Petualangan Cinta Pulau Impian

Petualangan Cinta Pulau Impian
Ombak


__ADS_3

[1 Agustus 2011 - Pukul 10.00]


Empat hari sebelum keberangkatan cukup untuk menyiapkan semuanya. Segala macam keperluan terkemas rapih di dalam ransel yang masing-masing kami bawa. Senin, 1 Agustus 2011. Pukul 10.00 pagi, kami sudah berada di pinggir pantai. Orang tua dan kerabat mengantar kepergian kami.


Tantangan pertama dengan clue ombak, sudah pasti laut. Dan memang sesuai peta, kami harus menyeberangi lautan menuju pulau yang arahnya 60° dari tempat kami berdiri saat ini—dermaga. Di hadapan kami, kapal dengan layar yang belum mengembang, bersiap untuk mengantar. Bersama-sama menghadapi tantangan—yang tidak bisa diperkirakan yang—mungkin sudah menunggu kami di depan sana.


Badan kapal bertuliskan Zeroichi-sama. Bagian luar kapal terlihat seutuhnya terbuat dari kayu, dengan tiang besar di tengah sebagai tiang utama kapal sekaligus penyangga layar. Bentuk luarnya memang jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan kapal Going Merry dalam serial anime One Piece. Tapi bagian dalamnya membuatku tercengang. Ukiran di setiap sudut dinding kapal, lantai, properti, ruangan, semuanya terkesan modern. Berbeda jauh dari tampilan luarnya. Terdapat 3 kamar tidur, 2 kamar mandi, ruang pertemuan, dan dapur.


Walaupun dalamnya terkesan modern, kapal ini tidak mengikuti perkembangan. Aneh memang. Tidak ada alat bantu navigasi berupa GPS. Tidak ada sistem komunikasi seperti radar type Harpa yang memungkinkan para navigator untuk mendeteksi langsung kondisi laut dan keadaan sekitarnya. Bahkan sistem keselamatan pelayaran dan pengiriman berita pun tidak ada. Seolah kami dituntut untuk berlayar seadanya, menggunakan kompas, astrolabe, dan peta sebagai alat bantu navigasi.


“Ayo kita pergi!” sahut Kouga bersemangat.


Saat layar dikembangkan dan jangkar diangkat, kapal mulai bergerak perlahan. Kami melambaikan tangan dengan senyum mengembang.


“Jaga diri kalian baik-baik!” teriak Bibi Oshiro sambil melambai-lambaikan tangannya.


“Semoga kalian berhasil!” teriak Paman Fukuda.


“Natsu, kau harus menjaga Rin-chan!!” teriak Paman Oshiro tak mau kalah, seraya berlari kecil mengejar kapal kami yang perlahan menjauhi dermaga.


“Aku mengerti, percayakan saja padaku~!” sahut Natsu.


Paman selalu mencemaskanku. Jika terjadi sesuatu padaku, paman akan memarahi Natsu. Terkadang aku menganggap sikap paman itu berlebihan. Karena bukan salah Natsu, seringnya aku yang ceroboh. Paman tetap saja memarahinya. Walau begitu, Natsu tidak pernah menyangkal jika dimarahi paman, dia menerimanya. Disaat seperti itu, aku sangat merasa bersalah. Sosok dewasa malah tampak pada Natsu, padahal umurku 2 bulan lebih tua darinya.


Teriakan semangat, pesan, doa, dan nasihat dari orang tua dan kerabat masih terdengar jelas di antara deburan ombak dan hembusan angin. Kapal kami bergerak sedikit lebih cepat, semakin menjauhi dermaga. Tetapi lambaian tangan orang terkasih yang mengantar kami masih bisa telihat sampai akhirnya pantai, dermaga, dan mereka semua hanya tampak seperti titik di ujung sana, lalu menghilang.


Ya, kapal kami sudah jauh berlayar. Kouga mengendalikan kemudi kapal. Toru dan Natsu mengarahkan layar. Rei berada di dek atas dekat haluan atau bagian depan kapal sambil memegang kompas dan memantau dengan teropong. Cuaca hari ini juga cerah. Berlayar di musim panas bersama teman-teman, sangat menyenangkan. Ini pertama kalinya untukku, sudah pasti akan menambah daftar petualanganku bersama mereka. Selesai membuat cemilan di dapur, aku dan Akiko membagikannya pada yang lain.


“Eits, aku ambil duluan!” Natsu menyambar sepotong kue di atas piring yang sedang kubawa.


Justin dan Yukiko sedang asik memancing, membuatku tertarik untuk ikut bergabung. Mereka memancing dengan umpan sotong tiruan. Kapal yang bergerak menarik umpan tersebut sehingga terlihat sedang berenang di dekat permukaan air. Tidak lama kemudian ...


Byurr!


Yukiko terjun ke laut.


“Eh?!” sontakku terkejut. “Yukiko~ !!” panggilku.


Dia belum muncul ke permukaan.


“Are you okay~ ?” teriak Justin.


“Ya-hoo~!” sahutnya tidak lama setelah menyembulkan kepala ke permukaan. “Aku baik-baik saja!” teriaknya sambil menyelaraskan nafas. “Karin~! Banyak terumbu karang yang indah! Akan kuambil gambarnya. Nanti kau bisa lihat!” sambungnya bersemangat sambil menunjukkan kamera yang ikut dibawa terjun ke laut.


Yukiko selalu membawa kamera itu ke mana pun dia pergi. Kamera yang dua tahun lalu sudah dimodifikasi oleh Rei supaya bisa digunakan dalam air.


“Kouga! Arahkan kapal 30° ke kanan!” teriak Rei sambil menatap kompas di tangannya.


“Ya, aku mengerti!” sahut Kouga. “Toru, tarik tali layarnya sedikit! Natsu, kau tahan tali satunya!” ujar Kouga mengarahkan.


“Semuanya bekerja keras ....” bisikku sambil terus memperhatikan mereka.


“Hei, anak kecil! Apa ini bisa dimakan?” ledek Rei sambil menunjuk kue buatanku.


“Hugh! Setidaknya aku bisa buat itu dengan benar!” balasku.


“Hey! Look! Ada yang memakan umpanku!” seru Justin sambil terus memutar drill. “Sepertinya besar! Tarikannya cukup kuat! Hiyaa~t!!” Justin terus berusaha melawan tarikan dari ikan yang sepertinya juga tidak mau cepat mengalah.


Aku pun ikut membantu Justin, tidak sabar ingin melihat seperti apa ikan yang didapat.


"Be-besarnya~!!" sontakku terkejut melihat wujud ikan yang perlahan mulai mendekati permukaan.


“Di arah barat laut ada gumpalan awan hitam mengarah kemari. Sepertinya cumulonimbus!” teriak Rei memberitahu.


Aku dan Justin masih sibuk bergulat dengan ikan. Akiko menghampiri kami, awalnya memberi support, tapi kurasa adrenalin-nya pun ikut terpancing, hingga membuatnya turun tangan membantu kami melawan tarikan ikan besar itu.


Dugh!


Kapal terhempas ombak cukup kencang. Dengan cepat Justin dan Akiko menarik lengan dan memegang tubuhku yang hampir jatuh ke laut. Hempasan ombak itu membuat kapal bergoyang. Sepertinya riak-riak kecil berubah jadi ombak yang mulai mengganas.


“A-alat pancingnya tercebur!” ujarku sedikit gemetar sambil berpegang erat pinggir kapal.


“Biarkan saja! Sebaiknya kita ke tengah kapal, di sini berbahaya!” ajak Akiko sambil menarik tanganku.


“Ma-maafkan aku, Justin ....” ucapku lirih merasa bersalah.


“Bukankah seharusnya terima kasih?"


Segera aku membungkuk. "Ah, m-maaf! Terima kasih karena sudah menarikku! Dan perihal alat pancingmu, aku benar-benar minta ma—"


"Terima kasih saja sudah cukup. Tidak perlu minta maaf. Kita masih punya alat pancing yang lain." Justin menepuk-nepuk kepalaku sambil tersenyum. "Jika saja aku tak sempat menariknya ... hiiiii~ aku benar-benar tak bisa mengatasi aura gelap mereka! Dipastikan aku menjadi tersangka utama!" gumam Justin tampak frustasi melirik ke arah Akiko dan Rei.


"Justin? Apa kau baik-baik sa—"


Belum selesai aku bicara, Akiko kembali menarik tanganku. "Kita harus cepat ke tengah kapal!"


Yukiko sudah tiba di tengah kapal. Ia langsung keluar dari air dan memanjat tangga kapal begitu merasakan pergerakan ombak yang tidak wajar.


“Anak perempuan di dalam kapal saja. Jangan ada yang keluar. Justin, tolong bantu tahan tali penyangga layar, karena angin semakin berhembus tak tentu arah. Rei, awasi terus arah gerak kapal.” Kouga mengarahkan. Raut wajahnya tampak sangat serius.


Natsu mendorongku. “Sepertinya akan ada badai, kau cepat masuk!”


“Lalu kau dan yang lain tidak ikut masuk?”


Dugh!


Lagi-lagi ombak kencang menghempas kapal kami. Aku berpegangan pada Natsu saat pijakanku bergoyang.


Natsu menyentil dahiku. “Kami harus mengendalikan kapal."


“Karin, cepatlah!” teriak Akiko yang masih menunggu di dekat pintu masuk tengah kapal.


"Tapi– "


"Hei, anak kecil! Kenapa masih di luar?!" teriak Rei dari atas dek kapal. "Akiko, tolong seret si bodoh itu untuk segera masuk ke dalam!"


Akiko menarik lenganku. “Harusnya kau paham, mereka berusaha melindungi kita dan menyelamatkan kapal dari badai yang bergerak kemari,” terang Akiko.


"Setelah badainya mereda. Bawakan aku handuk dan cokelat hangat!" pinta Natsu yang kubalas dengan anggukan cepat.


“Semuanya akan baik-baik saja. Keberadaan kita di sana hanya akan mengganggu mereka,” sambung Akiko seraya mendorong tubuhku menuruni tangga menuju ruang utama.


Ombak menderu dan semakin tak terkontrol. Membuat kapal terombang-ambing tidak karuan. Rupanya cuaca di tengah laut itu mudah sekali berubah. Yukiko terbaring lemas karena mabuk laut. Aku gelisah, duduk di tangga berpegang erat pada pegangannya. Jujur aku takut, cemas, khawatir, dan rasa itu semakin menjadi saat hujan mulai turun bersama petirnya yang menggelegar. Samar-samar aku mendengar teriakan Kouga yang terus memberi arahan. Akiko terduduk lemas, sepertinya ia pun terkena mabuk laut, hanya saja masih berusaha untuk tetap mengawasiku.


Aku tak tahan, hingga diriku mulai beranjak perlahan menaiki tangga.


“Apa yang kau lakukan?! Ukh ... tunggu, Karin!!” Akiko berusaha mengejarku.


"A-akiko!"


Aku berhenti karena tak tega melihat Akiko jalan sempoyongan hingga terjatuh. Lalu diriku bergegas menghampirinya.


Aku terduduk di lantai, mengusap-usap pundak akiko. "Sebaiknya kau berbaring. Ayo, aku akan membantumu berjalan."


Akiko memegang bahuku. "Tidak ... kau pasti—"


"Aku tidak akan melakukan hal yang membuatmu khawatir! Aku hanya ingin mengintip keadaan mereka. Setelah itu aku akan kembali. Tapi kau juga harus berjanji untuk beristirahat, ayo."


Akiko mendengarku. Aku membaringkannya di kamar yang sama dengan Yukiko. Mereka sudah meminum obat pereda mabuk kendaraan. Hanya saja karena kapal terus bergoyang, efek obatnya jadi tidak maksimal.


Aku beranjak pergi menaiki tangga, lalu mengintip dari balik pintu. Semoga petir tidak mengejutkanku. Suaranya menakutkan dan menggema di telingaku tiap kali ia muncul. Kapal masih bergoyang, terhempas kesana kemari, dipermainkan oleh ombak dan angin. Sampai-sampai ikan pun turut mampir dan terjebak di lantai kapal karena terbawa deburan ombak yang membanjiri dek kapal. Langit berubah. Awan hitam mengepul di atas kapal. Kilatan cahaya menyambut petir terus bergantian. Jantungku berdebar tidak karuan melihat mereka yang dengan gigihnya menyeimbangkan kapal di tengah amukan ombak. Tubuh mereka basah kehujanan.


Sreet~ Bugh!


Justin tergelincir dan jatuh keluar dari kapal. Posisinya memang paling dekat dengan pinggir kapal.


“Justii~n!!” teriakku seraya berlari keluar. Dan ...


Dukh!


Aku pun terpeleset jatuh tertelengkup di lantai kapal. Lantainya licin ditambah lagi kapal terus bergoyang tidak stabil. Tubuhku jadi ikut basah kehujanan.


“Karin!!”


Natsu menghampiriku, melepaskan begitu saja tali layar yang sebelumnya digenggam erat olehnya. Mereka semua menoleh ke arahku. Rei melompat dari dek atas dan langsung berlari ke arahku.


“Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau keluar?!” Rei membentakku. “Natsu, tolong jaga layarnya!” pinta Rei.


“T-tolong justin!! Aku melihatnya terhempas ke luar kapal!!” ujarku seraya beranjak bangkit.

__ADS_1


“Tidak, Justin sedang berusaha naik ke atas. Dia sempat menggapai tangga tali,” tukas Toru.


Tiba-tiba lantai kapal terasa miring.


“Oh, tidak … ini sangat buruk. Kalian semuaaa~!! Cepat cari pegangan!! Gelombang itu akan menghantam kita!!” Kouga berteriak keras.


Wajahnya terbelalak tak percaya melihat sesuatu di belakang kapal.


Dengan cepat Rei menarikku dan kami berpegangan pada tiang utama layar. Tali yang melingkar di sana cukup kuat untuk digenggam.


“Merunduklah! Pegangan yang kuat!” sahut Rei memberitahuku.


Dengan erat Rei merangkul bahuku dan tangannya yang lain berpegang kokoh pada tiang layar, serta menggenggam kuat-kuat talinya.


“Ambil nafas yang banyak! Sekarang!!” Rei memberi aba-aba.


Pipiku menggembung penuh nafas. Mata kupejamkan.


Kami tidak menyadari, gelombang besar kurang lebih setinggi 15 meter menggulung di belakang kapal dan siap memangsa kami. Menurutku gelombang itu lebih seram dari monster yang kebanyakan muncul di layar televisi.


Byuurr!!


Hanya hitungan detik, dengan lahapnya gelombang besar itu memakan kapal kami. Terbentur air rasanya tidak menyenangkan. Kurasa kapal pun setuju dengan pernyataanku. Di dalam air, kapal masih terombang-ambing. Kami berusaha sekuat mungkin berpegangan pada kapal agar tidak terbawa arus.


Blum ...


Blum ...


Blum ...


Gelembung udara perlahan keluar dari mulut. Nafas yang tersimpan sedikit demi sedikit berkurang. Tubuh rasanya melayang. Genggaman tangan tak sekuat di awal. Sepi. Sunyi. Apakah kami sudah berada di dalam perut gelombang besar itu? Benarkah kapal ini tenggelam? Mungkinkah sampai di sini saja petualangan kami?


Perlahan kubuka mata, kondisi dalam laut tampak gelap dan terlihat menyeramkan. Rei berada di sampingku. Merangkul tubuhku. Dia terasa begitu hangat di antara dinginnya air laut. Sekarang musim panas, tapi laut tetap dingin.


Uhuk! Uhuk!


Aku sudah mencapai batas. Nafasku habis. Genggaman tanganku terlepas. Samar-samar kulihat raut wajah kepanikan Rei. Tangannya mendekap erat tubuhku yang mulai mati rasa. Wajahnya mendekat. Setelah itu, aku tak tahu apa yang terjadi.


Hei, anak kecil! Dasar bodoh, cepat bangun! Memangnya kau sudah bosan hidup?!


Kata-kata itu terdengar samar dan mulai sedikit mengganggu. Aku tidak tahu, apakah aku sedang bermimpi? Kenapa hanya suara Rei yang kudengar? Perlahan namun pasti, suara itu semakin nyata.


“Karin! Syukurlah ....” Yukiko memelukku.


Aku terbaring di tempat tidur. Berada di suatu ruangan yang kukenal. Akiko, Yukiko, Natsu, dan Rei, mereka di sekelilingku.


“Dasar bodoh,” ujar Rei seraya pergi berlalu begitu saja.


Natsu mengelus kepalaku. “Kau membuatku takut,” ucapnya lembut hampir berbisik. Sorot matanya penuh kekhawatiran.


“Kami mencemaskanmu!” sahut Akiko. "Bagaimana bisa kau tidak sadar selama dua jam setelah aku berhasil membuatmu memuntahkan banyak air!"


"Sudah kubilang kau menekan dadanya terlalu keras saat melakukan CPR. Padahal aku bisa melakukannya dengan lem—"


Pletak!! (Akiko memukul kepala Natsu)


" ... but," sambung Natsu menyelesaikan ucapannya.


"Kemungkinan trauma akibat terbentur air tiba-tiba. Bagaimana kondisimu? Apa kau merasa pusing atau sakit lainnya?" tanya Yukiko memastikan.


Terakhir yang kuingat adalah kapal kami tenggelam, dan wajah rei ... mendekat. Kemudian aku terbangun di kamar dan ... bukankah ini di dalam kapal?! Lalu sekarang ... rasanya kapal masih melaju. Bagaimana bisa? Apa ombak itu memuntahkan kapal kami??


"Karin? Kau bisa mendengarku, kan?" Yukiko tampak cemas.


"Ah, m-maaf! Sepertinya aku baik-baik saja! Hanya sedikit bingung."


"Dia bilang sepertinya," Natsu merangkul Yukiko dan Akiko. "Hei, kalian harus melakukan pemeriksaan lanjutan untuk Karin. Dia itu adikku satu-satunya!"


"Hugh! Siapa yang kau bilang adik?" Aku beranjak mendudukan diri. "Aku baik-baik saja. Tidak merasa pusing atau sakit lainnya. Maaf membuat kalian berdua khawatir."


"Bertiga! Jangan lupakan diriku!" seru Natsu.


"Hmph! Haha. Sikapnya padamu membuatku paham bahwa Karin baik-baik saja!" Akiko menepuk bahu Natsu.


"Yosh! Aku mau keluar!" Gerakku melompat cepat dari ranjang.


"Kurasa dia benar-benar sehat," sahut Yukiko sebelum aku menutup pintu kamar.


Kapalnya tidak tenggelam!


“Kalian semua benar-benar hebat! Berhasil menyelamatkan kapal!” sorakku bangga.


Toru membaca komik sambil menjaga layar. Justin dan Toru sedikit lebih bersantai, karena angin bersahabat dengan layarnya, jadi tidak banyak yang harus dilakukan. Kouga tetap memegang kemudi kapal.


Beratapkan langit lebih kusukai, karena aku bukan ikan yang harus beratapkan air. Kapal juga sependapat denganku. Langit biru cerah, lebih indah dari sebelumnya. Camar-camar menghiasi di segala arah. Laut tampak berkilauan. Hembusan angin bersahabat. Layar mengembang sempurna. Kapal kami melaju ke satu arah. Laut begitu tenang. Sungguh mengesankan.


Swushhh~


Rambut hitam panjangku yang terurai, disapa lembut oleh angin yang bertiup ke arahku. Kedua tangan kuregangkan ke atas dan kubentangkan lebar-lebar sambil menghirup udara dalam-dalam. Lalu kuhembuskan. Udaranya segar. Nyaman.


. . . Ambil nafas yang banyak! Sekarang!!


Rei! pekik batinku.


Kusapukan pandangan mencari sosoknya yang biasa terlihat di dek atas.


"Eh? Tidak ada ...." bisikku sedikit kecewa.


Tiba-tiba Natsu memeluk tubuhku dari belakang. Cukup lama ia terdiam. Aku tahu bahwa Natsu ingin mengatakan sesuatu.


“Terimakasih karena kau tidak pergi,” ucapnya hangat.


Aku bisa tahu kalau dia sedang tersenyum sambil memejamkan mata.


"Terimakasih karena telah membuatku untuk tetap di sini. Cokelat hangatnya ... kuharap kau bisa menunggu," balasku.


Natsu tertawa pelan. Kemudian wajahnya semakin mendekat. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di samping kananku. Ia membisikkan sesuatu.


Klop!!


Akiko melempar ban bertali berwarna jingga tepat menjerat kepala Natsu.


"Dasar mesum! Menjauhlah dari Karin!!" teriak Akiko sambil menarik tali hingga Natsu terseret mundur.


"Siapa yang kau bilang mesum, hah?! Aku hanya memberi pelukan sayang pada adik kecilku!" Natsu meronta melepaskan diri.


Rei ada di dek atas. Kurasa ia sedang tertidur.


Aku langsung berlari menuju dek atas setelah Natsu memberitahuku. Aneh, aku sangat ingin bertemu dengannya.


"Ah .. hah .. hah! Ini ... sama seperti waktu itu," bisikku tanpa ingin membangunkan Rei yang sedang tidur bersandar.


Sewaktu berkemah di sapporo, aku terlalu bersemangat saat berkeliling hingga tak sadar kakiku melangkah cukup jauh. Aku tersesat, ponselku juga tertinggal di tas. Seharian mereka mencariku. Hingga menjelang sore hari, kubalas teriakan Rei yang terus memanggil namaku. Padahal jarang sekali dia memanggilku dengan nama. Rei berlari membawa ransel yang berisi banyak makanan dan minuman, serta baju hangat. Tahu kalau perutku sedang lapar karena belum makan siang. Dan setelah itu, bukannya bergegas kembali, ia malah tertidur pulas disampingku. Alhasil kupinjam ponselnya untuk mengabari yang lain.


Aku duduk bersimpuh di samping kiri tubuh Rei. "Sepertinya aku sudah merepotkanmu lagi, ya."


"Tidak. Kau lebih dari kata merepotkan," sahut Rei tiba-tiba. Kelopak matanya terbuka dan langsung menatapku.


"Ah!" Aku menyingkir terkejut. "K-kau sudah bangun?!"


"Kouga~! Tidakkah kita sependapat? Sekarang adalah waktu yang tepat!" seru Akiko sedikit berteriak.


“Baiklah! Justin, tolong turunkan jangkarnya! Kita nikmati hari ini! Rayakan keberhasilan melawan gelombang ganas!!” sahut Kouga bersemangat.


“Setuju~!!” jawab mereka serempak.


Diriku hendak beranjak. "Apa yang akan mereka laku– "


Sreth, bukh!


Dengan cepat Rei menarik tanganku hingga tubuh ini kembali jatuh bersimpuh di sampingnya.


"R–remph!" pekikku tak jelas karena Rei menutup mulutku dengan tangannya.


"Sstt! Aku tak mau mereka mengganggu waktu istirahatku!"


Aku mengangguk paham. Kutarik tangannya seraya membungkuk. "Maaf, sepertinya aku pun sudah mengganggumu." Kutatap wajah Rei. "Aku hanya ingin berterima kasih untuk semua yang kau lakukan saat gelombang itu datang!"


Rei tampak terkejut, tubuhnya bergerak mendekatiku. "K-kau sudah tahu?! Siapa yang menceritakannya??"

__ADS_1


"Ng? Sudah tahu? Apa? Menceritakan ... apa?" tanyaku bingung.


"Eh? T-tunggu, kejadian apa yang kau ingat terakhir kali sebelum kau pingsan?" selidik Rei dengan tatapan seriusnya.


"Aku ... melihatmu mendekat. Pasti karena takut tubuhku terbawa arus, kan? Saat itu aku sudah tak bisa menggenggam talinya lagi. Karena itu aku berterima kasih padamu."


"Y-yahh ... begitulah." Rei kembali bersandar.


"Tapi Rei, bagaimana bisa kapalnya kembali kepermukaan?"


Rei memberitahuku, bahwa ternyata kapal ini memiliki sistem pengaman yang akan aktif saat kapal tenggelam, di mana air tak akan bisa masuk ke dalamnya. Karena itu ruangan di dalam kapal tidak basah sedikit pun. Akibat adanya udara yang terjaga di bagian dalam, membuat kapal kembali bergerak ke permukaan.


"Padahal sudah diperingatkan untuk tidak keluar!" Rei menggaruk-garuk kepalanya.


"A-aku akan pergi. Kau ingin beristirahat, bukan? He..he.."


"Melangkah sejengkal, kau akan menyesal."


"Terus saja menekannya, kau yang akan kupenggal."


"Eh!" Kuputar badan terkejut. "Akiko!"


"Sedang apa kau di sini? Ayo, kita bersenang-senang!" Ajak Akiko menarikku berdiri. "Hmm ... apa yang ingin kau lakukan menahannya di sini?" singgungnya pada Rei dengan nada sedikit meledek.


"Tsh!" Rei mendesit tak nyaman.


Aku pun meninggalkan Rei, memilih pergi bersama Akiko menghampiri yang lain.


“Tema makan siang hari ini adalah seafood!” seru Akiko bersemangat.


Kouga membuka baju atasannya. “Sambil berenang akan kucari lobster karang!”


“Aku ikuutt!” sahut Yukiko.


Byur! Byurr!!


Keduanya melompat ke laut. Aku memperhatikan mereka dari atas kapal.


“Natsu, tolong angkat panggangannya, ya! Kami akan memancing di buritan (bagian belakang kapal)." pinta Akiko. Kemudian dia berpaling padaku. "Justin sedang menyiapkan alat pancingnya. Kau tunggu di sini, aku ingin ke toilet." Akiko meninggalkanku.


"Hm." Kuanggukkan kepala tanpa melepas pandanganku dari Yukiko dan Kouga yang sedang berenang mencari lobster.


Tak lama kemudian Rei datang menghampiriku. “Kau mau turun?”


“Eh?” Cukup terkejut melihat Rei membawa perahu karet.


“Rei, bantu angkat panggangannya, dong!” teriak Natsu sedikit mengeluh.


“Dengan Toru saja, aku ingin memancing pakai perahu!” Rei menggoyang-goyangkan perahu karet yang di pegangnya.


Natsu menoleh hendak membujuk Toru.


“Aku sedang menjaga kapal sambil menyelesaikan edisi terakhir Rabbit Doubt. Kau laki-laki, kan?” sela Toru.


Natsu menggaruk-garuk kepala. “Belum sempat aku bicara, dia sudah menolak. Oh Tuhan ... masih adakah seseorang baik hati yang ingin membantuku~?”


“Kau berlebihan.” timpal Rei. Kemudian dia menatapku. "Ayo."


"Tapi aku dan Akiko—"


"Cepatlah!" sela Rei membuatku diam.


Akiko melihatku mendayung perahu karet bersama Rei.


"Kari~n!! Berteriaklah jika dia melakukan sesuatu padamu~!!" teriak Akiko dari atas kapal.


Aku membalasnya dengan menyatukan jari yang berarti OK.


Dari atas perahu, samar-samar dapat kulihat terumbu karang dengan berbagai macam warna serta ikan-ikan kecil dengan corak yang belum pernah kulihat, sungguh indah. Itu karena airnya sangat jernih. Berkilauan saat terpantul sinar matahari. Rasanya ingin sekali aku masuk ke dalam. Dari permukaan terlihat sangat dekat, padahal kedalamannya bisa mencapai 12 meter. Kata Rei, lokasi kami dekat dengan daratan, hampir sampai di pulau tujuan. Namun rupanya, kami sudah tidak sabar menikmati laut musim panas ini.


“Bukannya kau ingin istirahat?” tanyaku sambil mengaduk-aduk air laut dan terkadang memercikkannya jauh-jauh.


“Jangan terlalu dekat, kau bisa tercebur!” ujar Rei seraya melempar umpan pancingnya.


“Haiyyaaa!”


Yukiko muncul tiba-tiba. Membuat kami terkejut.


“Kalian sedang apa? Berduaan di tengah laut, hehe!” ledeknya.


“Sedang memancing. Kau mau kupancing?” balas Rei meledek.


“Aku ingin mengajak Karin berenang. Ayolah, Karin! Kau bisa berpegangan denganku ...” bujuk Yukiko.


“Anak kecil ini tidak akan mau,” sela Rei.


“Aku mau!” kilahku.


Rei menoleh cepat ke arahku. “Apah? Kau gila? Walaupun ada Yukiko, tapi jika terjadi sesuatu setidaknya kau harus bisa berenang!”


“Aku akan pakai jaket pelampung yang tergantung di dalam kapal,” jawabku.


Yukiko mengajakku ke tempat yang banyak karang dan anemonnya. Aku memang tidak bisa melihatnya dari dekat, karena tidak bisa ikut menyelam, tapi aku sangat menikmati air laut di musim panas ini. Mengambang di tengah laut sedikit terombang-ambing, sensasi yang lebih menyenangkan ketimbang harus terombang-ambing di dalam kapal. Yukiko memperlihatkan padaku keadaan di dalam laut lewat kameranya. Dia menyelam, aku menunggu di permukaan. Ada ikan badut yang mirip seperti Nemo dalam film Finding Nemo. Bergaris putih orange. Di sana juga banyak hewan penghuni karang lainnya yang tidak kalah cantik. Kami bertemu dengan Kouga.


“Lihatlah,” Kouga menunjukkan lobster tangkapannya.


“Wah, besar-besar, ya!”


“Karin, sepertinya pelampungmu bocor!” Yukiko mengecek area bagian bawah jaket pelampung di mana gelembung udara tersebut keluar.


“Apah?! B-bagaimana ini?!!” Aku mulai panik.


Kouga memberikan lobsternya pada Yukiko. "Akan kuantar Karin ke tempat Rei,” ucapnya seraya menarik lenganku.


Aku berpegangan di bahu Kouga. Kami saling berhadapan. “Maaf aku merepotkan.”


“Ti-tidak!” sahut Kouga kaku.


“Terima kasih, ya.”


“I-iya!!” Kouga terlihat gugup.


“Ada apa?” tanyaku heran.


“Hah? Ma-maksudnya?”


“Kouga aneh ... telingamu juga memerah,”


“Be-benarkah? Mungkin aku terlalu lama di dalam air,”


Kouga membantuku naik ke atas perahu karet. Aku memintanya untuk ikut naik karena telinganya masih memerah. Tapi dia menolak.


“Aku langsung ke kapal saja! Duluan, ya!” sahut Kouga seraya berenang mendekati kapal.


Rei merapihkan peralatan memancingnya. “Bukannya bersama Yukiko?! Kenapa dengan Kouga?!!” tanyanya dengan suara meninggi.


“Sudah kubilang jaket pelampungku bocor, lalu Kouga mengantarku ke sini,” terangku. Heran melihat Rei mendayung perahu. "Kita mau ke mana?"


“Aku mau ke kapal! Terserah kau mau ikut atau tidak!”


“Kenapa? Padahal hasil memancingnya lumayan banyak,” bisikku sambil ikut mendayung perahu.


“Terserah apa yang ingin kau lakukan. Aku tidak peduli.”


“Yang ingin kulakukan ... maksudnya? Kau marah padaku?”


“Menurutmu?” ujar Rei seraya beranjak menaiki tangga tali lebih dulu.


“Ada apa denganmu?! Dasar aneh!” gumamku seraya terus mengikutinya di belakang.


***


Selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 4 sore, kami sampai di pulau tujuan. Di pinggir dermaganya, tertancap sebuah papan yang bertuliskan Zeroichi-sama. Pertanda bahwa pulau ini benar tujuan kami. Kouga memutuskan untuk bermalam di kapal. Kami sependapat.


Pantai merupakan tempat yang paling sering di kunjungi saat liburan musim panas. Mungkin kami beruntung. Naik kapal, mengarungi lautan, memancing di laut, berenang, makan seafood, dan sekarang bermain voli pantai sambil menunggu matahari terbenam.


Menyaksikan sang surya kembali ke peraduannya yang tidak pernah lupa menciptakan siluet indah di belakangnya. Menikmati kilau ombak keemasan sebelum sisa pancarannya itu benar-benar hilang dari horizon. Merasakan sambutan kecil ombak tepi pantai yang menyapa lembut sela-sela jari kaki. Kesempatan yang belum tentu bisa dirasakan semua orang. Kami benar-benar beruntung. Walaupun hampir tenggelam. Memang sulit dipercaya kalau badai tadi itu sungguhan, bukan sekedar movie yang tercipta dari akting luar biasa para pemainnya. Untuk peristiwa ini, kami benar-benar mengalaminya! Pengalaman yang menantang.


Malam hari pun langit tetap cerah. Di sini bintangnya terlihat jauh lebih banyak. Aku masih ingat perkataan Rei saat mengajakku ke Tokyo Tower, polusi cahaya di perkotaan menghalangi cahaya bintang, sehingga bintang di kota tampak lebih sedikit.

__ADS_1


Liburan musim panas tahun lalu, kami ke Hokkaido. Justin mengajak kami berkunjung ke peternakannya yang terletak di pinggiran kota Sapporo. Malam harinya Rei bilang padaku, kalau bintang di lengan Bimasakti—galaksi tempat tinggal kita—terlihat indah saat musim panas di Hokkaido. Rasanya aku ingin berburu bintang. Aku memang tidak tahu banyak tentang mereka. Yang kutahu, semasa hidupnya mereka selalu bersinar dalam keadaan apa pun. Menyinari kehidupan dengan energi yang dimiliki. Mereka membuatku iri. Ingin rasanya bisa seperti mereka.



__ADS_2