Petualangan Cinta Pulau Impian

Petualangan Cinta Pulau Impian
Bunga : Hutan - Dow Hill Forest, India (1)


__ADS_3

[3 Agustus 2011 - Pukul 12.03]


Kami berdiri memantapkan langkah kaki, bersiap menjelajahi wisata dunia lain yang tak pernah terbayang sama sekali. Ditemani makhluk suci penjaga Gerbang Inari—Kitsune, si rubah putih—yang berperan sebagai pendamping, walau lebih mirip tour guide bagi kami. Memiliki tugas sebagai pemurni yang akan mengakhiri kisah happy ending para pemain.


"Jadilah perisai kami,"


Pintaku beberapa saat lalu pada si rubah putih. Menambah perannya yang tak hanya mendampingi, tetapi juga menjaga dan melindungi kami, sesuai dengan tujuan awalku membuat kontrak suci.


"Seperti yang kau harapkan, gadis kecil."


Jawaban yang terkesan pasti, ia tunjukkan dengan paras penuh keyakinan. Tubuhnya membungkuk dengan tangan kanan melipat di dada. Perlakuannya memancingku berhalusinasi. Menciptakan pengalaman sensorik yang tampak nyata sebagai tuan putri pemilik roh suci, seperti dalam beberapa film animasi. Logikaku kacau, antara menikmati sekaligus ingin berlari pergi dari kenyataan ini.


Permohonan yang kuutarakan masih belum bisa menenangkan pikiranku dari berbagai prasangka negatif. Kitsune tak mampu mengecualikan diriku agar terlepas dari giliran permainan. Intinya, ia tak punya kuasa untuk mengubah aturan yang berkaitan dengan petualangan.


Rei menggenggam tangan kananku. "Ingat yang kukatakan,"


"Hm," tundukku mengangguk. Mulutku enggan berkomentar.


Rei memintaku untuk selalu berada di sisinya. Walau Kitsune ada bersamaku, Rei masih belum sepenuhnya percaya. Padahal tanpa dipinta pun, sama sekali tak ada niatan yang tercetus dalam pikiranku untuk menjauhinya dan bergerak sendirian di dunia asing itu.


Kitsune dengan wujud manusia—memakai kaos dan celana panjang serba putih tanpa alas kaki—menuntun kami di posisi terdepan. Sedangkan kami mengikutinya dengan membentuk dua baris memanjang ke samping sambil bergandengan tangan. Natsu, Kouga, aku, dan Rei berada di baris pertama, sedangkan sisanya berada di belakang.


Selangkah demi selangkah, kami semakin mendekati gerbang. Mempercepat irama jantungku yang kian sulit dikendalikan. Jadi teringat saat Rei menggeretku masuk ke rumah hantu tahun lalu—di musim penghujan—akibat kalah taruhan. Ditambah suara petir yang bersahutan, rumah hantu jadi semakin mengerikan. Namun jika dibandingkan saat ini, level menakutkannya sangat tidak sepadan, karena rumah hantu yang kutahu semuanya adalah tipuan.


"Melangkah saja seperti kalian biasa berjalan."


Tutur Kitsune sebelum tubuhnya menghilang masuk menembus dunia di sisi lain gerbang. Sedikit terperangah melihat gerbangnya benar-benar berfungsi. Padahal tak ada yang berubah dari tampilannya. Mataku masih bisa melihat kerikil membentang di seberang gerbang.


"Mph!"


Mataku terpejam sama kuatnya dengan genggaman di kedua tangan. Walau terasa berat, kakiku tetap menarik langkah untuk maju perlahan. Aku tak ingin menjadi beban, batinku terus meyakinkan diri berulang-ulang.


"Aku akan ... melindungimu."


Ucapan Kouga yang berada di samping kiriku terdengar samar. Mungkin karena baru saja kami menembus lapisan gerbang. Intensitas cahaya di balik pelupuk mata yang kuterima sedikit berkurang. Bisa kutebak bahwa suasana lingkungan yang kupijak saat ini terkesan lebih gelap. Aroma udara di sekitarku juga berbeda. Pertanda bahwa kami berhasil tiba.


"Dow Hill Forest, India."


Kitsune membuka sesi hutan pertama. Genggaman di jemari kananku menguat. Cukup melegakan, bisa mengetahui kalau Rei ada di sampingku. Namun, beberapa detik kemudian tubuhku mendadak kaku. Kehampaan menyerang sisi kiriku tanpa ragu.


"... Kouga!"


Refleks diriku membuka mata dan mengedarkan pandangan. Alih-alih menemukannya, yang kudapat malah raut wajah tertekan milik teman-teman, dan ... barisan batang pohon yang tinggi menjulang.


"Ceritakan kisahnya," Rei mendesak Kitsune dengan sorotan tak sabar. Genggaman tangannya sedikit pun tak melonggar. Sama seperti yang kulakukan. Sadar bahwa permainan sudah dimulai, terhitung sejak detik awal Kouga menghilang.



Dow Hill Forest, India—hutan yang terletak di kota kecil Kurseong, West Bengal, India. Kota yang posisinya berada di kawasan perbukitan. Diapit oleh Bangladesh di sebelah kanan dan Nepal di sebelah kirinya. Kota Kurseong bukan salah satu destinasi wisata top di India. Namun, jika membicarakan tempat menyeramkan di Negara Bollywood ini, maka kota tersebut akan selalu masuk dalam daftarnya.


"Penebang kayu kerap mendengar tawa anak-anak saat berada di dalam hutan. Dengan memakai baju seragam, mereka berlarian membawa ransel dan bersembunyi di balik pepohonan."


Kitsune menceritakan kisah mereka dengan mimik yang sangat pas. Menambah kekentalan aroma menegangkan di sekitarku.

__ADS_1


"Karena penasaran, si penebang kayu mengejarnya. Dan yang ia temukan adalah anak-anak tanpa kepala," sambung Toru membuat tubuhku semakin melekat pada Rei.


Leherku menoleh kaku, melirik Toru di serong kiri belakang, "D-dari mana kau tahu ...?" gagapku takut bergelayut di lengan Rei.


"Banyak yang mengulas kisahnya di beberapa website," imbuh Justin mengisyaratkan bahwa cerita itu cukup terkenal.


"Latar dan kisahnya memang terinspirasi dari dunia manusia."


Apa bisa disebut beruntung karena beberapa dari kami familiar dengan kisahnya? Pikirku membatin.


"Latar bisa saja sama, tetapi kisahnya mungkin berbeda. Kita harus tetap waspada," timpal Rei seolah baru saja menanggapi isi pikiranku.


DING! DONG!


DING! DONG!


Bagai petir di siang bolong, bunyi lonceng besar menyela percakapan kami. Benturan dari bandul dan badan lonceng itu membuat jantungku berolahraga, melompat-lompat di dalam rongga dada. Menguras banyak tenagaku yang bahkan baru di menit awal permainan.


"A-akan kusewa lenganmu!" seruku menyembunyikan wajah di balik lengan Rei.


"Kau tak boleh lari saat aku menagihnya," sahut Rei.


"Terserah, aku janji!" pasrahku tak peduli. Diriku sibuk mengatasi rasa takut yang mendarah daging ini.


"Pfft ... bisnis apa yang kalian bicarakan ...," kekeh Natsu mengusap kepalaku, kemudian jari telunjuknya menekan-nekan pipiku. "Kita harus cepat menemukan Kouga. Aku tak suka melihat wajah pucatnya."


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


"Kalian tidak mendengar bel sekolah sudah berbunyi? Kenapa masih berkeliaran di tengah hutan? Cepat kembali dan jangan membolos!"


Lelaki asing berusia 40 tahunan menegur kami sambil mengibas-ngibaskan tangan. Penampilannya amat sederhana, memakai ikat kepala berupa kain warna cokelat, dipadukan dengan celana bahan warna hitam, dan kaos putih berlengan pendek yang tampak kusam.


"Eh, a-aku bisa paham bahasa Hindi!" bisikku terkejut baru menyadarinya.


"Pengaturan komunikasi sudah diatur supaya kalian bisa saling memahami."


"Wow, hebat! Apa Kitsune bisa menerapkannya padaku saat pelajaran bahasa asing di sekolah?" tanyaku sangat antusias.


"Jangan lengah. Kau tidak akan bisa kembali bersekolah jika belum keluar dari tempat ini," bisik Rei memperingatkanku. Wajahnya tidak menoleh, sebab kedua matanya masih memandang fokus lelaki Hindi di depan.


"Hahh, kau benar...," pasrahku menghela napas.


"Hei, apa kalian tidak dengar?"


Lelaki 40 tahunan itu mengayunkan barang bawaannya, membuat sisi waspada kami meningkat sesaat. Antara bersiap untuk bertahan sekaligus menyerang, atau menghindar tanpa perlawanan. Rei bergerak menggeser langkah, memberi tanda padaku untuk tetap berada di belakangnya.


Sesaat sempat kuperhatikan lelaki asing itu. Bentuk otot lengan dan urat yang menonjol dipunggung tangan, serta guratan lelah di ujung mata, menunjukkan seberapa keras ia bekerja.


"Baiklah. Tujuh orang, ya."


Sekali lagi, ia mengayunkan barang bawaannya—kapak bergagang kayu dan bermata logam pipih tajam—ke arah bahu, membiarkan alat perkakas itu bertengger di area kekarnya.


"Dia si penebang kayu."

__ADS_1


Sesuai dengan perawakannya, Kitsune memperkenalkan lelaki Hindi sebagai tokoh penebang kayu dalam kisah pertama ini. Ia menuturkan bahwa para tokoh akan memandang kami sebagai bagian dari cerita, tak peduli seberapa anehnya penampilan kami sekarang—yang jelas-jelas tidak berseragam.


"Akan kulaporkan kalian pada pihak sekolah." Si penebang kayu berbalik pergi meninggalkan kami.


"Tujuh orang ...." bisikku mengulang. "Kitsune benar-benar diabaikan."


"Tentu saja. Sudah kukatakan sebelumnya, kehadiranku bukan bagian dari mereka."


"Mungkinkah dia penjahatnya? Haruskah kita mengikutinya diam-diam? Penampilannya sangat mencurigakan!" tuduh Akiko yang masih terfokus memperhatikan arah kepergian lelaki Hindi itu.


"Kapan dia akan melaporkan kita ke pihak sekolah? Kurasa arah lelaki itu pergi berlawanan dengan arah suara bel yang berbunyi." Justin tak kalah penasaran.


"Haruskah kita berpencar?" tanya Yukiko dengan raut wajah tak ingin melakukannya.


"Tidak boleh. Sebisa mungkin kita tidak boleh berpencar." Natsu tampak gelisah.


Toru mengeluarkan peralatan kecilnya dari dalam ransel, kemudian ia selipkan barang-barang itu ke dalam beberapa saku celana cargo panjang berwarna hitam yang ia kenakan. "Kita baru saja menyantap makan siang, lalu sekarang pukul berapa waktu yang mengalir di tempat ini?"


"Pukul 08.10 pagi, sudah terlambat 10 menit untuk bersekolah."


"Benar, kita harus ke sekolah," sahut Rei tampak yakin dengan ucapannya. "Di sana kita akan mencari tahu. Jika lelaki itu memiliki tujuan yang sama, pasti kita akan bertemu lagi."


Rei menolehkan kepala, memandang lurus pada jangkauan penglihatannya, "Suara lonceng itu berasal dari sana," ujarnya kembali meraih tanganku. "Di kisah aslinya, gedung sekolah Dow Hill terpisah antara lelaki dan perempuan."


"Salah satu pihak harus menyamar. Lebih baik daripada kita berpisah, kan?" usul Akiko.


Rei melirikku, "Hal yang sama kupikirkan."


Sepakat mengikuti alur cerita, kami memulai pencarian Kouga dari gedung sekolah. Langkah kaki Rei menarikku berjalan setapak demi setapak melewati pepohonan. Mungkin karena berada di perbukitan, sedikit kabut menutupi jarak pandang. Sekitar sepuluh menit-an, kami menemukan jalan besar. Jalan yang di ujungnya terdapat bangunan bertingkat dua, dengan banyak jendela khas gedung sekolah.


"Dow Hills Victoria Boys, sekolah asrama khusus laki-laki di tengah hutan Dow Hill."


Akiko mengedarkan pandangan. "Di sebelah mana sekolah khusus perempuannya?"


"Hanya ada satu sekolah, dan kalian bertiga tak perlu menyamar."


"Jadi, peran kami memang sebagai lelaki??" spontanku mengecek tubuh, memastikan kemungkinan adanya perubahan.


"Seperti usulan temanmu sebelumnya, bukan?"


"Hahh ... Kitsune bukan tipe yang suka memberi spoiler, ya," celetukku merasa kecewa.


"Gerbangnya sudah ditutup. Bagaimana caranya kita masuk?" Justin menoleh ke arah Kitsune. "Apa kau tahu jalan masuk lainnya?"


"Seseorang di sana akan mengarahkan kalian."


Kitsune menunjuk ke arah barat, tepat di bawah pohon besar yang rindang. Seorang siswa berseragam melambai ke arah kami.


"Siapa dia?" tanya beberapa dari kami bersamaan.


"Jika tidak ingin lebih terlambat, kalian harus segera menemuinya."


__ADS_1


__ADS_2