Petualangan Cinta Pulau Impian

Petualangan Cinta Pulau Impian
Tepi Sungai


__ADS_3

[2 Agustus 2011 - Pukul 17.40]


Justin dan Akiko telah selesai mendirikan tenda khusus untuk anak perempuan. Tenda yang kami gunakan adalah tipe ultralight dengan bobot sekitar 1.5 kg, dan 2.5 kg untuk tenda laki-laki karena lebih besar. Ringan, namun tetap kokoh dan stabil. Desainnya simpel dengan satu pintu dan satu jendela. Meski begitu cukup breathable dan sejuk berkat teknologi air coolingnya. Ditambah material jaringnya yang juga anti nyamuk.


"Karin!" panggil Yukiko, membuat langkahku terhenti. "Apa kau ingin membantuku mencari ranting?"


"Hm. Tentu saja."


Kutemani Yukiko mencari ranting dan dahan kering. Akiko dan Justin pun ikut bergabung. Kami butuh banyak ranting untuk membuat api unggun yang bisa memberi rasa hangat semalaman. Sedangkan Toru sedang membersihkan ilalang dan membuat parit kecil di sekeliling tenda, sebagai pengairan jika tiba-tiba hujan turun.


Kerja sama yang terjalin menyenangkan di antara kami, merupakan cara terbaik untuk menciptakan penginapan senyaman mungkin. Tapi, aku merasa ada yang kurang. Biasanya Kouga selalu hadir di tengah-tengah kami. Bergotong royong bersama sambil mengontrol dan memberi arahan. Tidak lupa juga memberi teriakan semangat. Ya, kami belum sempat bicara semenjak berhasil keluar dari labirin. Dan sampai sekarang pun belum juga kulihat batang hidungnya.


Kuhampiri Toru yang hendak masuk ke dalam tenda, “Apa kau tahu di mana Kouga?”


"Sedang mengambil air di sungai. Sepertinya belum kembali. Tidak begitu jauh dari sini. Kau bisa lihat posisinya di radar."


Perlakuan kedua dewi pada Natsu dan Kouga saat di labirin, membuatku tak bisa untuk tidak peduli. Terlebih bahu Natsu sampai terkilir, aku harus memastikan juga kondisi Kouga.


Bermodal senter, radar, dan earphone, kutelusuri jalan yang mulai sedikit berbatu. Berkali-kali sudah kuhubungi, tetapi Kouga tidak menjawab panggilanku. Pancaran cahaya matahari pun mulai berkurang dan semakin redup. Walau sebelumnya kupikir tidak perlu ditemani karena jaraknya yang cukup dekat, tapi jujur, aku tidak ingin berlama-lama sendirian.



Suara derasnya air melewati celah bebatuan semakin terdengar jelas, cukup menghalau kesunyian di sekelilingku. Samar-samar terlihat seseorang di jarak kurang lebih 7 meter dari posisiku saat ini. Kusorotkan lampu senter ke arahnya. Tak ada tanda-tanda gerakan dia menoleh.


Seseorang itu sedang duduk di atas sebuah batu besar di pinggir sungai, sambil memegang ranting pohon, dengan ujung yang diikat benda tajam seperti mata pisau. Tangan kanannya bersiap meluncurkan alat yang mirip tombak itu. Entah apa yang diincarnya, aku juga ingin tahu.


“Kouga?” panggilku memastikan seraya mendekat.


Seseorang itu menoleh ke belakang, “Malam hampir tiba, kenapa kau kemari?" balas orang itu yang tak lain adalah Kouga. Lontaran tanya dan aura sekelilingnya menghantarkan rasa dingin yang menyambar tubuhku, seolah keberadaan diri ini sudah mengganggu waktu pribadinya. Atau hanya perasaanku saja? Mungkin percikan air sungai di penghujung senja ini, yang menurunkan suhu sekitarku.


“Kudengar dari Toru, kau mengambil air dan belum kembali, jadi ... aku menyusulmu." jawabku hati-hati sembari melirik penasaran dengan tombak di tangan Kouga.


Kouga menunjukkan tombak buatannya di hadapanku. "Hanya ingin mencari makan malam." Ia menggeser posisi, menyediakan tempat untukku, agar bisa ikut duduk di atas batu besar bersamanya.


Kuraih sambutan tangan Kouga yang ingin membantuku naik ke atas batu. "Terimakasih."


“Maaf tidak menjawab panggilanmu, aku berusaha fokus menangkap sesuatu di balik batu itu.” Tangannya menunjuk ke celah batu di dasar sungai yang cukup dangkal ini, tepat di hadapan kami.


“A-akulah yang seharusnya meminta maaf karena sudah mengganggu!”


Kouga kembali mengawasi gerak-gerik ikan sasarannya yang terlihat mengintip dari celah batu. Dia menyuruhku untuk mematikan lampu senter yang kubawa, karena cahaya lampu bisa mengusik ikannya. Ternyata, tanpa bantuan cahaya pun aku masih bisa melihat ikan malang itu.


Mata Kouga terus membidik. Tangan dan tombaknya kembali bersiap. Sungai kecil ini, mungkin lebih tepatnya mata air yang melewati bebatuan, mengalir cukup deras. Airnya juga segar dan sangat jernih.


“Syukurlah, kau baik-baik saja.” bisikku pelan tanpa ingin mengejutkan sasarannya.


Slrupp!


Dengan cepat Kouga meluncurkan tombaknya. “Menurutmu begitu, ya?” Sesaat wajahnya menoleh ke arahku, lalu kembali menatap sasarannya.


Perkataan Kouga mengibaskan pandanganku, yang sebelumnya tampak antusias dan penasaran, dengan caranya mencari makan malam. “Ma-maksudnya kau terluka? Dewi itu melukaimu??”


Kouga mengangkat tombaknya, mengeluarkan dari dalam air. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang terasa hampa. Tembakkan yang tepat, ujung tombaknya menembus bagian tubuh dekat kepala ikan air tawar yang berukuran sedang. Mungkin beratnya sekitar 300 gram.


“Kau mengkhawatirkanku?” tanya Kouga tanpa memberikanku waktu untuk menjawab. Ia lebih dulu menyodorkan tombak beserta ikan yang masih menancap di ujungnya, kepadaku. Tanpa menunggu jawaban dariku atas pertanyaannya, ia langsung melompat turun dari batu.

__ADS_1


“Kau mau ke mana?” tanyaku buru-buru setelah Kouga melompat. Ia tidak menjawab. Diambilnya dua botol kosong yang tergeletak di pinggir sungai, kemudian dia mulai mengisi botol itu dengan air sungai yang mengalir di dekatnya. Setelah kedua botol itu terisi penuh, dia beranjak pergi.


“Kouga!” panggilku. Langkahnya terhenti.


"Untukmu saja. Dia bukan milikku.” ucapnya tanpa menoleh sedikit pun ke arahku.


“Apa maksudmu?” tanyaku masih tidak mengerti.


“Aku tidak lapar.” jawabnya singkat seraya kembali melangkah.


“Kouga! Ada apa? Kau kenapa??” serangku penuh tanya sambil melompat turun dari batu.


Kouga menghentikan langkah, lalu menoleh ke belakang, “Maaf Karin, aku harus segera membawa airnya. Sebaiknya kau juga kembali ke tenda.” ujarnya seraya benar-benar pergi meninggalkanku. Aku sungguh tidak mengerti dengan sikapnya.


. . kau mengkhawatirkanku?


“Mengapa dia bicara begitu? Jelas aku khawatir, kan!” gerutuku sambil menatap ikan di tombak yang masih kupegang.


Aku juga tidak bermaksud untuk berlama-lama di sungai. Jika Kouga kembali ke tenda, aku pasti akan ikut, karena tujuanku ke sini hanya untuk menemuinya. Tapi dia tidak mengajakku untuk ikut bersama-sama ke tenda. Dia pergi begitu saja tanpa menungguku. Aku seperti diabaikan. Apa dia marah karena merasa terganggu? Gusarku membatin.


"Ah, ikannya ...." Tatapku penuh rasa bersalah. Darah segar yang menetes, tak lagi berwarna merah. Karena malam beranjak naik bersama gelap, menggiring kesunyian.


/Mau sampai kapan keluyuran di luar?/ sahut Rei tiba-tiba melalui earphone.


/Banyak hantu yang ingin berkenalan dengan anak kecil penakut sepertimu!/ sambungnya.


Dalam sekejap mata, ucapannya itu langsung menambah kesan buruk tentang kenyataan di sekitarku. Kerongkongan seakan mengering dengan cepat. Menelan saliva terasa begitu sulit.


“A-aku tidak keluyuran!” kilahku sedikit terbata. Langsung kumatikan earphone, tidak ingin mendengar panggilan Rei. Kupercepat langkah, memaksa sekali lagi pada otot kaki untuk kembali berlari. Kata hantu yang Rei ucapkan, otomatis menggaris bawahi pengandaian buruk di pikiranku.


Sruk’ dukh!! ―Bhuk!


"Akh ... sshh ...."


Kakiku tersandung sesuatu yang mirip akar pohon. Aku pun jatuh tersungkur cukup jauh karena sebelumnya dalam kondisi tengah berlari. Sakit adalah kata yang tepat. Mendarat di tanah berbatu sangatlah tidak nyaman. Belum bisa berkata apapun selain sibuk menahan sakit, sambil perlahan bangkit meraih senter yang ikut terlempar bersamaan denganku saat membentur permukaan tanah.


Sekelilingku menjadi lebih gelap, karena baterai ikut terhempas keluar dari susunan yang semestinya, menjadikan senterku tak lagi bercahaya. Aku harus cepat memasukkan baterainya. Situasi tanpa cahaya sangat tidak kusukai. Aku bukan vampir yang menyukai kegelapan!


“Kenapa tidak mau menyala?!” ucapku panik sambil terus mencoba membolak-balik letak baterainya.


Entah karena panik, gelap, atau takut, aku makin gelisah dibuatnya. Pikiran dan pandanganku menciptakan gambaran yang tidak menyenangkan. Awalnya kukira hanya halusinasi saja. Tapi semakin kuperhatikan, sosok itu semakin nyata.


Ya, dari kejauhan kulihat sosok hitam berpostur tinggi berjalan ke arahku. Ketakutan menjalar cepat. Jantung berdegup kencang. Tanpa memperdulikan senter yang sudah tidak mau menyala, diri ini perlahan mundur bersiap kabur.


Dengan tertatih, kucoba untuk terus melangkah. Yang kupikirkan hanyalah berusaha menjauh dari sosok itu. Terlalu panik untuk sekedar menyalakan earphone dan meminta bantuan. Mengontrol hembusan nafasku agar tak meninggalkan jejak suara saja, sudah terlampau sulit dan melelahkan!


Kusandarkan diri, bersembunyi di balik pohon. Jari saling meremas gelisah di dada, tubuh gemetar takut, dan hal buruk yang kubayangkan saling bersahut di dalam pikiran. Kupejamkan mata kuat-kuat, tidak berani melihat ke belakang. Sama sekali tidak ada keinginan untuk sekedar mengintip. Bahkan rasanya aku ingin pingsan saja dan berharap yang lain segera menemukanku.


Derap langkahnya yang semakin terdengar jelas dalam keheningan ini, mempercepat hentakan detak jantungku. Menciptakan sensasi menegangkan yang berbeda dari sekedar menonton film thriller atau horor. Disuruh menonton saja aku tidak mau, tapi sekarang malah jadi tokoh utama!


Aku harus bagaimana? Berpura-pura mati? Aku tidak bisa menahan nafas dalam waktu lama. Melarikan diri? Aku tidak sanggup lagi. Berteriak? Ah, aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama saat di labirin. Sosok itu akan segera tahu posisiku, lalu menyergapku! Aku akan tertangkap lebih dulu, sebelum mereka menyelamatkanku!


Kurasa inilah saatnya, dimana diam dan pasrah menjadi sebuah keputusan yang diambil. Apa aku akan mati sebelum berusaha menyelamatkan diri? Dadaku berdenyut, mengalahkan denyut nyeri pada lututku yang menghantam batu.


"KYAAAAA!!!!!!!"

__ADS_1


Bahu kananku mendapat tepukan singkat. Telapak tanganku refleks menutup wajah. Ruh serasa melesat keluar dari tubuhku. Bulu halus di punduk, tangan, dan kaki menduri bersamaan. Jantungku menghentak seakan ingin menerobos rongga dada. Aku tidak bisa bernafas dengan normal!


“Hei, bodoh!"


Bibirku mengatup. Kutahan ledakan suaraku begitu mendengar kata bodoh yang notabene selalu meluncur dari orang menyebalkan.


"Kenapa earphone-mu dimatikan?!” sambung suara itu lagi.


Suara yang tidak asing. Bisa kurasakan hadirnya yang berada tepat di samping kananku. Diriku masih membatu di tempat tanpa ingin melepas tangan dari wajahku. Entahlah, aku masih ingin memastikan. Ingin mendengar suara itu sekali lagi.


"Luka di keningmu saja belum kering, sekarang malah kau tambah luka baru!"


Tanpa perlu kuragukan, wajahku menoleh cepat. Menatap manik mata hitam keabu-abuan yang berkilau terpantul cahaya senter di tangannya.


“Rei!” seruku. "Ah, sst ...." Kutaruh jariku dekat bibir Rei, memberi isyarat padanya agar menahan serangan kata yang akan ia lampiaskan padaku.


Kusapukan pandangan untuk mencari sosok hitam itu. Tidak ada. Lalu kusandarkan diri di pohon sambil bernafas lega. “Syukurlah ... aku selamat.”


“Selamat? Apa kau yakin kalau aku bukan hantu?” Aku terhentak disaat mulai merasa aman. Rei mendekatkan wajahnya, “Akan kupotong tubuhmu menjadi 11 bagian.” bisiknya dengan penekanan kata yang terdengar mengerikan, sambil menyorotkan lampu senter ke wajah.


“KYAAAAA!!”


Teriakku maksimal dengan urat menegang. Kujatuhkan diri—duduk di antara akar pohon—karena kakiku lemas seakan tak bertulang. Kutarik nafas kasar, seperti paru-paruku baru saja diremas.


“Hmph ... ahahaha!” bahak laki-laki menyebalkan itu memegangi perut.


/Ya, dia sudah bersamaku!/ sahut Rei tiba-tiba seperti menjawab panggilan dari earphone-nya.


Aku merunduk, kedua tanganku mencengkeram akar pohon. Beberapa tetes cairan, jatuh di atas pangkuanku. Entah itu keringat yang mengucur atau air mata yang tanpa kusadari ikut meluncur.


Rei menghela nafas panjang. Ia memutar tubuhnya, lalu berjongkok—menawarkan punggung. "Cepat naik." ucapnya datar terdengar memaksa.


"Tidak mau!" jawabku kesal namun bukan urat yang menegang, melainkan air mata yang tarpampang.


Rei berbalik meraih daguku, memaksa bola mataku untuk menatap manik obsidian hitam keabuannya. "Asal kau tahu, aku sedang menahan diri. Jadi jangan menguji kesabaranku."


"Kau ... menyebalkan! Hiks ... hiks ...." Kuhapus air mataku dengan lengan kanan. Aku merasa takut dan lega bersamaan. Keberadaannya selalu menyertakan dua rasa bertentangan. Membiarkan dirinya dengan mudah menentukan pilihan untukku.


“Apa aku harus mengajarimu cara berjalan dengan baik?” sudutnya mulai menyerangku.


Aku tak ingin beradu mulut dengannya. Sisa tenagaku sedang kusalurkan untuk menahan sakit yang mulai terasa di sekujur tubuhku. Ya, kubiarkan tubuh ini diangkut olehnya. Bukan di punggung, melainkan dalam gendongan ala bridal style.


Rasa kantuk perlahan mendominasi. Hasil dari akumulasi sepanjang hari ini. Kusandarkan kepala di dada bidang Rei. Bisa kurasakan ketukan di balik rongga dadanya yang melebihi batas normal. Sepertinya dia benar-benar menahan diri.


Tunggu ... dia tahu aku terjatuh ... ?


“Obati lukamu sesampainya di tenda. Bersihkan badan dan ganti pakaianmu. Mintalah pada Yukiko, krim campuran bunga Arnica, lalu balurkan di atas lengan dan lututmu yang memar. Besok pagi akan terasa lebih baik.” oceh Rei panjang lebar.


Bukankah dia juga sedang terluka ... ?


Rei menghentikan langkah, "Haahh ... lupakan. Tidurlah."


Bahkan ... dia tahu aku mengantuk ...


__ADS_1


__ADS_2