Petualangan Cinta Pulau Impian

Petualangan Cinta Pulau Impian
Selembar Kertas


__ADS_3

[27 Juli 2011 - Pukul 11.30]


Siang hari di musim panas, memang saat yang pas menikmati es krim vanilla favoritku. Karena tidak ingin sekedar membayangkan es krim itu mengalir perlahan di kerongkonganku yang tandus, toko 24 jam di pinggir jalan menjadi incaranku siang ini.


Penjaga kasir membungkukkan badan dengan sopan seperti biasanya.


“Terima kasih,” ucapnya ramah seraya tersenyum padaku.


Kubalas membungkuk dengan seulas senyuman.


Dengan langkah pelan, kuhampiri pintu toko sambil membuka plastik kemasan es krim favoritku. Sudah tidak sabar membasahi bagian yang hampir kering di pangkal lidah ini. Tangan kiriku terjulur hendak mendorong pintu. Aku terkejut, ada yang memegang bahu kananku. Secara cepat, tubuhku menoleh ke belakang. Tangan itu langsung terlepas dari bahuku.


Seorang kakek tua dengan janggut putih lebat menutupi dada. Postur tubuhnya seperti Santa, dengan pakaian yang berbeda tentunya. Ia mengeluarkan kertas—dalam keadaan terlipat—dari saku kiri celananya. Menatapku sesaat, lalu mengulurkan tangannya di hadapanku. Tidak berkata apa-apa, mimik wajahnya membuatku paham—ingin memberikan kertas itu padaku. Tangan kananku bergerak, menerimanya. Kemudian kakek tua itu langsung mendorong pintu toko, dan pergi meninggalkanku begitu saja tanpa sepatah kata pun.


Pertemuan yang terasa begitu singkat, aku lupa menanyakan ‘Ini kertas apa?’ dan ‘Kakek siapa?’. Entahlah, mungkin hanya selembar brosur potongan harga atau lowongan pekerjaan. Aku mulai sibuk menghabiskan es krim di tangan yang perlahan mulai mencair, membuatku sedikit mengacuhkan kertas yang baru saja kakek itu berikan.


Dengan langkah kecil seraya menikmati dinginnya es krim, kususuri jalan menuju rumah. Di sudut jalan yang sedikit berkerikil ini, banyak himawari yang sudah bermekaran. Suara ribut serangga yang bisa mencapai 120 desibel—terdengar bising—menandakan suhu udara semakin panas. Di sebelah kananku, terlihat para petani sibuk memanen sayuran di sawah yang luasnya kira-kira satu per tiga dari desa tempat tinggalku ini. Langkahku terhenti, lalu menoleh ke arah bangunan yang berada di sudut kiri jalan.


Kedai kopi.


Aku berdiri tepat di hadapannya. Memandang tanpa ekspresi. Bayangan memori masa lalu sekilas muncul di hadapanku. Peristiwa itu merebut semuanya, termasuk kediamanku yang kini berubah menjadi kedai kopi. Aku kembali melangkah dan berbelok ke kiri setelah melewati dua rumah.


Tak terasa, es krim vanillaku cepat sekali habis. Fokusku kembali teralih pada selembar kertas—dalam keadaan terlipat—pemberian kakek tua yang masih kugenggam di tangan kiriku. Saat hendak membuka kertas itu, tiba-tiba seseorang memanggil namaku. Seketika itu aku menoleh ke arah datangnya suara.


“Kouga? Ada apa?”


Dia berlari menghampiriku sambil membawa dua keranjang sayuran.


“I-ini untukmu, baru dipanen. Semoga bermanfaat. Terimalah,” ucapnya sambil menyelaraskan nafas.


Dua keranjang itu terisi penuh oleh mentimun dan tomat.


“Untukku? Apa tidak terlalu banyak?!”


“Tidak. Akan kuantar ke rumah,” ujarnya seraya melangkahkan kaki.


“Eh? Tunggu, terimakasih, ya! Biar kubantu bawakan keranjangnya!”



Kouga Sato—sahabatku, berasal dari keluarga petani. Tinggal berdua bersama ayahnya. Kami satu sekolah, dia juga teman sekelasku. Kouga anak yang baik, pemberani, dan jago bertarung. Anak yang gigih serta pekerja keras, terlihat dari raut wajahnya.


Sesampainya di rumah aku langsung membuka alas kaki. “Bibi, aku pulang!” sahutku memberi salam.


“Akhirnya kau datang!” sahut seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik ruang keluarga.


“Hah! Sedang apa kau di sini?”


Rei membuatku terkejut. Dia berjalan mendekat, lalu melirik ke arah Kouga yang masih berdiri di sampingku seraya berseru, “Baru saja ingin mengajakmu ke sini! Kita sedang membicarakan liburan musim panas.” Menepuk-nepuk bahu Kouga. “Bergabunglah, yang lain sudah menunggu!”


“Dan kau ....” Rei menatap ke arahku. “Masih punya urusan denganku!” sambungnya.


“Akan kutaruh keranjangnya di dapur. Kalian berdua jangan bertengkar. Aku tunggu di dalam.” Kouga berjalan pergi meninggalkan kami.


“Urusan? Urusan apa?” tanyaku masih belum paham.


“Kau mencoret-coret buku tugasku, kan?!” Rei menunjukkan bukunya di hadapanku.


“I-iya!” jawabku cepat. “Itu balasan karena kau menaruh potongan tangan palsu di balik selimutku!”


“Oh itu, hahaha! Kau sudah tahu, ya! Bhahaha! Bagaimana? Bagus, kan?” ledek Rei sambil tak henti-hentinya tertawa.


“Ish, dasar menyebalkan! Gara-gara kau, selama 3 hari aku tidur di kamar Natsu!”


"Hhaha—HEHHHH?!!" sontak Rei terkejut di sela-sela bahaknya. "T-tunggu! Kau dengan Natsu?!!" Buku tugas Rei terjatuh. Kedua tangannya langsung memegang bahuku, mendorong tubuhku hingga membentur dinding.


"Eh! Memangnya kenapa?! Aku hanya tidur di kasurnya!"


"Kau tidur dikasurnya?!!"


"I-iya! Saat itu paman dan bibi sedang melakukan perjalanan bisnis, jadi—"


"Bahkan perjalanan bisnis?!!"


"Ish, kenapa kau terus berteriak?! Bibi tidak ada, jadi aku lari ke kamar Natsu. Karena sangat ketakutan, Natsu pun mengalah dan tidur menggunakan futon. Itu semua salahmu—"


"Hahhhh ... futon, ya." Rei merunduk sambil menghembuskan nafas. "Tapi, kenapa bukan dengan Akiko atau Yukiko??" selidik Rei.


"Natsu saja sudah cukup, kan," jawabku cepat.


Rei memalingkan wajah. "Tch, Natsu bodoh itu bahkan menerimanya begitu saja?!" gumam Rei tampak kesal.


"Ada apa?! Awas saja jika kau melakukannya lagi!"


Rei kembali menatapku cepat. "Kupastikan itu yang terakhir," ucapnya serius.


"Baiklah! Sekarang lepaskan tanganmu, aku mau masuk!"



Rei Takahashi—dia selalu membuatku kesal. Suka menjahiliku dan membentakku tanpa sebab. Sejak orang tuanya meninggal, ia dirawat dan tinggal bersama pamannya. Karena masih muda, ia memanggil pamannya dengan sebutan kakak. Rei juga teman sekelasku. Kami memang dekat, walau lebih sering bertengkarnya. Orang tua kami sudah bersahabat dari kecil.


Walau menyebalkan, Rei anak yang baik dan selalu bisa menebak pikiranku. Dia sangat jenius, ahli dalam memecahkan masalah dan kode rahasia, sering bermain game, menyukai astronomi, fisika, IT, dan lagu-lagu klasik. Tidak perlu susah payah bersekolah. Karena jika dia mau, sebenarnya bisa dengan mudah untuk langsung masuk perguruan tinggi.


Banyak anggota club di sekolah yang membujuknya supaya menjadi anggota dari club mereka. Terlebih club akademik. Rei pernah menjadi korban penculikan yang dilakukan oleh Club Fisika. Alasannya karena mereka tahu bahwa Rei pernah menjuarai olimpiade fisika saat SMP. Pada akhirnya tidak ada satu pun club yang dipilihnya. Dia tidak tertarik.


Berbeda 180° denganku yang harus mendaftarkan diri ke berbagai club guna mencari tahu bakat terpendamku. Alhasil tak ada satupun club yang dapat menunjukkan itu. Olahraga, menjahit, memasak, bernyanyi, dan berbagai club lain, aku tak bisa melakukannya dengan benar.


Lalu Rei bilang, ‘Untuk apa mendaftar club di sekolah, kita sudah memiliki club sendiri. Kau penanggung jawabnya juga, kan?’


Ya, Rei benar.


***


Suhu udara siang ini terbilang cukup panas, 36°C. Kelembapan udaranya pun tinggi. Ditambah lagi berhadapan dengan Rei, membuat kerongkonganku jadi tidak bersahabat, ribut memanggil minuman dingin dari dalam lemari pendingin. Aku melangkah cepat menuju dapur dan melihat dua anak perempuan di sana.


Perempuan berambut panjang kecokelatan yang selalu di kepang—Yukiko Fukuda—sedang memotong buah semangka, dan perempuan berambut pendek se-bahu—Akiko Fukuda—sedang membuat minuman dingin. Mereka saudara kembar. Yukiko terlahir lebih dulu dengan selang waktu 4 menit.


“Waa~ ada semangka!" teriakku dengan mata berbinar.


“Ayo, kita makan bersama sambil merencanakan liburan musim panas!” ajak Yukiko bersemangat dengan senyum mengembang.



Yukiko Fukuda—sahabatku yang paling bisa mengontrol diri dibanding yang lain. Dia sangat baik, ramah, dan sikapnya lembut. Dia pintar berenang dan bisa menangkap ikan dengan tangan kosong. Cita-citanya ingin menjadi dokter. Naluri seorang ibu yang kebanyakan belum dimiliki oleh perempuan seusianya membuatku kagum. Kebijaksanaan dalam menghadapi masalah menunjukkan sisi kedewasaannya. Di sekolah, kelas kami bersebelahan.

__ADS_1


Akiko menepuk bahuku. “Nanti akan kuajari cara baru untuk menangkap tonggeret tanpa melukai sayapnya.”


“Sepertinya menarik!” sahutku.



Akiko Fukuda—salah satu sahabat yang kukagumi. Dia perempuan yang tangguh. Sangat menyukai pisang. Mata pelajaran yang disukainya adalah Biologi. Saat dia marah atau merasa sedikit terganggu, akan terlihat menyeramkan. Akiko selalu melindungiku dari tingkah jahil Natsu dan Rei. Suaranya merdu dan indah ketika dia bernyanyi. Pintar beladiri, karena sempat mengikuti Club Taekwondo. Sangat disiplin.


Akiko mengajarkan banyak hal padaku, seperti mengendarai sepeda, menangkap ayam, memanjat pohon, membuat bentuk dari karet gelang, menangkap kumbang badak, bermain tenis, berjalan di pipa keseimbangan, memanjat tiang bermain di lapangan, dan berbagai hal lainnya. Ia tetap bersabar mengajariku. Padahal semua itu membutuhkan waktu yang lama sampai aku benar-benar bisa, walaupun belum layak dikatakan mahir. Dua hari yang lalu Akiko sempat mengajariku teknik dasar beladiri yang pada akhirnya berujung gagal. Ternyata beladiri sangat tidak cocok untukku.


Teman-teman sudah berkumpul di ruang keluarga. Pintu kaca yang menghadap ke taman di buka lebar. Akiko dan Yukiko sedang memakan semangka di teras menghadap ke luar. Justin dan Toru tampak serius bermain catur di tengah ruangan, tanpa merasa terganggu dengan yang lain.



Toru Nishimura—teman sekelasku yang paling misterius. Anak yang pendiam, kadang ketus, tapi memiliki hati yang baik. Mungkin cara penyampaiannya saja yang sering membuat orang salah paham padanya. Dia pintar matematika, memainkan alat musik terutama gitar, dan ahli dalam membuat origami bentuk apapun dari kertas yang berukuran relatif kecil, lebih kecil dari ruas jari telunjuknya. Mengisi waktu senggangnya dengan membaca komik.


Toru bekerja paruh waktu di kedai kopi dan tinggal bersama pemiliknya, karena sudah dianggap seperti anak sendiri. Pemilik kedai adalah pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak. Sampai saat ini tidak ada yang tahu siapa Toru sebenarnya, berasal darimana, siapa keluarganya, dan kenapa dia memilih untuk menetap di desa tempatku tinggal. Tidak ada yang tahu. Toru pun tidak pernah bercerita. Tapi semua itu tidak penting, pertemanan kami tidak dilandasi oleh pertanyaan-pertanyaan seperti dalam pembuatan kartu identitas. Aku dan teman-teman sangat menyayangi Toru, begitu pun sebaliknya.



Justin Artwentzel—anak dari keturunan Inggris. Lahan yang digunakan sebagai pesawahan itu milik keluarga Justin. Dia tinggal di rumah besar yang terletak di ujung jalan dan bersebelahan langsung dengan lapangan yang biasa digunakan sebagai tempat bermain anak-anak. Orang tuanya tinggal di London, Inggris. Sedangkan Justin memilih untuk menetap di Jepang. Dia sangat menyukai Jepang dan sudah mahir berbahasa Jepang.


Iris matanya berwarna biru cerah dengan rambut kuning keemasan. Anak yang tampan dan selalu menjadi pusat perhatian para siswi di sekolah. Dia juga anak yang baik, ramah, dan selalu menghargai orang. Sangat menyukai game. Waktu senggangnya sering digunakan untuk bermain game on-line. Merupakan anggota Club Kimia, karena dia menyukai mata pelajaran tersebut. Berada di kelas yang sama dengan Yukiko.


“Kau dari mana saja? Pasti beli es krim, kan? Untukku mana?” pinta Natsu yang sedari tadi asik sendiri menonton anime di ponselnya sambil terbaring di dekat kipas.


“Bibi sudah memberimu uang jajan, kan?” balasku seraya menghampiri Akiko dan Yukiko di pinggir teras.


“Harusnya kau beli untukku juga. Keluar rumah itu berbahaya, kulit mulusku bisa terpapar sinar matahari," terang Natsu panjang lebar sambil mengusap-usap lengan. "Ayah dan ibu berpesan akan pulang malam," sambungnya seraya menoleh cepat ke layar ponsel untuk kembali menyaksikan film kesayangannya.



Natsu Oshiro—teman sekaligus keluarga baru untukku. Orang tuanya bersahabat dekat dengan orang tuaku, juga orang tua Rei. Seperti kami, sejak kecil mereka sudah bermain bersama. Natsu penggemar anime. Namun jika ada waktu luang, dia akan membuka youtube hanya untuk menyaksikan penampilan girl band korea favoritnya. Terkadang bertingkah konyol dan menyebalkan, serta sering memperlakukanku seperti anak kecil. Ia rajin merawat diri karena menganggap tubuhnya adalah aset sebagai calon aktor masa depan. Ya, impiannya menjadi seorang aktor. Ia ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah seni dan merantau ke kota.


Musim semi bagi kebanyakan orang adalah musim terindah dan paling dinanti. Tapi Natsu menganggapnya musim merepotkan karena hay fever yang ia derita. Bayangkan saja ia harus memakai masker kurang lebih selama 3 bulan sebagai perlindungan diri dari serbuk sari bunga yang tentunya sulit dihindari karena berterbangan dan tidak kasat mata. Alergi serbuk sari bunga bisa membuatnya bersin berkali-kali, hidung terasa tersumbat bahkan parahnya bisa mengeluarkan darah.


Empat tahun lalu, gempa berkekuatan 6,5 skala richter meluluhlantakan desa kami. Menelan banyak korban jiwa termasuk kedua orang tua Rei, ibu Kouga, dan kedua orang tuaku. Sabtu, siang hari di musim gugur. Peristiwa itu bersamaan dengan study tour ke Kyoto yang diadakan sekolahku. Dan saat kami pulang, semuanya berubah—mengerikan.


Bibi Oshiro—ibunya Natsu, memelukku sambil menangis. Pamannya Rei berlari menghampiri Rei yang baru turun dari bus dan langsung menggendongnya sambil berteriak ‘Aku menyayangimu!’ dengan air mata mengalir deras. Bukan hanya aku dan Rei yang kehilangan orang tua, anak-anak lainnya pun banyak yang senasib. Gempa itu meratakan banyak bangunan, arus listrik pun padam. Tidak ingat lagi bagaimana keadaan rumahku saat itu, sedihnya aku saat itu, gambaran suasana yang meliputiku saat itu, keadaan langit dan pijakan yang menaungiku saat itu, aku tidak ingat.


Yang terpeta jelas dalam ingatan, aku tinggal bersama Natsu dan kedai kopi menggantikan rumahku. Kepiluan berkawan dengan musim gugur saat itu. Tetapi kasih sayang orang tuaku tidak pernah putus. Paman, bibi, teman, dan sahabat memberikannya lebih dari cukup. Aku bahagia dikelilingi orang-orang yang menyayangiku. Aku—Kaneko Rin—biasa dipanggil Karin, sangat menyayangi dan mencintai mereka semua.



“Karin!” seru Akiko.


Suaranya memecah lamunanku. Baru tersadar sedang membicarakan liburan musim panas.


“Kau ingin liburan ke mana?” tanya Yukiko.


“Tunggu!” teriak Rei yang tiba-tiba datang berlari ke arahku, lalu menunjukkan selembar kertas di hadapanku. “Kau dapat ini dari mana?!” selidiknya penasaran.


“Dapat apa?” tanyaku masih tidak mengerti. Memfokuskan penglihatan—ingin melihat kertas itu lebih dekat. Jadi teringat selembar kertas yang seharusnya masih kugenggam. Kutundukkan kepala. “Loh, di mana??” ujarku sambil memeriksa dan mencarinya di sekitar tubuhku. Tidak ada. Kutatap Rei. “Jangan-jangan itu kertas yang kucari, kenapa bisa ada di tanganmu?”


“Kau menjatuhkannya di genkan, bukan itu pertanyaannya! Kau dapat ini dari mana?”


Kuceritakan kronologinya dari saat bertemu kakek tua. Akiko, Yukiko, dan Kouga, mereka mulai penasaran. Sedangkan aku malah heran melihat sikap Rei. Bukankah itu hanya brosur biasa?


Rei memberikan kertasnya pada Kouga. Dia pun segera membacanya. Raut wajah kouga perlahan berubah. Keningnya berkerut. Bola matanya terus memindai sampai selesai. Setelah itu dia menatapku. “I-ini, apa ini sungguhan?!!” teriaknya seakan tak percaya. Semua menoleh ke arah Kouga. Kecuali Rei, yang terduduk diam seperti memikirkan sesuatu.


“Karin, kau kenal dengan kakek itu?” tanya Rei dengan tatapan serius.


Aku menggeleng—tidak mengenalnya. Lalu kami berkumpul di tengah ruangan. Kouga menjelaskan isi dari selembar kertas yang masih dipegangnya. Ternyata perkiraanku salah. Itu bukan sekedar brosur potongan harga atau lowongan pekerjaan, melainkan kertas pengumuman yang berisi tentang sebuah lomba petualangan dengan tema ‘Petualangan Cinta Pulau Impian’. Jumlah anggota dalam satu tim tidak lebih dari 10 orang. Tersedia 6 tantangan yang harus diselesaikan dengan clue ombak, bunga, sayur, buah, ikan, dan dirimu.


“Dirimu? Apa maksudnya?” tanyaku bingung.


Jika berhasil melewati semua tantangan, akan mendapat hadiah uang senilai 999 milyar yen. Wow! Ditambah lagi game terbaru di abad 20, komik-komik seru dan anime ter-update yang belum diterbitkan. Bukan hanya itu saja, gratis keluar negeri 7 hari 7 malam ke negara pilihan pemenang! Masih ada lagi, hadiah eksklusif yang paling mengejutkan, bahwa pemenang berhak atas kepemilikan sebuah pulau yang memang sudah disediakan sebagai hadiah utama dengan sertifikat jelas! Syaratnya tidak merusak alam yang ada di pulau dan sekitarnya. Batas waktu menyelesaikan tantangan adalah 18 hari. Jika melewati batas waktu yang ditentukan, akan dianggap gagal dan langsung dipulangkan. Panitia tidak bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi selama mengikuti petualangan ini.


“Hadiahnya benar-benar luar biasa!” seru Natsu dengan mata berbinar.


“Ayo, kita daftarkan diri!” teriakku semangat.


Justin menyandarkan lengannya di bahu Natsu. “Untuk hadiah sebesar itu pasti tantangan yang kita hadapi akan sangat sulit dan ... beresiko.”


“Aku sependapat dengan Justin,” sahut Akiko.


“Kita pernah menjelajahi hutan dan gua. Alam sudah menjadi bagian diri kita. Anggap saja level kali ini lebih tinggi dari sebelumnya,” ujar Natsu.


“Bagaimana kalau kita mencari tahu dulu kebenaran dari info lomba ini?” sela Yukiko.


Semuanya menoleh ke arah Rei yang sedang terpaku menatap layar laptopnya.


“Berikan kertas itu,” pinta Rei.


Lalu semuanya berkumpul mengerumuni Rei, ingin melihat apa yang sedang dikerjakannya. Ternyata dia sedang mencari info lomba petualangan tersebut, tapi untuk membuka situs diperlukan kode yang tertera pada brosur. Menurutnya, petualangan ini tidak sembarangan. Karena itu, brosur lomba dibagikan secara khusus.


Kouga melirikku. “Apa kau pernah bertemu atau melihat kakek itu sebelumnya?”


Aku mencoba untuk mengingat-ingat. “... ngg, tidak sama sekali.”


“Bisa jadi kakek itu si pemilik tunggal dari pulau yang dijadikan sebagai hadiah utama. Sayangnya tidak dicantumkan nama pulaunya,” pikir Toru.


Rei sudah memasukkan kodenya. Namun masih me-loading.


“Ini aneh, hadiah itu ... kenapa semuanya berhubungan dengan hal yang kita sukai dan kita inginkan? Kita sebut saja ‘Dia’, seakan-akan Dia tahu dan mengenal kita,” sambung Rei.


Benar juga. Toru suka komik, Natsu suka anime, sedangkan Rei dan Justin menyukai game. Hadiah keluar negeri itu.. pasti Dia tahu kalau aku dan teman-teman ingin ke Indonesia, salah satu Negara Tropis di Asia Tenggara. Dengan uang sebanyak itu, Akiko dan Yukiko bisa mengembangkan klinik pengobatan orang tuanya. Kouga bisa membuat lahan perkebunan dan pertanian di pulau impian itu. Kalau aku ingin menjadikan pulaunya sebagai tempat tinggal anak-anak yang terlantar. Aku ingin membangun panti asuhan dan sekolah gratis.


“Dia berusaha membuat kita tertarik,” pikirku.


“That’s right!” sahut Justin sambil mengelus-elus kepalaku. “Mungkin Dia menginginkan sesuatu dari kita,” Justin menyimpulkan.


“Bravo!” teriak Natsu.


“Bisa jadi keuntungan yang didapatnya sangat besar, karena hadiah yang diberikan sungguh luar biasa,” timpal Rei.


Suasana hening. Loading pun masih berjalan.


Natsu menunjuk ke arahku. “Dia mengincarmu, Kaneko Rin,” ucapnya datar. Berhasil membuatku terkejut.


“Apa maksudmu?” tatap Rei serius.


“Karena hanya Karin yang diberi brosur lomba itu. Aish, dasar kakek tua! Apa dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan adik kecilku ini!?” celoteh Natsu yang dibalas dengan tatapan jengah oleh yang lainnya.


“Kita tidak tahu kakek itu memberikan brosur lombanya pada siapa lagi selain Karin.” tukas Rei.

__ADS_1


Rei memberhentikan loading-nya. Dia mengetik ulang kode, karena mungkin sebelumnya terjadi kesalahan pengetikan. Dan benar saja, situs itu langsung terbuka begitu Rei selesai mengetik ulang kodenya.


‘it4h4t4k4y4crep’ itu adalah kode yang tertera pada brosur.


Kouga bingung melihat tulisan pada situs yang sudah berhasil terbuka. “Apa ini? Terlalu banyak angka 4, mirip dengan kode.”


“Kalian ganti angka 4 itu dengan huruf A. Lalu baca tiap kata dari belakang. Lihat pada kode, jika diubah akan berbunyi Percaya Kata Hati,” terang Rei.


“Kau jenius, Rei!” sahut Natsu.


“Hebat sekali bisa tahu secepat itu ....” bisikku kagum.


“Baru tahu kalau aku hebat? Memangnya kau mengerti penjelasanku?” ledeknya.


“Aku mengerti, tapi sepertinya sulit kalau harus menerjemahkan satu per satu tiap kata di situs itu.”


“Tidak ada yang menyuruhmu untuk melakukannya, bisa bertahun-tahun baru selesai, haha!” ledek Rei menertawaiku.


“Ish!” Aku mendengus kesal.


“Akan kubacakan, Congratulations! Anda lolos sebagai peserta Petualangan Cinta Pulau Impian. Jika ingin registrasi, silahkan klik tombol enter pada keyboard dan klik tombol delete untuk keluar. Perlu diperhatikan, kode yang Anda masukkan hanya bisa digunakan dalam sekali pakai saja. Untuk informasi, Anda bisa hubungi 1818-8181,” terang Rei.


“Nomor teleponnya dibaca terbalik juga?” tanyaku.


“Dibalik atau tidak, hasilnya sama saja,” sahut Rei.


“Waah ... kau benar.” Baru sadar.


“Aku coba hubungi,” ujar Justin seraya merogoh saku celananya, hendak mengambil ponsel. Dia memasukkan nomor dan langsung men-dial. Loudspeaker mode on. Ponsel di taruh di tengah meja supaya semua bisa mendengar.


/Moshi-moshi! Ini adalah layanan informasi Petualangan Cinta Pulau Impian. Ada yang bisa kami bantu?/


“Apa tujuan diadakannya petualangan ini?” Kouga mulai pembicaraan.


/Sesuai kode, ingin mengetahui kata hati Anda/


“Apa maksudnya? Tolong jelaskan lebih detail!” Kouga mulai kesal.


/Sesuai kode, ingin mengetahui kata hati Anda/


“Jangan mempermainkan kami! Berikan alasan bahwa ini bukan penipuan!” Kouga benar-benar kesal.


/Percaya kata hati/


“Kouga, tenanglah. Biar aku saja,” sahut Justin pelan. “Siapa penanggung jawab petualangan ini?”


/Zeroichi-sama/


“Berapa peserta yang sudah registrasi?”


/Maaf, tidak ada jawaban untuk pertanyaan Anda. Ada pertanyaan lain?/


“Di mana dan apa nama pulau yang dijadikan sebagai hadiah utama?”


/Untuk mengetahuinya, Anda harus jadi pemenang lomba/


“Cukup.” Kouga meng-undial ponsel Justin. “Petualangan ini meragukan!”


“Kalau ini penipuan, seharusnya pihak panitia berusaha sekeras mungkin untuk mengajak banyak orang. Bisa dengan cara menyebarkan pengumuman besar-besaran. Tapi nyatanya, untuk membuka situs saja harus se-rahasia ini. Lagi pula tidak ada pungutan biaya. Menurutku ini bukan penipuan," tukas Akiko.


“Ya, benar!” timpalku.


“Hm ... berhubung kita belum ada jadwal liburan musim panas, tidak ada salahnya kita mengikuti petualangan ini. Bukankah ini hobi kita? Karena sering menjelajahi alam, kita lebih bisa mengenal satu sama lain. Benar, kan? Siapa tahu kalau nanti kita bisa menang, tidak menang pun ya tidak masalah. Yang penting kita sudah mencoba, sekaligus dapat petualangan gratis di liburan musim panas ini," sambung Yukiko.


Justin melipat tangannya di atas meja, ingin mengubah posisi duduk supaya lebih nyaman. “Dulu, diam-diam aku sering melihat kalian bermain di lapangan. Lalu mendengarkan semua rencana yang akan kalian lakukan bersama. Saat itu aku bersembunyi di balik semak-semak, kalian sedang merencanakan pencarian sansai. Aku ingin ikut karena sepertinya menarik. Ternyata benar! Kalian membuatku tertarik. Itu pertama kalinya aku ikut berpetualang bersama kalian,” tutur Justin bersemangat.


Aku mengangkat tangan. “Aku ingat! Yang mencari pucuk udo, kan?”


“Ya, kau menangis saat jatuh tersandung batu. Menggendongmu itu benar-benar merepotkan." Rei menimpali.


“Wajar kalau menangis! Dulu aku masih kecil!” balasku sekenanya.


“Jangan khawatir, sekarang pun kau masih tetap kecil, dan itu bagus!” sahut Natsu yang entah kenapa membuatku ingin sekali memukulnya.


“Berhentilah mengolok-olok Karin,” tegas Kouga.


Suasana yang ribut membuat udara di sekeliling kami bertambah panas. Toru meneguk segelas jus jeruk yang sebelumnya disajikan Akiko, lalu berkata, “Aku setuju untuk ikut dalam petualangan ini.”


“Hah?!” serempak kami terkejut, menatapnya sesaat, lalu diam terpaku. Hening.


“Aku juga, setuju!” sahut Akiko.


“Aku juga!” teriak Natsu dan Yukiko bersamaan.


“Trust your heart? Hmm ... well,” Justin mengangkat tangan. “Me too! I agree!”


“Yoshh! Petualangan di liburan musim panas!!” sorakku senang. Rei dan Kouga menatap ke arahku bersamaan. “Kalian berdua tidak ingin ikut?” tanyaku heran.


Rei dan Kouga saling menatap. “Hahh ....” Keduanya menghela nafas.


Rei menggeser laptopnya. “Baiklah. Semua sudah sepakat?” tanyanya memastikan.


“Ya-hooo!!” serempak berteriak.


Rei menekan tombol enter pada keyboard.


Terimakasih. Registrasi Anda sudah kami proses. Peta perjalanan bisa Anda download dengan meng-klik kolom Peta yang tersedia. Petualangan Cinta Pulau Impian akan dimulai pada tanggal 1 Agustus 2011 dan berakhir pada tanggal 18 Agustus 2011. Selamat mencoba dan terus berjuang. Zeroichi-sama.


Rei meng-shut down laptopnya. “Masih ada waktu 4 hari lagi untuk bersiap-siap.”


☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘


Anime (アニメ) adalah animasi khas Jepang.


Futon (布団) adalah kasur tradisional Jepang yang digelar di atas lantai atau tatami (tikar khas Jepang).


Genkan (玄関) adalah area pintu masuk di mana orang melepas alas kaki.


Himawari (ひまわり) adalah bunga matahari.


Origami (折り紙) adalah seni melipat kertas yang berasal dari Jepang.


Sansai (山 菜) adalah sayuran gunung.


__ADS_1


__ADS_2