Juna.
"Hari ini milikmu, maka nikmatilah." Juna mulai mendorong ayunan. Perlahan tapi pasti, papan duduk menggantung itu berayun semakin lama semakin tinggi.
"Mas! Cukup! Tolong jangan tinggi-tinggi!" rengek Kiran, ketakutan.
"Aku sudah tidak mendorongnya, Sayang," jawab Juna mengangkat kedua tangannya. Kiran yang ketakutan semakin histeris.
"Aahh ...!!" teriaknya.
"Mas ...!" Kiran menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Tolong hentikan!"
__ADS_1
****