
Setelah pesanan sudah siap, aku segera mengantarkannya ke dipan sebelah pojok dimana Agus, Nanda, dan Toni berada.
Ku letakkan gelas demi gelas dengan hati-hati, takut gelas itu terguling karena permukaan dipan yang bercelah. Mataku melirik ke arah mereka secara bergantian, tampak Agus masih sibuk dengan ponselnya, Nanda asyik mengunyah kerupuk, dan Toni masih bertelvon ria sambil sesekali tersenyum-senyum sendiri.
"Silakan diminum ya," ucapku mempersilakan mereka.
"Jadi gimana Rin yang tadi?" tanya Nanda kembali mengungkit.
Aku mulai gelisah, tanpa sadar telapak tanganku sudah banjir keringat karena saat ini aku tengah gugup, bingung untuk menjawab pertanyaan Nanda tadi.
"Mmm...tadi apa sih emangnya Nan?" tanyaku berpura-pura lupa, seutas senyum aku lemparkan kepadanya.
"Yaelah pakek acara lupa segala," ujar Nanda seraya menepuk dahinya pelan "Ituloh...Zahir, gimana? kamu suka kan sama dia?".
Aku hanya terdiam, Aku melirik Agus yang ternyata juga sedang menatapku tajam, membuatku semakin tidak enak hati dengan topik ini.
"Apaan sih Nan itu mulu pertanyaanmu." seruku menghindar.
Terlihat Toni sudah mengakhiri percakapannya, lalu segera menyedot Es nya yang sudah agak mencair.
"Wah aku ketinggalan nih lagi ngobrolin apaan sih?" tanya Toni heran melihat ketegangan diantara kami.
"Ini nih si Erin suka ama Zahir," ujar Nanda menoleh kearah Toni, menyimpulkan sendiri jawaban dari pertanyaannya yang tak kunjung ku jawab.
"Apaan sih Nan, siapa juga yang suka ama Zahir, nggak kok. Aku cuma heran aja tumben dia gak ikut, biasannya kan dia selalu bareng ama kalian." seruku meyakinkan mereka. Aku takut jika mereka tahu perasaanku yang sesungguhnya, mereka akan menjahuiku dan tidak akan pernah datang kesini lagi.
"Masa sih? kok aku gak percaya," kata Nanda seraya menatapku dalam, seperti mencari jawaban didalam mataku. Reflek aku menundukkan kepalaku dan meremas tanganku yang semakin berkeringat.
"Udah Nan, gak usah paksa dia. Kalau dia gak mau jujur." ujar Agus yang kini membuang muka saat aku menatapnya, entah mengapa sikapnya berubah dan aneh.
Aku jadi gak enak hati dengan kecanggungan ini. Segera aku berpamitan untuk menemui pelanggan lain yang baru saja datang untuk mencatat pesanannya. Aku pun melangkah meninggalkan mereka dan bergabung dengan empat orang pemuda yang tidak aku kenal.
*****
"Aku balik duluan ya." ucap Agus kepada Nanda dan Toni.
__ADS_1
Aku memperhatikan mereka dari dipan sebelah utara, bertanya-tanya mengapa Agus pergi duluan dan tidak bareng mereka. Sikap Agus yang aneh semakin membuatku bingung.
Aku pun segera berpamitan kepada keempat pemuda yang aku temani saat ini untuk bergantian menemani yang lain lalu melangkah menghampiri Nanda dan juga Toni. Berbagai pertanyaan ada dibenakku tentang sikap Agus yang sama sekali tidak seperti biasanya.
"Eh Nan, Agus kenapa kok balik duluan?" tanyaku sesaat setelah mendudukkan bokongku diatas dipan, tepat disamping Nanda.
"Tau tuh katanya ada urusan mendadak." jawab Nanda sembari asyik mengunyah kerupuk yang entah bungkus ke berapa.
Aku mengeryit bingung dengan sikap Agus, biasanya dia yang paling cerewet dan selalu saja mempunyai bahan untuk diperbincangkan. Namun sikapnya berubah secara drastis setelah tadi kita membahas Zahir.
"Mungkinkah Agus marah sama aku, saat tau aku menyukai Zahir?" gumamku dalam hati.
"Kamu sih, tadi nanya Zahir melulu, jadi marah kan Agus," ujarku lirih.
"Emang kenapa dia harus marah Rin?" tanya Toni yang tidak mengerti arah pembicaraan antara aku dan Nanda "kenapa dengan Zahir?"
"Sudahlah gak usah dibahas lagi, Ton." kataku berharap mereka tidak lagi membahas ini.
"Udahlah kamu jujur aja ama kita Rin, kalo kamu suka ama Zahir, iya kan?" desak Nanda, dia begitu yakin akan dugaannya bahwa aku punya perasaan lebih kepada Zahir.
Aku tak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan mereka yang terus menerus mendesakku. Dahiku sudah basah oleh peluh dan segera aku usap sembarangan dengan punggung tanganku.
"Entahlah, aku tidak tahu apakah aku menyukainya atau tidak. Aku cuma kagum kok tidak lebih." jelasku kemudian, berharap mereka tidak mempertanyakan lagi.
"Apaan sih orang suka masih aja ngelak," gerutu Nanda tak terima dengan jawabanku "Aku tu yakin kalau tebakanku itu bener, kamu gak bisa bohongin aku Rin, aku tau itu dari matamu. Mata gak akan pernah bohong sekalipun kamu mati-matian menyangkalnya.
Aku menghela nafas pasrah, Nanda benar-benar tidak gampang untuk dibohongi. Sedangkan Toni terlihat asyik menyimak pembicaraan kami.
"Udah kamu jujur aja lah Rin ama kita, pasti kita bantuin kok, nanti lain kali aku ajak Zahir kemari." ucap Toni.
"Agus tadi kenapa sih? kok mendadak sikapnya aneh, padahal biasanya dia yang paling cerewet dari pada kalian." tanyaku heran.
"Entahlah Rin, mungkin dia cemburu kali tau kamu suka ama Zahir." ucap Nanda cuek.
"Lah, kenapa bisa gitu?" tanyaku lagi, tak mengerti dengan ucapan Nanda.
__ADS_1
"Masa kamu gak ngeh juga sih Rin ngeliat sikap Agus tadi." gerutu Nanda kesal.
Aku menggeleng. Reflek Nanda menepuk dahinya pelan melihat kepolosanku. Toni hanya tertawa menyaksikan perdebatan kami sambil mengunyah keripik singkong.
Tak lama kemudian Agus datang kembali, kali ini dia bersama Zahir dan langsung bergabung dengan kami.
Aku melongo tak percaya dengan apa yang aku lihat, kaget melihat orang yang sedari tadi kami bicarakan sudah duduk di antara kami. Aku menatap Agus meminta penjelasan, namun Agus segera memalingkan wajahnya. Lalu aku berpaling menatap Zahir yang sudah asyik mengobrol dengan Nanda dan Toni.
"Mau pesan apa?" tanyaku lirih, tak ingin mereka mendengar degub jantungku yang berpacu dengan kencang.
Zahir menoleh kearahku, sejenak kami beradu pandang tanpa mengucap sepatah katapun.
"Ehm..ehm..." Toni berdehem, mengagetkan kami yang langsung membuang muka kearah lain.
"Pesan es moccacino," ucap Zahir tanpa menoleh.
Aku pun segera beranjak meninggalkan mereka untuk membuatkan pesanan Zahir tanpa berkata apapun lagi.
*****
"Rin, kamu dicari sama Hendi tuh dia duduk di depan," ujar Sari menghampiriku ketika aku baru saja masuk kedalam warung untuk membuatkan pesanan Zahir tadi.
"Udah pesan belum Mbak?" tanyaku seraya mengambil bubuk Moccacino dan menuangnya kedalam gelas, lalu menambahkan sedikit air panas dari dispenser dan mengaduknya.
"Udah sih ini mau aku buatkan," jawab Sari seraya menyalakan kompor untuk merebus air dalam ceret.
Memang khusus untuk kopi, mbak Su menyuruh kami untuk merebus air terlebih dahulu, katanya kopi harus dibuat dengan air yang mendidih supaya nanti tidak membuat perut kembung.
"Yaudah loh kamu aja yang temani, Mbak. Aku masih ada sedikit urusan dengan cowok yang ada di pojok tadi." ucapku seraya mengambil beberapa bongkah es batu, lalu menuangkan air biasa sampai gelas terisi penuh.
"Tadi dia nyariin kamu sih, emang ada siapa sih di pojok sana, pacarmu ya?" tanya Sari sambil mengedipkan sebelah matanya menggodaku.
"Ihh... apaan sih Mbak orang aku gak punya pacar," ujarku berlalu meninggalkan Sari yang kini tertawa seakan-akan ada hal lucu.
Dadaku bergemuruh, membuat pikiranku sedikit tak karuan saat ku lihat wajah Zahir kini semakin dekat dalam pandanganku.
__ADS_1
*****