Petualangan Cinta Pulau Impian

Petualangan Cinta Pulau Impian
Bunga : Labirin (2)


__ADS_3

[2 Agustus 2011 - Pukul 15.38]


Bagai bebas dari belenggu ruang dan waktu, persendian kami kembali normal. Rei langsung menarik tanganku. “Kita kejar, mereka!”


Belum sempat menjawab ajakan Rei, tubuhku yang masih gontai karena belum mencapai keseimbangan penuh, langsung tertarik ikut bersamanya. Aku mengerti, dan kami sepaham, ingin segera mengejar wanita yang mengaku sebagai para dewi. Pengejaran dilakukan sambil terus berteriak memanggil nama Natsu dan Kouga.


"Ah ... hah ... hah ...." Aku merunduk menarik nafas. Tangan kiriku menopang di lutut, sedangkan pergelangan tangan kananku masih digenggam Rei. Aku berusaha menyeimbangkan kecepatan larinya. "Ayo ... kita kejar ... lagi."


"Cukup, kita kembali saja." jawab Rei singkat sembari melepas pandangannya dari layar ponsel.


Aku berdiri tegak. "Eh? A-apa kita kehilangan mereka? Sebaiknya kau susul dengan kecepatan penuh!" ujarku meraih borgol di tangan Rei hendak melepasnya. Aku berpikir untuk menunggu, karena tak yakin bisa berlari lagi menyamai kecepatannya.


Rei menghentikanku. "Tidak perlu. Mereka tak bisa diraih hanya dengan berlari. Dan ...." Rei menatapku serius. "Jangan berpikir untuk melepas borgol lagi."


"Hm." Anggukku paham. "Tadi itu, aku hanya akan menunggu."


Rei menarikku berjalan. "Lagipula, aku tak ingin meninggalkanmu. Dan jangan jauh-jauh dariku." ucapnya dingin, menatap lurus ke depan.


Kami berdua memutuskan untuk kembali menemui temanku yang lain. Ingin memberitahu, bahwa kami tidak bisa mengejarnya. Namun, lagi-lagi kejanggalan menghampiri. Teman-temanku tidak ada di tempat, di mana aku dan Rei meninggalkan mereka sebelumnya. Rei yakin, bahwa kami tidak salah jalan. Gulungan benang Yukiko tergeletak di sudut jalan. Mungkinkah mereka juga ikut mengejar?


“Hah!” pekik Rei sambil menatap radarnya. Cukup membuatku kaget. Kutarik lengannya, kuikuti tatapan matanya karena ingin melihat hal apa yang membuatnya berteriak.


“Teman-teman menghilang ….” ucapku pelan hampir berbisik, menatap radar milik Rei yang masih digenggamnya. Kusambar radar milikku yang kukalungkan di leher ― berharap radar milik Rei rusak. Tapi layar kecil itu menunjukkan hasil yang sama.


“Bahkan kita pun tidak terdeteksi.” Kugoyang-goyangkan radar di udara. “Apa radarnya rusak?” Aku mulai gelisah. Kini malah perkataan dewi itu yang terngiang di kepalaku.


/Yukiko! Kalian di mana?!/


Tidak ada jawaban dari earphone. Ponsel juga tidak ada sinyal. Kuraih jari telunjuk Rei, tapi jeritan sengau dariku lebih dulu terdengar, karena Rei berhasil menjepit hidungku.


"Terlalu cepat 10 tahun bagimu untuk bisa menggigit jariku."


"Hsh." Pipiku menggembung kesal. Rei selalu bisa membaca pikiranku. Dan tindakannya membuktikan bahwa saat ini aku sedang tidak bermimpi.


"Natsu ...." bisikku lirih. "Apa yang harus kita lakukan, Rei ...."


Rasa takut, cemas, panik, khawatir, bingung, dan kesal, melebur jadi satu hingga perlahan menggerogoti harapanku. Aura negatif menjalar ke seluruh tubuh. Menghantui pikiran yang membuatku tidak tahu harus berbuat apa. Rei meraih jemariku, lalu menggenggamnya. Energi yang tidak kumengerti, mengalir masuk ke dalam tubuhku lewat genggaman tangannya. Sedikit demi sedikit, menyalurkan ketenangan dan memberi rasa aman.


"Dasar bodoh. Jangan pasang wajah begitu. Radar juga bisa salah. Nyatanya aku di sini, kan?"


Rei benar. Radar itu yang salah. Aku bisa melihat dan merasakan Rei berdiri di sampingku. Ia memungut robot tikus kecilnya, lalu memasukkan itu ke dalam ransel. Ia kembali membuka ponsel. Tidak begitu banyak jarak yang berhasil ditempuh oleh tikusnya di penelusuran ke dua. Dewi menyebalkan itu lebih dulu menangkap, bahkan merusaknya.


"Simpan ponselku. Jika terjadi sesuatu, pergilah ke tempat yang sudah kulingkari." Rei memberikan ponselnya padaku.


Kupeluk lengan kiri Rei. "A-apa maksudmu terjadi sesuatu? Kau bilang tak ingin meninggalkanku, kan?! Aku juga tak akan meninggalkanmu!"


"Hmph-haha! Sejak kapan kau jadi menempel padaku?" ledeknya sambil mengacak-acak rambutku.


Aku menyingkir, merapihkan rambut. "A-aku tidak menempel padamu! Itu karena kau bicara hal aneh, kau sengaja menakutiku, ya?!"


Rei tersenyum. Senyum yang dipaksakan. "Aku hafal peta labirin yang terekam. Karena itu, kau gunakan ponselku."


"Tapi, untuk ap– "


“Menjijikan! Kau tidak pantas memakai borgol dengan My Prince!” sela seseorang yang tiba-tiba masuk dalam obrolan.


Rei langsung memasang badan. Menggiring tubuhku untuk segera bersembunyi di belakangnya. Ya, lagi-lagi wanita dengan penampilan aneh, datang menghampiri kami. Rambut ikal panjang berwarna merah muda. Nuansa bunga sakura menghiasi seluruh tubuh dan pakaiannya. Sangat cocok jika dia hadir dalam festival bunga, karena penampilannya akan terlihat lebih menarik dan sangat mendukung, ketika digunakan pada saat yang tepat.


“Tetap bersamaku,” bisik Rei tanpa melepas sorotan matanya dari wanita aneh yang perlahan berjalan semakin mendekat.


Kupegang ranselnya. "Hm!" Anggukku paham. Firasatku semakin tidak enak. Seperti bahaya sedang mendekat.


“My Prince, jangan memandangku seperti wanita jahat ....”


“Tch!”


Tak ingin melanjutkan obrolan, bahkan tak ada niatan untuk sekedar menyapa, Rei langsung meraih jemariku – menggenggam erat. Berbalik arah, pergi berlari meninggalkan wanita aneh itu.


“Apa dia putri mahkota bunga?” tanyaku sambil menyelaraskan nafas dan gerak langkah.


“Lupakan saja. Kita fokus menuju tempat itu.” sahut Rei sembari memperhatikan jalan.


"Tempat yang kau tandai? Memangnya ... tempat apa?" Nafasku mulai terengah-engah.


Kecepatan Rei melambat. Ia menyesuaikan langkahku. "Entahlah. Formasi dinding labirin di sekitar tempat itu selalu berubah. Seperti memang sengaja disembunyikan. Kita akan tahu setelah sampai di sana."


Kami terus berlari. Menelusuri jalan dengan ingatan Rei sebagai pedoman. Ponsel Rei kutaruh dalam tas selempang kecilku, bersama dengan ponsel milikku. Hanya untuk berjaga-jaga, sesuai dengan permintaannya.


Hening. Tak ada semilir angin pun yang lewat. Hanya hentakan langkah kaki kami yang terdengar bersahutan. Dinding menjulang tinggi dengan banyak pilihan arah jalan, ditambah aroma musk yang kian menyumbat rongga pernapasan, labirin ini sukses membuatku mual dan tertekan.


Zreesshh! Cetekk!


Sesuatu mengenai borgol saat kami hendak berbelok ke jalan lain. Langkah pun terhenti mendadak. Kami saling menatap borgol di tangan.


“Patah …” bisikku pelan terdengar goyah.


Benda apa yang bisa melesat secepat kilat, dan mampu mematahkan logam?


Genggaman Rei semakin menguat. Dadaku sesak, karena jantung berdetak acak. Menyadari bahaya terus mendekat. Bukan. Kami-lah yang sengaja mendekat.


“Jangan khawatir. Sedikit lagi. Ayo." Jemarinya menarik langkahku. Berlari lebih pelan dari sebelumnya. Aku tahu, minimal kami tidak boleh berhenti. Dan aku pun tahu, ia berusaha terlihat tenang, supaya tidak membuatku gusar.


Swuuussh!!


Tiba-tiba sesuatu melesat tepat di hadapan kami saat hendak berbelok. Sontak memang sangat mengejutkan, memaksa kami untuk berhenti mendadak. Kujadikan tempurung lutut sebagai tumpuan tangan kiri, bermaksud untuk menghapus lelah. Sedangkan tangan kananku, Rei tak berniat melepasnya.


Perlahan Rei melangkah maju, lalu menoleh ke kiri. Mencari 'sesuatu' yang melesat ke arah sana. Aku pun ikut mengintip karena penasaran. Rupanya, setangkai bunga tulip keemasan tertancap di dinding. Dan,


Zrsshh ...


Bunga itu berubah jadi serbuk keemasan yang perlahan memudar, hilang.


Rei langsung menarikku, “Kita putar arah!”


“Sudah cukup bermainnya.” sahut seseorang bersuara berat – tepat di belakang kami. Gendang telingaku menangkap suara asing yang berbeda. Bulu halus di sekujur tubuhku serempak menduri. Sungguh, mengagetkan! Gesekan antara rumput dan alas kakinya, cukup membuat jantungku berdenyut lebih cepat. Kami langsung memutar badan. Orang itu pun menghentikan langkahnya, tepat saat kami saling berhadapan.


Banyak sekali orang asing berpenampilan aneh. Kali ini seorang lelaki di hadapanku, memegang busur panah keemasan, terlihat sangat indah dengan corak bunga tulip di permukaan busurnya. Kulit mulus dengan wajah masuk dalam kategori pria tampan. Bahunya lebar dan gagah, seperti seorang atlet pemanah. Usianya mungkin 2 atau 3 tahun di atasku.


"Tch."


Rei tampak kesal. Ia menarik tanganku hingga tubuh ini merapat padanya. Sebutir keringat tergelincir di tepi wajah Rei. Dilontarkannya pertanyaan yang seperti mengganjal pikiran, “Kau kenal Zeroichi-sama, kan?! Apa tujuan kalian sebenarnya?!”


“Jangan terburu-buru, kita belum saling kenal. Atau mungkin .…” Pandangan laki-laki aneh itu bergeser menatapku. “Kau sudah mengenalku, My Princess?” sambungnya lembut seraya tersenyum padaku.


Aku langsung bersembunyi di balik bahu Rei. Merasa tidak nyaman dengan senyumnya. “Cerita dewi matahari itu …. Apa kau putra mahkota bunga?”

__ADS_1


Laki-laki itu memutar bola matanya sambil mendesah. “Lagi-lagi dia, aku sangat membencinya.” Lalu kembali tersenyum menatapku. “Sedikit kurang tepat. Perkenalkan, aku Putra Mahkota Bunga Tulip. My Princess, ikutlah denganku.” ajaknya sembari mengulurkan tangan ala seorang pangeran.


“Ng? Apa putra mahkotanya ada banyak? Apa setiap bunga memiliki putra mahkotanya masing-masing?” tanyaku sekenanya.


“Pertanyaanmu bagus juga. Sekarang kau mulai pintar, ya!” Rei mengacak-acak rambutku dengan tangan kanannya.


“Aku tidak suka menunggu lama.” ujar Putra Mahkota Bunga Tulip yang sepertinya mulai kesal. Merasa perlakuan istimewanya saat mengulurkan tangan ala seorang pangeran, kuhiraukan begitu saja. “My Princess, kemarilah. Akan kukenalkan padamu, putra mahkota bunga yang lain.” sambungnya masih sambil mengulurkan tangan.


“Tidak akan kubiarkan kau merebutnya dariku.” sela Rei.


Putra Mahkota Bunga Tulip – kupanggil Putra Tulip – menarik kembali uluran tangannya yang menggantung hampa di udara. Lekuk wajahnya perlahan berubah. Alis matanya terangkat. “Benarkah? Sebaiknya kau tarik kata-kata itu.”


“Larilah, aku akan menahannya, dan kupastikan segera menyusulmu.” bisik Rei tanpa melepaskan pandangan dari Putra Tulip.


Kugelengkan kepala, menolak dengan cepat. “Tidak! Aku tak akan pergi tanpamu!”


“Ingat yang kukatakan, sekarang saatnya. Pergilah!” Rei sedikit mendorong tubuhku, agar menjauh.


"Tapi, Rei– "


"Percayalah padaku."


Tidak. Itu bukan wajah seriusmu dengan seribu rencana. Yang kulihat hanya raut penuh nekat. Tapi, aku harus percaya padamu, kan.


Putra Tulip berjalan mendekat, “Mengharukan." ucapnya dengan sorot mata tajam. Ia menarik busur panahnya.


“Cepat pergi!” bentak Rei.


“Berjanjilah untuk segera menyusul!” pintaku sebelum benar-benar meninggalkannya.


"Hm."


Aku pun berlari pergi meninggalkannya. Menggunakan ponsel Rei, berlari menuju lokasi tujuan kita sebelumnya. Tanganku gemetar. Kucengkeram ponselnya kuat-kuat, takut jika tergelincir begitu saja. Rei bisa membunuhku!


Sesekali aku menoleh ke belakang, berharap dia segera menyusulku. Sambil terus berlari, aku berusaha mencerna semua informasi yang diberikan kedua dewi. Natsu dan Kouga, bagaimana keadaan mereka? Akiko, Yukiko, Toru, dan Justin, di mana mereka sekarang?


BOMM!!


"Hah? Apa yang terjadi?!" Kuhentikan langkah, lalu menoleh ke belakang. "Barusan itu ... suara ledakan."


Dari mana asal ledakan itu? Mengapa Rei begitu lama?! Tidak mungkin ... Rei pasti baik-baik saja, kan?


Tanpa kusadari, air mata mengalir dan jatuh menimpa rumput-rumput halus di dekat kakiku. Aku mengkhawatirkannya. Rasanya sesak sekali. Tidak seharusnya aku pergi. Rei selalu menjagaku, harusnya kulakukan hal yang sama, bukan pergi meninggalkannya. Kuseka air mata yang hampir terjatuh. Lalu kembali berlari memutar arah. Menjemput Rei.


Gubrakh!


Aku jatuh tersungkur karena tersandung tali. Saat tergesa-gesa, mana mungkin bisa melihat tali setipis itu. Apa aku salah arah? Tidak ada tali di jalan sebelumnya.


Kuraih tali yang menyangkut di sepatuku. “Eh? Benang?”


Mengingatkanku pada Yukiko. Warnanya merah, berbeda dari gulungan benang sebelumnya yang berwarna biru. Yukiko memang membawa 3 gulungan benang dengan warna yang berbeda-beda. Merah, biru, dan kuning.


Kutelusuri benang itu berharap bisa bertemu dengan Yukiko. Tapi beberapa meter setelahnya, harapanku pupus. Kutemukan gulungan benang tergeletak begitu saja tanpa Yukiko ataupun Toru. Jika benar putra dan putri mahkota bunga lebih dari satu, maka teman-teman yang lain, pasti mengalami hal yang sama denganku.


. . Jagalah pasangan kalian masing-masing.


Mencoba percaya pada ucapan para dewi. Aku harus bersama dengan Rei!


Bukh!


“Tidak ada yang istimewa darimu.”


Keningku langsung berkerut begitu mendengar suaranya. Aku langsung mendongak. Kupandangi sosok di hadapanku dari bawah sampai ke atas. Nuansa bunga sakura. Tidak salah lagi, dia wanita aneh yang memanggil Rei dengan sebutan My Prince. Aku lebih suka menyebutnya wanita aneh, ketimbang putri mahkota bunga – sakura (?).


“A-ada perlu apa denganku?!”


“Tidak ada, hanya .…” Dia berjalan mendekat. Tatapannya membuatku takut.


“Ma-mau apa .…” Langkahku mulai tersudut.


“Hanya ingin melihatmu lebih dekat.” bisiknya meraih beberapa helai rambut di dekat wajahku. Terlalu dekat. Aku bisa mendengar hembusan nafas teraturnya. Ia menatapku begitu dalam, apa yang dia lihat?! Membuatku semakin tidak nyaman. Kutepis tangannya. Aku tak tahan. Sangat aneh, karena dia seorang wanita.


“Hm ... mudah sekali.” Ia tersenyum.


“Kau ... perempuan, kan?” tanyaku memastikan.


Ekspresi wajahnya langsung berubah. “Bodoh. Aku normal, tahu! Jadi laki-laki pun tidak akan melirikmu!” Dia berjalan perlahan meninggalkanku. “Tapi berkat dirimu, aku bisa mendapatkannya dengan mudah.”


Saat kukejar, wanita aneh itu sudah tidak ada. Apa maksudnya? Apa yang akan dia lakukan? Ayolah, Karin ... pikirkan ... pikirkan ... !


. . Apa dia putri mahkota bunga?


. . Putra dan putri mahkota bunga akan datang dan merebut seseorang yang berada di samping kalian.


. . kau tidak pantas memakai borgol dengan My Prince.


. . berkat dirimu, aku bisa mendapatkannya dengan mudah.


. . kalian akan mati.


“Dia mengincar Rei!” pikirku menyimpulkan. Aku kembali mencari Rei, berharap bisa menemukannya lebih dulu dibanding wanita aneh itu. Dia dalam bahaya, aku harus melindunginya.


“Reeii! Kau di manaaa?! Reeii~! Jawab akuu!!”


Aku berharap, dengan terus berteriak, mungkin saja dia bisa mendengar suaraku.


Kau di mana, Rei ….


Tidak peduli jika malam datang, tidak peduli sampai kapan aku harus berlari, tidak peduli berapa banyak sosok aneh yang akan kutemui. Aku ... aku hanya ingin menemukanmu saat ini.


“Reii~! Hahh - hah ....” Nafasku mulai terengah-engah. Kutatap layar ponsel Rei. "Aku tidak tahu ke mana arahnya. Hanya ada satu tanda yang harus di tuju. Sedangkan posisi terakhir ketika berpisah dengan Rei, aku tidak tahu ...."


Kuseka air mata yang hampir terjatuh. “Kumohon ... jawab aku, Rei.”


“Karin!”


Itu suara Rei! Batinku menerka.


“Re..emmph!” Seseorang menutup mulutku. Tidak kusadari kehadirannya. Dengan cepat kumasukkan ponsel Rei ke dalam tas selempang kecil – tempat ponselku.


“Karin! Kau di mana?!” Rei kembali berteriak.


“Emph! Mmhh!” Aku tidak bisa menjawab dengan benar. Orang ini terus menarikku ― menjauhkanku dari Rei. Aku berontak berusaha meloloskan diri. Namun tangannya yang besar, mengapit tubuhku dengan kuat.


“Karin!” suara Rei semakin menjauh.

__ADS_1


“Sudah kukatakan. Kau harus ikut bersamaku.” bisiknya menggetarkan telinga. Dia Putra Mahkota Bunga Tulip!


"Ermph!! Mmph!!!" Aku terus berontak kuat.


“Sebentar lagi ... kau akan jadi milikku, My Princess.” bisiknya terdengar puas.


Tidak! Aku tidak mau! Batinku ikut meronta.


Dukh! Bukh! Dukh!


Kuinjak kakinya tiga kali. Tangannya melonggar. Tubuhku sedikit bebas. Langsung kupukul bagian sensitifnya sebagai pria. Pertama kali kulakukan dalam hidupku! Itu jurus terakhir yang diajarkan Akiko, ketika harus berhadapan dengan lelaki.


"Arkh!!" pekiknya. Merapatkan kaki dan merunduk tampak kesakitan.


Jurus yang ampuh. Aku merasa bangga, karena Akiko mengajariku. Kesempatan itu kugunakan untuk melarikan diri. Berlari kembali mencari Rei.


“Reii! Aku di sini, Reeiii!”


Sialnya di depanku malah jalan buntu. Aku memutar badan hendak mencari jalan lain. Namun sepertinya, dewi keberuntungan kurang berpihak padaku.


Ya, Putra Tulip berdiri tepat di hadapanku! Labirin dan jalan buntunya sukses menjebak. Jantung mengentak-entak tidak karuan. Derap langkahnya yang terus berjalan mendekat, menambah irama jantungku hingga berdenyut semakin cepat. Rasanya, nafasku mulai tersengal. Kakiku juga mulai lemas. Hanya bisa bergerak mundur perlahan.


“Tidak perlu susah payah, labirin ini cukup membantu.” Senyumnya mengembang, menyeramkan. Tersirat kekesalan teramat dalam – yang ingin ia sampaikan padaku.


“R-rei baik-baik saja, kan? Apa yang kau lakukan padanya?”


“Yang patut dikhawatirkan saat ini adalah kau, My Princess.” jawabnya lembut seraya terus mendekat ― menyudutkanku.


“Apa yang dijanjikan Zeroichi-sama padamu? Kenapa kau mau melakukan permainan bodoh ini?!” tanyaku kesal.


“Kau ingin cepat mati, ya. Kalau tidak mau diam, aku yang akan menutup mulutmu!”


Putra Tulip sungguh ingin menerkamku, merebut ciuman pertamaku! Dia benar-benar serius melakukannya!


“Hentikaaa~n!! Hah, hah!” teriakku sambil mendorongnya. Namun tenaga dari kedua tanganku terlalu lemah. Tidak memberiku celah yang cukup untuk meloloskan diri. Tapi beruntung, punggung tanganku berhasil menghadang kecupan mautnya.


Tentu saja aku tidak akan memberikan secuil pun kemudahan untuknya. Tubuhku lemas seketika. Nafasku tercekat, hampir mati rasanya. Dia memberi kesan buruk pada tahap ciuman pertamaku.


“Panahku bisa saja digunakan, tapi tidak membuatku senang. Aku suka ekspresimu sekarang.” ucapnya sambil mengelus-elus bibir.


“Dasar tidak waras! Bunga tulip tidak cocok untukmu! Dan memang tidak pantas kau sandangkan sebagai namamu!” ujarku merasa tidak tahan dengan sikapnya. Dan kini sorot matanya berubah, menyeramkan.


“Baiklah. Masih ada kata-kata terakhir yang ingin kau sampaikan?”


Raut wajahnya terlihat kalau dia benar-benar marah. Natural sekali. Aku lebih suka melihatnya seperti ini, ketimbang harus tersenyum palsu. Tapi ... apa aku bisa menghindar untuk kedua kalinya? Apa yang harus kulakukan?!


. . Masing-masing dari kalian, punya satu kesempatan untuk meminta bantuan kami,


. . menyebut kata air atau cahaya.


. . Pilih dan gunakanlah dengan tepat,


. . cerita Dewi Matahari itu ...


. . Lagi-lagi dia, aku sangat membencinya.


“Cahayaa~! Aku pilih cahaya!!” teriakku sangat keras, berharap Dewi Matahari mendengar suaraku.


Putra Tulip menjadi gelisah dan panik. Dia menjatuhkan diri, berlutut di hadapanku sambil mengusap-usap kedua lengan dan wajahnya.


“Be-beraninya kau! Tidak akan kumaafkan! Aaarggh!!” teriaknya tampak sangat kesakitan.


Keadaannya memburuk. Dia terus berteriak dengan sorot mata mengerikan. Kulitnya mengelupas. Tubuhnya mulai mengering. Terlihat sangat rapuh dan perlahan menjadi abu, yang sebagian mulai lenyap diterbangkan angin.


“Ingat itu My Princess!!” teriak Putra Tulip, sebelum angin menerbangkan abu tubuhnya yang terakhir. Seperti bunga Tulip (Chūrippu) yang akan layu dan kering saat mendekati musim panas.


Tanpa ingin mencerna lebih dalam terkait ‘hal aneh’ yang baru saja terjadi, kakiku sudah tidak sabar, pikiranku terus menuntut untuk kembali mencari Rei. Tidak berteriak, karena itu salah satu kesalahanku. Bukan hanya Rei, siapa pun bisa dengan mudah menemukanku. Aku harus mencarinya dengan tenang.


. . Jika terjadi sesuatu, pergilah ke tempat yang sudah kulingkari.


. . Karin! Kau di mana?!


"Aku yakin, Rei pasti baik-baik saja. Benar, aku harus yakin!" Kubuka kembali ponsel Rei. Menatap jalur labirin dengan seksama. Kemudian mulai berlari, cepat, dan semakin cepat, tanpa ingin berhenti.


Kumohon ... tunggu aku, Rei!!


Sedikit lagi. Tersisa dua belokan, dan aku akan sampai. Sungguh tak sabar! Sudah kuberikan dorongan tenaga maksimal, namun kecepatanku malah terasa melambat. Kuberitahu satu hal, aku tak pernah terpilih untuk bergabung dalam lomba lari estafet di pekan olahraga. Jadi kali ini, kuberikan rasa bangga pada diriku sendiri. Lupakan, hanya berusaha menyemangati.


Nafasku memburu lewat rongga mulut. Seperti melayang, telapak kakiku mati rasa. Tidak tahu seberapa jauh aku sudah berlari. Yang pasti aku tak mau berhenti sebelum tiba di sana. Karena jika sekarang aku berhenti, kupastikan tak kan sanggup untuk kembali berlari.


"Ah - hah - hah ...!"


Gerak langkah terhenti otomatis setelah berhasil melewati belokan terakhir. Belum sempat menghapus rasa lelah, kedua mataku malah membelalak. Punggung lebar yang kukenal, berjarak kurang lebih 8 meter dari posisiku. Ya, Rei Takahashi! Aku berhasil menemukannya! Namun sesaat ... aku lupa dengan tujuanku.


Rei berjalan perlahan semakin menjauh. Sama sekali tak menyadari kehadiranku yang masih berdiri seolah kehilangan jati diri. Apa aku berhalusinasi? Aku sungguh tidak mengerti dengan situasi di hadapanku.


Rei ada di sana! Dan dia sedang menghampiri diriku?! Ah, aku bisa gila. Tapi Rei benar-benar menghampiriku! Lebih tepatnya seseorang yang mirip denganku, sangat mirip. Hanya saja, aku tak suka melihatnya. Terlalu banyak darah di sekujur tubuh. Membuatku gemetar memeluk diri. Sedikit memastikan, bahwa kondisi yang terlihat pada tubuhku ini baik-baik saja. Sedangkan aku yang di sana tak sadarkan diri, duduk lemas bersandar pada dinding. Ah, ya ... dinding tanpa mawar. Aku baru sadar jika tempat ini berbeda.


. . ingin melihatmu lebih dekat.


. . mudah sekali.


. . berkat dirimu, aku bisa mendapatkannya dengan mudah.


Kujatuhkan ransel di samping kakiku. Entah dari mana datangnya dorongan energi yang membuat kakiku kembali mengayun. Berlari sekuat tenaga sambil berteriak, “Reiiiii~ ! Menjauhlah!!! Dia bukan aku!!”


Rei menoleh ke belakang, raut wajahnya kacau. Sama halnya denganku saat melihat tubuh sendiri berlumuran darah.


“Tidak, Kariiiin!!! Awaaa~s!!!” Rei berteriak padaku.


Wuu~shh … jleb!


Zrssshhhh ~ !


Kakiku berhenti bergerak. Bukan karena aku tak mau. Hanya saja energiku seakan terampas. Entah dari mana kelopak sakura itu datang bersama hembusan anginnya. Perlahan membentuk pusaran angin yang mengelilingi tubuh Rei. Menjebak Rei di dalamnya.


Seseorang ― yang mirip denganku yang ― berlumuran darah itu, merubah wujudnya. Pikiranku ternyata bisa digunakan, karena sekali lagi dugaanku benar. Putri Mahkota Bunga Sakura.


Teriakan Rei sebelumnya yang seakan memberi peringatan padaku, memang tidak kumengerti. Sekarang kepalaku mulai berat. Jangankan berlari menghampiri Rei, keseimbangan berdiriku saja mulai goyah. Penglihatanku juga mulai kabur. Sesuatu yang dingin menerobos punggungku – menembus kulit.


Jika saja aku sempat menghindar. Ah, tidak! Jika aku menghindar ... kemungkinan besar Rei yang akan terkena – panahnya. Seseorang yang membuatku gemetar hanya dengan derap langkahnya, mencabut kasar anak panah yang menancap di punggungku.


. . bantuan itu hanya berlaku selama 10 menit.


Bodoh, aku baru mengingatnya. Wajar saja jika dia datang kembali penuh dendam. Ternyata ... setangkai bunga tulip cukup menyakitkan. Bunga tulip keemasan, aku akan mengingatnya. Jadi ... ijinkan aku ... untuk kembali ... membuka mata.

__ADS_1



__ADS_2