
Pagi ini aku mengendap-endap di koridor sekolah. Suasana sangat sepi, karena semua murid sedang mengerjakan Ulangan Tengah Semester. Hanya aku yang tidak di izinkan masuk.
Seperti kemarin, aku kembali di usir dari ruang kelasku karena tak kunjung melunasi tunggakan administrasi.
Air mataku kembali menetes, mengingat kejadian memalukan kemarin, saat Bu Etty memanggilku untuk maju ke depan kelas.
"Erin, mana yang namanya Erin? sini maju!" Teriak bu Etty lantang, membuatku terkejut.
Akupun segera maju ke depan seraya menunduk, tak berani mendongak menatapnya yang memasang wajah garang dan mata melotot. Seolah ingin menelanku hidup-hidup.
"kapan kamu akan melunasi tunggakan?" tanya bu Etty lantang "Bapak kamu itu niat menyekolahkan anak tidak sih? Kalau gak niat gausah sok menyekolahkan anak disini. Ini sekolah favorit ya bukan sekolah punya nenekmu. Sudah sana pulang, jangan masuk sekolah lagi kalau Bapakmu tidak mau datang!"
Suara bu Etty kembali tergiang memenuhi isi kepalaku. membuat pikiranku kacau. Ingin rasanya aku menangis meratap tapi aku begitu malu jika ada yang melihatku menangis.
"Erin, kamu ngapain disitu?"
Sebuah suara membuyarkan lamunanku. Ternyata Yanti, teman sekelasku dan langsung duduk disampingku.
"Eh gak ngapa-ngapain Yan.., kamu kok disini?.
"Aku udah selesai kok, jadinya boleh keluar duluan. Ke kantin Yuk!" ajak Yanti sembari menarik tanganku, namun pelan segera ku lepaskan.
__ADS_1
"Yan,... Aku.. aku mau pamit sama kamu. Ini mungkin hari terakhirku berada di sekolah ini. Aku sudah tak bisa melanjutkan sekolah lagi."
Air mata ku kembali menyeruak, namun masih berusaha ku tahan. Aku tak ingin memperlihatkan kesedihanku.
"kok kamu ngomongnya gitu Rin, kamu beneran mau putus sekolah? jangan dong Rin sayang banget lho kan kita bentar lagi naik kelas 11. Lagipula ini sekolah impianmu. kamu mesti mengejar cita-citamu untuk menjadi penjahit yang handal. Jangan patah semangat dong Rin, pasti ada jalan keluarnya aku yakin."
Yanti mencoba menyemangatiku, tapi aku tau itu tidak ada gunanya. Karena aku tidak mungkin di anggap murid lagi, selama tunggakan belum terlunasi.
"Aku gak punya pilihan lain Yan. Bapak sudah membuat keputusan, bahwa ia sudah tak bisa membiayai sekolahku lagi. Bahkan Bapak memintaku untuk bekerja saja, katanya, buat apa sekolah tinggi-tinggi bila nanti akhirnya bakalan di dapur(Ibu rumah tangga)."
Pipiku menghangat, bulir air itu sudah tak bisa lagi aku menahannya. Yanti memelukku iba, karena ia yakin mungkin kita tak akan bisa bertemu kembali.
"Gak papa Yan. Sampaikan salam dan maafku pada teman-teman ya jika selama ini aku punya salah. Kurasa aku harus pergi, karena aku tidak akan bisa menahan kesedihanku jika berlama-lama disini. Aku balik dulu ya Yan."
"Eriinn...."
Aku tak bisa lagi mendengar suara Yanti karena kini ku telah berlari.
Pergi...Menjauh... karena menyakitkan berada disini. Aku sudah tidak di akui sebagai murid lagi. Karena mulai hari ini, aku sudah kehilangan mimpi-mimpiku untuk bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, seperti halnya teman-temanku.
Untuk yang terakhir kali, ku tatap bangunan megah gedung sekolah bercat hijau itu, kini aku tak bisa menginjakkan kakiku disana lagi. Tak ada lagi canda tawa bersama teman-teman disaat jam kosong. tak ada lagi keseruan menjalani hukuman menyikat WC kamar mandi saat terlambat datang ke sekolah. Semua itu akan selalu aku rindukan meskipun aku tau itu adalah rindu yang tak berujung.
__ADS_1
Pelan ku kayuh sepedaku menuju jalan pulang. Jarak antara rumahku dan sekolah mencapai 7 kilometer. Hari masih pagi sekitar pukul setengah 9. Dan aku satu-satunya murid yang berkeliaran di jalanan, dengan air mata yang berderai. Tak peduli tatapan heran orang yang berlalu lalang.
Teringat pembicaraanku dengan Bapak waktu itu.
"Pak, aku belum bayar uang SPP, sudah menunggak 4 bulan. Kapan ya bapak bisa lunasi? karena pihak sekolah sudah berkali-kali menanyakannya. Aku tak bisa ikut ulangan pak jika tunggakan itu belum dilunasi" kataku seraya menunduk.
Berjam-jam aku menunggu jawabannya, tapi tak kunjung aku mendapat jawaban. Bapak tetap membisu tak mengucap sepatah katapun. Akhirnya aku berlalu masuk kamar dengan berlinang air mata.
Selalu begitu... Hingga SPP menunggak 4 bulan Bapak masih tetap sama, tak pernah menanggapi kala aku meminta uang SPP.
Dan Kemarin, aku bertanya lagi. Aku butuh kepastian, karena aku tidak bisa ikut ulangan tengah semester yang sebentar lagi akan berakhir.
"Kamu kerja saja ya, Tak usah sekolah lagi...!! Bapak sudah tua, tak punya uang buat biayain sekolah kamu. Sekolah saat ini mahal, Anak Perempuan buat apa sekolah tinggi karena nanti juga bakalan di dapur".
Aku hanya bisa menangis mengingat kejadian demi kejadian yang beberapa hari ini aku alami. Aku harus merelakan impian ku untuk terus bersekolah dan menjadi penjahit handal.
Padahal aku berjuang supaya aku bisa di terima di salah satu SMK favorit di kotaku. Aku mengambil jurusan busana butik juga semata karena ingin menjadi penjahit seperti Bapak. Supaya nanti jika Bapak sudah tiada, aku bisa meneruskannya, supaya mesin hitam Bapak tidak teronggok dengan sia-sia.
Memang aku sadari, bapak memang tidak berniat menyekolahkan aku lagi selepas tamat SMP. Karena waktu itu ketika ku tanya apakah aku lanjut sekolah atau tidak, Ia hanya diam saja. Akhirnya aku mendaftar sekolah sendiri tanpa dukungan dari nya.
"Tapi kenapa Bapak tidak mau memperjuangkan pendidikanku??" Teriakku dalam hati.
__ADS_1