
"Mbak....," panggilku pada Sari yang berbaring di sebelahku.
Aku membalikkan tubuhku menghadap kearahnya. Malam ini kami sudah beristirahat dikamar melepas penat setelah lelah seharian bekerja.
"Kenapa Rin?" tanya Sari masih menatap ponselnya. Ia sedang asyik berkirim pesan entah dengan siapa.
"Tadi siang gimana Mbak, Pak Bambang! Gak rese kan?" tanyaku penasaran.
Sari mengernyit, berusaha mencerna maksud dari pertanyaanku sembari mengingat-ingat.
"Tenang aja, aku bisa atasin kok. Udah biasa hadepi orang kayak gitu. Pintar-pintarnya kita aja." ujar Sari, masih asyik mengetik keyboard ponselnya.
Aku menatap wajahnya dengan heran, bagaimana bisa Ia setenang itu menghadapi Pak Bambang. Sedangkan aku, jantung serasa mau copot karena takut dengan Pak Bambang yang mesum.
Tiba-tiba bayangan wajah Pak Bambang dengan segala kegenitannya terlintas, membuatku bergidik ngeri.
"Aku sih takut Mbak kalo dia datang, lebih tepatnya risih, abisnya tangannya mau pegang-pegang sih, mana duduknya mepet-mepet lagi sambil peluk-peluk." gerutuku kesal saat mengingat kelakuan Pak Bambang tempo hari.
"Ya mau gimana lagi Rin, ini udah resiko kita jadi pelayan Warkop ya emang kayak gini, sering dilecehin. Sebenarnya aku juga gak tau sih kalau bakal kerja di Warkop, aku kira di Depot karena orang yang nawarin kerjaan bilangnya di Depot. Setelah sampai sini ech Warung kopi, nanggung banget kalau mau pulang tanpa bawa uang." ucap Sari menghela nafas, menahan rasa kesal yang dia pendam karena merasa tertipu.
"Wah sama ya Mbak aku kemaren juga gitu, ditawarin kerja di Depot, ech ternyata di Warung kopi," aku gak habis fikir kenapa mereka harus berbohong, padahal menurutku mereka orang yang baik, gumamku dalam hati.
"Ya mungkin kalo mereka jujur gak bakalan ada yang mau kerja disini. Mana ada yang mau kerja di warkop, pasti takut dicap anak nakal, ya kan? makanya mereka cari karyawan dari luar kota, biar kalau udah sampai sini gak gampang pulang gitu aja." ujar Sari, kali ini Ia menoleh kearahku.
"Iya juga ya, aku juga pasti gak bakalan mau waktu itu kalau seandainya mereka jujur. Orang tuaku juga tak akan memaksaku kalau mereka tau." gumamku lirih, teringat akan kedua orang tuaku disana.
"Nah makanya... kita udah terlanjur ada disini, ya kita jalani aja. Sekarang fokus aja nyari duit biar lebaran nanti bisa pulang bawa uang, kan puasa tinggal 2 bulan lagi." ucap Sari seraya menggaruk hidungnya.
__ADS_1
"Iya mbak untung aja sekarang ada Mbak, jadi aku gak sendirian lagi. Soalnya aku gak terbiasa bergaul sama laki-laki mbak, makanya gak betah, bawaannya pengen pulang terus."
"Jangan pulang Rin, lebaran aja pulangnya gak usah balik lagi kesini. Aku juga pulang lebaran dan gak balik lagi, mending cari kerjaan lain aja. Paling tidak kalau kamu pulang udah bawa uang walaupun sedikit. Terus, kalau kerja di suatu tempat itu, minimal 3 bulan lah, biar kamu dapet pengalamannya juga, siapa tau berguna di masa mendatang." ujar Sari menasihatiku.
Aku beruntung ada Sari, aku gak bisa membayangkan bagaimana aku harus bertahan disini menghadapi berbagai tipe laki-laki, terutama yang setipe dengan Pak Bambang. Semoga gak ada lagi Pak Bambang lainnya yang datang kemari sehingga aku tidak perlu bersusah payah untuk menghindarinya.
*****
"Rin, ada yang cari tuh!" kata Sari yang baru saja muncul dari balik pintu.
"Siapa Mbak?" Tanyaku sambil mengaduk dua cangkir kopi.
"Gak tau, liat aja di dipan paling pojok." ujar Sari lalu pergi untuk bergabung dengan pelanggannya lagi.
Aku segera mengantarkan pesanan dua orang pelanggan yang duduk di depan warung, setelah itu aku mengembalikan nampan ke tempatnya semula.
"Sini Rin....!" panggil Agus.
Ternyata Agus dan kawan-kawan, aku segera menghampirinya lalu duduk diantara mereka. Kulihat dipannya masih kosong, sepertinya Sari belum melayani mereka.
"Kalian toh, kirain sapa gitu yang cari hehehe," ujarku terkekeh, dalam hatiku sedikit kecewa karena Zahir tidak ada diantara mereka.
"Emang kamu kira siapa Rin hehehe. Itu temanmu baru ya?"
"Iya, kok gak pesan ke Dia tadi, malah minta dipanggilin aku, gak pengen kenalan?"
"Ach gak mau ach, udah tua hahaha," ujar Nanda seraya tertawa.
__ADS_1
Aku menepuk bahunya pelan, sambil menengok ke kanan dan kiri, berharap Sari tidak mendengar celotehan Nanda tadi.
"Husstt, kamu ini, gak boleh gitu ach, masih muda loch itu Mbak Sari." kataku membela, walau bagaimanapun kasian Mbak Sari kalau sampai dengar ada yang ngatain.
"Hehe maaf deh," ucap Nanda seraya mengacungkan dua jarinya membentuk simbol damai.
"Tumben cuma bertiga, Zahir kok gak ikut?" tanyaku pelan, aku menundukkan kepalaku karena malu dengan pertanyaanku.
"Gak tau dia kemana, palingan juga main game di Warnet," jawab Agus "Ada apa emangnya? tumben kamu nanyain Zahir."
"Mmm...gak ada apa-apa kok cuma tanya aja hehehe." kekehku.
"Jangan-jangan ada apa-apa nih, hayoo...!" seru Nanda seraya mencolek lenganku.
"Ih apaan sih Nan, orang gak ada apa-apa juga," sautku, pipiku memerah seketika.
"Tuh liyat pipimu merah! udah gausah bohong lagi sama kita," ujar Nanda lagi, membuatku semakin salah tingkah, takut mereka mengetahuinya.
"Jadi, kamu suka sama Zahir?" tanya Agus, matanya menatapku lekat tanpa ekspresi, entah mengapa seperti ada yang lain dari tatapannya itu.
"Ech jadi kalian mau pesan apa nih? sampai lupa kalau tadi belum pesan." tanyaku mengalihkan pembicaraan. Semoga Agus tidak mendesakku untuk menjawab pertanyaannya tadi.
"Oh iya lupa juga kalau belum pesan. Bikinin Es mocacino aja Rin seger," ucap Nanda sambil menyunggingkan senyuman.
"Aku pesan Es Kelapa muda aja," ucap Agus cuek. Diraihnya ponsel yang tergeletak dihadapannya lalu Ia mengutak atik ponsel itu dengan malas.
Aku hanya memandanginya dengan heran, sedikit bingung dengan perubahan sikapnya, namun aku tidak menghiraukannya dan segera berlalu untuk membuatkan pesanan mereka.
__ADS_1