
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 21:30 Wib. Aku segera bergegas membantu Mbak Su untuk menutup warung. Mencuci cangkir dan gelas kotor, serta menyapu sampah bungkus makanan ringan yang berserakan di bawah dipan bambu tempat para pemuda tadi bersantai.
Setelah semua pekerjaan selesai, aku segera merebahkan diri di kasurku. Badanku terasa sakit semua, karena ini pertama kalinya aku beraktifitas lebih banyak dari biasanya.
Memang pekerjaan ini tidaklah berat, hanya membuat dan menghidangkan minuman entah itu es, minuman soda, ataupun minuman hangat. Tadi siang Mbak Su juga mengajariku meracik kopi supaya bisa menghasilkan paduan rasa yang nikmat. Selain itu aku juga membersihkan semua sampah makanan entah itu di atas dipan atau di lantai dan mencuci semua cangkir dan gelas. Mbak Su telaten membantuku karena ini juga baru pertama kalinya aku bekerja. Mungkin nanti setelah beberapa hari semua aku yang melakukannya sendiri. Aku harus membiasakan diriku melakukan pekerjaan ini tanpa mengeluh.
Walaupun aku masih merasa tidak nyaman, jika harus duduk dan mengobrol dengan laki-laki apalagi aku tidak mengenalnya. Tapi mau bagaimana lagi, itu menjadi bagian dari pekerjaanku. Kalau aku tidak mau menemani para pelanggan, tentunya mereka akan kecewa dan itu akan membuat warung Mbak Su menjadi sepi pengunjung.
Di daerah sini terdapat banyak sekali warung-warung hampir di sepanjang jalan. Karena itulah persaingan semakin ketat. Dimana disana ada pelayan yang cantik dan ramah, maka disitulah para lelaki itu akan menghabiskan waktu luangnya walaupun hanya sekedar menikmati secangkir kopi dan sebungkus rokok.
Bahkan di depan warung Mbak Su juga ada warung kopi yang di jaga dua perempuan cantik. Namun pemiliknya bukan orang sini jadi Mbak Su tidak mengenalnya, hanya sesekali saling menyapa kalau tidak sengaja bertemu saat orang itu mengunjungi warungnya.
"Dek Erin, ini Mbak belikan nasi goreng. Dimakan ya, kamu pasti lapar, dari tadi sore belum makan." kata Mbak Su yang kini berdiri di ambang pintu seraya menenteng bungkusan nasi.
"Iya makasih Mbak," kataku menerima bungkusan itu.
"Semoga kamu betah ya Dek disini,"
Aku hanya tersenyum menanggapinya, Mbak Su membalas senyumku lalu kembali ke kamarnya.
Meskipun aku tidak betah dan merasa tidak nyaman bekerja disini, tapi aku tidak enak hati untuk mengatakannya. Mbak Su kelihatannya orang yang baik. Aku juga baru sehari bekerja disini. Apa kata orang jika belum apa-apa aku sudah pulang. Terlebih orang tuaku, mereka pasti akan marah karena aku baru bekerja sudah pulang apalagi jika aku pulang tanpa membawa uang.
Aku segera membuka bungkusan nasiku, berdoa, dan melahapnya dengan cepat. Pikiranku menerawang teringat orang tuaku dirumah. Teringat teman-temanku di sekolah. Apakah mereka mengkhawatirkan aku? Apakah mereka merasa sedih tanpa hadirku lagi disisi mereka? tapi kini aku sadar, aku bukan siapa-siapa yang patut di tangisi saat aku pergi.
Aku juga sudah biasa tak dipedulikan , tapi aku tidak biasa jauh dari rumah. Aku merindukan keluargaku meskipun hatiku masih kecewa akan keegoisan mereka yang membuat ku terdampar disini. Ibu, Bapak, aku ingin pulang dan kembali bersekolah seperti dulu.
Air mataku kembali menetes, jatuh di antara bulir nasi goreng yang kini ku nikmati dengan tidak berselera.
__ADS_1
*****
Pagi ini aku terbangun karena merasakan pundakku sakit. Aku benar-benar lelah karena kemarin warung agak ramai, jadi aku mondar mandir kesana kemari mengantarkan pesanan, dan juga menemani mereka bergantian.
Mbak Su bilang wajar jika warung ramai, karena aku adalah pelayan baru, jadi banyak yang tertarik untuk mampir hanya sekedar ingin melihat atau bahkan mengenalku. Kalau mereka menyukaiku, maka mereka akan menjadi pelanggan tetap dan jika mereka tidak suka, maka hanya sekali saja mereka mampir. Itu berlaku setiap ada pelayan baru jadi Mbak Su tidak heran lagi jika warungnya nanti menjadi sepi, mungkin saja warung lainnya punya pelayan baru jadi banyak yang kesana karena penasaran dengan pelayannya, bukan karena rasa kopinya yang membuat ketagihan.
Aku segera mandi dan bersiap untuk bekerja. Mataku sedikit bengkak karena semalam aku terbawa perasaan hingga menangis begitu lama sampai akhirnya tertidur. Namun bengkaknya tidak begitu terlihat, tersamarkan bedak yang kemarin dibelikan oleh Mbak Su. Ia sempat geleng-geleng kepala saat mengetahui bahwa aku sama sekali tidak punya bedak ataupun handbody. Aku hanya meringis malu saat itu
Setelah sarapan aku segera beranjak ke depan. Warung sudah di buka oleh Mbak Su namun masih sepi karena ini masih jam kerja. Aku langsung bergabung dengan Mbak Su dan Pak Imam yang sedang duduk di salah satu dipan.
Kamipun mengobrol ria sembari menunggu pelanggan. Walaupun mereka seorang bos, namun sangat ramah dan supel sama karyawannya. Membuatku tidak canggung lagi mengajaknya bercanda.
"Dek Erin, memangnya masih sangat ingin bersekolah ya?" tanya Mba Su, membuatku terkejut karena Ia tau keinginanku.
"Sebenarnya sih iya Mbak, tapi ya sudahlah. Aku sekarang juga sudah bekerja disini, jadi mana mungkin aku bisa sekolah," ucapku lirih, hatiku kembali sakit kala mengingat hal ini.
Aku terperangah mendengarnya. Aku sangat ingin menerimanya, tapi aku tidak mau terburu-buru memutuskan. Aku harus ingat siapa aku disini dan apa kata orang tuaku jika tau aku disini bersekolah terlebih lagi di biayai sama Pak Imam.
"Mmm....aku akan memikirkannya Pak. Lagipula tahun ajaran baru masih empat bulan lagi."
Aku tiba-tiba bersemangat, karena harapan untuk bisa bersekolah lagi itu masih ada. Aku tidak menyangka akan ada kesempatan lagi untukku bersekolah. Setidaknya semua mimpi-mimpiku yang hilang, bisa mulai aku rajut kembali.
*****
Jam makan siang tiba, Sebuah sepeda motor berwarna merah terlihat memasuki halaman samping warung. Terlihat seorang pemuda mengenakan kaos merah berjaket biru turun dari motornya setelah menurunkan standart lebih dulu. Ia segera melepas helm yang di pakainya dan menaruhnya diatas salah satu kaca spion.
Aku tersenyum saat mengenali siapa yang datang. Dia adalah Nobel, lelaki yang kemarin datang bersama Aris, namun kini Ia datang sendiri. Nobel segera duduk diatas dipan sebelah barat, tepatnya dibawah pohon mangga yang cukup rindang dan sejuk. Aku segera menghampirinya.
__ADS_1
"Mau pesan apa mas?" tanyaku saat aku sudah berdiri dihadapannya.
"Es cappucino aja kayaknya seger. Oya jangan panggil aku mas dong panggil aku Nobel aja," ucapnya seraya tersenyum.
"Oke, tunggu ya aku bikinin dulu,"
Aku segera masuk kedalam warung untuk membuatkan pesanan Nobel. Cowok itu sangat ramah dan sopan. Kemarin Ia sempat bercerita banyak hal tentang kota ini, namun aku tidak begitu suka dengan Aris yang terkesan angkuh. Bersyukur Ia tidak ikut kemari.
Aku segera menaruh segelas es cappucino diatas baki dan memberikannya pada Nobel.
"Kamu kerja dimana Bel?" tanyaku seraya duduk dihadapannya. Nobel adalah orang pertama yang aku anggap teman disini, selebihnya hanya sebatas pelanggan dan pelayan saja.
"Aku bekerja di pabrik batu bata milik pamanku. Kamu sendiri kenapa bisa bekerja disini?" tanya Nobel sembari mengaduk-aduk es cappucinonya.
"Bosku datang ke Desaku untuk mencari karyawan. Akhirnya Ibuku memaksaku bekerja disini. Aku tak bisa menolaknya walaupun sebenarnya saat itu aku ingin kabur saja dari rumah. Aku masih gak terima Bel, karena aku harus putus sekolah dan bekerja seperti ini. Aku sebenarnya Malu bekerja seperti ini, tapi aku gak bisa apa-apa,"
Setitik air mata membasahi ujung mataku, namun aku segera mengusapnya, tidak mau ada yang melihatku menangis. Aku segera mendongakkan wajahku berharap air mata itu tak kembali menyeruak.
Nobel menatapku dalam diam, menyesap kembali es cappucinonya yang tinggal separuh gelas.
"Maaf ya, kalau aku membuatmu mengingat itu," ucap Nobel.
"Gak papa kok. Aku malah lega, bisa sedikit melepaskan beban dihatiku. Aku tidak punya teman. Aku tidak berani bercerita pada siapapun. Selama ini aku cuma memendam semuanya berharap rasa sakit ini bisa hilang dengan sendirinya. Tapi yang aku rasakan malah semakin sesak dada ini." ucapku lirih.
"Kalau kamu punya beban, kamu cerita aja sama aku Rin. Aku akan senantiasa mendengarkanmu walaupun aku tidak bisa membantumu. Anggap saja aku ini temanmu ya," kata Novel sembari tersenyum lalu segera meneguk habis es cappucinonya.
"Makasih ya Bel, kamu sudah mau menjadi temanku,"
__ADS_1
****