Petualangan Cinta Pulau Impian

Petualangan Cinta Pulau Impian
Bunga : Labirin (1)


__ADS_3

[2 Agustus 2011 - Pukul 14.20]


Sempat kuberharap, ada istana megah di ujung jalan yang membelah taman ini. Namun nyatanya, peta membawa kami menuju pintu masuk sebuah labirin, berukuran sangat besar, seperti pintu gerbang istana di film-film garapan walt disney. Dua daun pintu yang tertutup rapat, tingginya kira-kira 10 meter dengan total lebar 4 meter. Terbuat dari kayu, dengan ukiran bunga mawar di setiap sisinya. Seluruh permukaan hampir diselimuti white climbing rose, yakni jenis mawar putih yang tumbuhnya merambat. Merekah indah, menyambut kami dengan suasana sakral yang damai.


Natsu menengadahkan kepala, menatap sisi teratas dari pintu besar di hadapan kami. "Wahh ... aku merasa sangat kecil,"


Ngek' grek!


(Suara daun pintu yang mulai bergerak)


"Pintunya akan terbuka!" sorakku antusias dengan senyum melebar.


Rei memijat kening dengan kedua jari. "Dasar, kau malah terlihat menikmatinya,"


"Baru kulihat pintu gerbang sebesar dan seindah ini! Kita akan masuk ke dalamnya, bukan? Aku tak sabar!"


Akiko mengetuk pelan bagian belakang kepalaku dengan punggung jarinya. "Kau harus lebih waspada."


Grek' kreeettt ...


Kedua daun pintu membuka perlahan, disertai suara gesekan kayu tua. Rei menggeser tubuhnya dengan cepat – berdiri tepat di hadapanku – hingga punggung lebarnya menutupi pandanganku. Kedua tangannya sedikit melebar ke samping, seakan menyuruhku untuk tetap berada di belakangnya.


"Rei, kau menghalangi!" protesku seraya berusaha menggeser tubuhnya, sembari mengintip dari balik lengannya.


"Hmph! Adik polosku itu tak akan paham arti tindakanmu." Natsu terkekeh melirik Rei yang berada di serong kanan belakangnya.


Huh, memangnya apa yang aku tidak paham?


Rei memalingkan wajah dari Natsu. "Tch, berisik!"


"Hari kedua petualangan cinta, kau semakin pro-tek-tif, ya ..." bisik Akiko dengan penekanan kata yang terkesan sedang meledek Rei.


"Pintu sebesar itu patut dicurigai! Aku hanya sedikit berjaga, karena si bodoh ini terlalu bersemangat!" ujar Rei tampak kesal.


Wuuu~shh ...


Hembusan angin segar bercampur dengan aroma mawar yang kental, menerpa tubuh kami ketika pintu labirin hampir terbuka sepenuhnya. Walau tubuh Rei menghalangi, aku masih bisa merasakan sapaan sejuk yang menggelitik tepian surai kehitamanku.


"Olfaktori di hidungku menangkap bau yang rumit dan manis, ini ... musk rose." Akiko terlihat menikmatinya.


"Natsu, oleskan lagi obatnya ke hidungmu!" teriakku menyadari begitu banyak bunga yang mekar.


Natsu menoleh ke belakang, menatapku riang. "Adikku begitu peduli, kemarilah." Tangannya menekuk memanggilku agar mendekat. Ia menggeser posisinya ke samping kiri, sambil terus menampilkan senyum aneh. "Mari kita bangun hubungan kakak-adik di setiap momen perjalanan ini, agar bisa menjadi lebih dek– " (ucapannya terhenti, tampak terkejut melihat Rei yang tiba-tiba menarikku)


Rei menggeser diri kembali ke posisi semula (di sebelah kananku), lalu menarik lenganku yang terborgol bersamanya. Cukup membuat jarak lebih jauh dengan Natsu. "Diam dan perhatikan," titahnya tanpa peduli dengan ucapan Natsu.


Tangan kiriku mengepal hendak memukul Rei. "Yak! Kau ini–"


"Ingin melihatnya, bukan?" potong Rei sambil melepaskan tanganku. Memukulnya pun tak jadi kulakukan, perhatianku teralih pada pintu labirin yang telah terbuka sepenuhnya. Memandang penuh khayal, pada sisi bagian dalam di balik pintu besar. Lebih dari kata indah. Apa benar ini hanya sebuah labirin? Imajinasiku bersahutan.


Namun tak begitu lama, ocehan Natsu menggusur pikiran indahku. Membuatku sadar pada kenyataan yang sesungguhnya.


"Heee~ aku tak tahu kau begitu po-se-sif ... memisahkan sang adik dari kakaknya itu tidak boleh, lho ..." ujar Natsu terdengar meledek karena nada bicara yang dimainkan.


Bisa kulihat jelas geraman amarah yang tertahan, serta kedua alis menukik pada kening yang berkerut, dari orang disampingku ini. Kuhela nafas kasar, begitu selesai membayangkan Rei dalam mode unmood. Aku tidak ingin jadi pelampiasannya.


"Natsu, hentikan!" lontarku menyela gerakan bibir Natsu yang hendak melanjutkan guyonannya .


Semua menoleh padaku dengan tatapan kaget yang menurutku berlebihan.


"K–kau ... membela ... nya ...." Ruh Natsu seakan melesat pergi, meninggalkan tubuh yang membatu kaku, seolah akan hancur berserakan jika ada yang menyentuhnya.


"Ssst ... jangan membuatnya marah! Aku tidak mau bertengkar dan jatuh dari pohon lagi. Aku ingin belajar menjalin hubungan yang baik. Kau harus mendukungku!" bisikku mengarah pada Natsu dengan tangan menutupi seluruh sisi mulut, tidak ingin Rei mendengarnya.


"M-menjalin ... hu ... bungan ...." Natsu mengeja lemah. "Tidaaakk!!! Aku belum siap kehilangan seorang adik!!" teriak Natsu tampak panik. Sepertinya dia tidak paham maksudku.


"Bodoh." Rei menjatuhkan tinju kecilnya di atas kepalaku.


Wajahku menoleh cepat. "Jangan pedulikan Nat– "


Ucapanku terhenti begitu tatapan kami bertemu.


Gawat! Wajah Rei memerah! Apa aku mengatakan hal yang salah?!


Kami berdua langsung memalingkan wajah satu sama lain. Kedua tanganku mengepal di dada. Panik.


Apa dia marah?! Apa kali ini dia akan melepas borgol lebih dulu?!


"Hmphh-hahahha!" Tiba-tiba Akiko, Yukiko, dan Justin tertawa dengan suara yang sebagian tertahan, karena telapak tangan menutupi mulut mereka.


Eehh?? Kumohon jangan tertawa lagi! Rei bisa tambah marah!


Teriak batinku.


"Apa kalian sudah siap?" Kouga angkat bicara.


"Ahh, syukurlah. Aku merasa diselamatkan." bisikku lega.


Garis wajah Kouga penuh keseriusan. Membuat kami – khususnya diriku – tersadar dengan situasi yang harus kami hadapi. Labirin. Membayangkan kembali satu kata itu, sembari memandang lurus sisi bagian dalam labirin dari jauh, membuat salivaku tertelan dengan susah payah.


"Ayo. Kita hanya perlu mencari jalan keluar." ajak Kouga dingin.


Aku memang lebih memilih untuk berusaha menikmati petualangan ini, daripada mengkhawatirkan hal yang belum pasti terjadi. Tapi sepertinya, aku terlalu bersantai hingga kurang waspada dan mengesampingkan keselamatan. Pantas saja Akiko, Rei, Kouga, dan yang lain selalu mengingatkanku.


Kupuntir-puntir jari, entah kenapa aku merasa begitu menyesal. "Maaf ...." Tiba-tiba kata itu keluar samar dari mulutku.

__ADS_1


"Perhatikan saja langkahmu," sahut Rei fokus memandang ke depan.


"Hm!" Kuanggukan kepala dengan cepat. Kulirik wajah Rei, dan aku pun senang. Tidak lagi memerah, dia sudah tidak marah.


***


Sungguh, aroma bunga mawar menyeruak masuk ke dalam indera penciumanku, memberi sensasi segar saat menginjakkan kaki melewai pintu labirin. Bagian dalamnya pun didominasi oleh white climbing rose. Namun, terselip musk rose berwarna merah muda-peach yang lembut, hangat dan menggoda, ikut merambat hingga mencapai sisi teratas dinding. Ada juga mawar chevy chase yang merambat tidak begitu tinggi, memberi sentuhan mewah dengan warna merah muda fuchsia. Seluruhnya menghiasi dinding yang membentuk labirin menjadi sangat menggemaskan, manis dan romantis. Wow, lagi-lagi kilatan imajinasiku mengharap sosok pangeran datang menyambut.


"Jauhi musk rose, jika tidak ingin terkena iritasi kulit." sahut Akiko.


"Iritasi? Bunga seindah ini??" tanyaku tak percaya.


"Ya, pastikan kau tidak menyentuh rambut di area biji bawah daging buahnya. Rambut itu menyebabkan iritasi kulit, serta gangguan pencernaan jika kau memakannya." terang Akiko.


"Entah itu musk rose ataupun yang lain, sudah kuperingatkan jangan menyentuh apapun yang berasal dari pulau ini. Ingat itu!" sahut Rei yang terkesan menghakimiku.


"Hugh, aku tahu!" balasku sambil memalingkan wajah sebal.


Beralaskan rumput hijau bak karpet alami, membuat pijakan terasa lebih nyaman. Langit biru cerah dan hangat seperti langit pukul 9 pagi, padahal jam tangan Rei menunjukkan waktu hampir pukul 3 sore.


Dengan hati-hati Rei menyingkirkan beberapa batang yang merambat, mengetuk dinding labirin, dan mengatakan bahwa itu dinding beton. Memiliki tinggi yang sama seperti pintu masuk – 10 meter – dengan tebal satu kaki. Ditambah dengan adanya mawar yang merambat, disertai duri dan masalah iritasi, cukup untuk menyimpulkan bahwa satu-satunya cara keluar adalah menelusuri labirin demi mencari pintu keluar.


Kreeet' Grekk!!


Kami serempak bergelinjang kaget, mengetahui pintu masuk labirin kembali menutup dengan cepat. Jantungku seperti melompat keluar. Pasalnya, kami sedang fokus menatap kondisi di dalam labirin, dan kurang memperhatikan pintu masuknya. Kini pintu besar itu sudah terkunci rapat.


"Kita tak bisa kembali," ucapku masih menyelaraskan degupan jantung yang sempat berpacu tiba-tiba.


"Memang tidak berniat untuk kembali," timpal Rei. "Dan ... mau sampai kapan kau memeluk tanganku?"


"Eh?! A-aku hanya terkejut!" kilahku cepat melepas tangan kirinya yang tanpa sadar kupegang erat. Aku beralih menggenggam tali bahu ranselku. Kenapa rasanya seperti akan memasuki rumah hantu? Perasaan macam apa ini?! Tiba-tiba suasana jadi hening. Labirin ini juga ... terlalu sunyi. Di mana angin yang berhembus sebelumnya?


Rei merogoh ransel. "Sudah tak sabar ingin keluar?" tanya Rei beralih menatapku. Tangan kanannya masih mencari sesuatu yang belum ia temukan dari dalam ransel.


"Hm! Apa kita bisa secepatnya keluar??" tanyaku sungguh ingin tahu. Itulah Rei, dia selalu bisa menebak apa yang kupikirkan.


"Hmph!"


Rei menahan tawa.


Akiko meninju bahu kiri Rei. "Jangan menggodanya." Lalu tatapan Akiko beralih pada sesuatu yang digenggam Rei. "Apa rencanamu? Yukiko sudah bersiap dengan gulungan tali sebagai penanda jalan."


Rei merunduk. "Biarkan makhluk ini mengerjakan tugasnya."


Rei mengaktifkan tikus penelusur jalan yang sudah disiapkan 5 hari yang lalu. Sejenis robot kecil berbentuk tikus putih. Didesain dengan sistem efek Doppler, agar bisa mengetahui kondisi dibalik dinding. Ditambah memori untuk mengingat jalan, sensor di permukaan luar supaya bisa menghindar dan berbelok, lampu sorot di kedua mata yang bisa digunakan saat gelap, serta kamera di bagian hidung yang akan menyampaikan gambaran visual ke ponsel Rei. Sinyal robot penjelajah itu sudah dikoneksikan dengan ponselnya.


Rei menatap serius layar ponsel. "Ujung labirin belum terdeteksi. Terlalu luas jangkauannya."


"Seberapa jauh?" tanya Kouga.


“Kenapa bukan elang dengan kamera pengintai di udara?” sahut Natsu sekenanya.


"Dalam waktu 5 hari, aku hanya bisa memodifikasi mobil remote control untuk dijadikan tikus darat, bukan tikus terbang." jawab Rei terlihat menahan diri. Tidak lama kemudian tikus putih Rei tiba.


Rei mengambil tikusnya. "Aku ada ide ....” Ia melirik Kouga, lalu kepalanya menengadah ke atas menatap langit, kemudian pandangannya berakhir pada tikus putih ditangannya.


"Aku mengerti," jawab Kouga singkat, seolah paham dengan apa yang Rei pikirkan.


Kemudian Rei dan Kouga berjalan saling menjauh. Aku dan Natsu terpaksa mengikuti karena borgol yang mengikat. Kira-kira sejauh 8 meter, mereka berhenti dan saling menatap. Rei melirik tikus putih di tangan kanannya, lalu bersiap di posisi ingin melempar benda yang tengah digenggamnya itu.


"Tunggu, Rei! Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku penasaran.


"Memberi pengalaman pada tikus darat, merasakan terbang di udara,"


Swuuu~shhh!!!


Rei melempar robot tikusnya ke atas. Melesat tinggi melewati sisi teratas dinding labirin.


"Wow ... kau tidak tertarik dengan baseball?" tanyaku sambil terus menatap ke langit. Dia bisa menjadi pitcher (pelempar bola) yang hebat, pikirku.


Rei menoleh ke arahku. "Ada yang lebih menarik dari semua hal yang kau pikirkan."


Kutatap wajahnya dan bola mata kami bertemu. "Apa itu?"


Rei beralih cepat menatap ponsel. "Bersiap untuk mendarat."


"Eh, benarkah?!" Ku ikuti pandangannya. "Ng? Ada apa?" Kulihat Rei memutar mundur rekamannya.


"Aku terlewat. Robot itu sudah menukik jatuh." Rei menatap ke atas. Lalu pandangannya mengarah pada Kouga. "Hampir tiba!!" teriak Rei.


"Serahkan padaku!!" Kouga bersiap di posisi untuk menangkap benda yang jatuh ke arahnya.


Hap!!


"Aku dapat! Masih aktif menyala! Bagaimana hasilnya?" Kouga jalan mendekat, diikuti oleh semua yang juga penasaran dengan jawaban Rei.


Rei kembali menatap ponsel, melihat rekaman yang disampaikan robot tikusnya saat melesat di udara. Seketika waktu disekitarnya berhenti. Tubuh Rei mematung, matanya tak berkedip, bola matanya fokus di satu titik, bahkan nafasnya seperti tercekat dalam momen singkat, sebelum waktu miliknya kembali berjalan.


"Rei," sapaku hanya ingin memastikan. Aku mungkin salah untuk bisa memahami isi rekaman gambar itu.


Akiko meraih cepat ponsel Rei. "Bukankah kita berada dekat dengan pintu masuk? Lalu di mana pintu masuknya? Aku hanya melihat susunan dinding sekat yang membentuk labirin."


Kouga memberikan robot tikus putih pada Rei. "Padahal lemparanmu sudah cukup tinggi, tapi ujung labirinnya masih belum terlihat,"


Rei mengambil ponselnya dari Akiko. "Kita terperangkap."

__ADS_1


Kuraih baju di lengan Rei. "Terperangkap? Apa kita dalam bahaya?" Tiba-tiba rasa cemas hinggap, dan mulai menyebar perlahan.


"Sejak awal, sudah berniat masuk dalam bahaya." Rei menegaskan. "Karena itu, banyak persiapan dilakukan. Akan kupastikan kita keluar dari sini."


Terlalu banyak bicara. Aku tahu pikirannya sedang mengolah. Rei belum menemukan jawabannya.


"Yosh! Mari kita mulai!" Natsu bersemangat. "Wajahmu mengatakan ingin kupeluk." bisik Natsu di samping telinga kiriku.


Kedua tanganku langsung mendorong Natsu menjauh. "Aku tidak ingin dipeluk!!"


Lagi-lagi semua pandangan mengarah cepat pada Natsu.


"A-ayolah, aku hanya bercanda, he ... he ... he ..." Natsu membela diri begitu mendapati tatapan siap membunuh dari Akiko.


"Kembali di posisi masing-masing." Kouga menyeret tali borgol Natsu.


"E-ehh ... bahkan kau juga! Tunggu, aku bisa jalan sendiri!" protes Natsu.


"Hmph haha!" Tanpa sadar aku menertawainya. Perasaanku terasa jauh lebih baik. Sepertinya Natsu menyadari itu. Dia hanya menghiburku.


***


Natsu-Kouga-Rei, mereka jalan beriringan di barisan depan. Posisiku berada di serong kiri belakang dari Rei, tepat di belakang antara bahu kiri Rei dan bahu kanan Kouga. Rei bertugas menunjukkan jalan, yang sebelumnya terekam oleh robot tikusnya. Sekarang pun, robot itu sedang melanjutkan penelusurannya kembali.


Sesekali Kouga melirik ponsel Rei, untuk memastikan arah jalan. Itu karena pandangan Rei hanya fokus menatap layar ponsel, dan larut dalam pikirannya. Ia sama sekali tak melihat ke depan. Tapi berhubung otaknya di atas rata-rata, kami tak perlu khawatir akan salah jalan, kemungkinan langkahnya tersandung saja nol persen.


Akiko berada di sebelah kiriku, bersama dengan Justin yang berada di sisi kiri Akiko. Untuk berjaga-jaga, di barisan belakang ada Toru dan Yukiko yang bertugas mengulur benang, menandakan jalan. Tak sepenuhnya benang itu diulur, kira-kira dipotong 1 meter setiap kami berbelok, lalu disisipkan diantara sulur tanaman.


Setelah 200 meter berjalan dari pintu masuk, kami dikejutkan dengan kehadiran dua sosok wanita. Penampilannya seperti peserta cosplay. Aneh, rumit, dan bukan pakaian yang pas untuk seorang petualang.


Tangan kanan Kouga menutup layar ponsel Rei. "Firasatku buruk soal ini." bisik Kouga tanpa melepas tatapannya dari kedua sosok itu. Ia mendorong tubuh Rei, hingga mundur dua langkah ke belakang. "Lindungi Kari-" (ucapan Kouga terhenti, karena tiba-tiba sosok wanita itu menutup mulutnya)


Cepat, sangat cepat!


Mataku belum sempat berkedip. Dengan agresifnya, kedua wanita itu langsung mencium bibir Natsu dan Kouga yang berada di barisan depan, tepat di hadapanku dan Rei, tanpa disertai penolakan dan perlawanan. Bahkan sampai wanita itu selesai mendaratkan kecupannya, mereka masih berdiri mematung. Mungkinkah kedua wanita itu kenalan mereka yang juga mengikuti petualangan ini? Tapi aku hafal semua teman Natsu, dan tidak ada yang seperti mereka. Natsu dan Kouga juga bukan tipe orang yang menerima dengan mudah, seperti perlakuan khusus dari orang asing. Sebelumnya, Kouga pun terlihat begitu panik.


Siapa kalian?


Oh, tidak! Suaraku tidak bisa keluar?! Tubuhku juga tak bisa digerakkan?! Ada apa denganku??! Reiii~!! Bola mataku bergeser cepat, melirik kuat pada laki-laki di sebelah kananku ini.


Ah, bahkan Rei juga. Raut wajah kagetnya, tercetak jelas menangkap sosok asing dihadapan Kouga. Tangan kirinya yang terlihat ingin meraihku pun, menggantung di udara begitu saja, seolah waktu disekitarnya sedang berhenti.


Apa mungkin teman-teman juga ... ? Ya, sepertinya kami semua membatu di tempat! Apa yang terjadi?! Siapa wanita itu?!! Batinku bergelayut panik pada firasat yang memburuk.


Splash!


Kejutan bertambah. Mataku membulat, nafasku tercekat. Melihat tubuh Natsu dan Kouga berubah menjadi butiran air bercahaya, dan perlahan menguap di udara! Kini ilusi apa lagi? Hanya bisa menyaksikan tanpa mengulurkan tangan. Tidak mungkin wanita itu merubahnya! Masih adakah penyihir di jaman ini? Apa aku terlalu berimajinasi? Atau mungkin aku sedang bermimpi? Rei, aku tidak mengerti! Teriak batinku resah.


Wanita dengan lambang matahari di keningnya, memegang ekor tikus putih, yaitu robot penelusur jalan milik Rei. Menunjukkan hasil tangkapannya di hadapan kami, kemudian melempar tikus itu hingga membentur dinding. Membuatnya sedikit berserakan dengan isi perut yang keluar. Rei menggeram, sepertinya dia marah. Aku pun merasa kesal, dan yakin bahwa Akiko sangat ingin memukul wanita itu. Tapi sebesar apapun kekesalan dan kemarahan kami, dengan tubuh yang seperti terbelenggu ini, tidak ada yang bisa kami lakukan selain menahan diri di pijakan masing-masing.


Wanita itu berjalan mendekatiku. “Kalian tidak memerlukannya. Kami akan menjawab semua pertanyaan kalian,” ucapnya sambil menunjuk robot kecil Rei yang malang.


“Kau tampan juga,” sahut wanita yang memiliki lambang air di keningnya, seraya terus menatap Rei. “Namun sayang, aku tidak bisa memilikimu.”


Dewi Matahari dan Dewi Air ― kedua wanita itu membuka identitasnya. Mereka bertugas menyambut pendatang yang masuk ke dalam labirin. Sempatku mengira bahwa mereka adalah peserta lain yang mengikuti petualangan ini.


Kenapa Dewi? Bukankah pangeran jauh lebih menarik?


Pikirku melanjutkan imajinasi sebelumnya.


Eh, tapi bukan berarti aku ingin pangeran itu melakukan sesuatu ... s-seperti yang terjadi pada Natsu dan Kouga!!! Sama sekali tidak! Bukan seperti itu!


Kesadaranku menepis semua imajinasi.


“Jika ingin melewati labirin dan menyelamatkan dua teman kalian, hadapilah putra dan putri mahkota bunga,” tutur wanita yang mengaku sebagai Dewi Matahari.


Natsu dan Kouga?! Mereka ada di mana? Apa mereka dalam bahaya? Tunggu, putra dan putri mahkota bunga ... lalu Dewi Air dan Dewi Matahari, apa ini negeri dongeng?!


Pikiranku berkecamuk.


“Putra dan putri mahkota bunga akan datang dan merebut seseorang yang berada di samping kalian.” sambung wanita yang mengaku sebagai Dewi Air.


Tubuhku tersentak. Aku benar-benar mematung ditengah kondisiku yang terbelenggu ini. Bola mataku bergeser cepat, melirik Rei yang juga sedang menatap kearahku lewat ekor mata. Setidaknya bola mata kami masih bisa leluasa bergerak. Sekujur tubuh Rei bergetar, seakan terus berusaha melepaskan diri.


Dewi matahari berjalan perlahan mengitariku. “Jika kalian tertangkap, mereka akan mendaratkan satu kecupan maut sebagai hadiah, dan kalian akan ... mati,” bisiknya di dekat telingaku.


Secepat kilat, bulu halus di sekujur tubuhku menduri akibat penekanan kata yang ia berikan saat mengucapkan kata mati. Darahku mengalir cepat, bersamaan dengan irama jantungku yang berdetak kacau.


K-kecupan maut ...?! Apa bedanya dengan kecupan yang didapat Natsu dan Kouga? Tapi ... itu sama saja dengan dicium, kan??! Bukan hanya ancaman kematian, mereka merubahnya menjadi hal diluar nalar! Dan satu lagi ... aku tidak mau menyerahkan ciumanku!!


Kedua Dewi bergantian memberi penjelasan. Dikatakan bahwa Natsu dan Kouga tergantung di sebuah pohon besar. Mereka terlilit sulur-sulur tanaman yang bisa dengan mudah membuat tubuh mereka sesak, remuk, dan mati. Hanya jika, orang yang sangat mereka sayangi di antara kami ― entah Akiko, Yukiko, Rei, Justin, Toru, atau aku ― ada yang terluka atau mati.


Ah, terlalu banyak kata mati! Permainan bodoh macam apa ini?! Seenaknya saja mempermainkan nyawa orang! Batinku terus memprotes.


“Sebagai sandera, kedua teman kalian hanya bisa menyaksikan perjuangan kalian melewati labirin ini,” lanjut Dewi Air.


“Masing-masing dari kalian, punya satu kesempatan untuk meminta bantuan kami, dengan menyebut kata air atau cahaya. Pilih dan gunakanlah dengan tepat, bantuan itu hanya berlaku selama 10 menit. Selebihnya, lindungi takdirmu dan takdirnya, dengan takdir yang baru.” sambung Dewi Matahari.


“Jagalah pasangan kalian masing-masing. Berusahalah untuk tetap hidup,” ucap mereka bersamaan seraya berjalan pergi meninggalkan kami.


Puff!


Bebas. Tubuh kami kembali bisa digerakkan.


__ADS_1


__ADS_2