
[3 Agustus 2011 - Pukul 08.20]
Natsu menghampiriku, "Tidak ada yang tertinggal, kan?"
Sudah kupastikan isi ranselku. "Tidak. Semua lengkap." Jari telunjuk dan ibu jariku menyatu, memberi isyarat yang bermakna OK.
"Oh, ya! Bagaimana dengan bahumu? Apa masih terasa sakit?" Tatapku berubah cemas.
Wajah Natsu mendekat, "Untunglah kita berteman dengan si kembar Fukuda. Aku tak ingin membayar mahal untuk membeli obat olesnya di masa depan nanti." bisik Natsu membuatku terkekeh.
Natsu meregangkan tangannya ke atas. "Jangan lupa oles kembali obatnya pada luka lebammu." sambungnya seraya menepuk lembut puncak kepalaku. Anggukkan kecil kuberikan sebelum ia melangkah pergi menghampiri yang lain.
Pukul 08.40, kami sudah siap melanjutkan petualangan. Rasa takut mulai bersarang di dalam benakku. Pemikiran aneh Zeroichi_sama yang tertuang dalam konsep permainan menantangnya, sangat jauh dari logika manusia. Sinyal bahaya kian menghantui pikiran. Memaksa diriku yang mulai ragu, untuk menimbang sebuah pilihan. Antara terus berlanjut, atau menyerah dan kembali pulang.
"Melompati batu satu per satu, hanya itu jalan menyeberang selain masuk ke dalam sungai." jelas Kouga memberi tahu. Jarinya menunjuk ke arah bebatuan yang berbaris lebih rapat.
"Ah," Tanganku meraih ransel Rei. Ingatanku kembali menarik memori yang membuatku tidak nyaman.
"Sulit dipercaya. Kau takut melewati jalan ini di pagi hari? Di mana keberanianmu yang kemarin malam?" sindir Rei melirik ke arahku.
"Hanya teringat sesuatu!" tukasku.
Rei menahan tawa. "Pfft! Bayangan hitam besar?"
"K–kau tertawa?!" kesalku memukuli lengannya. "Eh? Kau tahu bayangan hitam? Kau melihatnya juga??" selidikku penasaran.
Rei mendekat, "Aku merasa, sosok itu sedang mengawasimu." bisiknya di dekat wajahku.
Bulu kudukku meremang. "Y–yang benar saja! Kenapa mengawasiku?! Di mana? Sebelah mana??!" seruku panik merapatkan diri memeluk lengan Rei seraya menyapukan pandangan.
"Tepat di sebelahmu." celetuk Akiko di belakangku.
Seketika wajahku menoleh ke samping kanan. Tak ada siapapun. Kedua tanganku malah semakin erat memeluk lengan Rei.
"Aish!" Akiko memutar kepalaku. Membuat pandanganku dan Rei saling bertaut. "Dialah bayangan yang kau lihat malam itu!" sambungnya menjelaskan.
"Kau mengigau semalaman hanya karena imajinasi anehmu! Aku tak tahan melihat senyum puas di wajahnya!" celoteh Akiko sambil menunjuk-nunjuk wajah Rei.
"Kau wanita pisang terbaik!!" timpal Natsu memberikan ibu jarinya.
Kulepas pelukan tanganku. "Jadi, malam itu ... bayangan hitam yang kulihat ... bukan hantu?" tanyaku menatap serius wajah Rei.
"Kaulah yang terlalu bodoh!" Rei memalingkan wajah, menghindari tatapanku.
"Hahh ... syukurlah." Ototku tak lagi menegang. "Senang mendengarnya karena itu dirimu!" Senyumku mengembang lega.
Akiko, Natsu, dan Kouga menghentikan langkahnya bersamaan. Aku dan yang lain pun turut berhenti. Sedangkan Rei mematung di tempat, menutup wajah dengan punggung tangannya. Suara derasnya air yang melewati celah bebatuan, meramaikan situasi hening yang tiba-tiba datang.
"Pergilah duluan." Akiko mendorong tubuhku menjauhi Rei.
Natsu menoleh ke belakang sambil mengulurkan tangan. "Kemarilah, kau akan menyeberang sungai bersamaku."
"Hm? Baiklah." jawabku seraya meraih tangannya.
Ada apa dengan mereka? Terkesan ingin menjauhkanku dari Rei. Apa hanya perasaanku saja?
Batinku menerka-nerka.
Kouga sudah lebih dulu melompat dari satu batu ke batu lainnya. Menunjukkan jalan pada kami, dengan mencari batuan yang aman dan nyaman untuk dijangkau.
Tap!
Hap!
Sampailah aku dan Natsu di tengah sungai. Berpijak pada sebuah batu yang berukuran lebih besar daripada batu di sekelilingnya.
"Hah ... hah ...!" Kuhentikan langkah sejenak. Berpegangan pada Natsu, sedikit menghapus ketegangan. Permukaan batunya cukup licin, jadi harus konsentrasi dan berhati-hati. Sungainya memang dangkal, tapi arusnya sangat deras.
"Apa kau ... menyukainya?" lirih Natsu memandang serius ke arahku.
"Suka?" ulangku memastikan. "Aku tidak suka melompati batu sungai! Aku ingin cepat sampai di seberang!" keluhku manja yang biasa kutunjukkan pada Natsu.
"Hmph, ahaha, dasar!" Natsu mengacak-acak rambutku. "Tunggu di sini, akan kuberi aba-aba selanjutnya untuk melompat."
"Hm!" Anggukku paham.
"Eh—?"
Kaki kananku –yang berada di dekat pinggir batu– tergelincir saat hendak menggeser posisi. Keseimbangan tubuhku goyah. Kulihat Natsu berbalik, bergerak cepat berusaha menggapaiku. Raut wajahnya berubah cemas karena jemarinya tak sampai meraihku. Ya, aku pasrah jika memang harus tercebur ke sungai. Tapi masalahnya, aku tak ingin kembali jatuh membentur batu.
Tap!
Satu kedipan mata, kulihat seseorang melompat ke arahku. Ekspresi wajahnya seakan bersiap mengabulkan keinginanku.
Syut!
Tangan besarnya terjulur, membangkitkan debaran yang membuatku berharap dan ingin meraihnya.
__ADS_1
Grep!
Hentakkan energi mengalir lewat cengkeraman tangannya, berusaha kuat menarik tubuhku hingga mendarat tepat dalam dekapannya.
"Hanya aku yang bisa mengimbangi kecerobohanmu." ucap seseorang dalam satu tarikan napas.
Wajahku mendongak ketika tangan besarnya merangkul pinggangku, merengkuh erat terkesan posesif. Memperpendek jarak di antara kami, hingga dapat kurasakan hembusan napas yang berusaha ditahan olehnya.
Potret diriku jelas terpantul, dalam manik obsidian hitam keabuan miliknya. Napasku semakin sesak, dan pergerakan udara di sekitar wajahku terasa kian memanas. Apa mungkin karena wajah kami yang hampir tak berjarak, membuatku harus saling berebut oksigen dengannya?
"Karin?!" seru Natsu terkejut.
"Kau baik-baik saja, kan? Apa ada yang terluka?!" ujar Natsu cemas memeriksa tubuhku dari kepala hingga kaki.
"Aku baik. Hanya saja, napasku sesak karena Rei tak mau melepaskan tangannya!" protesku berusaha melonggarkan pelukannya.
"Mana mungkin kulepas! Kau bisa jatuh! Batu ini terlalu kecil untuk menampung tiga orang! Suruh saja ka-kak-mu itu untuk segera pergi!" sindir Rei disertai penekanan di salah satu kata.
"Aish, dasar. Berbaik hatilah padaku jika ingin masa depanmu lancar." Natsu menepuk bahu Rei dengan sunggingan senyum tipis yang terkesan menggoda. Ia pun kembali melompat pergi.
Kudengar Rei berdecit, bahkan alisnya sampai menukik. Masa depan apa yang Natsu bicarakan hingga membuat ekspresi wajahnya berubah tak nyaman?
Rei melonggarkan tangannya. Wajahku merunduk kikuk. Kubuat jarak dengan cepat, namun masih tetap berpegangan padanya.
"T–terima kasih!" ucapku sedikit canggung.
"Perhatikan langkahmu!" balas Rei ketus.
"H–hm."
Rei menuntunku satu demi satu memijak pada batu. Hal yang sama juga dilakukan Justin dan Toru, membantu si kembar Fukuda. Walau sebenarnya tak banyak yang dilakukan Justin, karena Akiko bisa bergerak dengan mudah tanpa sedikitpun kesulitan. Hingga sampailah kami semua di seberang sungai.
Berdasarkan petunjuk di peta, kami harus melewati jembatan agar bisa masuk lebih dalam ke tengah hutan. Sekitar 30 meter kami berjalan, hembusan angin terasa semakin kencang.
Sudah mulai terlihat, sebuah jembatan di ujung mata memandang. Rasa penasaran pun memaksa langkah kami untuk bergerak semakin cepat. Semilir angin sejuk menyapa dedaunan. Surai yang tergerai pun ikut menari, mengikuti alunan lembut sang pemilik arus angin.
Berkas cahaya matahari begitu menyilaukan. Jatuh menembus celah-celah rimbunnya dahan. Langkah kami serempak berhenti. Mengamati hati-hati, pemandangan yang tersaji di hadapan kami. Ya, lagi-lagi hal yang tak dimengerti.
"Impossible ..." Justin terperangah tak percaya.
Bukan hanya Justin, kami semua pun dibuat terbelalak. Seolah menancap, kaki kami tak sanggup bergerak. Memandang lekat birunya langit dengan dada bergejolak.
Hembusan angin bergerak bebas, menerpa tubuh dengan kelembaban yang pas. Tak ada pohon yang bertindak sebagai dinding pembatas. Kedua bola mata kami, menangkap tepi daratan terjal sebagai alas, bersama dengan latar biru yang membentang luas.
Tepi daratan terjal?
Ya, kami berada di ujung tebing dengan ketinggian kurang lebih 650 meter dari permukaan tanah. Hampir dua kali lipat tingginya Tokyo Tower. Terdengar suara aliran air yang berada di dasar tebing. Cukup membuat kakiku mati rasa, ketika membayangkan bahwa kami akan menyeberang dengan jembatan di sana.
Kouga menyapukan pandangan, menoleh sisi kiri dan kanan. "Aku tak tahu seberapa jauh tebing ini memanjang. Yang bisa kupastikan, jembatan di hadapan kita menjadi satu-satunya akses untuk menyeberang."
Rei berjalan mendekati Kouga, "Sekitar 10 meter kabutnya menjadi lebih tebal."
"Semula berlabuh di pantai, dan sekarang di atas tebing. Apa Zeroichi_sama itu seorang penyihir?" celetuk Natsu.
Swushh~!
Tiba-tiba Toru melempar sebuah batu kecil, melesat cepat menembus kabut.
Tuk' klutuk! Tukh!
Batu kecil itu mendarat dan menghasilkan bunyi pantulan. Setidaknya cukup untuk menyimpulkan bahwa di balik kabut itu bukanlah dimensi lain seperti ilusi-ilusi sebelumnya. Ya, wajar saja jika kami menjadi lebih waspada.
Peta menunjukkan bahwa kami harus masuk ke dalam hutan untuk menyelesaikan tantangan ketiga ber-clue bunga. Hutan tersebut bisa dicapai setelah melewati jembatan gantung, yang seluruhnya berwarna merah tua untuk lantai kayu dan tali penyokongnya.
Rei membuka ransel, "Tunggu sampai aku selesai merekamnya." Ia mengeluarkan robot tikus kecil yang sudah diperbaiki.
Mengingat perkataan Natsu sebelumnya, membuatku sedikit khawatir dengan kondisi Rei. "Memperbaiki itu semalaman, apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan lukamu?"
"Persiapkan saja dirimu agar tidak menghambat saat menyeberang nanti." balas Rei tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
"Siapa juga yang akan menghambat!?" gerutuku kesal. Aku serius mengkhawatirkannya, tapi dia malah bersikap menyebalkan.
Tak lama kemudian, robot tikus itu sudah menyelesaikan misinya. Data yang kami butuhkan berhasil terhubung lewat ponsel Rei. Dapat diketahui bahwa panjang jembatan itu 42 meter dan lebar 2,3 meter. Dari hasil foto dapat dilihat bahwa kondisi jembatan cukup baik, tidak ada pijakan yang berlubang walaupun warna catnya tampak kusam. Simpul-simpul tali penyokong jembatan juga masih terlihat kokoh, walau kami tak tahu sudah berapa lama jembatan ini menggantung.
"Hutan itu benar ada di seberang sana." Rei menghentikan robot kecilnya seusai mendarat di tanah.
Rei menarik tanganku, "Ayo, kita pergi."
"Ta–tapi, Rei ...." ucapku berusaha menahan langkah. Aku masih harus mempersiapkan diri sebelum melangkahkan kakiku lebih jauh.
Kouga menepuk bahu Rei, "Aku dan Natsu akan menyeberang lebih dulu."
"Hahh ... syukurlah." bisikku sambil menghela napas lega.
Untuk berjaga-jaga, Kouga membatasi hanya dua orang dalam sekali jalan melewati jembatan. Rei sependapat, semakin dibatasi jumlahnya, maka semakin kecil resonansi atau getaran yang dialami jembatan. Sehingga akan lebih aman. Sesampainya di seberang, Kouga akan memberi kabar lewat earphone. Aku dan Rei mendapat giliran selanjutnya.
"Bilang saja kau takut." ledek Rei.
"Ti–tidak! Aku hanya butuh pemanasan!" kilahku sembari meregangkat otot-otot.
/Karin, Rei, bersiaplah! Sekarang giliran kalian. Berjalanlah perlahan, jangan menghentakkan kaki keras-keras./ sahut Kouga melalui earphone.
__ADS_1
"Mengapa cepat sekali?!" gumamku panik. Kutarik napas dalam-dalam, lalu kuhembuskan. Walau sudah berusaha menenangkan diri, kakiku masih sulit digerakkan.
Rei menoleh ke arahku, "Kau membuat yang lain mengantri lebih lama."
"A–aku tidak bermaksud—" ucapanku terhenti saat Rei tiba-tiba saja menggenggam tanganku.
Bola mata Rei mengarah padaku, "Akan kubelikan es krim selama satu minggu."
"Heh? Benarkah??" tanyaku antusias.
Aku dapat es krim gratis selama satu minggu! Benar-benar hari keberuntunganku!
Batinku bersorak.
"Satu es krim untuk satu hari, dengan syarat—"
"Aku ingin es krim sandwich besar! Dengan kulit wafer yang lembut, lapisan keju susu yang gurih, serta paduan es krim vanila yang di tengahnya ada selai bluberry!" pintaku semangat menyela ucapan Rei.
"Aku belum selesai bicara dan kau sudah menentukan pilihanmu?" Rei mengangkat alisnya.
"Satu es krim saat jam istirahat di sekolah, dan satu es krim sepulang sekolah!" pintaku tak sabar.
Tukh!
Rei menyentil dahiku. "Kau sama sekali tidak mendengarkanku?"
"Ish, aku dengar! Kau bilang mau membelikanku es krim selama satu minggu!" tuntutku sambil mengusap-usap dahi.
"Haahhh ... baiklah, terserah kau saja." Rei menghela napas pasrah.
Tunggu, sepertinya ada yang aneh. Ulang tahunku masih empat bulan lagi. Rei terlalu bermurah hati, sangat mencurigakan!
"Jangan-jangan kau merencanakan sesuatu, ya?!" selidikku penasaran.
Swusshh~
Tiba-tiba angin berhembus membuat pijakanku bergoyang.
"Ah—!?" pekikku terkejut. Rei langsung memelukku. Mendorong kepalaku hingga bersandar di dada bidangnya. Kulihat tangan kanannya berpegang erat pada tali pembatas di sisi kanan jembatan.
Jembatan? Bergoyang?
Sontakku mengerjap sadar.
"Jangan lihat ke bawah." titah Rei yang justru membuatku semakin panik. Kedua tanganku meremas pakaian di tubuhnya.
Aku tak menyadari bahwa kakiku sudah melangkah jauh menyeberangi jembatan. Sejak awal, Rei berusaha mengalihkan perhatianku dengan membahas tentang es krim. Begitulah caranya. Cara Rei yang selalu bisa mengendalikan pikiranku. Kadang menyebalkan, tapi seringnya menyenangkan.
"Aku serius tentang es krim itu." bisik Rei di dekat telingaku. "Asal kau berjanji untuk terus memejamkan mata, sampai aku mengatakan boleh membukanya." sambung Rei memberi penawaran.
"Hm." jawabku singkat. Tak ada niatan untuk menolak.
"Anginnya sudah berhenti. Kita lanjut berjalan." Anggukkan kecil menjadi balasan yang kuberikan. Genggaman tangan Rei kembali menarik langkahku. Berjalan sambil memeluk lengan kirinya. Mata terpejam, tak ingin untuk sekedar mengintip.
Sesekali angin berhembus lagi. Menggoyahkan langkah yang susah payah kuteguhkan. Aku takut jika jembatannya tiba-tiba runtuh. Lokasi yang jauh dari jangkauan kehidupan, serta ketinggiannya yang hampir dua kali Tokyo Tower, pasti ketangguhan jembatan pun semakin terkikis oleh faktor usia dan cuaca. Pikiran buruk itu menjalar cepat. Membuat kakiku semakin berat untuk melangkah.
Rasanya waktu berjalan lambat. Aku ingin cepat sampai! Bergoyang di dalam kapal lebih menyenangkan daripada di atas jembatan!
Swusshh~!! Ngek’ ngek!
Sesuatu melesat cepat.
"AAaa!! I-itu apa?!" teriakku panik ketika merasakan sekelebat udara yang bergerak di dekat wajah. Jantung menggebu tidak karuan. Kupeluk lengan Rei erat-erat.
"Hanya burung yang melintas! Tenanglah, kau membuat jembatannya semakin bergoyang." ujar Rei.
Kubuka mata perlahan dan kulihat Rei sedang berusaha menyeimbangkan tubuhnya dengan kondisi jembatan yang mengayun. "Ma-maaf, aku takut ...." lirihku.
Mendengar gesekan antara simpul tali dengan lantai kayu, membuat kakiku gemetar.
"Tenanglah, kita hampir sampai. Semua akan baik-baik saja." Rei berusaha menenangkanku.
Perlahan namun pasti, langkahnya membawaku ke suatu tempat, di mana mulai kurasakan udara yang semakin lembab dan sejuk.
"Sudah sampai." tutur Rei seraya menghentikan langkahnya. Kubuka mata perlahan. Di hadapanku ada Kouga yang sedang berbicara melalui earphone, mungkin sedang memberitahu giliran selanjutnya untuk segera menyeberangi jembatan.
Natsu menyikut dada Rei. "Kau mengambil kesempatan, ya?"
Rei balas menatap Natsu, "Menurutmu, siapa yang tidak ingin melepaskannya?"
Tatapan mereka berdua berpaling perlahan ke arahku. Lalu bergerak turun, melirik genggaman tanganku.
"I-itu tidak seperti yang kalian pikirkan!" kilahku cepat seraya melepas lengan Rei yang tanpa sadar masih kupeluk.
Rei menggerak-gerakkan tangannya. "Kau meremukkan lenganku."
"Ah! M–maaf!" ucapku sembari membungkuk cepat. Sungguh, aku memang merasa bersalah. "Terima kasih, Rei!" sambungku menatap wajahnya. "Dan tentang es krim, kau harus menepatinya selama satu minggu, lho!" tuntutku mengingatkan. "Es krim sandwich saat jam istirahat dan sepulang sekolah!" lontarku tak sabar.
Rei mendekatkan wajahnya tepat di hadapanku. "Kau juga masih punya tagihan padaku." bisiknya dengan raut wajah penuh kemenangan. Firasatku merasakan adanya hal buruk tentang itu. Kutelan saliva membasahi kerongkongan sembari mengalihkan pandangan, menyapu keadaan sekitar.
"Wow." Wajahku menengadah takjub. "Inikah pintu masuk hutannya?"
__ADS_1
Udara sejuk yang kurasakan, kelembaban yang terasa begitu segar, dan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi disertai daunnya yang lebat hingga menghalangi pancaran sinar mentari, semua itu memberikan kesan yang berbeda dari tempat sebelumnya yang kami lalui.