
[2 Agustus 2011 - Pukul 11.35]
“Apa yang terjadi?!” tanyaku panik setelah berhasil membangunkan Akiko. Kurekatkan plester di siku dan lututnya yang terluka.
Bukannya langsung menjawab, kedua tangan Akiko malah mencubit pipiku. "Aw-kiw-kow!" panggilku mengeja tidak jelas. Tanganku berusaha melepas cubitannya.
Akiko melepas tangannya. "Ternyata kau sungguhan."
"Ish, memangnya aku hantu!" lontarku sambil mengusap-usap pipi.
"Kau sendirian? Di mana, Rei?"
Kuputar bola mata mengalihkan pandang. "Soal itu ... kami bertengkar." Lalu kutatap kembali Akiko dengan cepat. "Yang penting aku berhasil menemukanmu!"
"Setidaknya ajak yang lain ikut bersamamu, jangan pergi sendirian lagi, ingat itu."
Kubalas dengan anggukan paham.
Kulirik beberapa luka ditubuhnya. "Jelaskan apa yang terjadi padamu."
"Aku tergelincir saat berjalan di sana." Tangannya menunjuk ke atas bukit kecil di hadapan kami. Lalu Akiko beranjak bangkit. “Ayo, kita temui yang lain.”
“Eh? Kau bisa berjalan? Aku sudah menghubungi Kouga. Sebentar lagi dia sampai.”
“Bahkan sekarang pun aku sanggup menggendongmu! Bilang pada Kouga untuk kembali saja.”
“Tapi sebelum kuhubungi, dia memang sedang berjalan menuju posisi kita.”
Akiko meregangkan tangannya ke atas, menghirup udara dalam-dalam. “Hahh ... pasti karena mencemaskanmu. Yasudah, kita tunggu saja.”
Zrrrrssshh …
Suara sentuhan angin yang menyapa sisi dedaunan di sekeliling kami, memberikan efek relaksasi bagi siapa pun yang mendengarnya. Pandanganku mengarah ke atas bukit.
Pohon sakura?
Ya, aku tak salah lihat. Di atas bukit kecil itu banyak ditumbuhi pohon sakura. Mataku tak berkedip. Tiupan angin menerbangkan beberapa bunganya. Kukedipkan mataku yang mulai kering hingga beberapa kali. Kuperhatikan bukit itu lebih jelas dengan memfokuskan penglihatan.
"Semi dan gugur ...." Mulutku tiba-tiba mengatakannya. Membuat pandangan Akiko menoleh ke arah yang sama denganku.
Sungguh, pohon sakura di sini tidak mengenal musim. Melihat hanami dan momiji di waktu yang bersamaan itu mustahil. Menyaksikan bunga sakura yang bermekaran di musim semi, bersamaan dengan momen Cherry Blossom yang warnanya cerah sempurna, dimana daun berubah menjadi oranye hingga merah di musim gugur! Keduanya menyatu di hadapanku. Ilusi yang luar biasa indah. Merubah hal mustahil seolah menjadi mungkin. Aku merasa beruntung karena bisa menikmatinya.
Tapi ... bukankah ada yang aneh? Kenapa pohon sakura hanya tumbuh di atas bukit itu?
Bukh!
Akiko berbalik cepat menghadapku, mendaratkan pukulan di batang pohon yang kujadikan sandaran. Tubuhku mengerjap kaget. Tepat di samping kiri wajahku, kepalan tangannya masih menempel di batang pohon tersebut.
“A-ada apa?” Tatapku bingung melihat ekspresi kekesalannya.
Posisi Akiko mengunci diriku diantara batang pohon dan tubuhnya, membuatku bergidik kalau-kalau raut wajah kesal itu diakibatkan olehku.
"Ini bukan ilusi sembarangan, aku tidak bisa mematahkannya," jawab Akiko frustasi.
"TETAPLAH DI SANA!!"
Seseorang berteriak dari atas bukit.
R-rei?!
Terka batinku mengenali sosoknya.
Swuuussshh~ !
Belum sempat mengolah teriakan Rei sebelumnya, tiba-tiba angin kencang menerbangkan banyak kelopak sakura, bersamaan dengan daunnya yang ikut berguguran – menyamarkan warna langit. Memukau diriku, seakan terhipnotis.
“Hanami ... momiji ... aku suka keduanya.”
Semua itu pun lenyap. Apa aku bermimpi?
“Karin!!” panggil Akiko.
“Eh!” Secara refleks, langsung kupeluk sesuatu di sebelah kananku. “I-iya!” sahutku masih bingung membalas panggilan Akiko.
Berkali-kali kukedipkan mata, seraya terus menyapukan pandangan, lalu terhenti di satu titik saat menundukan kepala.
“Kyaaa~ !! Ke-kenapa kita di atas pohon?!!” teriakku panik, menyadari kakiku menggantung di ketinggian kurang lebih 3,5 meter. Aku duduk di pangkal dahan, sambil terus memeluk batang pohon di sebelah kananku.
“Aku juga tidak tahu. Coba kau perhatikan baik-baik tempat ini,” ujar Akiko dari dahan pohon lain yang berada di sebelah kiri pohonku saat ini.
Sekali lagi kusapukan pandangan dan berusaha mengingat. “Ini, kan ....”
“Kita kembali ke taman,” sambung Akiko.
“Jadi ilusinya … menghilang, ya?”
. . . TETAPLAH DI SANA!!
Tiba-tiba sosok Rei muncul dalam ingatanku.
"Akiko, sebelumnya ada Rei–"
Brukh!
Ucapanku terhenti karena terkejut melihat Akiko menjatuhkan ranselnya. Dengan tujuan, agar bisa menjaga keseimbangan di atas pohon. Aku juga melakukan hal yang sama.
Kretek!
Terdengar bunyi mengejutkan dari pangkal dahan yang kududuki. “Huwaa~!!” Aku bertambah panik memeluk erat batang pohon di sampingku. Jantung mengentak-entak di dalam rongga dada. Tubuhku mulai gemetar. Kakiku yang menggantung, seakan mati rasa. Aku takut!
Akiko berusaha menggapai dahan lain untuk dijadikan pijakan. “Jangan banyak bergerak, tunggu saja di sana. Setelah berhasil turun, aku akan menolongmu.” Dia merogoh saku celana untuk melihat radarnya. “Posisi Kouga juga sudah dekat. Bertahanlah.”
“I-iya, kau juga hati-hati turunnya.”
Lewat earphone, Akiko terus menghubungi yang lain untuk meminta bantuan. Belum sempat dia menginjak tanah, rupanya dahan yang menopang tubuhku tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
Krekk! Kreteek!
Suara patahan itu menambah rasa takutku. Berteriak pun rasanya tidak ada suara yang keluar. Tanganku refleks menutupi wajah. Mataku terpejam kuat. Ya, dahannya sukses patah. Aku pun terjatuh. Darah mengalir cepat dalam tubuhku. Pergerakan udara di sekitarku, menyamarkan teriakan Akiko.
Huph!
Aneh. Harusnya bagian belakang tubuhku, menyentuh permukaan tanah lebih dulu. Kenapa tidak sakit? Malah aku merasakan hembusan nafas seseorang, terasa hangat mengenai punggung tanganku.
“Hampir ... saja,” ucapnya sedikit terengah.
Aku mengenal suaranya. Kubuka telapak tangan yang masih menutupi wajahku. “Kouga!”
“Ka-kau baik-baik saja, kan?? Apa ada yang terluka?!” tanyanya tanpa jeda. Kepanikan terpeta jelas di wajahnya.
__ADS_1
Kuraih pakaian di dada bidang Kouga. "Huwaaaa ... kau benar-benar menyelamatkanku!" Ritme jantungku perlahan kembali menyesuaikan. Namun tubuhku masih gemetar. Entah sejak kapan, aku tak sadar meremas pakaiannya.
Kouga menghela nafas. Ia memejamkan mata, lalu menjatuhkan kepalanya hingga kening kami bersentuhan. "Tidak apa. Kau aman sekarang," ucapnya lembut menenangkan diriku.
Mataku ikut terpejam. Kami terdiam cukup lama dengan posisi seperti itu. Hingga perlahan gemetarku mereda.
Kouga mengangkat kepalanya. Ia menatapku seperti melupakan sesuatu. "Apa kau terluka?" tanyanya sekali lagi memastikan.
"A-aku baik-baik saja! Terima kasih karena sudah menolongku." jawabku cepat. "Kau bisa turunkan aku, tubuhku berat, lho!” Aku terkekeh pelan, hampir lupa kalau dia masih menggendongku.
“Syukurlah,” Kouga tersenyum lega. Perlahan ia menurunkanku. “Ini sebabnya, aku menyarankan untuk memakai borgol.”
“Aku juga tidak tahu kenapa bisa di atas pohon. Sebelumnya kami sedang menunggumu,” terangku.
Akiko menghampiri seraya memberikan ranselku. “Benar. Untunglah kau datang di saat yang tepat,” timpalnya.
“Ide borgolmu cukup membantu,” sahut seseorang yang tiba-tiba ikut bergabung dalam pembicaraan kami.
Serempak kami bertiga menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata Rei. Sambil terus mendekat, sorot matanya fokus mengarah pada Kouga. Beberapa detik kemudian, pandangannya bergeser menatapku.
“Kau dengar, kan. Jangan melepas borgol lagi!” lontarnya dengan raut wajah menahan diri.
“Inderaku merasakan suasana yang mulai memanas,” gumam Akiko. "Jangan berlebihan pada Ka– "
“Sebaiknya kau temui Justin. Dia mencarimu.” sergah Rei yang secara tidak langsung meminta Akiko untuk meninggalkan kami.
"Jika dia melakukan sesuatu padamu, teriaklah sekeras mungkin," bisik Akiko sebelum melesat pergi.
Suasana jadi hening. Kouga dan Rei saling mengalihkan pandang. Aku bingung harus berbuat apa.
“Aku ingin menemui mereka,” ucap Kouga seraya berjalan pergi.
"Sekali lagi terimakasih, Kouga!" teriakku sebelum punggung Kouga benar-benar menghilang. Ia membalas dengan ayunan tangannya.
Aku dan Rei masih terdiam pada pijakan yang tak berubah. Dari ekor mata, bisa kulihat bahwa tatapannya mengarah tajam ke arahku. Aneh. Tubuhku berdiri kaku, enggan menatap wajahnya yang masih terus memandangiku dengan raut wajah yang tidak bisa kumengerti.
. . . Kita berpencar saja!
. . . Baik! Pergi saja yang jauh!!
. . . Baik!! Dasar aneh!!
Ingatanku menarik memori percakapan saat kami mulai berpisah. Jemariku meraih ujung bawah pakaian yang kukenakan. Dadaku bergejolak. Kesal, marah, takut, dan sedikit rasa ... menyesal. Mungkin ada lagi perasaan lainnya yang tidak bisa kupahami. Dan entah bagaimana, semua itu seolah melebur jadi satu. Kedua mataku terasa panas, berusaha menahan sesuatu yang tidak ingin kuperlihatkan pada orang dihadapanku.
Gyut.
Tubuhku tenggelam masuk dalam dekapan tangan besar. Gerakannya begitu lembut, sampai aku tak menyadari, bahwa ia telah mendekat sebelumnya. Rei memelukku.
"Aku tidak akan meminta maaf,” ucapnya pelan namun tetap terdengar menyebalkan.
Tidak tahu harus berkata apa, sesuatu yang dari tadi kutahan, malah keluar dengan derasnya. Kusembunyikan wajah, bersandar pada dada bidangnya. Emosi yang tersimpul kusut, perlahan terurai oleh kehangatan yang sudah kukenal.
"Kau menyebalkan ... aku membencimu ...." ucapku terisak-isak di sela tangisanku.
"Hm. Aku tahu." Rei mengeratkan pelukannya.
Wajahku menyembul keluar, menatap wajah Rei dengan air mata yang belum bisa kukendalikan. "Aku masih kesal dan marah padamu!"
"Hm. Aku pun tahu itu." Tangan kanannya masuk dalam sela rambut, mendorong kepalaku hingga kembali bersandar pada dada bidangnya. "Dan aku tak akan meminta maaf," sambungnya.
Aku memang kesal dan marah atas sikap menyebalkan Rei sebelumnya, tapi itu sudah menjadi hal yang biasa, hingga tidak menjadikannya alasan utama yang membebani pikiranku. Saat ini, aku merasa jahat karena sudah melampiaskan rasa takut dan bersalahku pada Rei. 'Takut' karena masih terbayang diriku yang akan terjatuh dari dahan pohon, serta 'rasa bersalah' karena semuanya adalah akibat keegoisanku melepas borgol dan pergi berpencar. Lagi-lagi yang bisa kulakukan hanyalah menangis. Terlampau paham, Rei selalu bersedia menjadi sandaran sampai tangisanku mereda.
"Sepertinya kau nyaman berada dalam pelukanku," ledeknya angkuh penuh percaya diri.
"Hmm ... jangan sungkan. Tak masalah jika kau masih ingin kupeluk." Rei kembali mengeratkan pelukannya.
Kuangkat wajahku cepat, menatap manik obsidian hitam keabuan yang seolah mengunci pantulan bayangku di sana. "Kaulah yang mencuri kesempatan, bukan?! Lepaskan!"
Bukh!
Kuinjak kaki Rei karena ia tak mau melonggarkan tangannya. Ia meringis, dan dengan cepat aku langsung menyingkir, bersandar pada pohon di belakangku.
"Kau bahkan menginjakku dua kali!" Rei mendekat dengan tatapan menyudutkanku. "Bukankah ada yang ingin kau katakan?"
"Maaf ...." sahutku pelan memalingkan wajah. Tanganku meraba batang pohon, memastikan bahwa ternyata diriku tak dapat lagi berjalan mundur.
"Tidak dengar, katakan dengan jelas." Tatap Rei mengintimidasi.
"M-maaf!"
"Apa? Bahkan suara tangisanmu itu jauh lebih keras."
"Ish, tidak ada pengulangan! Kau bahkan punya lebih banyak hutang maaf padaku! Hugh!" Pipiku menggembung menahan kesal.
"Hmph!" Rei memalingkan wajah menahan tawa. "Wajah dan hidungmu yang memerah sehabis menangis, ditambah pipi yang menggembung, kepalamu jadi terlihat seperti buah tomat."
"I-itu karena kau memelukku terlalu erat!"
"Hee? Jadi wajahmu memerah karena pelukanku?" goda Rei dengan senyum jahilnya.
"B-bisa saja, kan?! Kau membuat hidungku terjepit! Sudahlah, aku ingin bertemu yang lain!"
Saat hendak melangkah pergi, Rei menahanku. Kedua tangannya terjulur, bersandar pada batang pohon tepat disamping kanan dan kiriku, menutup jalan dan mengunci pergerakanku.
“Sekarang apa lagi yang ingin kau lakukan?!” tanyaku kesal.
“Mengurungmu dalam sangkar," balas Rei datar.
"Apa kepalamu terbentur? Sejak tadi ekspresimu terus berubah-ubah, dan kini mengatakan hal yang aneh." Aku berusaha menyingkirkan kedua tangannya yang sama sekali tak bergeser sedikitpun.
"Keningmu. Akan kuhapus jejaknya." Wajah Rei mendekat.
/KYAAAAAAA!!!/ teriakku keras pada channel Rei melalui earphone.
"Akh! Apa yang kau lakukan?!" gerang Rei melepas cepat earphonenya dan mengusap-usap daun telinga.
Aku langsung melesat pergi begitu celah terbuka. "Itu salahmu karena bertingkah aneh!"
“Kau pikir bisa lari begitu saja? Awas kau, ya!”
Rei benar-benar mengejarku. Jika dia berhasil menangkapku, pasti akan mengacak-acak rambutku, atau mungkin menggelitikku, lalu tidak akan berhenti sebelum aku memohon ampun. Ya, dia sering lakukan itu padaku.
Kulihat teman-teman sudah berkumpul di bawah pohon rindang, dekat dengan hamparan Orychophragmus (Murasaki Hanana). Duduk melingkar di atas tikar lipat ukuran sedang. Mereka bersantap siang menikmati bekal yang sudah disiapkan sebelumnya.
“Yukiko~!” teriakku meminta pertolongan. Aku berlindung di belakangnya.
“Karin? Mengapa kau berlari seperti itu?” Yukiko memberikan botol air minum padaku.
“Apalagi kalau bukan karena Rei." Akiko mengangkat satu alisnya. "Jadi benar, kau mena– "
__ADS_1
"Eh, aku baik-baik saja!" jawabku cepat, paham dengan apa yang ingin Akiko utarakan. Melihat wajahku saja, mereka semua pasti tahu kalau aku habis menangis.
"Hahh ... kalian memiliki hubungan yang aneh," Akiko fokus membuka kulit pisang.
“Hei, kemari kau!" Rei mendekat.
Yukiko menoleh menatapku. "Teriakanmu sebelumnya, pasti karena bertengkar lagi, kan? Memangnya apa yang terjadi?"
Rei menunjuk ke arahku. "Anak kecil itu hampir memecahkan gendang telingaku!"
"Itu karena kau bertingkah aneh! Menyudutkanku di pohon, lalu berbicara soal kening dengan wajah yang terus mendekat!" balasku panjang lebar tanpa jeda diakhiri dengan nafas terengah-engah.
Semuanya membatu. Serempak menelan saliva dengan susah payah. Hening. Bahkan hembusan angin kecil yang membuat rerumputan bergoyang, jadi terdengar sangat jelas. Perlahan pandangan mereka bergeser pada Rei.
Akiko mengepalkan tangan. "Aku tak mengira kau akan terang-terangan seperti itu."
"Tu-tunggu!! Kau membuat semuanya terdengar keliru!!!" hentak Rei membuat diriku kembali merunduk memeluk lengan Yukiko.
Natsu memasukkan sisa bekal onigiri ke dalam ransel. "Setidaknya kau harus bersikap lembut, Rei. Kau bisa belajar banyak dariku." Natsu membuka lebar kedua tangannya. "Kemarilah, Karin. Kau selalu berlindung padaku saat di rumah, kan? Sekarang pun tidak masalah jika kau ingin bermanja-manja dengan kakakmu in- ”
Pluk!
Kulit pisang Akiko berhasil kulempar tepat mengenai wajah Natsu.
"Tembakan bagus." Akiko mengelus kepalaku. "Harusnya kau beri aba-aba, maka akan kusiapkan peluru terbaik."
Rei beringsut duduk, menyilangkan kaki di sebelah Toru dengan kedua tangan melipat di dada. "Di rumah, ya. Kau membuatku mengingat sesuatu. Hampir saja sepatuku mendarat di wajahmu." Rei memejamkan mata, keningnya berkerut. Ia terlihat menahan diri dan seolah mengalihkan pembicaraan.
Toru melirik Rei. "Melakukan kabedon hingga karin tersudut, menangis, dan berteriak, hmm ... jika kau menyukai manga shoujo, maka akan kuberikan rekomendasi terbaik,"
"Hei, hei, bukan seperti itu urutan peristiwa sebenarnya!! Dan kenapa mengungkitnya lagi?!" protes Rei.
"Ekhm!" Kouga berdeham membuat semua terdiam. "Selesaikan makan siangnya, kemudian kita lanjutkan pembicaraan terkait ilusi ini." Kouga melirik Rei. "Dan ... kaitkan borgol kalian. Kita harus berjaga-jaga jika ilusinya datang lagi."
"Tch," Rei berdesit. Ia beranjak karena tahu aku tidak akan menghampirinya.
Yukiko melepas kaitan tanganku di lengannya, karena menyadari bahwa Rei sudah berdiri di belakang. Tentu saja Rei memilih duduk di samping Yukiko. Ia membatasi diri dan tidak ingin mengusik Akiko – yang auranya sedang tidak bersahabat. Bahkan Justin yang berada di sebelah Akiko pun, memilih bungkam disaat yang lain berkomentar.
Cklek!
Tanganku kembali terborgol bersama Rei. Begitu canggung dan kikuk. Tubuhku bergeser lebih dekat dengan Akiko. Sebisa mungkin kujaga jarak agar tak bersentuhan dengan Rei saat ini. Entahlah, aku masih enggan menatapnya dan merasa sedikit ... takut.
***
Sebelum menyimpulkan, Rei meminta kami untuk menceritakan peristiwa masing-masing yang dialami saat, sebelum, dan setelah berpisah dengan pasangan borgol di tempat ‘aneh’, untuk hipotesis ini kami menyebutnya ilusi.
“Kita semua terjebak dalam ilusi. Tempat yang sebenarnya adalah taman. Tapi di setiap pasangan, hanya ada satu orang yang alam bawah sadarnya dikuasai oleh ingatan masa lalu. Seperti Karin, Yukiko, Justin, dan Kouga. Mereka tidak bisa mengontrol diri. Tatapan matanya kosong,” terang Rei.
“Oh ya, Kouga. Bicara masa lalu, apa kau pernah memeluk Karin sambil mengatakan sesuatu padanya?” Yukiko penasaran dan berhasil membuatku tersentak.
“Ah, apa aku melakukannya disaat tak sadar??” Kouga tampak terkejut. “Maaf, kurasa tidak ada hubungannya dengan Karin,” terang Kouga sambil melirik ke arahku.
"Kurasa ... ?" Rei menggumam pelan namun bisa kudengar.
Akiko melipat tangannya tampak sedang berpikir. “Aku mencoba untuk mengganggu aliran energi di dalam tubuhku, tapi tidak berhasil mematahkan ilusinya. Aku juga memukul batang pohon agar mendapat rasa sakit, namun tetap tak berpengaruh.”
Aku refleks meraih tangan Akiko. "Eh, jadi saat itu– "
"Tak apa. Tanganku baik-baik saja," Akiko menarik tangannya.
“Aku pun mencobanya sebelum Yukiko melepas borgol,” timpal Toru.
"Ah, ya! Ingatan apa yang membawamu sangat ingin pergi ke danau?" selidikku antusias menatap Yukiko.
"E-ekhm!" Rei berdeham kikuk.
"E-eh?! M-maaf!" sontakku menyingkir cepat.
Aku tak sadar, kedua tanganku menumpu di atas paha Rei. Begitu penasaran dengan Yukiko – yang saat ini duduk di sebelah kanan Rei – membuat tubuhku bergerak sedikit melewati Rei.
Bodoh. Batinku merutuki diri.
Gagal fokus dengan kebodohanku sendiri, posisi dudukku dengan Rei malah jauh lebih renggang dari sebelumnya.
"Kemari kau, aku tak tahan dengan jarak yang kau buat! Tidak ada cacar di tubuhku, jadi jangan menganggap seolah aku memiliki penyakit menular!" protes Rei panjang lebar, membuat tubuhku langsung bergerak menuruti perkataannya tanpa ada penolakan.
"K-kau bahkan membuat adikku begitu patuh ...." Natsu tampak syok. Hiraukan saja, reaksinya merupakan hal yang biasa.
"Hmph!" Yukiko terkekeh. "Sepertinya kalian akan baik-baik saja," ucapnya dengan banyak senyum tersimpul. Jujur, masih tidak bisa kupahami arti dari kata 'baik-baik saja' yang ia katakan.
"Saat liburan sekolah, ayahku pernah mengajak melihat bintang dan kunang-kunang di malam hari dari atas danau. Tidak bersama Akiko, karena ia sudah tertidur pulas di pangkuan ibuku." sambung Yukiko.
"Hm, jadi begitu." Aku melihat Rei melirik ke arahku. "Ada apa?" lontarku begitu saja.
"Bukan apa-apa," jawab Rei singkat dengan wajah datarnya.
"Jadi yang menyebabkan ilusinya menghilang, adalah saat mereka semua berhasil sadar?" selidik Akiko memastikan.
"Bukan." Rei menyilangkan tangannya di dada, menatap kami dengan raut wajah seriusnya. "Aku menemukan kejanggalan di atas bukit, di mana banyak tumbuh pohon sakura. Sangat aneh, seolah musim semi dan musim gugur menyatu di sana. Berbeda dengan daerah sekitarnya yang sama-sama berada di tempat ilusi."
Jadi benar yang kulihat itu adalah Rei.
"Bunga menjadi clue kedua. Dengan sedikit meniru cara di film fantasi – yang awalnya sempat kuragukan – aku tergerak untuk merobek bunga sakura yang jatuh dari kedua dahan yang berbeda musim itu. Setelahnya angin berhembus kencang, dan ilusinya menghilang. Tak jauh dari sana, kutemukan Justin yang tak sadarkan diri." terang Rei.
“Zeroichi-sama sudah melihat kekompakan kita di tantangan pertama saat mengendalikan kapal. Mungkin sekarang dia ingin menguji kita, sanggup atau tidak menjaga orang terdekat saat ini, yaitu pasangan borgol,” sambung Toru.
“Aku yakin, masih ada tujuan sebenarnya yang belum kita ketahui. Hahh ... aku lapar. Minta rotimu!” Rei menyambar separuh roti di tanganku.
Kutatap sisa roti di tanganku, lalu keningku langsung berkerut. “Kau mengambil bagian yang kejunya lebih banyak! Kembalikan kejunya!”
Rei langsung melahap bagian yang kuinginkan. “Terimakasih atas makanannya,” Rei merapatkan telapak tangan seraya membungkuk.
“Gyaaa~!! Kau sangat menyebalkan!!” teriakku kesal sambil terus memukulinya. “Punya bekal sendiri, kan?! Kenapa harus menggangguku?!! Kau awmphmsh―!!” Suaraku tidak jelas karena Rei menutup mulutku.
“Sst ... diamlah. Aku tidak mau wanita pisang itu berteriak,” bisiknya di telingaku.
Begitulah akhirnya hubunganku dan Rei yang kembali mencair.
Kouga melipat peta di tangan, pandangan lurus menangkap tingkah Rei. “Kau juga harus berhenti menjahili Karin.”
Rei membalas tatapan Kouga. “Aku tidak janji.”
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
Hanami (花見) adalah melihat bunga sakura yang mekar di musim semi.
Kabedon (壁どん) adalah pose romantis ala anime dan manga, yaitu menyudutkan orang yang disukai dengan menempatkan tangan ke dinding.
Manga shoujo (少女漫画) adalah komik yang ditujukan untuk perempuan remaja, biasa bergenre drama atau slice of life percintaan.
__ADS_1
Momiji (もみじ) adalah daun musim gugur.