Petualangan Cinta Pulau Impian

Petualangan Cinta Pulau Impian
Roh Rubah dan Permainannya


__ADS_3

[3 Agustus 2011 - Pukul 11.25]


"Sekarang kalian melihatnya, dunia perbatasan."


Setelah menyadari arah pembicaraan Kitsune, indera kami menajam hingga mampu melihat, mendengar dan merasakan hadirnya sisi dunia yang lain. Tempat di mana kami pikir lebih aman ketimbang harus menuruni lereng mendekati gerbang, tak lain adalah dunia yang bahkan menolak kehidupan dan kematian. Justru area yang sempat kami curigai berbahaya, karena tidak mencirikan adanya kehidupan, malah menjadi tempat teraman yang sejauh ini kami nantikan.


Raungan keputusasaan menggema di segala penjuru hutan. Jeritan kesedihan saling menyahut memekikkan telinga. Langit yang tadinya cerah ditemani rintikkan hujan damai, perlahan menggelap menyesuaikan keadaan—pilu dan mencekam.


Hanya karena tak melihat secara langsung, bukan berarti aku tidak tahu. Inderaku yang lain mampu menangkap situasi dengan jelas, hingga berefek pada tubuhku yang enggan berhenti gemetar.


"Apa ini cukup?" Toru beranjak menghampiri Rei. Dia berhasil menyelesaikan patung batunya.


"Tidak buruk. Kau bisa menaruhnya di depan gerbang."


Sudut mataku masih bisa melihat Rei yang sedang berjalan mengikuti perintah Kitsune—menaruh patung batu rubah kecil tepat di depan gerbang. Setelah itu, ia mengambil beberapa langkah mundur untuk menunggu sesuatu yang akan terjadi.


SRIINGGG !!!


Cahaya putih terpancar dari tengah gerbang. Cukup untuk membutakan penglihatan, jika tetap memaksa melihatnya dengan mata telanjang. Dan tak lama kemudian, hembusan angin ikut lenyap bersamaan dengan cahaya putih yang memudar.


"Ukh ... kepalaku pegal," keluhku masih merunduk memeluk lengan dengan mata terpejam.


Sreth!


Seseorang menutup mataku dengan kain. Olfaktoriku mengenali aroma kain penutup itu, yang tak lain adalah sapu tangan milik Rei.


"Kau bisa membukanya kapan pun kau siap," ujar Rei yang kini berdiri di belakangku. Tangan Rei memegang keningku, mendorongnya perlahan hingga kepalaku menegak dan bersandar di dada bidangnya.


"Terima kasih," bibirku mengalun tenang. Terkadang berada di dekatnya bisa mempertebal rasa nyaman.


"Sudah lama aku tidak bebas."


Suara Kitsune bersama langkah kakinya terdengar mendekat. Sepertinya ia berhasil keluar gerbang dan mendapatkan wujudnya.


"Kitsune, kau itu roh rubah, kan? Mengapa wujudmu ... berbeda?" Natsu bingung, terkesan ragu-ragu. Aku yang mendengarnya jadi ikut bertanya-tanya.


"Bukankah lebih mudah berbaur dengan memakai wujud yang sama?"


"Sudah kusesuaikan juga dengan ingatan gadis kecilku."


"Ingatan? Gadis ... kecilku? Maksudmu Karin??" selidik Natsu. "T-tunggu, sejak kapan kalian menjadi lebih akrab??!"


"Hei," Tangan kanan Rei memegang bahu kananku. "Siapa laki-laki berambut panjang dalam ingatanmu?" bisik Rei di belakang telinga kiriku. Hembusan napasnya terasa dekat—menyudutkanku.


Laki-laki berambut panjang?


Batinku mengulang sambil berusaha mengingat.


"Aku tidak tahu tentang laki-laki yang kau maksud. Yang terpenting saat ini, kita harus segera menyelesaikan tantangannya, kan?" alihku masih belum bisa mengingat.


"Kekuatanku sudah membungkus area cekungan. Kau bisa membuka matamu, gadis kecil."


"Benar, dunia perbatasannya jadi tidak terlihat ...." imbuh Yukiko—meyakinkanku.


"Baikla—"


Seseorang menahan tangan kananku saat hendak menarik kain penutup mata.


"Jangan dibuka," sahut Rei yang ternyata menghentikan gerakan tanganku.


"Eh, kenapa? Bukankah sudah aman?" tanyaku bingung.

__ADS_1


"Pft—ahahahahaha!" bahak Natsu tiba-tiba. "Ah, maaf-maaf! Aku tak bisa menahan tawa dengan baik seperti wanita pisang yang di sana!"


Apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa Natsu tiba-tiba tertawa?


"Tsk, terserahlah."


Rei mendorongku dan langkahnya terdengar menjauh. Sekilas ia mendecak, mungkinkah sedang merasa kesal? Ah, aku tak tahan! Menebak-nebak jadi sangat melelahkan.



"Eh?"


Diriku terperanjat kaget saat kain penutup mata dilepas. Mataku berhadapan langsung dengan sosok asing yang serba putih. Apa ada malaikat yang baru saja jatuh ke dunia manusia?!


"Bagaimana? Bulu panjangku sesuai yang kau harapkan, bukan?"


Sosok asing yang serba putih itu berbicara sambil memamerkan rambut putih panjangnya. Isi kepalaku berusaha mengolah maksud dari pertanyaannya.


. . Siapa laki-laki berambut panjang dalam ingatanmu?


"Kau— Kitsune??! T-tunggu dulu, bulu panjang yang kubayangkan itu mirip Leavitt, kucing peliharaan Justin. Aku tak menyangka kalau Kitsune akan berwujud manusia," beberku panjang lebar, berharap bisa menjawab kesalahpahaman dari pertanyaan Rei sebelumnya.


"Pffft, AHAHAHA—Hemp!" Natsu membungkam mulutnya. "Rei bisa membunuhku jika kelepasan tertawa lagi," gumamnya.


"Jangan samakan aku dengan seekor kucing."


"T-tidak sama sekali! Kau sangat tampan dengan wujudmu saat ini," senyumku berusaha merubah suasana. "Hanya roh rubah suci dengan kekuatan besar yang mampu berganti wujud. Aku senang bisa memanggil Kitsune hebat seperti dirimu!" sambungku bangga.


"Rupanya gadis kecilku pandai mengambil hati,"


Aku tidak bohong, wujudnya memang tampan. Kulit putih halusnya terkesan lebih terawat, hingga membuatku iri sebagai perempuan. Rambut panjangnya—berwarna perak keabuan—tergerai jatuh bak model iklan sampo. Rahang tegas dengan hidung mancungnya, membentuk kontur wajah yang cantik jadi makin rupawan. Iris peraknya memancarkan pesona yang bisa menjerat lawan bicara, jika terlalu lama menatapnya. Wah ... wujudnya terlalu sempurna sebagai manusia.


"Kau memujiku?"



Syut,


"Berhenti menatapnya," bisik Rei menarik lenganku menjauhi Kitsune.


"Apa kau tak berniat memakai wujud aslimu?" sambung Rei menatap Kitsune.


"Wujud ini sudah cukup. Gadis kecilku menyukainya."


Napas Rei tercekat. Aura mode unmood-nya terpancar jelas. Sikap waspadanya kelewat batas, memberi kesan tak suka pada lawan bicara. Aku berada dalam zona bahaya jika tidak bisa meredamnya.


"Apa ini akan menjadi pertarungan antara manusia dan makhluk suci?" celetuk Justin yang dibalas anggukkan sependapat oleh Natsu.


"Hahh ...." Akiko menghela napas. "Kitsune, tolong jelaskan saja tantangan kami selanjutnya."


***


"... tidak mungkin," ucapku gemetar di tengah penjelasan Kitsune. Seluruh badanku menggigil, tapi bukan karena kedinginan. "Aku tidak mau ... melukai kalian," lirihku memeluk erat kedua tangan.


"Hei, bodoh! Tenanglah!" Rei mengguncang bahuku.


Wajahku menengadah—menatap wajah Rei. "B-bagaimana aku bisa tenang, tubuh kita akan diambil alih, sedangkan jiwa kita menjadi tawanan dari roh jahat?!! Bagaimana jika nanti aku tak bisa mengendalikan tubuhku dan menyerang kalian?!" teriakku mencengkeram pakaian di dada Rei. "Aku ... aku tidak mau, hiks," wajahku merunduk, ingin menyembunyikan air mata yang baru saja lolos dari sumbernya.


"Aku juga ... takut membayangkannya," lirih Rei memberi jeda di tengah kalimat. "Tetapi, kita masih belum mendengar fungsi keberadaan Kitsune." Rei mengangkat daguku, hingga wajah kami hampir beradu. "Jika dia tidak berfungsi, akan kupikirkan cara yang lain," sambung Rei menyeka air mataku. "Jadi ... tenanglah."


Kata-kata Rei seperti obat penenang. Entah sejak kapan, harapanku jadi sering bertaruh pada tiap penuturannya.

__ADS_1


"Walau bicaramu tidak sopan, kau sudah kuampuni, karena berhasil menenangkan gadis kecilku."


"Itu salahmu karena tak bisa menjelaskannya dengan baik," gumam Rei memalingkan wajah.


Swush~


Perlahan angin berhembus, dan kami tahu penyebabnya.


"Ekhm," Kouga berdeham. "Bisakah kita lanjutkan pembicaraan yang tertunda?"


Hembusan angin mereda. Kitsune kembali bercerita. Tentang sebuah permainan yang akan kami lakukan, di sembilan hutan menyeramkan.


Bukan sembarang tempat, kesembilan hutan itu memiliki kisah yang melekat. Lokasinya berada di dunia yang sama dengan Kitsune—dunia para roh. Hanya saja berada di tingkat terbawah, tempat roh jahat sering berkeliaran.


Kitsune akan menuntun kami masuk dari hutan pertama sampai hutan terakhir melewati gerbang merah di hadapan kami. Begitu kami tiba di hutan tujuan, salah satu dari kami akan langsung menghilang, karena tubuhnya dirasuki roh jahat—si tokoh utama—pemilik kisah hutan yang kami kunjungi.


Roh jahat yang menjadi tokoh utama, akan berusaha mengambil alih tubuh dan memakan jiwa si pemilik tubuh yang ia rasuki. Kitsune berperan untuk memurnikan roh jahat, hingga tubuh dan jiwa yang dirasuki bisa kembali bebas.


Ada batasan waktu yang harus dipenuhi agar bisa menyelamatkan korban yang dirasuki. Sampai ketika daratan dipenuhi oleh mekarnya bunga Higanbana (Red Spider Lily, nama ilmiah : Lycoris Radiata). Bunga yang mekar saat daunnya berguguran.



Lewat dari waktu mekar atau dimana bunga Higanbana mulai layu, roh jahat akan seluruhnya mengambil jiwa si pemilik tubuh, dan saat itulah perpisahan sesungguhnya akan menanti. Sesuai dengan julukan bunga tersebut—bunga kematian.


"Apa ada syarat untuk memurnikan roh jahat?" selidik Rei.


"Harus menyelesaikan masalah yang merubahnya menjadi jahat."


"Tolong sebutkan nama kesembilan hutan itu. Akan kupikirkan cara penyelesaian konflik beserta ending-nya, sebelum kami memerankan drama mereka."


"Informasi hutan baru bisa diketahui saat menginjakkan kaki di sana."


"Aku heran, kenapa lomba ini diberi nama Petualangan Cinta? Akan jauh lebih cocok jika namanya diubah jadi Petualangan Kematian, kan ...." gumam Natsu sekenanya.


"Tidak akan ada yang mau mendaftar. Dan sekarang kau menjadi salah satu orang yang tertipu," balas Toru juga sekenanya.


Ujung sepatu Natsu menendang-nendang kerikil kecil. "Sial, bicaramu benar sekaligus menyakitkan,"


Batinku juga ikut mengiyakan ucapan Toru. Faktanya kami memang tertipu. Dari enam clue tantangan, kita baru di tantangan kedua ber-clue bunga. Itu karena Zeroichi-sama tidak mengatakan dengan jelas kalau satu clue ternyata bisa memiliki banyak permainan di dalamnya! Bahkan dia selalu saja mengancam tentang kematian!! Jika bertemu dengannya, aku ingin—


Gyut.


Rei mencubit pipiku. "Hentikan lamunanmu. Kening berkerutmu itu bisa memperlambat penyembuhan luka di dahimu."


"Oh, ya! Kenapa kau melemparku dengan benih padi?" tunjukku penasaran pada Kitsune setelah mengingat kejadian di awal.


"Tanda bahwa kau pemanggilku. Benihnya menghampirimu."


"Baiklah, kembali pada percakapan kita." Rei menautkan fokusnya pada Kitsune. "Berarti tugasmu hanya membuka gerbang, memberitahu sebuah kisah, dan memurnikan roh? Selebihnya kami yang akan berpikir tentang cara penyelesaian masalah sang tokoh utama, kan?" Rei memastikan.


"Kau benar."


"Cih, menyebalkan," decak Rei memalingkan wajah. "Bagaimana tentang perlindungan? Apa kau akan selalu melindungi kami—tanpa terkecuali—jika ada bahaya? Atau, kau akan memberikan senjata yang bisa kami gunakan untuk melindungi diri?"


"Tugasku hanya membimbing."


Jemari tangan Rei mengepal, "Tolong katakan dengan jelas. Ini menyangkut nyawa kami sebagai taruhannya!" Emosi Rei meluap. Ia bahkan tak ragu menunjukkan mimik kekesalannya pada lawan bicara, yang notabene bukanlah manusia.


"Aku bisa menjadi perisai kalian, hanya dengan satu cara ..."


Kitsune menatap ke arahku. Memanggil kembali firasat burukku.

__ADS_1



__ADS_2