
Tak terasa, sudah sebulan aku bekerja menjadi pelayan di warung kopi milik Mbak Su. Hari ini aku akan menerima gaji pertamaku, rasanya bahagia sekali. Mungkin inilah hari yang paling membahagiakan bagi semua orang, menanti buah dari kerja kerasnya membanting tulang dari pagi hingga malam, meninggalkan orang-orang yang dicintai demi bisa mencukupi segala kebutuhan.
Meskipun dalam hatiku sebenarnya tidak menyukai pekerjaan ini, yang menuntutku harus selalu tersenyum dihadapan lelaki, menemani mengobrol, merayu agar nantinya mau datang kesini lagi, dan segala ketidak nyamanan itu aku lawan hanya karena aku tidak punya pilihan lain selain menjalaninya.
Beruntung, semua pelanggan yang datang kemari sangat sopan, tidak ada yang melecehkan atau memandang rendah diriku yang hanya seorang pelayan warung kopi. Hanya beberapa orang saja yang berusaha menggodaku dengan genit, membuatku ingin sekali menggampar wajahnya, apalagi jika itu pria yang sudah paruh baya. Namun semua itu hanya ada dalam pikiranku saja karena aku tak mungkin berani melakukannya.
Kalau aku merasa tidak nyaman, aku selalu meninggalkan pelanggan itu untuk menemani yang lainnya sampai orang itu merasa kesal lalu pulang dan tak pernah kemari lagi. Biarlah aku kehilangan pelanggan, tak pantas untukku meladeni orang semacam itu, karena masih banyak pelanggan lain yang lebih sopan dan baik terhadapku.
"Dek Erin, ini gajimu bulan ini" Mbak Su muncul dari balik pintu seraya menyerahkan sebuah amplop, mengagetkanku yang sedari tadi melamun.
"Makasih ya Mbak" ucapku menerima amplop itu. Aku segera menaruhnya ke dalam tas di kamarku, lalu kembali duduk di kursi dalam warung, siang ini masih sepi jadi aku bisa sedikit bersantai.
"Tumben sepi yo Mbak?" tanyaku pada Mbak Su yang sedang sibuk meracik kopi untuk Pak Imam.
__ADS_1
"Iya wes biasa Rin jam segini kan orang masih pada kerja, bentar lagi juga rame," ucap Mbak Su seraya menuang air panas kedalam cangkir, mengaduknya sebentar, lalu membawanya masuk kedalam rumah.
Aku melirik ponselku yang tergeletak di atas meja, mengambilnya, dan mengutak atiknya. Tidak ada pesan masuk sama sekali. Pastilah semua orang masih sibuk bersekolah ataupun bekerja, hanya aku yang merasakan kebosanan seperti ini.
Tiba-tiba sebuah motor matic berwarna merah berbelok memasuki halaman samping warung, aku segera menaruh ponselku di etalase, kemudian berpura-pura sibuk membersihkan etalase menggunakan lap.
Seorang lelaki paruh baya melangkah memasuki warung. Badanya gemuk dan bertubuh pendek, dengan kacamata bulat bertengger diatas hidungnya. Ia melepas topinya lalu duduk di salah satu kursi didalam warung sembari mengipasi wajahnya menggunakan tangan.
Mbak Su datang dengan tertawa girang menyapa laki-laki itu, membuatku mengernyit, namun aku masih berpura-pura mengelap etalase yang sebenarnya sudah bersih.
"Ach biasa...sibuk dengan pekerjaan hehehe." ujar Pak Bambang terkekeh.
"Bilang saja Pak Bambang patah hati ditinggal sama Rini, ya toh?" seru Mbak Su.
__ADS_1
Pak Bambang malah tertawa menanggapinya. "Bisa aja kamu Su, mana pelayanmu?" tanya Pak Bambang mengedarkan pandangannya, lalu menatap kearahku yang terdiam di dekat etalase.
"Oh iya lupa belum ngenalin anakku yang baru hehe sampai lupa, dijamin Pak Bambang akan menyukainya, Rini mah lewat. Erin, sini Nduk kenalin ini pak Bambang." Mbak Su melambaikan tanganya ke arahku, membuatku mau tak mau harus mendekat.
"Pak Bambang kenalin, ini Erin gantinya Rini. Erin, ini Pak Bambang, dia pelanggan setia disini. Ayo donk kenalan." ujar Mbak Su seraya meraih tanganku dan menyodorkannya kearah Pak Bambang yang sedari tadi menatapku dengan pandangan yang sulit ku artikan.
"Cantik juga anakmu Su," ucap Pak Bambang mengengam tanganku yang tadi terulur, membuatku merasa tak nyaman.
"Aku harus berhati-hati dengan laki-laki ini." gumamku dalam hati.
"Dek Erin, buatkan aku segelas es kukumacan ya, aku haus," ucap Pak Bambang dengan manja, mengelus tanganku yang masih Ia genggam dengan jarinya.
Aku segera menarik tanganku, ngeri dengan apa yang dilakukan olehnya jika aku tetap membiarkannya. Belum apa-apa Laki-laki itu sudah berani bertindak kurang ajar kepadaku, didepan Mbak Su pula. Apa yang bisa Ia lakukan jika Mbak Su tidak ada disini.
__ADS_1
"Ach...,kenapa aku harus bertemu dengan orang ini sih," gerutuku dalam hati.