Petualangan Sang Dewi Malam

Petualangan Sang Dewi Malam
BAB 6


__ADS_3

Setelah Nobel pulang, aku segera membereskan gelas dan juga bungkus makanan ringan yang bersepah. Lalu mengelap dipan yang basah terkena rembesan es cappucino.


Baru saja aku ingin mengembalikan lap ke dalam warung, aku melihat dua motor memasuki halaman warung. Dua orang lelaki segera turun dari motor dan dua orang lagi memakirkan motornya. Mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu dan tas ransel di punggungnya.


Aku sedikit deg-degan tiap kali ada pelanggan baru, namun aku memberanikan diri menghampiri mereka saat mereka sudah duduk melingkar diatas dipan.


Disini ada tujuh dipan yang berjejer rapi dengan jarak satu meter per dipannya. Jadi tidak khawatir warung akan penuh sesak.


Pandanganku tertuju pada salah satu cowok yang duduk di pojok sebelah utara. Kulitnya putih bersih, dan rambutnya lurus rapi. Aku segera mengalihkan pandanganku saat dia menyadari aku menatapnya.


"Mau pesen apa Mas?" tanyaku tersenyum ramah. Pertanyaan ini yang selalu aku jadikan sebagai pembuka obrolan dengan pelanggan.


Seorang pelayan harus selalu tersenyum dan beramah tamah. Karena jika seorang pelayan tidak murah senyum ataupun tidak ramah, pasti pelanggan akan malas untuk datang berkunjung. Begitulah kata Mbak Su waktu menjelaskan perihal pekerjaanku.


"Pesan kopi hitam satu, kopi susunya empat Mbak." jawab seorang cowok berambut ikal.


Aku pun bergegas masuk ke dalam warung untuk membuatkan pesanan mereka. Di warung ini masih menggunakan bubuk kopi buatan sendiri bukan buatan pabrik, jadi rasa yang di hasilkan pun lebih nikmat. Suasana warung yang dekat dengan pantai juga semakin menambah nyaman bersantai disini.


Setelah semua pesanan siap aku segera mengantarkannya ke mereka. Kebetulan kondisi warung siang ini masih sepi, hanya mereka berlima yang datang kemari.


Ku letakkan nampan berisi lima cangkir kopi ke atas dipan dan memindahkan satu per satu cangkir itu ke hadapan mereka sesuai pesanannya. Setelah itu aku mengembalikan nampan ke dalam warung dan bergabung kembali dengan mereka untuk sekedar menemani mengobrol, walaupun saat ini aku merasa sangat canggung.

__ADS_1


"Mbak'e namanya siapa? aku Toni" tanya cowok berambut ikal yang tadi memesan seraya mengulurkan tangannya. Ku lihat name tagnya bernama Toni.


"Loverina, panggil saja Erin." ucapku seraya menyambut uluran tangannya.


"Aku Agus."


"Nanda."


"Joko."


Aku menyambut uluran tangan mereka bergantian, akan tetapi cowok yang duduk bersandar di pojokan dari tadi hanya diam saja sembari memainkan ponselnya. Aku hanya menatapnya, tak berani untuk mengajaknya berkenalan.


"Dia Zahir," ucap Joko saat melihatku terdiam menatap Zahir. "Dia memang cuek orangnya."


"Kota Ledre." jawabku sambil mencuri pandang ke arah Zahir. Dia sama sekali tidak tertarik untuk berkenalan denganku.


Entah mengapa dari awal aku melihat Zahir, aku sangat ingin berkenalan dengannya. Apakah aku mendadak mengaguminya? orang yang bahkan tidak aku kenal sama sekali.


"Oalah...aku dengar disana ada wisata baru ya Mbak? kalau tidak salah namanya Negeri atas angin. Tempatnya bagus ya Mbak pemandangannya keren, cocok banget buat foto-foto" ucap Agus bersemangat. Ia menggeser duduknya mendekat ke arahku lalu menyeruput kopinya dengan pelan. "Ach nikmatnya..."


"Iya Mas, tempatnya lumayan jauh sih kalau dari kampungku sekitar 1 jam setengah. Karena lokasinya berada di perbatasan kota bagian barat sedangkan kampungku di bagian timur." ucapku.

__ADS_1


"Kamu umur berapa Mbak, kok kayak masih anak sekolah?" tanya Toni dengan mulut yang penuh, mengunyah telur puyuh rebus.


"16 tahun, hehehe." kataku terkekeh.


"Hah...kok udah kerja?" tanya Nanda sambil mengupas bungkus kerupuknya yang kedua.


"Iya, Kirain kamu udah lulus, taunya masih adik kelas kita." ujar Agus menimpali.


"Sebenarnya aku masih kelas satu SMA, tapi aku putus sekolah minggu lalu," ujarku menundukkan kepalaku. Entah mengapa mataku selalu berair tiap kali aku mengingat hal itu.


Dengan cepat ku mengerjapkan mataku berharap aku tidak menangis. Namun aku masih terlalu cengeng untuk menanggung beban hati ini sendirian.


"Sayang sekali ya Mbak, putus sekolah malah kerja disini. Kenapa gak cari kerja di tempat lain saja Mbak?" tanya Joko dengan raut wajah yang murung, seakan mengerti kesedihanku saat ini.


"Ini pertama kalinya aku bekerja, itupun karena Ibuku yang tau lowongan kerja disini. Mungkin lain kali aku akan cari kerjaan lain. Sementara aku jalani dulu kerja disini sambil belajar bagaimana bekerja dengan baik." Ucapku lirih, sesak di hatiku seakan kembali menyeruak.


Tak ku sadari ternyata Zahir dari tadi menatapku sembari menyimak. Namun Ia segera memalingkan wajah saat aku menyadarinya, membuatku salah tingkah.


"Kamu yang sabar ya Rin, kerja disini gak terlalu buruk kok." ujar Nanda masih sibuk mengunyah kerupuk.


"Iya kita pasti akan sering kesini mengunjungimu, ya kan teman-teman?" kata Toni menimpali.

__ADS_1


"Makasih ya semuanya hehehe...aku senang akhirnya punya banyak teman disini." ucapku terharu.


Sekilas aku menangkap bayangan Zahir yang tersenyum menatapku sebelum akhirnya menunjukkan muka cueknya lagi, kembali sibuk dengan ponselnya seolah tidak perduli dengan obrolan kami.


__ADS_2