
"Jadi mana Mbak yang namanya Alex?" tanyaku pada Sari yang sedang meracik kopi disebelahku.
"Itu tuh yang pakai baju ijo, hadap ke utara." jawab Sari sambil menunjuk cowok bernama Alex yang duduk berlima di dipan yang terletak di dalam warung.
"Oh jadi itu toh Mbak pacarmu," kataku seraya manggut-manggut.
"Gimana keren kan pacarku, Sari gitu loch!" ujar Sari seraya menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.
"Ach masa sih, gantengan juga Zahir," ucapku seraya kabur dari hadapan Sari tanpa menghiraukan gerutuannya untuk mencuci gelas dan cangkir kotor.
*****
Dua cowok yang berboncengan itu segera turun dari motornya yang sudah terparkir. Aku yang belum ada pelanggan bergegas menghampiri mereka yang sudah duduk disalah satu dipan, lalu menanyai pesanan mereka lalu segera membuatkannya.
Setelah itu, aku bergabung kembali bersama mereka untuk mengantarkan pesanannya sekaligus menemani mereka mengobrol, karena itu juga bagian dari pekerjaanku, beramah tamah kepada siapapun yang datang agar mereka tidak kapok datang kemari.
"Diminum mas kopinya," kataku menawarkan sekedar berbasa-basi
"Nggeh mbak, sampean kok ayu (iya mbak, kamu kok cantik?)?" ujar cowok yang berbaju navy.
Aku hanya tersenyum malu menanggapinya. Aku memang belum terbiasa menerima pujian dari lawan jenis, terlebih lagi dari orang yang tak ku kenal sebelumnya. Walau tak jarang orang yang memujiku semenjak aku bekerja disini, namun itu tidak lantas membuatku percaya diri dan bangga, malah membuatku malu dan gugup di depan mereka.
"Bisa aja kamu Mas, orang aku biasa aja kok gak cantik," kataku merendah.
"Ach nggak kok bagiku kamu cantik," ujarnya tersenyum, "Kenalin aku Lukman, salam kenal ya," Lukman menyodorkan tangannya kearahku dan segera aku jabat.
"Aku Loverina, panggil aja Erin, salam kenal juga."
Dan itulah kali pertama aku berkenalan dengan Lukman, seseorang yang nantinya selalu ada untukku dan membuatku jatuh cinta, meskipun tak bisa membuatku melupakan perasaanku terhadap Zahir begitu saja.
Hingga tanpa sadar, aku sudah melakukan apa yang disarankan oleh Sari waktu itu, membuka hati untuk mereka yang menyukaiku, aku merasa nyaman saja menjalaninya, karena alasan utama aku melakukannya hanya karena pekerjaan ini, tak ada sekalipun niat untuk mempermainkan perasaan mereka.
__ADS_1
Namun tidak semua yang menyukai lantas aku jadikan pacar, hanya Lukman, Opi, dan Ryan saja yang aku terima menjadi pacarku itupun dengan berbagai pertimbangan. Tentu aku sudah memikirkan matang-matang sebelumnya bahwa nantinya tidak mungkin ada salah satu diantara mereka yang menjadi pacarku sesungguhnya meskipun aku menyukai mereka, karena selepas aku keluar dari pekerjaan ini dan kembali ke kotaku, aku tak akan pernah bertemu mereka lagi dan itu artinya hubungan ini juga akan berakhir dengan sendirinya.
Dan Zahir, dia masih mendapat tempat spesial dihatiku karena dialah yang pertama kali membuat jantungku berdebar kala ku memikirkannya. Namun sejauh ini, hubungan kami hanyalah hubungan tanpa status. Meski begitu, aku tidak pernah bisa membencinya yang tak kunjung memberikan kejelasan hubungan kami, karena bagaimanapun juga aku tidak bisa memaksanya untuk menyukaiku juga seperti aku menyukainya.
Aku sudah cukup bahagia hanya dengan mencintainya, membalas pesan ataupun telvonnya, meskipun akhirnya aku harus membawa pergi cinta itu dan menguburnya dalam-dalam.
*****
Tak terasa bulan puasa sudah hampir berakhir. Lima hari lagi aku dan Sari akan pulang kembali ke kota masing-masing. Aku sudah tidak sabar untuk pulang dan bertemu dengan keluargaku. Meskipun dadaku kembali sesak saat mengingat luka yang berusaha aku pendam selama tiga bulan ini.
"apakah mereka juga merindukanku?" batinku dalam hati.
Kami sama sekali tak pernah bertukar kabar, karena orang tuaku tak mempunyai telepon genggam. Jauh dilubuk hatiku ada kerinduan yang mendalam saat mengingat mereka, namun kenangan hari itu, dimana aku harus terusir dengan tidak hormat dari sekolah lalu dipaksa bekerja ditempat ini, membuatku sedih, frustasi, dan kecewa.
Aku selalu saja menangis kala teringat akan kenangan itu, kenangan yang tak pernah bisa aku lupakan dan tanpa ku sadari kenangan itulah yang akhirnya menghancurkan hidupku.
*****
"Iya Hen,"
"Kenapa, kok gak balik lagi kesini? nanti aku gak punya temen lagi donk, gak asyik kamu mah," seru Hendi mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Aku ingin cari kerjaan lain yang lebih baik dari ini Hen," ujarku lirih.
"Gampang nanti aku carikan kerjaan lain tapi kamu kerja dikota sini aja jangan pulang ke kotamu,"
"Gak bisa Hen, maafin aku ya. Aku gak bakalan lupain kamu kog, kan kamu temen terbaikku." bujukku agar Hendi tidak merasa sedih karena setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi.
"Yaudahlah mau gimana lagi, semoga itu yang terbaik buat kamu Rin," ucap Hendi seraya menepuk bahuku lembut.
"Makasih ya Hen, kamu udah mau jadi temenku," ucapku tersenyum.
__ADS_1
"Aku pasti gak bakalan lupain kamu Rin, kamu itu asyik orangnya, supel, ramah, makanya aku suka temenan ama kamu." puji Hendi menantapku lama
"Apakah selama ini Hendi juga menaruh perasaan kepadaku?" tanyaku dalam hati
*****
"Kamu kok tega sih ninggalin aku?" ucap Lukmann murung.
"Maafin aku...tapi aku harus pulang." ucapku lirih, tak ingin membuatnya semakin sedih.
"ya tapi kenapa gak balik lagi kesini? trus aku gimana donk? gimana dengan hubungan kita Rin?" tanya Lukman dengan mata berkaca-kaca. Ia tak pernah membayangkan hubungan nya akan berakhir secepat ini.
"Maaf...." hanya itu yang bisa ku ucapkan, tak tahu harus bagaimana lagi agar Lukman bisa mengerti.
"Kamu tega banget ninggalin aku Rin, padahal baru sebentar saja hubungan ini terjalin, secepat ini pula berakhir. aku gak bisa kalau harus ngelupain kamu,"
"Man, ada pertemuan pasti akan ada perpisahan, yakin jika kita berjodoh, pasti kita akan bertemu kembali." ucapku menenangkannya.
*****
"Kamu benar akan pulang?" tanya Zahir, kali ini dia memutuskan untuk langsung datang menemuiku, tidaj seperti biasanya yang hanya berkomunikasi lewat sms.
"Iyaa...," jawabku lirih seraya menunduk, tak kuasa menatap Zahir yang sampai saat ini masih mengisi hatiku.
"Mmm... hati-hati ya, jaga diri baik-baik selama disana." ujarnya lagi, menatap mataku dengan lekat.
"Pasti... kamu juga hati-hati, maaf kalau aku ada salah sama kamu." kali ini aku beranikan diri membalas tatapannya.
Sejenak mata kami beradu pandang, berusaha mencari setitik rasa yang tersirat, namun ku tersadar dan segera memalingkan wajahku kearah lain, menyembunyikan pipiku yang kini merona malu.
Tak lama kemudian Zahirpun pamit, meninggalkan aku yang hanya bisa menatap kepergiannya dengan sendu, tanpa bisa lagi menggapai anganku untuk bisa bersamanya.
__ADS_1