
Tak terasa hari lebaran telah berlalu dua minggu yang lalu. Aku banyak menghabiskan waktu dirumah saja, karena sampai hari ini aku belum juga mendapatkan pekerjaan, lebih tepatnya aku belum berniat untuk mencari pekerjaan baru.
Aku masih bingung harus mencari pekerjaan dimana dan bertanya kepada siapa. Aku sendiri tak punya keberanian untuk bertanya-tanya ataupun berkeliling kota mencari lowongan kerja. Apalagi aku hanya punya ijazah SMP dan tidak punya keahlian apa-apa, tentu akan sulit untukku mendapat pekerjaan kalau pun ada, pasti kerjaan itu juga sebatas jadi pelayan warung kopi, depot, ataupun penjaga toko dipasar.
Namun sifatku yang pemalu dan selalu gugup jika berhadapan dengan orang lain apalagi yang belum ku kenal, membuatku kesulitan untuk berkomunikasi. Lagipula jauh didalam hati kecilku masih terasa berat untuk menerima kenyataan ini, yang harus membuatku tidak bisa lagi melanjutkan pendidikanku.
Aku juga belum siap jika harus bekerja lagi. Pengalaman kemarin saat bekerja di warung kopi sedikit membuatku tak bersemangat untuk kembali meninggalkan rumah ini. Aku masih ingin menghabiskan waktu di rumah ini, dan aku masih berharap Bapak akan berubah fikiran sehingga Ia mau berusaha untuk menyekolahkan aku lagi.
Hubungan antara aku dan orang tuaku memang berjarak sedari dulu, entah mengapa, aku juga tidak pernah tau alasannya. sejak kecil aku terbiasa tidak diperhatikan, jika aku punya masalah, aku hanya bisa memendamnya sendiri, tidak ada yang berusaha membuang jarak diantara kami, aku pun tidak tahu harus berbuat apa supaya hubungan kami semakin dekat dan hangat.
Meskipun sebenarnya aku merasa sedih, aku sangat ingin sedikit merasakan kasih sayang mereka, walaupun itu hanya sekali saja. Aku hanya bisa berdoa, berharap suatu saat nanti mereka akan menyayangiku dan memperdulikan aku, itu sudah cukup membuatku bahagia.
Tok... Tok... Tok...
Cekrek....
__ADS_1
Pintu kamarku terbuka disusul kemunculan Ibu, mengagetkanku yang tengah melamun sambil berbaring diatas dipan. Aku segera bangkit, duduk bersandar pada kepala dipan seraya memeluk bantal.
Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak saat melihat Ibu menghampiriku. Aku yakin pasti kali ini Ia akan mengatakan sesuatu yang pasti tidak akan aku sukai. Namun aku memilih diam sembari menghela nafas, menenangkan hatiku dari kecemasan yang mendadak datang.
"Rin, beneran kamu gak kembali kerja di warungnya Pak Imam? sudah dua minggu lho kamu di rumah, Mbak Su tadi telvon nanyain kabarmu kapan kamu kembali lagi kesana." tanya Ibu seraya duduk di tepi kasur, menatapku lekat.
"Aku gak mau kerja disana lagi Bu," ucapku lirih seraya membuang mukaku kearah lain menghindari tatapan Ibu.
"Kalau kamu gak balik lagi, kasih tau Pak Imam baik-baik, jangan membuat orang berharap apalagi menunggu."
Aku hanya diam menundukkan kepalaku, tak berani menatap Ibuku yang masih menatapku tajam, entah mengapa Ibu tak pernah bersikap hangat kepadaku, sering aku berfikir apakah aku ini bukan anaknya, sampai Ibu selalu bersikap seperti itu padaku.
"Aku masih ingin dirumah Bu, aku tidak mau tinggal jauh dari rumah lagi, aku masih ingin disini bersama kalian." jawabku lirih, kini aku mendongak menatap Ibu yang juga masih menatapku tajam.
"Kamu mau sampai kapan luntang lantung dirumah, bukannya cari kerja! kamu tau gak cari kerja sekarang itu susah, udah punya kerjaan malah gak mau balik, padahal Pak Imam dan Mbak Su itu orangnya baik tapi kamu malah gak mau kerja disana lagi."
__ADS_1
"Aku masih ingin sekolah Bu, aku belum siap bekerja. Aku masih ingin mewujudkan cita-citaku, masih ingin berkumpul dengan teman-temanku." jawabku dengan bibir bergetar, mataku mulai berkaca-kaca.
Aku kembali menunduk, menyembunyikan setitik bulir yang menyeruak disudut mataku. Entah mengapa dadaku terasa sesak sekali, ada sedikit nyeri yang kurasakan di ulu hatiku.
Ibu masih menatapku, kali ini tatapannya mulai melembut, mungkin Ia sedikit Iba melihatku yang kini mulai terisak pelan.
"Rin... mulai hari ini belajarlah mengikhlaskan semuanya, kamu udah gak mungkin lagi bisa melanjutkan sekolah, kamu tau sendiri gimana Bapakmu, kalau sudah memberi keputusan tak mungkin bisa dibantah. Ibu ini hanya orang miskin, hanya bisa mengharap uang yang diberikan oleh Bapakmu, jadi Ibu tak bisa berbuat apa-apa untuk menentang keputusan Bapak. Kamu juga harus tau diri, kita ini hanyalah orang tak punya, sekolah tak sampai SMA juga gapapa yang penting kamu giat bekerja cari uang, banyak kog yang gak sekolah SMA tapi bisa sukses, kalau mau berusaha."
"Jika saja Bapak mau berusaha, masih mau menjahit, pasti Bapak masih bisa menyekolahkan aku Bu, teman-temanku juga banyak yang miskin, saudaranya juga banyak masih sekolah semua, Bapaknya cuma buruh tani tapi Bapaknya masih tetap memperjuangkan pendidikan anaknya. Kenapa aku tidak bisa sekolah Bu, padahal di rumah ini hanya aku yang bersekolah." aku semakin terisak, meluapkan beban dihati yang selama ini menghimpit.
"Kamu itu gak ngerti juga ya Rin, kamu harus ngerti keadaan kita berbeda, jangan samakan dengan teman-temanmu, Ibu sudah gak tau lagi gimana caranya supaya kamu ngerti," bentak Ibu seraya beranjak pergi keluar kamar.
Isak tangisku semakin menjadi setelah kepergian Ibu. Apakah aku tidak boleh menuntut hakku untuk bersekolah? bukan aku tidak mengerti dengan keadaan kami yang hidup pas-pasan, tapi aku tau jika Bapak sebenarnya mampu jika mau berusaha.
Bapak itu seorang penjahit yang handal, walaupun orderan tidak banyak tapi selalu ada setiap harinya. Bapak juga pintar bermain organ, sesekali Bapak juga tampil dalam acara-acara nikahan bersama grup rebana nya, kalau saja Bapak mau mengajar les salah satu pemuda yang datang ke rumah minta di ajari, pastilah ada pemasukan untuk biaya sekolahku. itulah mengapa aku menolak untuk menerima takdir ini begitu saja.
__ADS_1
Namun sekuat apapun aku menolak takdirku, kenyataan ini yang harus aku terima, Bapak tak mungkin merubah keputusannya meskipun aku tidak pernah tau alasannya, mengapa tidak menyekolahkan aku sampai SMA, padahal aku juga tak akan meminta untuk kuliah. Selama ini aku tidak pernah meminta apapun, aku hanya ingin melanjutkan sekolah.
"apakah aku ini egois Tuhan?"