Petualangan Cinta Pulau Impian

Petualangan Cinta Pulau Impian
Sarapan Sederhana


__ADS_3

[3 Agustus 2011 - Pukul 07.06]


Kala beranjak keluar dari tenda, mataku langsung menyipit dengan wajah sedikit berpaling, menghalau berkas cahaya yang begitu menyilaukan. Perlahan namun pasti, seluruh tubuhku mulai menghangat. Bermandikan sinar mentari pagi yang mengawali hari ke tiga-ku di pulau asing ini.


Beberapa burung kecil sibuk berpindah tempat dari satu dahan pohon ke dahan lainnya. Kuregangkan tangan ke atas dan kubentangkan lebar-lebar sambil menghirup udara dalam-dalam. Lalu kuhembuskan seraya berteriak "Segaaaaarrr~!"


Kulakukan sedikit pemanasan untuk meregangkan otot. Racikan obat Akiko memang ampuh. Rasa sakit dari luka memar di tangan dan lututku membaik dalam waktu semalam. Hanya menyisakan sedikit warna lebam yang cukup membuatku ingat dengan peristiwa kemarin malam.


"Hm? Di mana yang lain?" sadarku tak ada seorang pun di sekitar. "Apa mungkin masih tidur?" Kulangkahkan kaki menuju tenda lainnya.


"Mereka tidak ada." gumamku sembari mengintip dari celah pintu tenda. Aku berniat untuk menghubungi Yukiko. "Earphone-ku tidak terpasang," sadarku.


Refleks, langsung kuraih radar yang biasa kukaitkan di leher. "Eh? Tidak ada juga ... apa mungkin terlepas sewaktu tidur?"


Kakiku melangkah cepat ke dalam tenda. Mencari sampai ke sudut terkecil, tapi earphone dan kotak penting itu tak juga kutemukan. "Apa mungkin kedua alat itu lepas bersamaan saat aku terjatuh??" pikirku sembari mengingat-ingat.


"Rei yang membuat kedua alat itu. Jika sampai dia tahu bahwa aku menghilangkannya ... h–habislah sudah," gemetarku panik memeluk lengan. "Aku harus mencarinya!" bergegas cepat ke luar tenda.


Kusapukan pandangan mengingat arah jalan yang kulalui saat mencari Kouga. "Pasti ada di sana!"


Tukh!


"Ish– apa? Siapa?!" ujarku menoleh cepat, sesuatu mengenai bahuku. Seketika bulu halusku menduri maksimal karena menyadari tidak ada siapapun di dekatku.


Sosok hitam kemarin malam, menciptakan bayang tak nyaman yang masih membekas dalam ingatan. Menyisakan sedikit rasa takut yang kembali muncul saat diri ini merasa sendirian.


"Karin?"


"Eh!" tubuhku bergelinjang kaget, berbalik cepat mencari sumber suara yang kukenal dengan jelas.


"Haaa~ Yukiko!!" teriakku sambil berlari menghampirinya. Yang lain pun hadir bersamaan, "Kalian dari mana saja? Kenapa meninggalkanku sendirian??" protesku.


"Mengisi air dan menangkap beberapa ikan," sahut Justin menunjukkan hasil tangkapannya. "Kau tidak sendiri. Rei masih beristirahat di dalam tenda."


"Aku sudah mengeceknya, dan tidak ada siapapun!" jelasku.


"Hahh ... aku paham." Akiko menghela napas, lalu berbalik mengambil ikan di tangan Justin. "Beristirahat di atas pohon, kurasa dia memiliki hobi baru."


Tapp!


Seseorang mendarat turun dari atas pohon.


"J–jadi, sejak tadi kau ada di sana??!" pekikku terkejut mengetahui orang itu adalah Rei. "Jangan-jangan kau yang melempar sesuatu ke arahku? Benar, kan?!"


"Abaikan saja mereka." Akiko mengibaskan tangan. "Justin dan Toru, tolong siapkan bara apinya. Biar aku dan Yukiko yang menabur garam." sahutnya memberi arahan.


Rei jalan mendekat ke arahku, "Melihat tingkah bodohmu lebih menarik daripada pergi ke sungai menangkap ikan." bisiknya begitu melewatiku.


"A–apa kau bilang?!!" teriakku kesal.


Rei melangkah masuk ke dalam tenda. Meninggalkan diriku yang mulai berpikir untuk rencana balas dendam.


Natsu menepuk bahuku, "Walau aku tak ingin cepat-cepat merelakanmu, tapi menurutku, berterima kasihlah padanya." Natsu memberikan earphone dan radar milikku. "Dia bekerja semalaman untuk memperbaiki tikus kecil dan alat milikmu." jelas Natsu memberitahuku.


Semalaman ...?


Entah dari mana perasaan hangat itu tiba-tiba mengalir. Menggulung emosi diri dan mengubur niatan balas dendam yang biasa terpikir saat dia mengusiliku lebih dulu. Ya ... walau banyak dari rencana itu tak berjalan dengan baik, karena bakatnya yang selalu bisa menebak pikiranku.


"Terima kasih, Natsu." Kakiku mengayun seolah mendapat dorongan untuk segera menemui Rei. Ingin kukatakan secara langsung, karena bisa jadi sulit jika aku menundanya. Suasana di sekitarku bisa berubah dengan cepat, setiap kali berhadapan dengannya.


"Bagaimana keadaanmu?"


Sapa Kouga membuatku sedikit terkejut. Aku tak menyadari kehadirannya yang berdiri tepat di samping tenda.


Wajahku menoleh cepat, "A–aku baik, bagaimana denganmu? Kemarin—"


"Kau tidak perlu khawatir." sela Kouga memotong ucapanku. "Tentang kemarin, aku minta maaf," sambungnya lembut dengan mimik wajah yang terlihat tak bersemangat.


Kubalas dengan senyum, karena jujur aku sendiri pun masih bingung. Percakapan ini terkesan kaku. Setelah mengatakannya, Kouga kembali pergi membantu yang lain, merapikan bekas api unggun yang kami biarkan menyala semalaman.


Kedua mataku masih mengikuti gerak geriknya dari kejauhan. "Aku pasti membuat kesalahan! Tapi apa yang sudah kulakukan ...." lirihku berusaha keras mengingat-ingat.


"Satu buku," sahut Rei tiba-tiba menyembulkan kepalanya dari celah pintu tenda.


Lompatku sedikit menjauh. "Ish! K–kau mengagetkanku!!"


Rei keluar dari tenda sambil mengangkut beberapa ransel, "Satu buku tak akan cukup menuliskan kesalahanmu."


Merasa bersalah, "Benarkah ...? Pantas saja Kouga meninggalkanku malam itu. Aku akan minta maaf padanya!"


Grep!


Rei meraih lenganku. Menahan diriku yang siap berlari menemui Kouga. Tatapan seriusnya mengarah padaku, "Tidakkah kau lihat apa yang sedang kulakukan? Bantu aku lipat tendanya!"


"Kenapa harus aku?!" protesku berusaha melepaskan lengan yang masih di genggamnya.

__ADS_1


"Satu, kau tidur paling cepat dan bangun tidur paling siang. Dua, mereka semua bangun lebih pagi, mengisi persediaan air, dan menangkap ikan. Tiga, mereka juga yang menyiapkan sarapan. Empat— "


"Aku mengerti! Akan kubantu melipat tendanya!" potongku menyela ucapan Rei.


Aish! Semua yang dikatakannya memang benar. Itu terdengar memalukan! Tapi tetap saja aku merasa kesal karena dia yang mengatakannya!!


Batinku menggerutu.


Rei menghampiriku, "Kau belum selesai melepasnya??"


"I–ini tertancap kuaatt~!" erangku kesulitan mencabut pasaknya.


Syut!


Rei ikut merunduk, menimpa tubuhku dari belakang. Membuat tubuh kami saling berhimpit tak berjarak.


Terlalu dekat membuatku tak nyaman, "A–apa yang—?!"


"Diam dan perhatikan." sela Rei dengan nada dinginnya. Ia mengulurkan tangan besarnya, memegang pasak yang sedang ku genggam. "Taruh tanganmu di sisi pasak yang dekat dengan tanah, lalu kerahkan tenagamu untuk menariknya." jelas Rei mengarahkan.


Rei membantuku mencabut pasak. Kami menariknya bersamaan. "Ah! Berhasil!" sorakku senang. Senyumku mengembang, rasanya melegakan. "Kau membuatnya jadi lebih mudah. Terima kasih, Rei!"


Dalam beberapa detik, kami saling menautkan pandang. Kemudian Rei memalingkan wajahnya, "K–kau pergilah." ucapnya sedikit terbata.


"Ng? Kenapa? Ini belum selesai, kan?" tanyaku bingung.


"Akan kuselesaikan, rapikan saja barangmu!" titah Rei sembari melanjutkan kegiatannya.


Aku memang belum sempat merapikan barangku. "Hm, baiklah." Tubuhku berbalik hendak pergi.


"Ah, ya!" seruku mengingat sesuatu. Wajahku kembali menoleh, "Maaf karena membuatmu bekerja semalaman, memperbaiki earphone dan radarku."


Rei menghentikan kegiatannya, "Simpan saja maafmu, karena tagihannya akan kuberikan."


Tatapku bingung, "Tagihan?"


Rei tidak pernah membuat tagihan pada yang lain. Sewaktu memodifikasi kamera Yukiko, dia bahkan menolak uang yang diberikan. Padahal Yukiko memang berniat untuk memberikannya sebagai rasa terima kasih, tapi ia tetap menolak. Namun sekarang, kenapa denganku dia memberi tagihan??


"Tunggu saja sampai aku memberitahumu." sambung Rei dengan senyum lembut yang terkesan mengerikan.


Apa yang dia rencanakan? Berapa banyak tagihan yang harus kubayar?! Apa dia benar-benar ingin menguras tabunganku??


Aaaahhh! Baru saja aku ingin berterima kasih! Baguslah karena belum sempat kukatakan!


"Karin! Rei! Kemarilah~ " teriak Yukiko melambaikan tangan. Kulihat Natsu dan Justin membentangkan tikar lipat berukuran sedang. Langsung saja kuhampiri mereka. Berlama-lama dengan Rei melelahkan pikiranku!


Kami pun serempak duduk bersama membentuk satu lingkaran. Menikmati sarapan sederhana yang bahan utamanya berasal dari ikan air tawar. Walau masih ada makanan kaleng dan beberapa bungkus roti, kami harus menghematnya dengan memakan makanan yang tersedia dari alam.


"Kau bilang jangan menyentuh apapun yang ada di pulau ini, apa tidak masalah jika aku memakannya?" sindirku pada Rei yang duduk di sebelah kananku. Entahlah, aku masih merasa kesal padanya.


"Pfft!" Natsu menahan tawa. "Karinku berevolusi dengan baik untuk menyerangmu, Rei."


Beberapa menit yang lalu, Rei mengusulkan bahwa masing-masing pasangan borgol harus terbiasa berdekatan, karena semua borgol telah rusak di tantangan labirin sebelumnya.


Aku yakin itu hanya siasat agar bisa menekanku setiap saat!


Rei melirikku dengan ekor matanya. "Jadi, kau meragukan masakan yang sudah dibuat oleh Akiko dan Yukiko?" balasnya menyerang.


"Ehh?!" kejutku seolah menerima serangan mematikan. "A–aku tidak bermaksud meragukannya!!" sergahku panik.


Aku tak menyangka jika kalimatku menyudutkan pihak selain Rei.


"Tak ada masalah. Sudah kuperiksa, bahkan kucicipi lebih dulu sebelum berniat memberikannya padamu, waktu itu." sahut Kouga sembari menatap ke arahku.


Aku tersentak, mataku membulat, "Lebih dulu memakannya ...?" Pikiranku masih terkejut.


Memangnya tahu dari mana kalau itu aman dimakan? Bukankah sama saja dengan mengorbankan diri?!


Jemariku meremas pakaian, "Bagaimana bisa kau— "


"Aku baik-baik saja." sela Kouga.


Tapi, bagaimana jika ikan itu beracun? Bagaimana jika aku tak datang waktu itu? Bagaimana jika tak ada yang datang, saat dirimu kesakitan karena menelan racun?! Bagaimana—


Tukh.


Rei menjatuhkan tinju kecil di atas kepalaku. Seketika membuyarkan lamunan yang terasa menyesakkan.


"Akiko, Yukiko, dan Kouga. Mereka bertiga membentuk kelompok kecil yang bertugas menganalisa bahan makanan di sekitar kita selama perjalanan." Rei menjelaskan.


"Kouga lebih familiar dengan bahan makanan, sedangkan Akiko dan Yukiko lebih familiar dengan jenis racun. Mereka kombinasi yang pas untuk membuat pencernaan kita tetap aman selama belasan hari ke depan." sambung Justin.


"Rei menyuruhmu untuk menjauhi apapun itu, sebenarnya karena dia peduli padamu." sahut Natsu sekenanya sambil melahap makanan di hadapannya.


"S–siapa yang peduli?!" pekik Rei terlihat kesal.

__ADS_1


"Aku mengerti!" anggukku paham.


"Apa yang ... kau mengerti?" tanya Natsu terlihat penasaran.


"Tentu saja kita tidak akan kelaparan, kan! Aku masih bisa merasakan masakan seperti di rumah, karena Akiko dan Yukiko yang memasaknya! Tenang saja, aku bersedia membantu kalian!" ujarku penuh semangat.


"Pfft! Ahahaha!" bahak Natsu.


Beberapa dari mereka berusaha menahan tawa. Sedangkan Rei fokus menyantap makanannya dengan kening berkerut seolah menahan kesal.


Kenapa? Apa aku salah bicara? Huh, biarkan saja. Ekspresi wajahnya memang sering tak bersahabat. Lebih baik aku fokus menghabiskan sarapan.


"A—anu ... apa tak ada yang ingin membahas tantangan labirin sebelumnya?" Justin terlihat sangat berhati-hati mengatakannya.


Uhuk!


Kouga tersedak. Ia langsung meneguk air dari botol minumnya.


Hening. Suasana di sekitar kami berubah seperti kota mati. Kepakan sayap burung yang sedang berpindah-pindah dahan, jadi terdengar lebih jelas.


"Aku juga punya banyak pertanyaan! Banyak sekali! Tapi yang lebih penting, bagaimana caranya dinding itu bisa terbelah dan menunjukkan jalan keluar??" tanyaku sangat penasaran.


Kutolehkan wajah ke samping, menatap Rei. "Kau melakukan banyak hal yang tidak kumengerti."


Rei balas menatap. "Akan kujelaskan intinya." Rei menyapukan pandangan ke arah yang lainnya. "Aku menemukan tempat yang dikelilingi pola dinding berubah-ubah. Mungkin dibuat untuk menyulitkan kita agar tidak bisa menemukannya."


Rei menatapku, "Itu tempat yang kuberitahu padamu." Tatapannya beralih ke yang lain. "Tempat di mana kita akhirnya berkumpul dan keluar bersama."


"Disana hanya ada dinding dengan petakan bergambar seperti game Onet. Gambar yang mewakili tiap jenis bunga milik putra dan putri mahkota." sambung Rei sambil merogoh saku celana.


"Saat aku sampai di sana, salah satu petakan gambar itu mengeluarkan cahaya dan berkedip. Jika kita menganggap bahwa itu tempat rahasia, pasti bersangkutan dengan putra dan putri mahkota bunga, kan? Karena itu aku berencana menghancurkan dinding berpetak itu. Dan alat yang ku punya hanya sebuah pistol." Rei menunjukkan pistolnya.


"Pistol semi-otomatis modern yang biasa dipakai kepolisian! Dari mana kau mendapatkannya?" selidik Justin penasaran.


"Hasil menggeledah isi kapal." jawab Rei singkat.


"Kutembakkan pada salah satu petak gambar di jarak terdekatku. Tapi dinding itu tak tergores sama sekali. Lalu kuarahkan pistol dan kembali menembak tepat di petak gambar yang sebelumnya berkedip. Dan hasilnya, dinding itu retak. Tepat di petak gambar yang menjadi sasaranku." Rei melipat tangan, mengubah posisi duduknya.


"Total peluru dalam pistolmu 20 butir." sahut Toru.


"Tak bisa asal menembak. Jadi kau menunggu saat salah satu petak gambar lainnya berkedip?" sambung Justin memastikan.


"Ya." Wajah Rei menoleh ke arahku. "Kebenaran itu terbukti di depan mataku."


"Ng? Apa? Kenapa menatapku?" tanyaku bingung karena Rei mengarahkan wajah seriusnya padaku.


Rei memejamkan mata terlihat sedang membasahi kerongkongan. Setelah itu, ia kembali menegakkan wajahnya. "Total ada enam petak yang berkedip dan berhasil ku tembak. Kemudian muncul cahaya terang yang menembus langit."


"Ah, kami melihatnya!" seru Yukiko.


"Tepat 10 menit setelah mengalahkannya dengan menyebut kata cahaya, Putra Mahkota Bunga Azalea kembali muncul di hadapan kami. Namun tak berselang lama, ia langsung menghilang begitu saja." Toru menatap wajah Rei, "Petak gambar terakhir yang kau tembak, pasti bunga azalea."


Benar! Aku melihatnya, dan gambar itu bunga azalea.


"Seperti yang kau katakan." jawab Rei mengiyakan.


"Jadi, cahaya berkedip itu pertanda dari bangkitnya putra dan putri mahkota bunga setelah 10 menit dikalahkan, ya. Hmm ... aku paham." ucap Akiko.


"Ah, tunggu! Aku mendengar dua suara tembakan? Kenapa kau menembak dua peluru di satu petak? Toru bilang pelurumu hanya 20 butir, bukankah itu pemborosan?" serangku penasaran.


Rei menarik napas panjang. "Sejak kapan kau berlatih menggunakan isi kepalamu?" Rei merunduk memijat kening sambil menatap ke arahku.


"Hah?!" Tiba-tiba aku merasa sangat kesal mendengar ucapannya.


"Perlihatkan pistolmu, Rei." pinta Toru.


"Tch, baiklah!" Rei melempar pistolnya.


Toru mengeluarkan seluruh pelurunya. "Tersisa 13 peluru. Satu tembakan di awal dan enam tembakan untuk petak bergambar."


Alis Toru menukik, "Tetapi jika ditambah dengan pernyataan Karin, harusnya pelurumu sisa 12 butir."


Justin menoleh cepat ke arah Toru, "Maksudmu, ada satu petak gambar yang retak bukan karena tembakan?"


Semuanya langsung beralih menatap Rei.


"Lindungi takdirmu dan takdirnya, dengan takdir yang baru." Natsu angkat bicara. "Kau hanya mengikuti arahan dari para dewi. Benar begitu, kan, Rei?" Senyum Natsu terlihat sedang menggoda Rei.


"Sigh! Mengatakan lebih dari itu, maka kau berurusan denganku!" balas Rei kesal.


"Kenapa mengancam Natsu?!" tatapku kesal pada Rei. "Bukankah kita sedang meluruskan kejanggalan? Ah, benar juga. Harusnya Natsu dan Kouga saja yang cerita! Kalian melihat semua peristiwanya, kan?" menuntut jawaban dari Natsu dan Kouga.


"E–ekhm!" Kouga berdeham. "Sebaiknya kita bahas perjalanan selanjutnya. Matahari beranjak kian meninggi."


Benar juga. Tak sadar waktu cepat sekali berlalu.

__ADS_1


Kouga membuka gulungan peta. "Tantangan selanjutnya adalah hutan. Tapi sebelum itu, kita harus melewati sebuah jembatan."



__ADS_2