
[2 Agustus 2011 - Pukul 16.45]
Asam laktat—biasa Justin menyebutnya—terasa menumpuk di seluruh tubuhku. “Hoa~amh .…” Dalam sekali tarikan dan hembusan napas, kuregangkan otot-otot sebelum kelopak mataku sepenuhnya terbuka. Beberapa letusan kecil terdengar dari sela-sela persendian.
“Eh!” Mataku membulat, mendapati wajah Rei yang hanya beberapa centimeter saja dari wajahku. Dorongan refleks yang terlontar dari kedua tanganku, sama sekali tak berpengaruh untuk membuat tubuhnya menjauh. Resultan gaya yang dihasilkan adalah nol, dia menahan gaya dorong yang kuberikan. Menjadikannya diam, tak mau bergerak.
Rei menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kumengerti. Sorot matanya mengarah tajam, mengunci pantulan bayangku yang masih memandang penuh heran. Kilatan bening dari gumpalan air asin yang terbendung di selaput matanya, membuatku semakin bingung dengan situasi yang terjadi.
Keningnya berkerut. Mulutnya—yang sedikit terbuka—mengeluarkan napas yang tidak beraturan. Di tepi wajahnya, dua bulir keringat jatuh saling mendahului. Bahkan ada cairan merah dari pangkal goresan luka—yang nampak kasat mata di pipinya, menetes tepat di bawah bibirku.
“Kau …” ucapnya hampir tidak terdengar. Matanya terpejam, bibirnya mengatup disertai gerakan perlahan membasahi kerongkongan. “Bodoh.” sambungnya jelas sembari menyingkir dari hadapanku. Entah kenapa, yang bisa kupahami dengan cepat adalah munculnya rasa sebal ketika mendengar kata bodoh yang ia ucapkan.
Rei merebahkan tubuh di sisi kananku. Dibiarkan lengan kanannya menutupi wajah. Kuraba cairan merah yang sempat menetes di bawah bibirku. Dan sudah kupastikan, ternyata memang darah! Tubuhku beranjak cepat ke posisi duduk. Memindai kondisi Rei—dari kepala hingga kaki—yang terbaring di sampingku.
"K-kau terluka?!"
Beberapa area seperti pada kaki dan lengan, terdapat luka sayat yang ikut merobek pakaian. Lukanya tak begitu dalam, dengan panjang sekitar satu sampai tiga sentimeter. Tapi tetap saja noda merah yang tertinggal di pakaiannya itu, membuatku bergidik khawatir penuh tanya.
"Apa yang terjadi?"
Tak ada jawaban, bahkan bibirnya mengatup lebih rapat. Kudengar hembusan nafasnya mulai teratur. Dari sela lengan yang masih menutupi wajah, dapat kulihat bulu mata bagian atas dan bawahnya saling berhimpit tak bercelah. Mungkinkah ia tertidur?
Kusentuh tepi wajahnya perlahan. “Pasti sakit ..." bisikku tak ingin mengusiknya. Jariku sedikit gemetar saat menyeka cairan merah yang hendak menetes (lagi) dari pangkal goresan lukanya. Kusapukan pandangan mencari ranselku. “Ah, disana."
Tangan kiri Rei meraih lengan kananku saat hendak beranjak bangkit. Ia menahanku, supaya tetap dalam posisi duduk. “Mau ke mana?” lontarnya tanpa menolehkan wajah. Hanya bibir saja yang ia gerakkan.
"Mengambil ransel, kotak obatku ada di—"
"Lima menit," selanya memotong ucapanku.
"Kau terluka, harus segera dioba—"
"Tiga menit," tawarnya menyelaku lagi.
"Hahh ... baiklah, tiga menit. Aku takkan ke mana-mana."
Dimulai dari detik awal tiga menit, ia berangsur tenang. Namun jemarinya tak sedikit pun melonggar pada lenganku. Tak asing lagi dengan situasi yang tersaji, kuberikan instruksi pada otak, untuk segera menarik memori terakhir yang terekam dalam ingatan. Laki-laki disampingku ini tidak akan menjelaskan secara rinci apa yang terjadi. Dia hanya akan menghujaniku dengan ocehan yang lebih rinci daripada Bibi Oshiro.
. . Reiiiii~ ! Menjauhlah!!! Dia bukan aku!!
"Ah ... !"
Tiba-tiba tubuhku menegang, sekilas muncul serpihan ingatan yang masih hangat.
"Rei, wanita aneh—"
Gyut!
Dua tangan besar mendekap tubuhku dalam sekali gerakan cepat. Rei mendudukkan diri, memelukku. Menghentikan ucapan yang menurutku penting dan sangat ingin kukatakan. Namun, sikap anehnya membuyarkan kata yang tepat berada di ujung lidah.
"A-apa yang kau lakukan??" tanyaku bingung sembari berusaha melepaskan diri. Bukannya melonggar, pelukan Rei malah semakin dalam. Detak jantung kami saling menyatu, beriringan.
"Maaf,"
Bisik Rei pelan. Hanya satu kata, namun terasa begitu berat dan penuh tekanan. Dagunya bersandar di bahu kiriku. Udara hangat yang ia hembuskan, lebih jelas kudengar.
"Ada apa? Kau membuatku sulit bernapas!" protesku masih belum paham.
Degh!
Bagai tersengat, tubuhku sedikit melonjak.
"Ta-tanganmu!! Apa yang kau lakukan?!!" teriakku panik saat merasakan jemari Rei menjalar perlahan mengusap punggungku.
"Punggungmu ... apa terasa sakit?"
"Isi kepalamu yang sakit! Lepaskan!!!" protesku terus memberontak. Darahku mengalir cepat. Irama jantung yang semula stabil, kini salah satunya mengalami percepatan, dan kurasa itu milikku.
"Rei bodoh!! Dasar mesum!!!"
DORR!! DORR!
Suara tembakan membungkam mulutku. Rei mengangkat kepalanya. Dekapan tangan melonggar, kesempatanku untuk menjauh darinya. Merangkak cepat, bersandar pada dinding. Awalnya kesal, namun tak lama, terganti dengan rasa penasaran yang kuat, melihat Rei mengarahkan sebuah pistol ke dinding di hadapannya.
Ah, aku baru sadar. Tidak ada mawar yang merambat. Dinding di sekeliling kami—membentuk sisi seperti sebuah kotak—tampak lebih indah dengan petak-petak lukisan jenis bunga di permukaan dinding. Seperti susunan gambar dalam Game Onet, tiap petak yang berukuran kurang lebih 60 cm x 60 cm, mewakili gambar dari tiap jenis bunga.
Suara tembakan sebelumnya, Rei mengarahkan pada salah satu petak yang terlukis bunga azalea. Meninggalkan retak pada area tersebut. Bukan hanya itu saja, total ada 6 petak dalam kondisi retak dari masing-masing perwakilan jenis bunga, tersebar di setiap sisi dinding.
"Bunga terakhir," sahut Rei.
Sriinggg!
Seberkas cahaya muncul dari seluruh retakan. Saling menyatu dan menguatkan, membuat intensitas cahayanya terus meningkat. Setelah itu mencuat ke atas menembus langit, lalu berangsur-angsur hilang dan padam.
Rei merekatkan plester di keningku. "Yang lain akan segera tiba."
Aku tak menyadari kehadiran Rei yang sudah berjongkok di hadapanku. Seperti kehilangan fokus, aku masih tak mengerti apa yang terjadi. Beribu tanya ingin kusampaikan, namun tak sempat karena mereka mengejutkanku.
"Karin!"
Kutoleh cepat pada suara yang sangat ingin kudengar. Baru beranjak bangkit, belum sempat melangkah, pelukan mereka sudah lebih dulu menghambur padaku.
"Akiko! Yukiko!" balasku tak kalah haru. Air mataku menetes sebagai bukti rasa syukurku bisa melihat mereka kembali.
"Kalian baik-baik saja, kan?" (Karin)
__ADS_1
"Kau baik-baik saja, kan??" (Akiko dan Yukiko)
Serempak tanya kami bersamaan, hingga kekehan kecil pun ikut menyertai pertemuan. Justin dan Toru, penampilannya sedikit berantakan dengan beberapa luka gores di wajah. Mengingatkanku pada Rei, yang lukanya belum sempat kuobati.
Kedua tangan Akiko memegang wajahku, "Apa ini? Kau terluka?"
"H-hanya tergores sedikit, aku baik-baik saja!"
Ngek! Grek' greeettttt!
Tiba-tiba sisi dinding di hadapan kami terbelah seperti daun pintu yang perlahan terbuka. Rei, Justin, dan Toru, refleks membuat barikade di hadapan kami bertiga. Akiko dan Yukiko bertingkah aneh, mereka memalingkan wajah tampak malu-malu.
"Terjadi sesuatu, kan?" Rei terlihat sedang menggoda Justin dan Toru.
Di sebelah kiriku, Akiko menggeram. "Jangan berpikir macam-macam, ya!!"
"Itu pintu keluar." celetuk Toru.
Serempak kami semua berbalut hening.
Rei mengambil ransel milikku dan langsung menarik tanganku. "Ayo, kita pergi dari sini."
Aku menahan langkahnya. "Tunggu, Rei. Natsu ... bagaimana dengan Natsu dan Kouga? Bukankah seharusnya para dewi membebaskan mereka?"
"Mereka di sana. Lihatlah radarmu." sahut Rei. Langsung kusambar radar milikku, lalu kubiarkan langkahnya menarikku. Yang lain pun ikut berlari menuju pintu keluar labirin.
Sampai jumpa lagi, Tuan Putri.
Aku mendengar suara yang berbisik. Wajahku menoleh ke belakang, namun tak ada siapapun. Tangan kiriku mencengkeram tali tas selempang yang menyilang di dada. Mungkinkah labirinnya berhantu?!
Bugh!
"Ah! Rei—"
"Kumohon ikut denganku. Akiko, kau juga." sela Natsu memotong ucapan dan langsung menarikku pergi, ikut bersamanya. Terakhir kali kulihat raut wajah yang sama dari Natsu, adalah saat aku pergi membeli es krim ketika sedang demam.
"Ada apa?! Kenapa Kouga memukul Rei?!!" teriakku menuntut jawaban dari Natsu yang semakin membawaku menjauhi yang lain. Akiko yang ikut bersamaku pun tak banyak bicara. Kami sama-sama tahu, kalau Natsu berada dalam sikap yang tak bisa dibantah. Akiko pun pasti mengira alasan Natsu itu bersangkutan denganku. Setidaknya, itu yang terpikir olehku.
Natsu menghentikan langkahnya tepat di hadapan pohon besar. "Akiko, tolong periksa punggungnya. Buka pakaian untuk lebih jelas." titahnya sembari memalingkan badan.
"A-APAH??!" pekikku kaget. Akiko menggiringku untuk berdiri menghadap batang pohon—di posisi titik buta tentunya. Telapak kananku bersentuhan dengan permukaan kasar batang tersebut. Menopang tubuh yang gemetar heran, karena Akiko mulai menarik pakaian yang kupakai. Sungguh, memalukan! Dan yang lebih mengenaskan, aku tak bisa melarikan diri. Mereka berada di pengaturan yang kelewat serius.
. . Punggungmu ... apa terasa sakit?
. . Tidak, Kariiiin!!! Awaaa~s!!!
. . ijinkan aku ... untuk kembali ... membuka mata.
Pecahan ingatan saling bersahut membentuk rekaman peristiwa yang sempat memudar.
Bukh!
Tubuhku tersentak kaget, tangan kanan Akiko mengepal di batang pohon tepat di samping wajahku. Aku tahu dia sedang menahan kesal. Dan aku menyesal karena sudah membuatnya khawatir.
"Pantas saja Kouga mendaratkan pukulan! Tanganku tak sabar ingin memberinya juga!" geram Akiko.
"T-tunggu! Bukan salah Rei! Kami berada di situasi yang rumit! Lagipula aku baik-baik saja sekarang!" tukasku berusaha menjelaskan. "Rei selalu melindungiku. Jadi kumohon, jangan lakukan apapun padanya ...."
Akiko menghela nafas kasar. "Labirin membuat kalian makin dekat, ya." sahutnya masih dengan menahan amarah.
"Bagaimana? Apa yang kau lihat?" ujar Natsu memecah percakapan.
"Semuanya normal. Tak berbekas." jawab Akiko.
"Apa kau yakin? Bagaimana dengan luka gores?" selidik Natsu tak percaya.
Ya, aku sendiri pun heran. Jelas-jelas aku merasakan panah itu menembus kulitku. Minimal bisa merobek pakaian, atau meninggalkan noda merah.
"Hanya di kening. Selebihnya tak ada yang lain."
Tidak mungkin. Apa semua yang kurasakan hanya ilusi? Jika benar, bagaimana Natsu bisa tahu kalau aku terkena panah? Apa kita sama-sama terkena ilusi?
"Kuserahkan Karin padamu. Akan kubantu mereka membangun tenda." Akiko melangkah pergi. "Jangan mencuri kesempatan." toleh Akiko sebelum benar-benar menjauh.
Aku ingin ikut dengannya dan segera menemui Rei. Tapi, ada yang harus kutanyakan pada Natsu.
"Kemarilah ... apa kau tak ingin memelukku?" Natsu berbalik menghadapku sambil membuka kedua tangannya.
Tak perlu menunggu, kusambar sambutannya dengan langsung menghambur begitu saja, meraih pelukan hangatnya. Aku tahu, tak ada darah yang mengikat di antara kami. Namun, aku merasa ikatan yang ada melebihi ikatan darah. Saat seperti ini, aku tak bisa menahan air mataku untuk tidak mengalir.
"Maaf,"
Sepotong kata itu terdengar begitu halus dan hampir berbisik di dekat telingaku. Luapan khawatir saling membanjiri perasaan masing-masing.
"Maaf membuatmu cemas." Pelukanku mengerat. Kurasakan bahunya bergetar. Wajahku mendongak, kusentuh bahu kanannya perlahan. Kudapati ekspresinya seperti menahan sakit. "Kau terluka??" selidikku khawatir.
Natsu menghapus jejak air mataku. "Aku baik-baik saja, selama kau dalam keadaan baik." Ia mendorong kepalaku untuk kembali bersandar di dadanya. "Biarkan aku memelukmu lebih lama lagi."
Kubalas dorongan tangan Natsu dengan kembali menatap wajahnya. "Apa yang dewi itu lakukan padamu? Katakan padaku bagian mana saja yang sakit!"
"Hanya terkilir. Jangan khawatir." Natsu mengusap-usap kepalaku. "Kau bersikap manis sekali, aku jadi tidak tahan!" peluknya erat, membuatku sadar kalau saat ini aku sedang bersama dengan Natsu. Ya, Natsu.
/Terlalu lama!! Cepat kembali!!!!/
Teriak Akiko pada chanel Natsu yang juga bisa kudengar.
__ADS_1
"Akh!" Natsu melepas earphone-nya. "Si wanita pisang itu, selalu saja mengganggu disaat yang tepat!" gumamnya sambil mengusap-usap daun telinga. Aku tertawa, mengingat pernah melakukannya pada Rei. Ah, benar juga. Aku harus segera menemuinya.
Kami sepakat untuk bermalam di sekitar pepohonan yang tidak begitu jauh dari labirin.
"Justin! Kau menarik talinya kurang kencang!"
Suara Akiko terdengar jelas, aku hampir sampai. Berjalan bersama Natsu, menuju lokasi di mana tenda kedua masih dalam pengerjaan. Kedua mataku mencari sosok Rei, namun tak dapat kutemukan.
"Di sana rupanya." ucapku lega, merasa bangga dengan alat buatan Rei.
"Rei sedang memperbaiki robot tikusnya. Dia bilang tak ingin diganggu." sahut Yukiko, melihatku yang hendak masuk ke dalam tenda.
"Aku jadi semakin ingin mengganggunya." balasku jahil sambil melangkah masuk ke dalam tenda. Tidak sampai lima detik, aku langsung keluar dan bergegas mencari ranselku.
"Dasar bodoh!" umpatku.
Setelah menemukan apa yang kucari, diri ini kembali masuk menemuinya.
Sreth' mmph!
Rei tiba-tiba menyergap dan membungkam mulutku. Dia sengaja bersembunyi dan menungguku masuk.
"Jangan berisik. Aku tak ingin mereka mengusikku." bisik Rei pelan dengan aura menekan.
Kubalas dengan anggukkan paham. Rei menyingkir dan langsung melepas pakaian—bagian atas.
"A—" Kuhentikan ucapanku sesaat. "Apa yang kau lakukan?!" ujarku dengan suara yang lebih pelan. "Kenapa kau melepas pakaian?!!" Diriku refleks berpaling, duduk melipat kaki membelakanginya.
"Kau bilang ingin mengobatiku, kan?"
"T-tapi aku tak bisa melihatmu tanpa pakaian!" timpalku.
"Cepatlah, terasa perih dalam keadaan terbuka,"
Aku beranjak. "Kupanggil Akiko sa—"
"Ada yang ingin kau tanyakan padaku, kan?" sela Rei. Seperti biasa, dia berhasil menebak isi pikiranku. "Selain saat ini, aku tak akan memberi jawaban."
"Hahh ...." Tundukku menghela nafas. "Baiklah, kenapa kau terluka?"
"Kau bicara dengan siapa? Tatap lawan bicaramu." balasnya santai terdengar menyebalkan.
"Jawab saja!!" protesku masih menahan suara sembari berbalik cepat menatap kesal.
"Kau ingin membunuhku? Hawa dingin ini mulai membuat lukaku mati rasa."
"Ish!" Bangkitku mendekat. Kubuka kotak obat, "Harusnya langsung kau obati, bagaimana kalau sampai infeksi?" Kubersihkan lukanya dan bekas darah yang mengering. Terlihat jelas kalau jemariku gemetar. Aku hanya tak ingin menambah rasa sakit pada lukanya.
Kurekatkan beberapa plester di tangan Rei. "Kenapa kau punya banyak luka? Apa kau bertengkar dengan Putra Tulip? Aku mendengar suara ledakan. Apa yang terjadi? Padahal sudah janji akan segera menyusulku, tapi kenapa kau begitu lama?" luapku tanpa jeda. Mungkin terlalu fokus mengobati, hingga lupa mengontrol diri. Entah kenapa, aku merasa begitu emosional.
Rei terduduk dengan kaki kanan menopang lengan dan kaki kiri diluruskan. Wajah datar tanpa ekspresi, bola matanya mengikuti gerak gerikku. Ia diam tak berkomentar. Padahal biasanya membalas dengan lebih kejam. Tampak sedang menunggu, seperti sengaja memberi waktu untukku.
"Aku kembali mencarimu, tapi tersesat, dan malah bertemu dengan wanita aneh." sambungku.
Rei meraih daguku, membuat mata kami saling beradu. "Lukamu, apa kalian berkelahi?"
"Kenapa kau malah tertarik dengan satu luka milikku? Kau bahkan punya lebih banyak!" protesku.
"Apa yang dia lakukan padamu?" tatap Rei serius.
Kudorong tubuhnya dan kembali merekatkan beberapa plester di kaki. "Kami hanya bicara. Dia bilang, 'berkat dirimu, aku bisa mendapatkannya dengan mudah'. Dia menyamar sebagai diriku agar bisa menipumu! Karena itu, aku langsung bergegas, berharap menemukanmu lebih dulu. Tapi malah tertangkap si Putra Tulip. Hampir saja dia merebut ciuman pertamaku!"
Gigi Rei menggeletuk. "Tch, harusnya ku tembak saja kepala putra sialan itu!" gumamnya.
"Tembak? Oh, ya, dari mana kau mendapat pistol? Senjata itu sungguhan, kau tak mungkin membuat benda seperti itu." selidikku penasaran.
"Aku menemukannya di kapal. Daripada itu, apa kau yakin sudah berhasil menjaga ciuman pertamamu?" tatapnya memojokkanku.
"Aku yakin! Karena Putra Tulip hanya mencium punggung tanganku, lalu kukalahkan dia dengan menyebut kata cahaya!" jelasku penuh bangga.
"Hmm ..." dehamnya dengan nada yang dimainkan. Ia kembali memakai pakaiannya. "Sekarang giliranmu," Rei meraih pergelangan kaki kananku.
"K-kau mau apa?!" sergahku mengelak dengan masih mengontrol suara. Tangan Rei menahan kakiku. Ia melepas kaos kakiku, lalu mengoleskan krim racikan Akiko pada tumitku.
"Shh ..." rintihku pelan, terasa perih ketika Rei mengoleskannya.
"Kau sendiri saja tak sadar dengan lukamu."
"H-hanya lecet, itu karena berlari terlalu banyak!" timpalku sekenanya.
"Maaf dan terimakasih, kau ingin aku mengatakannya?"
"T-tidak! Kuanggap lunas karena sudah mengobatiku!" jawabku sekenanya. Kurapihkan kotak obat, bersiap melesat keluar. Tapi Rei meraih lembut lenganku. Ia menjatuhkan kepalanya di bahu kananku. "Sebentar saja. Kepalaku sakit."
"Eh? Kenapa?" Tanganku mengecek suhu tubuh di lehernya. "Kau tidak demam ...."
Tiba-tiba Rei beranjak. "Sekarang pergilah. Aku sangat sibuk." Ia kembali berkutat dengan kotak perkakasnya.
"Kau yakin? Kalau Yukiko, mau kupanggilkan?"
"Tidak." Rei mulai fokus dengan robot kecilnya.
"Baiklah. Jika butuh sesuatu, kau bisa memanggilku." pesanku sebelum benar-benar melangkah keluar.
Aneh. Apa dia yakin baik-baik saja? Sikapnya sangat sulit untuk bisa ditebak. Tunggu ... dia bahkan tak memberitahu satu pun jawaban dari semua pertanyaanku!
__ADS_1