
[3 Agustus 2011 - Pukul 10.40]
Sasaran berikutnya adalah Gerbang (Torii : 鳥居) Merah yang menjadi tujuan akhir kami di tantangan ketiga ber-clue bunga. Tulisan pada peta menunjukkan bahwa Gerbang (Torii : 鳥居) Merah terletak di jantung hutan. Itulah alasan mengapa kita terus berjalan masuk ke dalam hutan.
Masih belum diketahui seperti apa Gerbang (Torii : 鳥居) Merah sebenarnya. Peta tidak memvisualisasikan bentuknya, hanya berupa tulisan besar di tengah gambar hutan.
“Mungkin itu gerbangnya." Kouga menunjuk ke arah timur laut dari posisi kami saat ini.
Kami semua menggeser pandangan, mengikuti arah yang ditunjuk oleh Kouga. Kusingkirkan beberapa dahan kecil di hadapanku, ingin melihat lebih jelas gerbang yang dimaksud.
Gerbang (Torii : 鳥居) Merah, menyerupai gerbang tradisional Jepang yang sering ditemukan di pintu masuk Kuil Shinto. Tidak ada daun pintu, hanya berupa dua batang palang sejajar, yang disangga dua batang tiang vertikal, dan keseluruhannya berwarna merah. Diantara dua palang sejajar terdapat lukisan rubah putih.
"Rubah putih ... aku tak melihat adanya kuil Inari." Rei meneropong area sekitar.
Inari (稲荷) adalah salah satu Dewa dalam kepercayaan Jepang. Memiliki panggilan kehormatan diantaranya : Inari no Kami, Oinari-sama, atau Inari Daimyōjin (稲荷大明神). Sedangkan rubah putih (kitsune), dianggap sebagai pembawa pesan atau pendamping Inari.
"Gerbangnya sangat mencurigakan. Dilihat bagaimana pun, lokasinya seperti berada di alam yang berbeda," pikir Natsu.
"K-kau benar, kondisi lingkungannya memang jelas berbeda, sih," imbuhku berusaha mengarah pada hal yang positif.
Natsu menghampiriku. "Yang kumaksud bukan lingkungannya, melainkan dunianya yang berbeda," bisiknya membuat bulu kudukku sukses meremang.
"D-dasar Natsu bodoh!" bentakku bersembunyi cepat di belakang Rei. Aku juga sudah menyadarinya. Namun sisi diriku yang lain sedang berusaha keras untuk menyangkal.
"Daripada mengganggu partner-ku, bantulah partner-mu membuat simpul tali," tegur Rei tanpa melepas bidikan matanya dari lensa teropong. Ia masih fokus mencari kemungkinan adanya gerbang yang lain.
Gerbang merah yang kini ada di hadapan kami, berdiri kokoh tepat di tengah-tengah cekungan daratan yang seperti mangkuk besar. Tidak ada air sama sekali, mirip seperti danau kering. Bahkan tetesan hujan hanya sampai di pinggir batas cekungan saja.
Tekstur tanahnya tandus, dengan kerikil-kerikil kecil tersebar merata menutupi permukaan dasar cekungan. Tidak ada tanaman yang tumbuh di sekitar gerbang, bahkan sepertinya rumput pun tak sanggup untuk sekedar mampir.
Berbeda sekali dengan dataran di atasnya—tempat kami berpijak—yang terkesan lebih basah dan lembab, hingga lumut dan kerak pun menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Tukh!
Klutuk!
Pluk!
Kouga melempar batu kecil mengenai dasar cekungan. Tak ada hal aneh yang terjadi. Batu kecil itu jatuh dan berkumpul dengan kerikil lainnya di bawah sana.
"Apa kita ... akan turun mendekat?" tanyaku berjeda, meyakinkan diri untuk mendengar jawaban terburuk.
"Apa kau ingin jawaban yang berbeda?" balas Rei. "Kita jelas tak punya pilihan," sambungnya.
Aku tahu. Sangat tahu. Tetapi entah mengapa ... aku memiliki firasat yang buruk.
Hatiku gundah.
Kouga beranjak, "Aku akan turun lebih dulu untuk memeriksanya."
Lebih dulu?
Apa kau selalu ingin mati lebih dulu?!
Batinku bertindak emosional.
"Tunggu!" spontanku berteriak. Seluruh pasang mata langsung mengarah padaku. "L-lebih baik kita turun bersama-sama, kan?" usulku memberanikan diri.
"Tidak, kalian awasi dari sini." Kouga mengikat ujung tali tambang yang sudah ia lingkarkan di pinggangnya.
"Tali? Apa kau bermaksud menjadi umpan?" resahku khawatir.
"Karin, tenanglah." Kouga menatapku. "Sebagai sahabat sekaligus ketua tim, aku tak berniat meninggalkan kalian. Kita akan pulang ke rumah bersama-sama. Jadi, semua yang kulakukan adalah rencana agar kita bisa menang. Kau harus mendukungku." Senyuman lembut mengakhiri kalimat panjangnya.
__ADS_1
Hatiku menangis, tapi bukan karena sedih. Simpul di dadaku seolah terlepas, mendengar Kouga masih membutuhkan dukunganku. Dan ucapannya yang mengatakan bahwa kita akan pulang bersama, menjadi sangat kunantikan.
"Hm." Anggukku paham. Kata-kata di kepalaku mendadak hilang.
Natsu menyikut Kouga. "Kau membuat semuanya jadi berkaca-kaca," kekehnya pelan.
"Akui saja kau yang hampir menangis. Nah, tolong pegang gulungan talinya," titah Kouga memberikan pada Natsu.
Natsu mengulur gulungan tali pada yang lain. "Jika terjadi sesuatu, kami akan segera menarikmu."
"Ya, kupercayakan pada kalian." Kouga bersiap.
"Berhati-hatilah," ucapku membalas senyuman Kouga sebelumnya. Otot wajahku kembali terasa ringan.
Kouga menggangguk dan perlahan menuruni lereng cekungan. Tali bergerak mengikuti langkahnya. Bersama yang lain, aku fokus mengawasi Kouga. Sedangkan Rei memantau sekitar dengan teropongnya.
Kouga berjalan mendekati gerbang. Guna memastikan keamanan, ia melempar batu kerikil ke tengah gerbang. Lagi-lagi tak ada hal aneh yang terjadi. Batu kerikil itu mendarat normal setelah meluncur melewati gerbang.
"Tidak ada perubahan pada peta. Pertanda bahwa kita belum menyelesaikan tantangan di dalam hutan ini," ungkap Rei.
/Semua aman, kalian bisa turun sekarang. Perlahan-lahan saja./ sahut Kouga melalui earphone.
Sesuai instruksinya, kami bersiap menuruni lereng. Kemiringan cekungan sekitar 45°. Agar tidak tergelincir ke bawah, Toru mengikat sisi ujung tali tambang satunya pada pohon besar. Selain itu, talinya bisa berguna semisal kami harus kembali menaiki lereng. Lebar cekungan kurang lebih 20 meter dengan kedalaman 3 sampai 4 meter.
***
Gerbang setinggi 12 meter dengan lebar 6 meter ini masih membuat kami bingung. Hampir 15 menit kami duduk menunggu di depan gerbang, setelah sebelumnya mencoba bolak-balik melewati gerbang. Sama sekali tidak ada petunjuk yang muncul, tentang sesuatu yang harus kami lakukan selanjutnya.
Natsu beranjak bangkit, meregangkan otot-otot tangan dan kakinya, “Apa mungkin kita salah menemukan gerbang? Mungkin yang dimaksud gerbang biasa tanpa lukisan rubah putih.”
"Jika di hadapan kita memang gerbang Kuil Inari, lalu di mana patung Kitsune– Aduh!" pekikku tiba-tiba mengakhiri ucapan yang belum selesai.
"Kau kenapa?!" tanya Kouga dan Rei bersamaan. Temanku yang lain juga ikut menghampiri.
"Perlihatkan wajahmu." Rei mengangkat daguku. "Tch! Tolong awasi sekitar!" geram Rei memberi perintah.
"Pakaikan padanya." Kouga memberi plester pada Rei.
"Tahan sedikit. Luka goresmu kembali terbuka." Rei merekatkan plesternya di keningku.
Padahal luka gores di kening yang kudapat saat tantangan labirin sudah mulai mengering. Kalau terluka lagi, bisa-bisa malah meninggalkan bekas di keningku, kan! Aishh, menyebalkan!
"Benih padi?" celetuk Rei mengambil sesuatu yang menyangkut di rambut poniku. "Oinari-sama dipercaya sebagai Dewa Pertanian ...." lirihnya tampak sedang memikirkan sesuatu.
. . lalu di mana patung Kitsune–
Sekilas teringat ucapanku beberapa saat lalu, "Jangan-jangan ... Kitsune!" teriakku penasaran.
SWUSSH~!!!
Angin berhembus kencang di segala arah. Tetapi lingkungan hijau di luar cekungan masih tetap damai. Tak bisa menyangkal, hampir sepenuhnya diri ini ikut mengiyakan, perbedaan dua alam yang Natsu katakan. Sisanya hanya praduga tak mendasar yang sulit kuhiraukan, tentang penggunaan kemampuan di luar nalar—sihir.
Aku bersama dengan si kembar—Akiko dan Yukiko—saling menggenggam tangan menautkan jari di dada. Sedangkan para lelaki fokus mengawasi keadaan, membentuk posisi melingkar seperti perisai yang siap melindungi kami.
"Ternyata seorang gadis kecil yang sudah memanggilku."
Tiba-tiba suara aneh tanpa wujud—ditujukan untukku—terdengar dari arah gerbang. Antara takut sekaligus senang, sepertinya aku berhasil memanggil roh rubah suci yang sangat terkenal!
Rei menoleh ke belakang, menatapku dengan sorotan kecemasan. "Pastikan kau berpegangan pada Akiko! Jangan sampai terlepas!"
"Bagaimana caranya menghadapi kaki tangan Dewa sungguhan? Apa rencanamu, Rei?" Natsu kehabisan akal.
"Bagaimana kalau bicara baik-baik dengan Kitsune?" saranku yang terpikir.
"Setelah kau meneriakinya tanpa persiapan?" timpal Rei menoleh ke belakang, jemarinya memijat kening.
__ADS_1
"M-mana kutahu kalau Kitsune benar-benar menjawabnya!" sanggahku sedikit kesal.
Rei mengambil kotak perkakasnya, "Toru, apa kau bisa membuat pahatan rubah dari batu kerikil?"
"Beri aku waktu 5 menit," balas Toru yang langsung pergi memilah batu.
Aku ingin bicara pada Kitsune. Tetapi, pertama-tama aku harus meminta maaf. Aku tidak bermaksud untuk meneriakinya.
Aku juga penasaran, berapa banyak jumlah ekor yang dimiliki oleh Kitsune? Semakin banyak ekornya, maka dia akan semakin kuat, kan?
"Aku memiliki penglihatan yang baik. Dan aku melihatmu, gadis kecil."
"Tentang jumlah ekorku, itu rahasia."
Selang tiga detik keheningan.
"HEHH?!" Aku terkejut maksimal.
Rei berbalik menatapku, "Sejak kapan kalian saling bicara?"
"K-kitsunenya bisa membaca pikiran!" tunjukku ke arah gerbang.
"Hanya kepada manusia yang berhasil memanggilku."
"Jadi hanya kepadaku saja, ya. Tetapi ... rasanya tidak adil, karena aku tak bisa melakukan hal yang sama," celetukku sekenanya.
Tukh!
Rei menjatuhkan tinju kecilnya di puncak kepalaku. "Jangan memprovokasinya."
"Kalau begitu, apa kau tak berniat menghentikan gerak anginnya? Supaya kita bisa saling bicara dengan nyaman," tawarku pada Kitsune.
"Tergantung seberapa cepat manusia itu membuat wadahku."
Seketika tatapan kami berpaling pada Toru yang hampir selesai membuat pahatan batu kerikil berbentuk rubah, dengan posisi yang sedang terduduk seperti kebanyakan patung lainnya.
Natsu memegang kedua bahu Rei, "Mulai sekarang aku akan menyembahmu," tatapnya serius.
Rei menepis tangan Natsu, "Berhenti bicara omong kosong. Lagipula ide pahatan batu itu 100% murni sekedar tebak-menebak."
"Tak ada patung Kitsune di sekitar gerbang, dan Karin sudah terlanjur memanggil Kitsune, sehingga yang keluar dari gerbang adalah sebagian kekuatan Kitsune yang tidak bisa dikontrol. Tetapi, kenapa Kitsune membutuhkan wadah untuk keluar dari gerbang?" tanya Justin mewakili rasa penasaran kami.
"Begitulah syaratnya jika ingin bertahan di dunia manusia."
"Dunia manusia??" ulangku bingung.
"Gadis kecil, kau tidak boleh lupa, gerbang adalah batas antara dunia suci kami dengan dunia manusia."
Yukiko mengeratkan genggaman jemarinya padaku, "Jika cekungan daratan ini adalah dunia manusia, maka ... yang di luar batas cekungan ...."
Glek.
Tiba-tiba bulu halus di sekujur tubuhku merespon hal yang tak menyenangkan. Refleks diriku membeku di tempat, merespon erat genggaman Yukiko yang bahkan belum melonggar. Kulihat parasnya kian memucat, tak lama setelah mengedarkan pandangan. Secuil ada rasa penasaran, berat hati kupaksa sendi putar di leherku supaya bergerak mengikuti sapuan Yukiko.
"Jangan dilihat."
Akiko buru-buru merundukkan kepalaku. Secara naluriah, merangsang jiwa bertahanku untuk segera merapatkan pelupuk mata. Mengubur dalam-dalam rasa keingintahuan, yang ternyata tidak sepadan, dengan rasa cemas akan hal menakutkan. Alih-alih dibuat penasaran, tubuhku malah jadi gemetar.
"Sekarang kalian melihatnya, dunia perbatasan."
Apa kami sedang melakukan perjalanan spiritual ??!
protes batinku.
__ADS_1