Petualangan Sang Dewi Malam

Petualangan Sang Dewi Malam
BAB 9


__ADS_3

Hari ini hari minggu, warung pasti akan lebih ramai dari biasanya. Aku sudah bersiap untuk membuka warung dari setengah jam yang lalu, membersihkan dipan, menyapu lantai, mengelap meja dan juga perabotan. Aku melihat Mbak Su dan Pak Imam keluar dari rumah dengan pakaian rapi seperti mau pergi.


"Erin, kamu jaga sendirian ya. Aku dan Mbak Su mau menjemput seseorang yang akan menemanimu bekerja disini," ucap Pak Imam.


Aku menganggukkan kepalaku sembari tersenyum, lalu kembali melanjutkan pekerjaanku yang belum selesai, supaya warung terlihat bersih dan nyaman. Pak Imam dan Mbak Su sudah pergi melajukan mobil yang disewanya dan menghilang dari pandangan.


Ku usap peluh yang bercucuran dikeningku menggunakan tisu, ku ambil gelas dan mengisinya dengan air dispenser, membuka termos berisi es batu lalu memasukannya kedalam gelas. Dalam beberapa kali tegukan, air dalam gelas itupun sudah tandas tak bersisa membasahi kerongkonganku yang diserang dahaga.


Tinggal duduk bersantai sembari menunggu pelanggan pertama datang. Ku mainkan game di ponsel bututku untuk mengusir jenuh, game snack xenzia yang sudah melegenda karena cuma itu satu-satunya permainan yang ada di ponselku.


*****


Siang menjelang sore, mobil yang dikendarai Pak Imam berbelok memasuki halaman samping warung. Aku mencuri pandang dari dalam warung, penasaran dengan seseorang yang akan menjadi temanku disini.


Pak Imam serta Mbak Su turun dari mobil, di ikuti seorang wanita yang kira-kira berumur 24 tahun. Badannya sintal tubuhnya pendek, setinggi badanku. Rambutnya lurus rebonding sebahu, kulitnya kuning, namun ekspresinya ketika melihatku, sulit ku artikan. Entah mengapa aku merasa tidak nyaman ditatap seperti itu.


Namanya Sari, dia seorang janda anak satu berasal dari Trenggalek. Mulai besok Ia sudah bekerja bersamaku dan berbagi tugas. Aku berharap semoga dengan adanya Sari aku jadi betah disini, walaupun aku sendiri tak tahu apakah nantinya kami akan menjadi teman atau tidak.


*****


Keesokan harinya, aku tak mendapati Sari disampingku ketika ku membuka mata. Aku segera bergegas mandi dan bersiap-siap. Ku lihat Sari sedang membersihkan bagian dalam rumah Mbak Su.


Aku jadi malu sendiri, selama aku bekerja disini, aku sama sekali tak pernah membantu membersihkan rumah Mbak Su. Setiap pagi selepas bangun, mandi, dan sarapan, aku langsung menuju ke warung dan bersih-bersih. Tapi area rumah tak pernah aku bersihkan. Mbak Su sendiri juga tak mengizinkanku tiap aku membantu dirumah dan menyuruhku untuk fokus ke warung saja.


Selepas sarapan aku segera ke warung. Kali ini Sari juga sudah meng-handle semua pekerjaan yang biasa ku lakukan. Tidak ada lagi yang bisa ku kerjakan selain duduk menunggu pelanggan datang.

__ADS_1


"Mbak, kok gak nunggu aku toh, maaf ya aku kan jadi gak enak gak bantuin." ucapku.


"Udah gak papa, aku memang terbiasa seperti ini kalo kerja." ucapnya menoleh ke arahku, lalu kembali menghadap ke depan.


Untuk sesaat kami duduk berdua dalam keheningan, tak tahu harus bagaimana memulai pembicaraan. Sari juga terlihat asyik dengan ponselnya, seperti tidak tertarik untuk mengobrol denganku.


Setelah lama menunggu, akhirnya pelanggan pertama datang, dua orang pemuda yang belum ku kenal. Sari hanya meliriknya sekilas saat kedua pemuda itu duduk diatas dipan sebelah selatan lalu melihat ponselnya kembali dan tersenyum-senyum sendiri entah kenapa.


Aku melangkah menghampiri kedua pemuda tadi dan menanyakan pesanannya. Mereka memesan dua cangkir kopi susu dan aku bergegas membuatkannya. Setelah selesai aku mengantarkannya dan bergabung bersama mereka.


"Monggo diunjuk mas," kataku mempersilahkan mereka meminum kopinya.


"Iyo, namamu siapa Mbak?" tanya cowok berbaju biru dengan rambut sedikit gondrong.


"Oalah, namanya cantik, kayak orangnya hehehe," saut cowok satunya, Ia memakai baju putih, rambutnya rapi, dan jika tersenyum manis sekali.


Namun aku tidak lantas mengagumnya seperti aku mengagumi Zahir. Entah mengapa walaupun banyak cowok datang dan pergi silih berganti datang kemari, hanya Zahir yang menarik perhatianku. Selebihnya hanya ku anggap sebatas teman supaya bisa menjadi langganan tetap disini.


Zahir memang kerap kali datang bersama temannya, namun itu tidak berarti aku bisa semakin dekat dengannya, karena dia susah untuk di dekati. Dan aku cukup tau diri untuk tidak berharap lebih padanya, mengingat aku cuma seorang pelayan warung kopi, tak pantas untuk sekedar mendapat perhatian lebih darinya.


"Aku Hendi, salam kenal ya," ujar cowok berambut gondrong itu mengulurkan tangannya yang segera aku jabat.


"Aku miko," ucap cowok berbaju putih bergantian menjabat tanganku.


Banyak sekali topik yang kami bicarakan. Mereka sangat asyik, kami bercanda tawa seakan kami sudah mengenal lama. Sejenak aku lupa, akan segala kesedihan yang ku pendam dan berusaha untuk aku lupakan.

__ADS_1


****


Motor matic berwarna merah yang sudah ku hafal berbelok ke halaman samping warung, tempat dimana motor dan dipan-dipan berjejer rapi. Seseorang yang sangat tidak aku inginkan kehadirannya, Ia melepas helm dan turun dari motor.


Aku pura-pura tidak melihatnya dan segera duduk memepet ke Hendi. Sudah 2 jam Ia disini dan belum berniat untuk pulang, kesempatan ini aku gunakan untuk menghindar dari Pak Bambang yang berjalan ke warung sembari cemberut menatapku. Aku membuang muka, tak ingin bersitatap dengan pria paruh baya itu.


Sari bangkit dari duduknya dan menyimpan ponsel kedalam saku celananya. Ia menyapa Pak Bambang seraya mengajaknya duduk di kursi dalam warung. Aku bersyukur ada Sari jadi aku tidak perlu melayani pesanan dan juga rengekan Pak Bambang.


"Fiuhhh... untung saja aku terbebas dari bandot tua itu." gumamku lirih.


"Kenapa Rin?" tanya Hendi yang mendengar gumamanku.


"Gak papa kok. Itu tadi lho Bapak-bapak yang barusan dateng, ngeri deh sama itu orang,"


Lalu aku menceritakan semua pengalamanku menghadapi tingkah Pak Bambang. Hendi tak berhenti menertawakanku yang menjadi incaran bandot tua seperti Pak Bambang. Aku memukul bahunya pelan karena malu, namun tak membuat Hendi berhenti tertawa malah semakin terbahak-bahak.


"Ih nyebelin banget sih kamu Hen," gerutuku, melipat kedua tangan di dada sembari memonyongkan bibirku, berharap Hendi berhenti tertawa, tapi sepertinya Hendi belum puas.


"Aku tinggal nih, kalo masih menertawakanku, gak setia kawan banget," ujarku pura-pura marah.


"Iya-iya maaf deh," ucap Hendi lalu menyeruput kopinya sampai habis "tambah satu lagi donk."


"Itu perut apa gentong ya, kog gak penuh-penuh, udah dua cangkir masih nambah juga." gumamku seraya beranjak untuk membuatkan kopi.


Miko hanya geleng-geleng kepala melihat aku dan Hendi sudah seperti tom dan jerry saja. Kami baru mengenal tapi sudah seperti bersahabat sejak lama, membuat Miko tersenyum entah apa yang dipikirkannya.

__ADS_1


__ADS_2