Petualangan Cinta Pulau Impian

Petualangan Cinta Pulau Impian
Pencarian Gerbang


__ADS_3

[3 Agustus 2011 - Pukul 09.45]


Kouga terlihat menjaga jarak dariku. Saat tatapan kami tak sengaja berpapasan, ia langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Aku semakin yakin dengan ucapan Rei, bahwa tanpa kusadari mungkin banyak kesalahan yang sudah kulakukan, hingga membuat Kouga menjadi tidak nyaman.


Aku akan meminta maaf!


Batinku memantapkan diri. Pergi berlari menghampiri Kouga, yang sedang bersiap menunggu kedatangan Akiko dan Justin.


"Kouga!" lontarku dengan tatapan serius sembari memegang kedua bahunya. Kudapati anak matanya membesar, menyatakan bahwa dirinya terkejut dan bersiap melepaskan diri. Kukerahkan tenaga di kedua tanganku, berusaha menahannya agar tidak berpaling lagi.


"Sebentar saja, jangan menghindar!" pintaku sungguh-sungguh. "A-ada yang ingin kukatakan!" Rasa kikuk mendadak hadir disela keseriusanku. Sedikit canggung karena sikapku yang sepertinya terlalu memaksa.


"Rei! Kenapa Karin-ku bertindak jadi agresif?!" oceh Natsu yang sama sekali tidak kupedulikan.


Dukh!


Seseorang menjatuhkan tinju kecilnya di atas kepalaku. "Apa yang kau lakukan?" tanya orang itu bernada dingin. Jelas kutahu bahwa dia adalah Rei yang ternyata mengikutiku dari belakang.


Tubuhku berbalik cepat, "Jangan mengganggu!" ketusku pada Rei.


"Kau membuat Kouga tak nyaman. Menjauhlah sedikit. Jika ingin bicara, lakukan dalam jarak yang normal!" geram Rei menarik lenganku.


Tiba-tiba tangan Kouga terjulur, menahan lenganku yang satunya. "Aku tak masalah," sanggah Kouga menarikku kembali, merapatkan jarak yang dibuat oleh Rei.


"Eh?" sontakku terkejut, mengetahui bahwa Kouga tak lagi menghindariku.


Genggaman tangan Rei yang masih mencekal lenganku terasa kian menguat. Jemarinya menekan erat, membuatku tak nyaman.


"Ish, lepaskan!" protesku menggeliatkan lengan, berusaha menyingkirkan tangan Rei. Tanpa disertai debat panjang, atau perlakuan menyebalkan lain darinya, genggaman itu pun terlepas.


Ada apa dengan suasana hatinya? Rei seperti sedang marah. Tapi, kenapa?


Batinku menyelidik.


Manikku beralih menatap Kouga yang raut wajahnya kini berubah. Sorot matanya mengarah tajam pada Rei. Begitupun sebaliknya. Mereka bergeming di satu jalur pandang. Aku yang tak paham, semakin dibuat kebingungan, dengan komunikasi nonverbal yang sepertinya sedang mereka lakukan.


"Kalian sedang apa?" Akiko memecah suasana. Datang bersama dengan Justin, dan langsung berjalan menghampiri kami.


Kutolehkan wajah, merasa tertolong dengan kehadirannya, "Aku ingin—"


"Sudah saatnya menghubungi Toru dan Yukiko," sela Kouga beranjak pergi.


"Ah, tunggu– Kouga!"


Langkahku tertahan karena Rei kembali mencekal lenganku.

__ADS_1


"Tak ada yang perlu kau bicarakan dengannya," ujar Rei saat diriku masih fokus memandang punggung Kouga yang kian menjauh.


Tak ada yang perlu dibicarakan? Apa maksudnya?!


Tanganku mengepal, dan wajahku beralih cepat membidik Rei. "Aku hanya ingin meminta maaf pada Kouga! Kau merusak suasana!" kesalku memukuli dada bidangnya.


"Untuk apa?" lontar Rei seolah tak bersalah.


"Kau sendiri yang mengatakan bahwa kesalahanku tidak cukup ditulis dalam satu buku!" ocehku dalam satu tarikan napas.


Rei menangkap kedua tanganku, menghentikan pukulan sembarang yang tanpa sadar masih kulayangkan. "Memang benar."


Wajah Rei mendekat. "Buku itu milikku. Tak pernah kusebut nama Kouga di dalamnya," bisik Rei yang justru membuatku tidak paham.


"Aku tak peduli lagi dengan buku apapun. Lepaskan tanganku!"


Akiko membantuku melepas genggaman Rei, "Secara garis besar, aku cukup paham dengan situasi kalian," Tatapannya mengarah pada Rei. "Tapi menurutku ... kau terlalu berlebihan,"


"Tch!" decit Rei memalingkan wajah.


Kemudian Akiko merangkul tubuhku. "Lupakan saja, temani aku melihat-lihat tempat ini."


Tetapi ... jika bukan karena kesalahanku, kenapa sikap Kouga menunjukkan hal yang berbeda?


Aku perlu meluangkan waktu untuk berbicara dengan Kouga. Dan harus kupastikan Rei tidak mengganggu!


***


Semuanya sudah berkumpul. Sebelum melanjutkan perjalanan, Kouga meminta kami untuk mengecek earphone dan radar masing-masing.


Kouga-Natsu memimpin di depan. Aku dan Rei mengikuti di belakang. Disambung dengan Yukiko-Toru, lalu Akiko dan Justin menutup barisan. Masih berpasang-pasangan, tanpa borgol yang melingkar di tangan.


Melihat pohon yang terlampau besar, aku merasa seperti berada di film Alice in Wonderland. Bayangkan saja, besar batang pohonnya bisa mencapai lima kali lingkar tangan orang dewasa. Akar-akarnya yang besar dan kokoh, muncul hingga ke permukaan tanah. Mungkin usianya sudah mencapai ratusan bahkan ribuan tahun.


Tekstur tanah yang basah ditambah batu-batu besar dengan lumut dan kerak yang menempel, menyulitkan langkah kami untuk menelusurinya lebih dalam. Rimbunnya pepohonan terlihat sangat asri dan menyejukkan udara sekitar. Hijau, lembab, dan besar. Tiga kata yang sangat pas untuk menggambarkannya.


Semakin ke dalam, kami semakin merasakan urat nadi dari hutan yang jenis tanamannya sangat beragam ini. Dari mulai jenis tanaman sub-arktik sampai tanaman pesisir, semuanya menghuni dan mewarnai lingkungan hutan.


Tetesan air mulai jatuh menyambut kami. Sepertinya curah hujan di sini cukup tinggi, karena adanya air terjun dan letak geografis yang juga mendukung.


"Tutup kepalamu!" Rei menarik penutup kepala jas hujan overcoat yang kukenakan.


Sebelumnya aku sedang menengadah, menyaksikan butiran hujan yang terseleksi jatuh menerobos dahan demi dahan. Tanpa sadar penutup kepala jas hujanku terbuka.


"Padahal hujannya hanya serintik dua rintik," bibirku mengerucut.

__ADS_1


"Jika serintik dua rintik itu membuatmu demam, akan kubatalkan perjanjian es krimnya," ancam Rei.


"Eh? Kau kan sudah berjanji!"


"Sayang sekali tak ada bukti perjanjian tertulisnya," balas Rei serius.


Merapatkan penutup kepala, "Sigh, dasar licik," menggumam kesal.


Kami berjalan ke barat, terus masuk ke dalam hutan. Suara burung yang bertengger dan terkadang pindah dari dahan ke dahan, memecah kesunyian di sekeliling kami. Gemericik air pun ikut meramaikan. Namun kami juga harus waspada, keasrian hutan tidak lepas dari banyaknya hewan pemangsa yang turut menyeimbangkan rantai makanan.


"Seperti berada di hutan hujan tropis," Justin menyentuh daun-daun di dekatnya.


Akiko memutar pandangan, "Di sini banyak Jomon Sugi. Kalian tahu, kan?"


"Itu pohon cemara tertua di Jepang," sambung Yukiko. "Usianya diperkirakan antara 2000 sampai 7000 tahun," terangnya.


Kouga menghentikan langkah, “Bukankah tanaman itu banyak terdapat di hutan-hutan purba yang terletak di Yakushima?” selidiknya penasaran.


“Yakushima?!” seru Justin terkejut. “Aku pernah mendengar kalau pegunungan di Yakushima adalah satu-satunya tempat di wilayah paling selatan Jepang yang turun salju. Benarkah?” tanyanya memastikan.


“Ya, kau benar,” sahut Rei. Ia mengernyitkan dahi tampak sedang berpikir. Lalu merogoh saku celana berniat mengambil ponselnya, “Sinyal dari satelit masih menunjukkan lokasi yang sama.”


"Layar altimeter digitalku tertulis 756 meter di atas permukaan laut." Justin menunjukkan altimeternya pada Rei.


“Apa GPS ini masih tidak berfungsi?” ucap Rei sembari menggoyang-goyangkan ponselnya di udara. “Jika dilihat dari kondisi lingkungan yang terkesan lembab dan basah, sangat memungkinkan kita berada di pegunungan Yakushima."


"Hayao Miyazaki dari Studio Ghibli mendapat inspirasi latar film Princess Mononoke saat berkunjung ke hutan Yakushima. Dan sekarang kita berada di dalamnya! Seperti memasuki bagian cerita, rasanya sangat mendebarkan!" ocehku antusias.


"Apa kau lupa? Hutan di dalam cerita tersebut dipenuhi serigala." timpal Rei.


"I-itu kan hanya sebuah cerita! Kau selalu merusak suasana hatiku!" protesku panik karena baru menyadari hal penting.


“Terakhir kali kau bilang kita berada di tengah laut sedikit ke tenggara dari pulau Honshū. Lalu sekarang kalian bilang kita berada di Yakushima? Apa semengerikan ini rasanya memakai pintu Doraemon?" Natsu terkekeh gelisah.


Ya, akupun merasa takut.


Tetapi ....


"Kita harus bisa mengesampingkan logika. Hal aneh akan terus berdatangan. Lalu semuanya akan terungkap, saat berhasil menyelesaikan tantangan. Kita pasti bisa!" semangatku meyakinkan diri.


“Boleh juga. Kau berhasil menyusun kalimatnya dengan baik,” ledek Rei sambil menepuk-nepuk kepalaku. Pujiannya membuatku kesal. Tapi kali ini aku harus bersabar, menghemat energi adalah tindakan yang benar.


“Ayo, kita harus segera menemukan gerbangnya,” ajak Kouga.


__ADS_1


__ADS_2