
[3 Agustus 2011 - Pukul 11.40]
"Aku bisa menjadi perisai kalian, hanya dengan satu cara ..."
Kitsune menatap ke arahku.
"... melakukan kontrak suci antara roh dengan manusia pemanggil."
Rei mengernyitkan dahi, "Bahaya apa yang akan mengancam Karin jika melakukan kontrak itu?"
"Aroma kehidupannya akan menjadi daya tarik para roh. Tak perlu khawatir, aku akan selalu berada di sampingnya. Melindungi gadis kecil menjadi tujuan hidupku. Apapun keinginannya akan menjadi perintahku. Baik hidup ataupun mati, takdir kami akan menyatu."
"Bagaimana cara membatalkan kontraknya?" Bola mata Rei sama sekali tak berpaling dari Kitsune.
"Kontrak suci tidak bisa dibatalkan."
Glek.
Kulihat sebutir keringat tergelincir jatuh di tepian wajah Rei. Keterkejutan membuatnya bergeming, seolah pikirannya tengah sibuk mengatasi berbagai rasa tak nyaman. Aku pun gelisah, mengingat diri ini akan menjadi daya tarik para roh untuk selamanya.
Bagaimana wujud para roh? Apakah mereka sama menyeramkannya dengan hantu? Apa mereka akan menggangguku? Jujur, membayangkannya saja aku sudah ketakutan. Tetapi ... hal paling menakutkan adalah melihat orang terdekatku menghilang. Seperti saat di taman ..., di labirin ..., uh, mengingat itu dadaku jadi sakit!
Tangan Rei mengusap puncak kepalaku. "Kau tak perlu melakukannya,"
Rei tidak menatapku. Belum ada cara lain yang ia temukan. Dia hanya berusaha untuk menghiburku. Semakin menambah volume genangan air asin di mataku, yang hampir siap meluncur jatuh. Aku memang takut, tapi juga sangat ingin membantu. Jika kontrak kulakukan, Kitsune sungguh akan bersamaku, kan?
"Seperti bayangan. Sedekat itu aku akan bersamamu, gadis kecil."
"Tetapi bayangan tidak ada tanpa hadirnya cahaya, dan aku tak suka sendiri dalam gelap," tuturku meremas ujung pakaian.
"Jika kau meminta, aku bisa jadi keduanya."
"Bayangan yang akan selalu mengikutimu, dan cahaya yang akan selalu menerangimu."
Tiba-tiba tersadar, percakapan kami jadi seperti dialog teater romansa klasik.
. . Seperti bayangan,
. . tanpa hadirnya cahaya,
. . Jika kau meminta, aku bisa jadi keduanya.
Aku bahkan mengingat kalimatnya dengan jelas. "Pfft, hahaha!" tawaku geli.
Natsu menarik tanganku, "Roh rubah pintar menggoda manusia, kau tidak boleh dekat-dekat dengannya,"
"Aku akan melakukannya," tatapku serius pada Natsu. "Tunggu, aku masih bisa menikah walau sudah membuat kontrak dengan Kitsune, kan??" tanyaku perlu memastikan.
"... astaga, terlalu cepat bagimu untuk membahas pernikahan!" protes Natsu.
"Aku serius!!"
"Tentu saja. Kontrak suci tidak menghalangi ikatan pernikahan."
Rei menoleh ke arahku. "Hanya itu yang kau khawatirkan?"
"Pernikahan itu penting, aku ingin melakukannya dengan orang yang kusukai!" seruku meneguhkan prinsip.
"Siapa?" selidik Rei mendekatkan wajahnya.
"Ish! K-kau terlalu dekat!" Kedua tanganku mendorong bahunya agar menjauh.
"Katakan saja, siapa orang itu?" desak Rei yang sama sekali tak menjauh.
__ADS_1
"Aku tidak tahu!"
Rei menyingkir. "Akan kubatalkan perjanjian es krimnya."
"Heehh! Aku sungguh tidak tahu!"
"Gadis kecilku tidak berbohong. Belum ada nama yang disebut olehnya."
Eh! Jika pikiranku tak sengaja menyebut nama seseorang, Kitsune bisa langsung tahu!
"K-kau tidak boleh membeberkan isi pikiranku! Kau harus meminta ijin padaku dahulu!" protesku.
"Hanya jika kita menjalin kontrak."
"Baiklah, mari kita lakukan!"
"Aish! Si bodoh ini, pastikan dulu kejelasan kontraknya!" Rei berdecak kesal.
"Haahh ...." Rei menghela napas panjang sambil memejamkan mata. Kemungkinan besar ia sedang mendinginkan kepala. Dan ketika kelopak matanya terbuka, bola mata itu bergerak melirikku sesaat, sebelum akhirnya kembali menatap Kitsune.
"Apa keuntungan besarmu dengan menjalin kontrak? Bukankah kau menerima banyak kerugian? Pertama, hidupmu terkekang karena harus berada di sisi Karin. Kedua, masa hidupmu pasti berkurang, karena manusia hidup lebih singkat. Ketiga, harga dirimu sebagai roh suci akan jatuh karena mematuhi perintah manusia. Benar, kan?"
"Tidak ada keuntungan yang kuharapkan. Hanya sekedar menyampaikan cara yang bisa kulakukan. Selebihnya tak ada paksaan."
"Terkesan seperti roh rubah yang putus asa," celetuk Rei menyindir. "Setidaknya jangan buatku jadi makin curiga."
"Cukup, Rei." Tanganku meremas ujung pakaian. "Aku akan melakukan apapun supaya bisa melindungi semuanya!" yakinku membulatkan tekad.
"Akan percuma jika kami tak bisa melindungimu," Kouga mengusap kepalaku.
"Rei, masih ada yang mengganjal pikiranmu, kan?" ungkap Kouga yang selalu bisa memahami Rei. Aku senang karena Kouga sudah kembali seperti biasanya.
Tatapan Rei menyoroti Kitsune dengan penuh keseriusan. "Tunjukkan kekuatanmu yang sesungguhnya. Kami tak bisa menitipkan Karin pada roh yang lemah. Tolong buat kami yakin ... Kitsune."
"Berbanggalah anak muda. Kau menjadi satu-satunya manusia yang bisa memerintahku tanpa adanya kontrak suci."
Angin berhembus kencang, menggulung seperti badai topan. Kitsune yang tiba-tiba menghilang, digantikan dengan munculnya makhluk besar berekor sembilan. Rubah legendaris berbulu putih tebal, tingginya hampir menghancurkan palang yang melintang di puncak gerbang. Mungkin sekitar 11 meter-an.
"Apa kalian sudah yakin? Atau ... perlu kuratakan dunia perbatasan sebagai uji kekuatan?"
Wajahku mendongak. "Tidak boleh! Nanti roh yang tersesat akan semakin tidak nyaman!" larangku.
"Haha. Seperti yang diharapkan dari gadisku."
"Pertama kau bilang: gadis kecil. Lalu yang kedua: gadis kecilku. Dan sekarang yang ketiga: gadisku. Kau tidak boleh menambah atau mengurangi panggilannya tanpa ijin dariku sebagai kakaknya!!" oceh Natsu menunjuk-nunjuk Kitsune.
"Hati-hati kalau bicara. Kau bisa langsung terlempar ke pinggir tebing," ledek Akiko dengan senyum menyeringai.
"Aku tak butuh saran darimu," tengok Natsu malas menanggapi Akiko.
"Anak muda, kau bahkan tidak memenuhi kualifikasi sebagai saudara dari gadis kecilku."
"HAH?!!!" Natsu bertambah kesal.
"Hahaha,"
Kami pun terbahak bersama. Padahal sebelumnya sempat bersitegang. Ternyata tidak seburuk yang kubayangkan. Aku percaya, Kitsune adalah roh rubah yang baik.
"Ada satu rahasia yang akan kukatakan."
"Di leherku ada ring pengekang yang tak bisa kulepas sebelum petualangan kalian berakhir. Jadi, jika kalian bertanya hal terkait petualangan ini, aku tidak bisa menjawabnya."
"Aku paham, kau berada di bawah perintah Zeroichi-sama. Apa kau akan dianggap berkhianat jika melakukan kontrak dengan Karin? Dan apa efeknya bagi Karin?"
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa mengganggu hak kontrak milik makhluk suci."
"Baiklah. Selagi tak membahayakannya ...." Rei menatap ke arahku. "Bagaimana? Apa kau mau?"
"Ya! Aku mau!"
"Dengan ini kuserahkan permata hidupku pada sang pemanggil, Kaneko Rin."
Zrring !
Permata bulat yang bercahaya keluar dari mulut Kitsune. Aku pernah mendengarnya, legenda mengatakan Hoshi no Tama atau Bola Bintang, sebuah permata yang mewakili kekuatan Kitsune.
Permata indah yang memancarkan cahaya keemasan. Ukuran awalnya sebesar bola basket, lalu perlahan mengecil, dan mendarat masuk ke dalam dadaku.
Tap-swussh!
Hentakkan udara di sekitarku menghempaskan beberapa kerikil kecil. Mataku terpejam, menahan sensasi aneh yang mulai menjalar. Hangat, namum tak lama jadi kian memanas. Dadaku seperti terbakar!
Secara mendadak, sesuatu yang sejuk mengalir dari punggung tangan kananku. Menyebar cepat, meredam panas ke seluruh tubuh—nyaman.
Kelopak mataku terbuka. Sangat mengejutkan melihat Kitsune—dalam wujud manusianya—tengah mencium punggung tanganku.
"Mulai sekarang, aku milikmu."
Senyum Kitsune merekah. Bak seorang ahli dengan ratusan jam terbang, ia memanfaatkan pesonanya dengan sangat baik. Sulit untuk memalingkan wajah darinya saat ini.
Plak!
Rei menepis tangan Kitsune, merebut kembali kesadaran milikku. Punggung lebarnya menghalangi pandangan di hadapanku,
"Cukup ucapan salam saja," sahut Rei dingin.
"Tak apa, Rei! Aku hanya terkejut." Kedua tanganku meraih lengan Rei. "Sepertinya berkat Kitsune, rasa panas di tubuhku jadi menghilang,"
Wajah Rei berpaling ke arahku dengan alisnya yang menukik. "Panas??"
"Hanya di awal saat permataku masuk ke dalam tubuhnya."
"Sekarang, apa yang kau rasakan?" Yukiko menghampiri.
"Normal seperti biasanya," senyumku lebar mengayunkan lengan.
Kriuuukkk~
Ahh ... benar-benar perutku sangat mengerti situasi. Tanganku memeluk diri, berusaha meredam suaranya—memalukan.
"Apa membutuhkan banyak energi untuk melakukan kontrak suci?" ledek Rei dengan tatapan menyebalkan.
"Tidak ada pemakaian energi saat—"
"Hentikan, Kitsune!" teriakku untuk pertama kalinya memberi titah pada Kitsune. Benar saja, rubah itu langsung menghentikan ucapannya.
"M-maaf, aku tak bermaksud untuk berteriak!" sesalku membungkuk cepat. "Aku hanya sebal pada Rei, bukan Kitsune!"
"Gadis kecil, katakan saja. Apa kau ingin melemparnya ke pinggir hutan?"
"PFFTT—BAHAHAHA!" tawa Natsu pecah.
Tak kusangka kalau makhluk suci juga pintar bercanda. Tapi ... sungguh bercanda, kan? Yah, sudahlah, pada akhirnya kami semua pun jadi ikut tertawa.
"Sekarang saatnya kita mengisi energi!" ajak Kouga lebih dulu mendudukkan diri membuka ransel.
Sembari menikmati makan siang sederhana, Kitsune kembali mengingatkan beberapa penjelasan. Ketika hutan pertama berhasil ditaklukkan, Kitsune akan membuka portal gerbang merah dan menuntun kami kembali ke cekungan daratan—dunia manusia. Begitu pun seterusnya sampai kesembilan hutan kami jelajahi.
__ADS_1
Tak ada yang lebih mengerikan dari sebuah permainan kematian, yang akan kami lakukan di sembilan hutan menyeramkan.