
[2 Agustus 2011 - Pukul 09.00]
Tepat pukul 09.00 pagi, kami berkumpul di dek kapal dekat tiang utama. Memeriksa ulang barang yang akan di bawa sekaligus melakukan persiapan sebelum benar-benar meninggalkan kapal.
“Teknologi GPS di ponselku menunjukkan bahwa kita berada di tengah laut sedikit ke tenggara dari Pulau Honshū. Sinyal dari satelit tidak menunjukkan adanya pulau di sekitar kita,” ujar Rei sambil terus menatap layar ponselnya.
Akiko menyambar ponsel Rei. “Tengah laut? Lalu bagaimana dengan pulau di hadapan kita saat ini?”
“Entahlah. Seharusnya GPS bisa bekerja secara akurat karena kita berada di tempat terbuka.”
“Mungkin ada suatu penghalang yang menyelimuti pulau ini. Bukankah Zeroichi-sama tidak ingin memberitahu nama pulaunya?” sahut Toru.
“Jika benar begitu, semoga saja sinyal radio tetap tersedia di sini." Rei beralih menatapku. "Kau belum menyuntikkan chip itu, kan?”
“I-iya, akan kulakukan,” ucapku masih sibuk memasukkan barang ke ransel.
Natsu merunduk dihadapanku yang tengah bersimpuh merapihkan bekal makanan. Jemarinya meraih daguku, hingga diri ini menengadah menatap wajahnya. "Kemarilah, kakakmu ini siap membantu untuk menyuntik. Akan kulakukan dengan pelan dan tanpa rasa sakit," Natsu tersenyum lembut yang justru membuatku merinding.
Swush~ Tukh!
Akiko – sedang meneguk air minum – menyentil tutup botol yang digenggamnya tepat mengenai kening Natsu.
"K–kau ada masalah denganku, ya?!" Natsu mengarahkan telunjuknya pada Akiko sembari mengusap kening.
Aku bergegas menjauhi Natsu.
"Maaf, tiba-tiba tanganku terpeleset." balas Akiko dengan mimik wajah innocent.
Tiba-tiba Rei menarik bahuku dari belakang hingga punggungku membentur dada bidangnya. Dengan cepat ia mengarahkan sesuatu tepat ke lengan bagian atasku.
Sreet, ctek!
"Selesai. Sangat mudah dan tidak sakit, bukan?" Rei melepasku, lalu pergi mengambil ranselnya.
"Kurasa ... kau sudah membuatnya kesal." Justin memegang bahu Natsu.
"Eh? Chipnya ... benar-benar tidak sakit, ya ...." bisikku mengusap-usap lengan tepat di mana Rei menyuntikkan chipnya.
Jika ada yang terpisah dari kelompok atau memang keadaan memaksa untuk berpencar, Rei membuat chip yang tentunya berukuran sangat kecil. Chip itu ditanamkan ke tubuh masing-masing, tepatnya di lengan bagian atas. Rei juga membagikan alat berbentuk kotak kecil seperti ponsel, sebut saja ‘radar’ yang bisa mendeteksi sinyal dari chip tersebut. Setiap titik di radar yang terdeteksi, memiliki inisial tersendiri yang menunjukkan nama pemilik chip. Seperti KR untukku, RT untuk Rei, AF untuk Akiko, YF untuk Yukiko, KS untuk Kouga, JA untuk Justin, NO untuk Natsu, dan TN untuk Toru. Inisial itu diambil dari nama kami. Dengan alat itu, kami bisa saling mengetahui posisi satu sama lain.
Karena ponsel bergantung pada jaringan berkecepatan tinggi dan memerlukan waktu koneksi, Rei mewajibkan semuanya untuk memakai earphone yang memberikan kemudahan untuk berkomunikasi one to many. Fungsinya sama seperti handy talky yang sifatnya searah, artinya si pengirim pesan dan si penerima pesan tidak bisa berbicara pada saat yang bersamaan. Menggunakan gelombang radio frekuensi khusus, yaitu VHF (Very High Frequency) dan HF (High Frequency). Bisa mencapai jarak hingga 12 mil. Tidak dilengkapi dengan sistem isolasi, sehingga kami bisa mendengar kondisi di sekitar tanpa harus melepas earphone. Tingkat volumenya bisa di atur sesuai kebutuhan.
Earphone itu sendiri terhubung dengan kotak kecil yang dapat diselipkan di dalam pakaian. Kotak itu berisikan Master Station, yaitu unit yang mengatur komponen dan menopang sistem interkom atau sistem komunikasi elektronik. Menggunakan baterai sebagai sumber tenaganya yang dilengkapi dengan single charger untuk pengisian ulang baterai. Dengan alat itu kami bisa saling berkomunikasi dengan cepat dan mudah, memang cocok untuk situasi di lapangan.
Kouga pun sudah menyiapkan borgol dengan tali sepanjang 1 meter yang bisa memanjang dan memendek. Dia ingin kami semua jalan berpasangan. Maksudnya jika ada yang tertinggal, tetap tidak sendirian. Rupanya kalimat di brosur yang mengatakan bahwa panitia tidak bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi, membuat mereka berpikir keras untuk mengantisipasinya.
“Jika hendak melakukan urusan pribadi, kalian bisa dengan mudah melepas borgolnya,” terang Kouga.
Akiko memperbaiki letak earphone-nya. “Chip, earphone, dan borgol. Menurutku ide yang bagus.”
“Sangat berguna untuk mengawasi adik kecilku,” Natsu menambahkan.
"Mengawasi dari orang mesum sepertimu!" ujar Akiko.
“Lalu bagaimana pembagian pasangannya?” tanya Yukiko.
Semuanya beralih menatap Kouga.
Lima gulungan kertas sudah tersedia. Satu gulungan bertuliskan satu nama, di antaranya Kouga, Rei, Natsu, Toru, dan Justin. Cara menentukan pasangannya, setiap perempuan harus mengambil masing-masing satu gulungan. Karena hanya ada 3 perempuan yakni aku, Akiko, dan Yukiko, maka dua gulungan terakhir akan menjadi pasangan. Pihak laki-laki tampak penasaran, mengernyitkan dahi seakan tidak sabar, karena di antara mereka akan ada dua orang yang terikat menjadi pasangan borgol.
Yukiko mengambil gulungan lebih dulu, lalu membukanya perlahan. “Aku dengan Toru.”
“Justin, aku denganmu!” sahut Akiko.
Dengan cepat kubuka gulungan kertas yang sudah kupilih. "Hm? Hahh ...." Lagi-lagi kuhela nafas tidak semangat saat melihat nama yang tertulis di kertas itu.
“Coba, lihat!” Akiko menyambar kertas di tanganku. "Sudah kuduga. Aku ingin membantumu dengan bertukar pasangan, hanya saja ..." Akiko mengarahkan telunjuknya pada Rei. "Aku tak tahan jika berada di dekatnya!" Lalu Akiko melirik Toru. "Jika dengan Toru ... Yukiko, apa kau ingin bertukar dengan Karin?"
Yukiko menatap Karin dan Rei. "Tapi menurutku, sekarang adalah saat yang pas untuk mereka mengakrabkan diri,"
"Mengakrabkan diri, ya ...." Akiko menahan tawa.
Kulirik Rei.
Kenapa dia diam saja? Apa mungkin masih marah dan sedang memikirkan rencana balasan?
Batinku menerka-nerka.
Natsu menepuk punggung Kouga. “Baiklah, berarti aku denganmu!”
Tanpa memperdulikan seruan Natsu, Kouga menunjukkan borgolnya di hadapanku. “Karin, emh ... kau mau denganku?” ajaknya.
“Apah?!” Rei terkejut. “Jadi Natsu denganku?! Ah, tidak! Aku tidak mau!!” protes Rei.
Kouga menoleh cepat ke arah Rei. “Bukankah lebih baik kalian dipisahkan?”
"Kalau pada akhirnya semua bisa bertukar pasangan, maka untuk apa kau repot-repot membuat gulungan nama itu?" balas Rei sekenanya.
Suasana tiba-tiba berubah hening.
"Yosh!! Kita harus bergegas! Tidak masalah siapapun pasangannya, rencana ini dibuat agar kita semua tetap aman, bukan? Jadi, ayo kita lanjutkan petualangannya!" sorakku mencairkan suasana.
Heehh ... tetap aman, ya ... bersama Rei ... ? Hahhh ...
Gumamku membatin sedikit melirik Rei.
Akhirnya Rei tetap menjadi pasangan borgolku. Berdasarkan jalur di peta, ada 3 tempat yang harus kami lewati supaya bisa menyelesaikan tantangan kedua. Yaitu taman, labirin, dan hutan. Bunga sebagai clue-nya. Tanpa perlu kuingatkan, Natsu sudah bersiap dengan maskernya.
“Itu apa?” tanyaku melihat Natsu mengoleskan sesuatu ke dalam lubang hidungnya.
“Paman Fukuda memberiku obat oles ini, katanya akan berhasil membuatku lebih nyaman dengan bunga.”
Yukiko melihat obat olesnya lebih dekat. “Pantas saja waktu itu aku melihat ayah bekerja semalaman. Berbagai jenis tanaman berserakan di mejanya, ternyata untuk membuat itu, ya."
Keluarga Fukuda ahli dalam berbagai pengobatan tradisional. Akiko dan Yukiko juga mulai mempelajarinya. Tapi Yukiko lebih tertarik untuk mempelajari ilmu kedokteran.
“K–kau masih marah, Rei?” tanyaku hati-hati.
“Tidak tahu.” jawabnya dingin tanpa mengalihkan pandangan dari jalan di depan.
“Mana ada jawaban seperti itu. Lagi pula kenapa harus marah, aku tidak mengerti!” protesku.
“Lalu aku harus bagaimana?” Rei melempar pandangannya menatapku.
Sikapnya benar-benar aneh. Apa dia dihantui penunggu pulau? Atau jangan-jangan roh bajak laut? Hm ... tapi jika terus seperti ini, bukankah itu lebih baik?
Pikirku.
“Benar juga! Kau marah saja terus. Saat kau diam, membuatku lebih nyaman, haha!” bisikku terkekeh pelan.
Rei memegang bahu kananku dengan tangan kirinya. Tali di borgol ikut memanjang mengikuti pergerakan tangan kiri Rei. "Tunggu saja. Karena kau benar-benar membuatku kesal, akan ada banyak hadiah dan bukan hanya di balik selimut," ucapnya terdengar mengancam.
Jadi benar kalau dia memikirkan rencana balasan?!
“A-aku tidak takut! Kaulah yang lebih membuatku kesal!” hentakku menepis tangannya.
Justin menepuk bahuku dan Rei. “Mau sampai kapan kalian bertengkar? Lihatlah,” ucapnya sambil menunjuk ke depan.
__ADS_1
Aku menggeser pandangan mengikuti gerakan tangan Justin. “Waa~ ....” Mulutku terbelalak kagum, mataku tak berkedip. “Benarkah taman itu yang akan kita lewati?” tanyaku tak sabar.
Hamparan bunga warna-warni terbentang luas di depan mataku. Berbagai jenis bunga menempati posisi yang membuatnya terlihat sangat cantik. Barisan Tulip (Chūrippu) dengan warna merah, kuning, oranye, dan putih, menempati sebagian besar daerah di sebelah kiriku. Perpaduan Iceland Poppy (Aisurando Popii) dan Rape Blossom (Nanohana) yang berwarna putih-kuning-oranye, merupakan kombinasi yang sangat indah. Hijau batang dan daunnya yang menyatu dengan birunya langit, memberikan kebahagiaan bagi siapa pun yang melihat. Di sebelah kananku tertata rapih Azalea (Tsutsuji) dan Moss Pink (Shibazakura) yang berwarna ungu-merah-putih-merah muda, terlihat sangat manis serta memberikan efek nyaman, damai, dan tenang. Di depanku mulai terlihat Orychophragmus (Murasaki Hanana) yang ditanam di antara pepohonan. Dari kejauhan tampak seperti karpet berwarna ungu.
“Bukankah semua bunga ini mekar di musim semi?” Yukiko heran.
Kubentangkan tangan. “Udara di sini juga hangat, seperti musim ... semi.”
“Tidak mungkin,” Rei mengernyitkan dahi. “Sepuluh hari yang lalu kita sudah melewati puncak musim panas,” tukasnya. “Apa anomali musim itu ada?”
“Aku pernah mendengar anomali suhu yang berada di suatu tempat – di Cina. Kalau tidak salah letaknya dekat pegunungan. Sedangkan anomali musim, aku tidak tahu,” ujar Justin.
Aku merunduk mendekati bunga tulip merah. “Bunganya asli, coba saja kalian sentuh,”
"Bodoh!"
Rei menarik tangan kirinya hingga tali borgol memanjang sampai ke batas maksimal, membuat tubuhku ikut tertarik menjauhi hamparan bunga dan ...
Brukh!
Tubuhku berakhir menabrak dirinya hingga kami jatuh bersamaan. Aku di atas, tepat menimpa tubuh Rei.
"Kalian baik-baik saja?!!" serempak semua terkejut dan langsung menghampiri.
"A–aku baik! Eh! Ma–maaf, Rei!!" Aku segera menyingkir. "K–kau menarik borgolnya, aku tidak bisa menghentikan tubuhku!" tuturku sedikit panik, takut membuatnya bertambah marah. Kedua tanganku bersiap hendak membantunya berdiri.
Rei beranjak bangkit. "Maaf. Aku belum terbiasa dengan borgolnya," Rei merunduk seperti menahan diri.
"Yang penting kalian baik-baik saja," ujar Natsu.
Rei beralih menatapku. “Dan kau– " ucapannya terhenti begitu melihatku merunduk cepat, menghindari tatapannya. "Hahh ... jangan sembarangan menyentuh atau mendekati sesuatu yang belum diketahui," sambungnya dengan nada yang lebih pelan.
Kubalas dengan anggukan. Sepertinya Rei tahu kalau diriku merasa sedikit takut.
“Natsu, tanpa maskermu, apa kau baik-baik saja?” Yukiko penasaran.
“Sepertinya aku mulai bergantung dengan obat oles ayahmu, hehe,” Natsu mengusap-usap hidungnya.
“Ayo, kita lanjutkan perjalanan,” sahut Kouga.
Kami berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang membelah taman sambil menikmati keindahan yang sangat memanjakan mata. Sesekali wajahku menoleh ke arah Rei, namun langsung kualihkan begitu lirikanku tertangkap bola matanya. Aku merasa sedikit canggung karena diantara kami begitu hening.
Tiba-tiba tangan kiri Rei meraih pergelangan tangan kananku.
Ctek!
Rei membuka borgolku dan memperhatikan dari dekat pergelangan tanganku.
Aku terkejut bingung. "Eh? Apa yang– "
Rei menoleh ke belakang. "Akiko," panggilnya.
"Kenapa baru sadar!" balas Akiko menahan kesal.
"Kau tahu, tapi kenapa diam saja." Rei kembali menatap jalan di depan.
Bugh!
Akiko meninju punggung Rei, namun tak ada perlawanan balik darinya.
"Heehhhh! Ka-kalian ada apa?!" Aku panik, tapi sepertinya mereka menghiraukanku.
"Aku menahan demi lihat rasa bersalahmu, bodoh!" ujar Akiko dengan telunjuk mengarah pada Rei.
"Hahhhh ...." Yang lain menghela nafas bersamaan.
"... ng?" Aku masih tidak mengerti apa yang mereka ributkan. Lalu kupandangi tanganku sebelum kuperlihatkan pada Akiko. "Eh?!" Rupanya ada goresan merah – seperti luka lecet akibat gesekan – di pergelangan tanganku. "Jika hanya luka gores, aku sudah membawa plester!" Kubuka ransel hendak mencari kotak obat.
Akiko mendekat. "Kemarikan tanganmu." Ia meraih tanganku dan langsung mengoleskan krim obat andalannya yang selalu ia bawa. "Sekarang kau bisa menutupnya dengan plester agar tidak sakit saat bergesekan dengan borgol. Dan ... simpanlah." Akiko memberikan obat olesnya. "Kau langganan memakainya, kan ... aku membuat banyak."
"Aku janji akan lebih hati-hati! Terima kasih, Akiko!"
"Hm. Ayo!"
Kami melanjutkan perjalanan. Taman bunga ini menjadi latar yang bagus untuk membuat film bak negeri dongeng. Akan jauh lebih menarik jika ada castle di ujung jalan.
Kulihat Rei sedang fokus membaca peta di tangan kanannya. Kemudian ia menoleh ke samping kiri, menatapku. Bola mata kami bertemu. Aku tertangkap basah sedang memperhatikannya.
"Maaf," sahut Rei kaku. Ia merogoh saku celananya. "Pakai ini."
Rei memberiku handband warna putih yang biasa ia gunakan saat berolahraga.
"Eh! Jika soal tanganku, itu sudah baik-baik saja! Kau juga tidak perlu minta maaf, karena akulah yang ceroboh," jawabku canggung karena masih tak percaya mendengar kata maaf Rei.
Ctek!
Rei melepas borgolku. Ia memegang tanganku seraya memasukkan paksa handband miliknya di pergelangan tanganku. Kemudian ia kembali memborgolku. Begitu cepat hingga diri ini sulit mengelak.
"Mungkin, aku akan sering menarikmu. Jadi pakai saja, itu akan berguna."
"Akan sering menarikku ... ternyata benar, kau merencanakan sesuatu! Aku akan mengawasimu!"
"Hmph!" Rei terkekeh pelan menutup mulut dengan punggung tangannya. "Akulah yang seharusnya mengatakan itu."
“Karin!” Yukiko menoleh ke belakang dengan raut wajah gelisah.
“Di mana Justin dan Akiko?! Bukankah mereka di belakang kalian??”
Rei menatap radarnya. “Kau bisa lihat di radar, mereka masih di sekitar sini.”
/Akiko, kalian di mana?/ tanyaku menggunakan earphone.
Sama dengan Justin, keduanya tidak memberi jawaban. Ponsel mereka aktif, tapi saat dihubungi tetap tidak menjawab. Dengan mengetahui posisi mereka di radar, kami pun segera mencarinya. Radar menunjukkan bahwa posisi Justin terus menjauhi Akiko. Mereka berpisah.
“Apa sebaiknya kalau kita juga berpisah supaya bisa mencari mereka bersamaan?” usul Natsu.
Tiba-tiba, Wuuussh~ … angin berhembus menyapa kami.
“Ini ... Cherry Blossom .…” ucapku heran melihat kelopak sakura yang berterbangan tertiup angin. Menari indah mengitari kami.
Tiba-tiba Rei menggenggam tanganku. Ikatan borgol tak sekuat genggaman tangannya. Aku sempat mendengar Rei berteriak, sebelum akhirnya aku berada di suatu tempat.
Di malam hari yang cerah. Menyalakan kembang api bersama ayah dan ibu. Dengan mengenakan yukata, aku berlari riang mengitari mereka sambil membawa kembang api yang masih menyala di kedua tanganku. Ayah dan ibu tersenyum melihat tingkahku. Lalu kami duduk bersama menyaksikan kembang api yang ramai menghiasi langit malam itu. Tempat dan suasana yang sangat kurindukan ― cahaya musim panas di halaman rumah.
Seketika semuanya lenyap. Hanya ada Rei di hadapanku. Tangan kanannya memegang bahu kiriku cukup kuat. Sorot matanya menangkap pandanganku. Mulutnya sedikit terbuka, karena nafasnya berhembus cepat dan tak beraturan. Kegelisahan terpeta jelas di wajahnya. Kami bertatapan cukup lama dan itu membuatku bingung.
Kulepaskan tangannya dari bahuku. “Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?” tanyaku heran.
“Hahh …” Rei menghela nafas lega seraya menundukkan kepala.
“Aku bertemu ayah dan ibu ....” ucapku sambil terus mengingatnya.
Rei mengangkat kepala, seakan terkejut mendengar ucapanku.
“Apa aku sempat tertidur? Sepertinya aku bermimpi,” pikirku.
“I-itu bukan mimpi, kau memang tidak sadar.”
__ADS_1
“Ng? Tidak sadar? Maksudnya?”
“Tatapan matamu kosong. Kau seperti boneka hidup. Apa yang kau lihat? Kejadian masa lalu?” tanya Rei seperti ingin mengungkap sesuatu.
"Hm." Aku mengangguk kaku.
Kumiringkan kepala, sedikit mengintip dari balik bahu Rei yang menghalangi pandanganku. Perlahan kusapukan pandangan. Ini tempat yang berbeda!
“Rei? Ki-kita di mana?! Yang lainnya, mereka semua di mana?” tanyaku mulai panik. Kuraih radar yang sudah kukaitkan dengan tali di leher. “Semuanya berjauhan ....”
“Kita terjebak dalam ilusi dan kau dikuasai alam bawah sadar yang menarik ingatan masa lalu. Baru itu yang kuketahui.”
“Bagaimana dengan Kouga, Natsu, Justin, Toru, Akiko, dan Yukiko? Apa mereka juga mengalami hal yang sama denganku?”
“Belum ada jawaban dari mereka. Aku tidak bisa memastikan, itu bisa saja terjadi.”
“Mereka akan baik-baik saja, kan?”
“Aku tidak yakin, mereka bisa melakukan hal diluar kesadarannya. Seperti tadi, dengan tatapan kosong, kau hampir membuka borgol.”
"Membuka borgol? Aku sama sekali tidak ingat." Kuraih tangan Rei. “Kita harus selamatkan mereka!”
“Tunggu!” Rei memegang earphone-nya.
/Baik, aku ke sana sekarang!/ sahut Rei membalas panggilan.
Rupanya Toru menjawab panggilan Rei melalui earphone. Dengan bantuan radar, kami berdua pergi menemui Toru. Dari kejauhan Toru terlihat sedang berdiri dan memperhatikan sesuatu di genggaman tangannya, lalu menoleh ke arah kami yang sedang berlari menghampirinya. Mungkin sesuatu yang digenggam itu adalah radar miliknya, sehingga dia bisa menyadari kehadiran kami. Toru tidak segera membalas panggilan Rei karena saat itu sedang mengejar Yukiko yang tiba-tiba melepas borgol dan pergi begitu saja.
“Aku mengejarnya sampai ke sini. Sekarang posisinya berubah, dia sudah pergi ke tempat lain,” terang Toru.
“Yukiko pasti tidak sadar!” sahutku.
Kami bertiga pun berlari mengikuti posisi Yukiko di radar. Belasan meter dari tempat sebelumnya, kami melihat sesosok perempuan menjatuhkan ranselnya lalu berjalan perlahan menuju danau yang berada di hadapannya. Dia Yukiko. Kakinya terus melangkah, padahal kurang dari 10 langkah lagi dia bisa tercebur ke danau.
Kulepas borgol di tanganku, lalu berlari mendekatinya. “Yukiko! Berhenti! Sadarlah!” teriakku berusaha menyadarkan. Aku memeluk tubuhnya dari belakang. Melingkarkan tanganku di perutnya, berusaha menahan dan menghentikan langkahnya. “Rei, bagaimana cara supaya Yukiko sadar? Kau yang membuatku sadar kembali, kan?”
“Eh?! So-soal itu ....” raut wajah Rei berubah.
Yukiko melepas paksa pelukanku, lalu mendorongku. Beruntung Toru sempat menahan tubuhku dari belakang sehingga aku tidak tersungkur. Yukiko kembali melangkah. Seperti yang Rei katakan perihal diriku yang tak sadarkan diri, tatapan Yukiko pun benar-benar kosong. Toru berusaha menghentikan pergerakannya.
“Cepat, Rei! Ada apa denganmu?!!” teriakku panik.
“A-aku tidak bisa melakukannya!”
Rei pun sama paniknya, tampak gugup, dan aneh.
“Tidak ada waktu lagi!!” ujar Toru.
Rei membuka ransel. “Tu-tunggu, kalian tahan dia sampai aku selesaikan ini!” ucapnya seraya mengeluarkan baterai dan kawat tembaga dari dalam kotak perkakasnya.
Toru menggendong paksa Yukiko dan membawanya menjauhi danau. Aku ikut memegangi karena Yukiko memberontak. Dia tetap ingin berjalan ke danau. Kami berdua berusaha terus menahannya.
“Yukiko! Kau bisa dengar suaraku, kan?! Aku Karin! Kumohon sadarlah!”
Rei berlari membawa sesuatu di tangan. “Kalian menjauhlah! Sedikit kejutan di tubuh Yukiko pasti bisa membuatnya sadar.”
“Alat itu tidak akan melukainya, kan?” tanyaku memastikan sambil terus memeluk tangan kiri Yukiko.
“Tidak. Cepat menyingkir! Kau jangan menyentuhnya.”
Rei merakit kawat tembaga pada baterai primer berbentuk kotak dengan tegangan 9 volt. Kawat itu akan menghantarkan aliran listrik ke tubuh Yukiko jika disentuhkan pada bagian tubuhnya.
Rei berhasil. Yukiko kembali sadar, aku langsung memeluknya. Sama sepertiku, kebingungan jelas terpeta di wajahnya. Ya, sekarang kami berada di suatu tempat yang jelas-jelas bukan taman, tidak ada hamparan bunga musim semi. Hanya ada pohon-pohon rindang, beratapkan langit mendung, dan beralaskan rumput hijau kecil seperti di halaman rumah kebanyakan. Sepi. Sunyi.
Rei kembali memasang borgol di tanganku. “Mungkin situasi ini bisa terungkap setelah semuanya ditemukan.”
“Aku ikut kalian,” ujar Toru seraya mengkaitkan borgol di tangan Yukiko.
Kami menghampiri Natsu yang sedang bersandar di bawah pohon. Rupanya dia sedang tertidur pulas dengan borgol yang masih terkait di pergelangan tangan kiri tanpa keberadaan sosok Kouga di dekatnya. Membangunkan Natsu cukup mudah. Jepit saja hidungnya dengan kedua jari, cara itulah yang biasa kulakukan.
Saat membuka ransel hendak mengambil botol air minum, tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang. Kedua lengannya yang besar mengapit tubuhku hingga aku mulai merasa sedikit sesak. Dia menjatuhkan dagunya di atas kepalaku.
“Lihatlah aku. Panggil namaku. Ingatlah diriku. Aku akan selalu ada untukmu. Aku men ― ”
Belum selesai dia bicara, Rei sudah memberikan sedikit kejutan di tubuhnya setelah Toru dan Yukiko berhasil melepaskanku dari pelukannya. Seseorang itu adalah Kouga.
“Sebentar lagi dia sadar. Letakkan saja di bawah pohon. Natsu, jangan lupa pasangkan lagi borgolnya.” Rei memasukkan alat kejut listriknya ke dalam ransel.
“Yang dikatakan Kouga juga pengaruh alam bawah sadarnya?” tanyaku sehabis meneguk air.
“Kenapa? Mau dengar lanjutannya? Kau tanyakan saja langsung!” balas Rei ketus dengan intonasi akhir yang semakin meninggi.
“Kenapa kau marah?! Aku hanya bertanya karena sebelumnya Yukiko tidak mengatakan apapun!" Aku mulai kesal.
"Aku tidak marah!" tukas Rei.
“Kalian berdua semakin akrab, ya.” sahut Natsu seraya memasangkan borgol di tangan Kouga.
"Tidak!" jawab aku dan Rei bersamaan.
"Benar-benar kompak," ledek Natsu.
"Cih," Rei mendesit kesal.
“Hahh ....” Yukiko dan Toru menghela nafas bersamaan.
Selang beberapa menit kemudian Kouga sadar. Dia langsung menanyakan Justin dan Akiko. Aku lupa, mereka berdua yang menghilang sejak awal, sampai sekarang malah belum ditemukan.
“Kami akan mencari mereka. Kalian tunggu di sini saja,” ucap Rei seraya berlari pergi menarik tanganku.
Rei membawaku berlari dengan sesekali melihat radar. Sedikitpun dia tak menoleh padaku. Padahal tangan kirinya menggenggam tanganku, erat dan semakin erat dari sebelumnya.
"Rei, lepaskan tanganku!" teriakku berusaha melepaskan diri. Seolah tidak mendengar, Rei terus berlari, dan aku berusaha mengikuti langkahnya.
"Hah, hah, lepaskan, Rei! Hah, hah..!" Nafasku tersengal-sengal.
Rei mengurangi kecepatan larinya. Mungkin dia sadar kalau aku mulai kelelahan. Tapi kemudian langkahku terhenti mendadak, karena Rei tiba-tiba saja berhenti dan berdiri di hadapanku yang masih sibuk mengontrol nafas. Dia melepas genggamannya. Aku pun langsung menarik tanganku dan mengusapnya.
"Kau ... " Kupukul dada Rei dengan kepalan tangan kiriku yang sepertinya tak berpengaruh sedikitpun. Aku kesal. "Kau sengaja menjauhiku dengan yang lain agar bisa menjalankan rencana– "
Tangan kanan Rei langsung mendekap tubuhku, mendorong punggungku hingga jatuh dalam pelukannya. Aku memberontak, tapi dia terus menahanku. Memelukku erat dengan satu tangan, karena tangannya yang lain terikat borgol denganku.
Dukh!
Kuinjak kaki Rei. Dia menjerit dan melepaskan tubuhku.
“Apa yang kau lakukan?!” seru Rei.
"Akulah yang seharusnya bertanya! Aku tidak paham dengan sikapmu! Apa mungkin kau terhipnotis kata-kata yang diucapkan Kouga?” lontarku sekenanya sambil membuka borgol. “Kita berpencar saja!”
“Baik! Pergi saja yang jauh!!"
“Baik!! Dasar aneh!” balasku sebelum berjalan meninggalkannya.
Aku pergi mencari Akiko, sedangkan Rei pergi mencari Justin.
__ADS_1