Petualangan Sang Dewi Malam

Petualangan Sang Dewi Malam
BAB 2


__ADS_3

"Erin..." panggil Ibu seiring pintu kamar yang terbuka. Ibu berdiri di tengah pintu seraya melipat kedua tangannya, menyandarkan bahunya pada daun pintu.


"iya bu".


Aku langsung bangkit dari posisi tidurku, lalu duduk di tepi dipan seraya menunduk, menyembunyikan sepasang mata sembabku.


"Kamu itu ya, sepanjang hari cuma di kamar terus...!! mbok ya keluar sana cari kerja. Coba tanya-tanya mana tau dapat kerjaan. Jangan cuma mengurung diri sepanjang hari," omel Ibu pelan, tapi cukup membuat air mataku ingin kembali tumpah.


Aku cuma terdiam tak berani menatap Ibu, tak tau mau berkata apa. Jangankan bertanya orang lain, untuk sekedar menyapa tetangga saja terkadang aku malu.


"Mau sampai kapan kamu begini Rin? menyusahkan orang tua saja bisanya." Gerutu Ibu seraya beranjak pergi dari hadapanku.


Aku hanya bisa meratap tanpa suara menangisi nasib burukku. Mengapa dunia ini tidak adil padaku? Aku hanya ingin terus bersekolah seperti teman-temanku.


Air mataku semakin deras membanjiri kedua pipiku yang berlesung.


*****

__ADS_1


"Pokoknya kamu harus mau kerja di depot Pak Imam. Kalo kamu gak mau memangnya kamu mau kerja dimana lagi? cari kerja aja gak berani. Sudah jalani saja dulu sambil belajar kerja. Besok Pak Imam akan kesini buat jemput kamu." Kata Ibu seraya pergi meninggalkanku yang tanpa sadar sudah menangis tanpa suara.


Siang ini Ibu baru saja bertemu dengan Bu Tini, tetangga beda RT. Bu Tini bilang ia bertemu dengan lelaki bernama Pak Imam yang sedang mencari karyawati dari desa ke desa untuk bekerja di depotnya.


Pak Imam tinggal di kota sebelah. Dan seingat bu Tini hanya aku gadis yang sudah tidak bersekolah, jadilah ia mengabari Ibuku untuk memberitahukan perihal ini.


Walaupun berat, tapi aku tak punya pilihan lain. Mencari pekerjaan lain pun aku memang tak punya keberanian, apalagi aku hanya bermodalkan ijazah SMP dan tak punya keterampilan apapun.


Semua ini membuatku dilema. Apakah aku harus menyerah dan menerima nasibku? Disisi lain aku sangat ingin melanjutkan sekolah lagi, tapi aku sadar semua ini sudah terlambat. Aku sudah tak punya kesempatan karena tak mungkin aku kembali bersekolah lagi, sedangkan namaku sudah tercoret dari daftar murid. menyedihkan sekali mengingatnya.


Ingin meminta bantuan, tapi tak tahu harus kemana dan pada siapa. Sanak dan saudara tidak ada yang dekat denganku tak mungkin juga tiba-tiba aku mengadukan nasibku pada mereka. Apalagi aku tidak tau apakah mereka mau dan siap membantuku, dan membayangkan penolakan dari mereka jika aku mengadu akan membuatku semakin kecewa.


*****


"Jadi besok kamu mau pergi?" tanya Nadin, Sahabat sekaligus sepupuku. Hari ini aku pergi kerumahnya yang masih satu desa denganku untuk berpamitan.


"Iya Nad, mungkin itu lebih baik.., dari pada aku disini tapi hatiku kecewa. Toh mereka tidak peduli dengan perasaanku." Air mataku merebak, segera ku tahan dengan mengusap ujung mataku.

__ADS_1


Memang aku sangat cengeng, hanya menangis saja sepanjang hari kala teringat nasibku saat ini.


"Lagian kenapa sih paman menyuruhmu putus sekolah dan kerja? padahal kamu kan masih harus ngejar cita-cita. Padahal paman itu bisa lah kalau cuma menyekolahkan kamu. Paman kan penjahit dan langganannya pun banyak, pastilah ada pemasukan walaupun tidak banyak. Kalo cuma untuk biaya sekolahmu saja pasti bisa kok." kata Nadin seraya mengelus punggungku lembut.


Aku hanya bisa menghela nafas dalam, meredam emosi yang setitik mulai muncul.


"Entahlah Nad..., aku tidak mengerti jalan fikiran Bapak. Kalau di fikir memang iya tak mungkin Bapak tidak mampu menyekolahkan aku. Aku juga tidak tahu alasan pastinya karena Bapak memang tidak pernah bicara."


Memang akhir-akhir ini Bapak tidak aktif menjahit lagi, hanya beberapa jahitan saja yang di terima sehingga banyak pelanggan yang kecewa. Jika saja Bapak mau lebih giat lagi berusaha, tentulah aku tidak akan mengalami nasib seperti ini. batinku.


Aku terdiam dan tenggelam dalam fikiranku sendiri. Pelan ku sandarkan kepalaku pada bahu Nadin, merasai kehangatannya, menyerap kepeduliannya.


"Kamu yang sabar ya Rin, aku sedih melihatmu seperti ini, Maafkan aku tak bisa membantumu. Aku dan Rista akan selalu mendoakanmu dimanapun kamu berada."


Nadin memelukku erat, seperti ikut merasakan kesedihanku saat ini. Aku balas memeluknya hingga hatiku sedikit lega, setidaknya masih ada Nadin yang peduli padaku.


"Tolong pamitkan pada Rista ya bahwa aku esok akan pergi. Aku tak sanggup kalau harus berpamitan padanya, aku tak mau dia mengasihaniku," ujarku saat pamit pulang.

__ADS_1


Esok, entah bagaimana aku menghadapi takdirku. Yang ku inginkan sekarang hanyalah berpura-pura seakan ini semua tidak pernah terjadi.


__ADS_2