Petualangan Sang Dewi Malam

Petualangan Sang Dewi Malam
BAB 14


__ADS_3

Pagi ini, aku tengah bersiap-siap mengemas barang-barangku dan mengeceknya supaya tidak ada yang tertinggal. Begitu juga dengan Sari, Ia juga tengah mengepak barangnya yang terlihat lebih banyak. Beberapa hari yang lalu, Sari memang pergi jalan-jalan dengan Alex untuk membeli baju serta oleh-oleh.


"Oh iya Mbak, gimana hubunganmu dengan Alex? kalau kamu gak balik lagi kesini?" tanyaku seraya duduk di tepi kasur.


"Ya gak gimana-gimana Rin, palingan dia juga bakalan ngelupain aku nantinya. Selepas dari sini, aku mau mengganti nomerku dan itu artinya hubunganku dengan Alex akan berakhir dengan sendirinya." kata Sari seraya duduk disampingku, setelah selesai membereskan barangnya.


"Segampang itukah? tapi yang aku lihat Alex beneran cinta loh Mbak sama kamu." tanyaku lagi, penasaran dengan perasaan Sari yang sebenarnya kepada Alex.


Sari memang sempat berpacaran dengan beberapa pria, namun setahuku hanya Alexlah yang dia anggap spesial, tidak seperti yang lain yang hanya Ia pacari untuk membuatnya mempunyai pelanggan tetap, seperti yang pernah Ia sarankan kepadaku waktu itu.


"Memang, tapi aku yakin Alex tidak akan mau menerimaku saat Ia tahu statusku yang sebenernya, aku ini Janda anak satu, Ia mau menerimaku, belum tentu Ia mau menerima anakku." ucap Sari lirih, raut mukanya berubah sedih.


Aku hanya terdiam tak tahu harus berkata apalagi, karna aku sendiri pun tahu, mereka yang berhubungan dengan kita, akan berpisah juga pada waktunya, sebagaimana hubungan itu terjalin karena pekerjaan ini, maka hubungan itu akan berakhir juga saat kita memutuskan untuk berhenti bekerja disini.


Saat aku dan Sari masih termenung dengan pikiran masing-masing, terdengar suara Mbak Su memanggil kami untuk segera bersiap karena sebentar lagi kami akan berangkat menuju kota kelahiran kami.


"Jangan bilang pada Mbak Su kalau kita tidak akan kembali lagi kesini, Mbak Su pasti gak akan ngebolehin kita keluar gitu aja." ucap Sari saat aku beranjak menghampiri barang-barangku dan menentengnya.


"Tenang saja Mbak, aku juga tidak mau Mbak Su tahu aku tidak kembali lagi," jelasku, akan sangat merepotkan jika Mbak Su dan Pak Imam tahu, maka rencanaku untuk keluar dari sini akan dihalang-halangi, apalagi mereka tahu rumahku, pasti mereka akan datang lagi untuk menjemputku supaya mau bekerja lagi di Warungnya.

__ADS_1


Kami segera keluar dari kamar menuju ke ruang tamu dimana Mbak Su, Pak Imam, dan Ivan anaknya duduk menunggu. kami langsung bergabung duduk diantara mereka dan meletakkan tas kami dilantai.


"Sari, ini gajimu, dan ini gajimu Erin," ucap Mbak Su seraya menyerahkan dua amplop berwarna putih kepada kami secara bergantian.


Aku segera memasukkan amplop itu kedalam tas tanpa membukanya terlebih dahulu, karena aku sudah bisa menebak berapa isinya.


Memang selama empat bulan ini, gajiku masih tetap sama yaitu 400ribu. Aku hanya tersenyum kecut tanpa mau mempermasalahkannya, meskipun aku tau gaji Sari selisih 200ribu lebih banyak. Aku juga menyadari selama disini, Sari lebih Rajin dibandingkan denganku yang hanya berkutat dengan pekerjaan di warung tanpa pernah ikut andil dalam urusan membersihkan rumah.


"Kalian nanti akan balik kesini lagi kan selepas lebaran?" tanya Pak Imam, menyadarkanku yang tengah melamun.


"Iya Pak." jawab Sari cepat sembari tersenyum menoleh kearahku.


Aku dan Sari segera membawa barang-barang kami lalu mengikuti mereka menuju mobil yang sudah terparkir dihalaman samping warung. Tak lama kemudian, mobil pun melaju membelah jalanan kota menuju terminal dimana Sari akan menaiki bis menuju kotanya, setelah itu baru menuju kota dimana tempat tinggalku.


"Ayah, Ibu, aku rindu." ucapku dalam hati.


*****


Setelah empat jam berada diperjalanan, akhirnya mobil yang kami tumpangi sampai juga di halaman rumahku. Rumah bercat putih yang selama ini sangat ku rindukan. Rumah yang dulu selalu menjadi tempatku berlindung walau tanpa kehangatan.

__ADS_1


Aku segera turun dari mobil dan menurunkan barang-barangku yang ada di bagasi. Terlihat Ibu dan Bapakku sudah menyambutku di depan rumah. Mereka tersenyum berbasa basi sebentar dengan Pak Imam dan Mbak Su, lalu mempersilakan mereka masuk.


Mereka berbincang-bincang di ruang tamu, Ibuku menghidangkan teh dan juga buah untuk menjamu mereka. Aku izin pergi kedalam kamar untuk meletakkan barang-barang dan juga beristirahat, merebahkan tubuhku yang terasa begitu letih dan juga bokong yang terasa sedikit panas karena terlalu lama duduk di mobil.


Ku pandangi langit-langit kamarku seraya menerawang. Aku senang, akhirnya bisa kembali kerumah ini lagi, setelah selama empat bulan menahan diri bekerja disana, meskipun dalam diriku sebenarnya tidak rela menjadi pelayan warung kopi.


Aku beranjak menghampiri lemari disudut kamar dan membukanya, lalu mengambil sebuah kemeja berwarna pink dengan badge SMK disakunya. Aku membelainya pelan, teringat akan kenangan saat aku memakainya dulu, tiba-tiba saja bulir bening itu mengalir begitu saja dari sudut mataku.


"Bagaimana kabar teman-temanku sekarang? apa mereka masih mengingatku?" tanyaku dalam hati.


Sejenak terlintas kenangan saat masih bersekolah disana, semua terekam jelas dan kini kaset ingatanku sedang memutarnya, namun aku segera mematikan kaset itu saat memori dimana aku terusir dari sekolah dengan jelas terbayang diingatanku.


Tiba-tiba perih ku rasakan memenuhi dadaku, membuat nafasku tersengal-sengal. Entah mengapa aku selalu merasakan sakit di ulu hati ketika mengingat kenangan itu, aku segera mengenyahkan pikiranku dan menaruh kembali kemeja itu kedalam lemari, tak ingin mengenang luka itu lagi.


Sayup-sayup aku mendengar suara Ibu memanggilku, aku segera beranjak kedepan dengan malas, badanku masih terasa lelah karena perjalanan tadi.


"Erin, Kami pamit pulang dulu, kamu jadi balik kan nanti? baik-baik dirumah ya." ucap Mbak Su seraya menyalami semua yang ada di ruang tamu, lalu melangkah keluar menuju mobil yang terparkir dipinggir jalan di ikutin Pak Imam dan Ivan.


Aku hanya tersenyum memandang mereka yang tengah melambaikan tangan dari jendela mobil. Kemudian mobil itupun melaju dan perlahan menghilang dari pandangan. Keluargaku langsung membubarkan diri, menyisakan aku yang masih menatap kepergian mereka yang kini sudah tak terlihat lagi.

__ADS_1


__ADS_2