Petualangan Sang Dewi Malam

Petualangan Sang Dewi Malam
BAB 8


__ADS_3

Rasanya aku sudah muak, meladeni bandot tua kegenitan ini. Entah mimpi apa aku semalam, hingga hari ini aku ketimpa sial, kedatangan sesosok makhluk tua yang tidak sadar umur ini.


"Abang mau ajak kamu jalan-jalan, keliling kota ini, kamu mau gak Rin?" tanya Pak Bambang genit, tangannya tidak mau diam sedari tadi berusaha memeluk bahuku.


"Gak Pak, aku disini saja! aku harus bekerja jadi gak ada waktu buat jalan-jalan." tolakku halus, mencoba menyingkirkan tangannya yang masih berusaha memelukku, membuatku risih.


"Ayolah...nanti abang belikan apapun yang kamu mau, cuma jalan-jalan kok gak aneh-aneh." rengek Pak Bambang, membuatku bergidik.


"Dasar gak tau diri, udah bau tanah juga masih merayu perawan, huh" gerutuku dalam hati.


"Erin....,ayo dong keluar sama Abang, nanti Abang traktir deh Erin mau makan apa?"


Pak Bambang merangsek mendekatiku, aku pun menggeser dudukku menjauh darinya. Namun Ia terus mendekatiku hingga aku sampai di ujung kursi panjang ini.


Aku menatap Pak Bambang geram, namun aku sama sekali tak berani untuk berkata atau bertindak kasar kepadanya. Aku pun terus berfikir bagaimana caraku melarikan diri dari bandot tua itu.


"Ehm...Pak...Perut Erin mendadak sakit nih, Erin ke kamar mandi dulu ya udah gak tahan nih," Aku memegangi perutku seraya menunjukkan ekspresi kesakitan. Tanpa menunggu persetujuannya aku segera lari meninggalkannya masuk ke dalam rumah Mbak Su dan mengunci diri di kamar mandi.

__ADS_1


"Ih...amit-amit dah. Udah tua kok ganjen banget. Gak ingat anak istri di rumah apa. Huh sebel." batinku seraya mengelus dadaku yang masih berdebar kencang, ngeri dengan ulah Pak Bambang tadi.


*****


Setengah jam berlalu, di dalam kamar mandi aku harap-harap cemas, memikirkan bagaimana caranya untuk menghindari Pak Bambang. Di lain sisi aku tak enak hati dengan Mbak Su, karena Pak Bambang merupakan teman lamanya dan juga pelanggan setia disini.


Perlahan ku buka pintu kamar mandi, lalu melangkah ke depan dengan hati-hati.


"Dek Erin, perutnya kenapa? sakit? kok lama sekali di kamar mandi?" tanya Mbak Su khawatir.


"Gapapa kok Mbak, ini sudah mendingan." aku menghembuskan nafas lega, karena ternyata Mbak Su tidak memarahiku yang terlalu lama di kamar mandi.


Sesampainya di depan, warung sudah lumayan ramai. Tiga dipan sudah ditempati beberapa kelompok pemuda. Aku mengedarkan pandanganku ke mereka, dua kelompok sudah menikmati minuman yang mereka pesan, tinggal satu kelompok lagi yang belum memesan. Aku pun mendekati mereka untuk mencatat pesanannya.


Tanpa sengaja aku menatap seseorang yang selama ini menarik perhatianku, Zahir, dia ada di antara mereka. Namun aku berusaha bersikap biasa, aku takut jika Zahir mengetahui perasaanku, dia tak akan datang kemari lagi.


Ketika aku memasuki warung untuk membuatkan pesanan mereka, pandanganku tertuju kepada Pak Bambang yang kini menatapku dengan kesal. Aku tersenyum sekilas, lalu menyibukkan diri membuat kopi, takut jika Pak Bambang nekat mendekatiku lagi.

__ADS_1


"Su....Su....." panggil Pak Bambang seraya berdiri, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Aku hanya melongo menatapnya, entah apa yang akan dikatakan oleh Pak Bambang pada Mbak Su. Aku tidak mau ambil pusing lagi dengan apapun yang dilakukannya selama itu tidak menggangguku.


Setelah pesanan siap, segera aku antarkan kepada Zahir dan teman-temannya. Kali ini dia datang bersama temannya yang lain, bukan bersama teman sekolahnya yang waktu itu pernah kemari.


Ku letakkan nampan berisi beberapa cangkir wedang kopi diatas dipan, lalu memberikan cangkir itu satu persatu ke mereka. Ku lirik Zahir sekilas, dia masih saja asyik dengan gadgetnya tiap kali kemari, tak pernah menghiraukan aku yang berharap bisa mengenalnya lebih jauh.


*****


Malam sudah hampir larut, namun dua orang pemuda masih tampak asyik mengobrol, meskipun dua cangkir kopi dihadapannya sudah ludes hanya menyisakan sedikit ampas.


Aku sudah menguap berkali-kali, berharap mereka tau bahwa aku sudah sangat mengantuk. Ku tengok pintu rumah, berharap Mbak Su keluar untuk mengusir halus dua orang ini, namun tak kunjung ku temukan bayangan Mbak Su di pelupuk mataku.


Ku utak atik ponsel bututku, berharap ada seseorang yang mengirimiku pesan. Namun ternyata tak ada seorang pun yang mengingatku. Harusnya aku sadar siapa diriku, orang yang sama sekali tidak pernah berkesan dalam hidup orang lain sehingga tidak mungkin mereka mengingatku. Bahkan mungkin mereka sudah melupakan aku.


Ku tengok jam tanganku, sudah pukul 22:15 Wib. Aku bergegas prepare untuk tutup warung, supaya jika mereka sudah pulang, aku tinggal menutupnya dan segera beristirahat. Hari ini aku lelah sekali, terlebih karna aku harus sport jantung menghadapi Pak Bambang dengan tingkah lakunya yang membuatku merinding kala ku mengingatnya. Hii serem.

__ADS_1


Rupanya melihatku sibuk berbenah, membuat dua orang pemuda tadi segera mengecek jam di ponselnya, keduanya pun membayar pesanan lalu pulang. Dengan cepat ku bereskan cangkir-cangkirnya dan mencucinya supaya besok perkerjaanku tidak menumpuk.


Dengan sekali hempasan, tubuhku sudah berbaring indah diatas kasur. Tak butuh waktu lama, aku sudah terlelap di alam mimpi.


__ADS_2