Petualangan Sang Dewi Malam

Petualangan Sang Dewi Malam
BAB 3


__ADS_3

Hari ini matahari bersinar cerah, tak seperti hatiku yang mendung. Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Aku tengah berkutat dikamar mengemas barang yang akan ku bawa pergi ke kota sebelah, dimana aku akan bekerja.


Ku ambil beberapa potong kaos serta celana dan memasukkannya ke dalam tas ransel bututku. Tak banyak barang yang aku bawa, karena ini bukanlah perjalanan yang aku inginkan.


Hari ini aku mencoba untuk berdamai dengan hati, menerima keadaanku saat ini, bahwa kini aku sudah tak berstatus seorang pelajar. Seragam putih abu-abuku serta seragam kejuruan pink hitam kebanggaan ku, kini hanyalah menjadi kenangan terindahku, bahwa aku pernah mengenyam yang namanya bangku SMK. Setidaknya aku pernah merasakannya walau hanya sepuluh bulan saja.


Sebuah mobil kijang berwarna silver berhenti tepat di depan rumahku, membuyarkan aku dari lamunan. Aku segera bergegas mengecek barang bawaanku saat ku dengar Pak imam memasuki rumahku sambil mengucap salam.


Pak Imam datang bersama dengan Istri dan anaknya. Keluargaku menyambutnya dengan ramah, hanya aku yang terdiam tak mengucap sepatah katapun.


Aku hanya ingin menguatkan hati, agar air mata itu tak lagi mengalir, setidaknya untuk saat ini. Karena hatiku sedang sangat rapuh. Walaupun mungkin bagi mereka aku berlebihan, tapi beginilah aku, sensitif dan cengeng.


Setelah acara basa basi dirasa cukup, Pak Imam segera berpamitan, karena hari sudah semakin siang. Perjalanan dari kotaku ke kota pak Imam memerlukan waktu 2 jam setengah.


Selama perjalanan aku tetap diam, karena aku memang jarang membuka percakapan kalau tidak di tanya, terlebih lagi pada orang yang baru ku kenal. Apalagi pertemuan ini sama sekali tak ku harapkan.


Aku terus saja memandang keluar jendela, menikmati pemandangan laut yang cukup membuat hatiku sedikit tenang. Hingga perlahan kantuk itu membuatku terlelap.


*****

__ADS_1


"Erin.....bangun dek, sudah sampai." ucap seseorang sembari mengguncang tubuhku.


Kaget..., aku mengerjapkan mataku. Leherku sedikit sakit karena posisi tidur yang salah.


tampak seorang wanita berkacamata bulat itu tersenyum saat melihatku perlahan membuka mata.


Segera aku mengikuti nya masuk kedalam rumah, tak bersemangat membawa tas bututku dalam gendongan. Wanita itu menuntunku ke sebuah kamar tak berpintu dengan gorden berwarna tosca yang menutupinya.


"Nah ini kamarmu dek Erin, namaku Mbak Su. Kalau butuh apa-apa bilang saja ya. sekarang kamu istirahat aja dulu, besok baru bisa mulai bekerja." kata mbak Su sembari tersenyum ramah.


Aku hanya mengangguk kan kepalaku pelan. Ku taruh tas di pojok kamar lalu merebahkan tubuh di atas dipan dengan kasur yang sudah tidak empuk. Menatap langit-langit kamar seraya menerawang.


Kata pak Imam aku akan bekerja jadi pelayan di depotnya. Dia bilang Depot itu persis di depan rumahnya. Tapi jelas sekali yang aku lihat itu bukan Depot makanan. tapi sebuah warung kopi. Kenapa Pak Imam harus berbohong? Apa aku siap bekerja di tempat ini? Ya Tuhan tolong kuatkan aku...


*****


Aku langsung bangkit, merapikan bajuku, lalu mengikutinya ke dapur. Semua sudah berkumpul di meja makan, aku duduk di kursi dengan canggung.


Dengan sigap Mbak Su mengambilkan nasi dan lauk untukku, membuat ku tak enak hati. Sifatku yang pemalu dan pendiam membuatku kesulitan berinteraksi dengan orang lain.

__ADS_1


"Dimakan dek, jangan sungkan. Anggap saja seperti di rumah sendiri." mbak Su menyodorkan piring yang penuh dengan makanan.


"Iya gak usah sungkan Rin, kamu butuh apa bilang saja pasti kami bantu." ujar pak Imam menimpali.


Sedangkan anak lelaki yang tak ku tahu namanya itu, hanya menatapku sambari tersenyum.


Ku lihat menu di piringku, tumis kerang dan ikan kembung. Menu yang tak pernah aku jumpai dirumahku sendiri. Aku tak menyangka sekarang aku berada jauh dari rumah, berada di tengah-tengah keluarga yang bahkan belum sehari ku kenal.


"Kamu sudah tau apa pekerjaanmu Dek?" Mbak Su kembali membuka percakapan.


Aku menggeleng lemah.


"Mulai besok, kamu akan bekerja jadi pelayan, di warung depan itu. Disana kami menjual minuman Es, Kopi, dan mie instan. Kamu juga harus temani pelanggan yang datang, ajak mereka mengobrol supaya mereka betah ngopi disini. Karena disini rata-rata pelanggan memang mintanya di temani ngobrol, kalau nggak, pada gak balik lagi hehehe " ujar Mbak Su menjelaskan, namun entah mengapa aku tidak suka mendengar tentang pekerjaan yang akan aku jalani ini.


Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ibu yang memaksaku hingga akhirnya aku terdampar d tempat ini. Jadi menangispun percuma karena disinilah aku. sekarang.


"Aku masih akan mencari satu orang lagi, untuk teman kamu, supaya kamu tidak jenuh bekerja sendiri," Kali ini pak Imam tersenyum, seolah mengerti kegelisahan hatiku.


Setelah makan malam, aku bergegas membantu mbak Su merapikan piring, namun dia melarangku dan menyuruhku istirahat dikamar. Sepertinya dia tau bahwa hatiku masih syok.

__ADS_1


Dengan langkah gontai aku kembali ke dalam kamarku, merebahkan tubuhku dengan kasar, memaksa mataku terpejam, meski ada setitik air mata menyeruak disana.


Bagaimana aku harus menjalani hari esok, Tuhan?


__ADS_2