
Namaku Loverina Anjani, anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Rudi dan Ibu Minari. Mbak Leli sudah menikah dan sudah punya anak, sedangkan adikku bernama Fajar masih duduk di bangku SD.
Keluarga ku hidup sederhana dan terbilang jauh dari kata harmonis. Bagaimana tidak, kami bahkan tidak pernah menghabiskan waktu bersama sekedar menonton tv atau makan bersama. Sekedar duduk-duduk bersama untuk mengobrol pun tak pernah kami lakukan, sehingga tidak tahu bagaimana cara untuk saling menyayangi.
Jika kami tak sengaja berkumpul, maka keadaan pasti akan terasa canggung atau hanya terlewat dalam diam, sampai salah satu dari kami memilih pergi jika dirasa tidak ada suatu hal penting untuk dibicarakan.
Terkadang aku merasa iri melihat teman-temanku, punya keluarga yang begitu hangat. Aku malah merasa betah jika main dirumah temanku daripada rumahku sendiri.
Aku selalu berfikir, apa yang salah dengan keluargaku?. Aku punya mereka, tapi seperti tidak punya siapa-siapa. Apa ini yang namanya sebuah keluarga? Hubunganku dengan Ibupun sudah lama merenggang. Tapi semua itu bukanlah inginku, karena jauh dalam lubuk hatiku, aku merindukan belaian kasih Ibu.
Ibu sangat cerewet dalam segala hal, bahkan tak jarang kata-katanya membuatku sakit hati. Ibu juga tidak begitu memperdulikanku. Ia tak pernah memenuhi kebutuhanku yang seharusnya mulai dia perhatikan seiring pertumbuhanku. Pernah aku meminta dibelikan bra karena perubahan ditubuh seiring bertambahnya usiaku, tapi tak kunjung dibelikan. Jadi terpaksa aku hanya bisa mengenakan miniset bekas kakakku.
Memasuki jenjang SMP, Aku masih tidak mengenal yang namanya handbody atau skincare lainnya. Jangankan membelinya, uang jajan saja tidak setiap hari aku terima meskipun aku berangkat sekolah mengayuh sepeda kurang lebih sejauh 7 KM untuk sampai di sekolah. Aku tidak pernah bisa menabung untuk membeli keperluanku sendiri, karena aku tidak pernah sarapan di rumah sehingga uang jajanku selalu habis untuk membeli sarapan di Kantin. Walau begitu aku tetap bersemangat demi bisa bersekolah mengejar cita-citaku untuk jadi orang yang sukses.
Pernah suatu ketika sanak saudara memberiku sejumlah uang, namun selalu saja uang itu di pinjam Ibu dan tak pernah Ia kembalikan. Padahal saat itu aku sudah berencana membeli keperluanku yang selama ini tidak diberikan Ibu. Namun aku tak kuasa, aku tidak berani mengungkitnya di depan Ibu.
Berbeda dari Ibu, dari dulu Bapak memang sangat misterius, Ia jarang bicara jika tidak perlu. Sikapnya sangat dingin, dan terkesan tak acuh. Tentulah aku tidak terlalu berharap perhatian darinya.
Apalagi Mbak Lili, dia tidak pernah perduli denganku, dan terkesan menjaga jarak denganku dari kecil. Entahlah, apa yang salah di keluargaku. Apa salahku sehingga keluargaku tidak pernah memperdulikanku.
Hanya Nadin dan Rista lah tempatku berkeluh kesah, merekalah saksi bagaimana buruknya hubungan keluargaku, yang seharusnya sebuah keluarga terjalin dengan kasih sayang.
Aku sangat iri dengan mereka, yang punya keluarga saling menyayangi satu sama lain. Jika aku boleh memilih, aku tak ingin terlahir menjadi bagian dari keluarga ini.
*****
Cahaya matahari pagi menerobos mamasuki ventilasi kamar, membuat tidurku terusik. Ku raih Hp nokia jadulku, sudah jam 6 pagi. Aku memandang sekeliling kamar, lalu teringat bahwa aku sekarang tidak berada di kamarku melainkan di rumah Pak Imam.
Aku segera bangkit meraih handuk usangku yang tergantung di sudut kamar. Aku segera mandi dan bersiap diri karena ini hari pertamaku bekerja jadi pelayan di warung kopi. Ach, aku tidak pernah menyangka ini akan terjadi padaku.
Setelah mandi aku segera ke depan mencari Mbak Su. Ku lihat Mbak Su sedang menyapu di halaman rumah.
"Dek Erin sudah bangun?" tanya Mbak Su sambil menghentikan aktifitasnya. "Sana, sarapan dulu baru setelah itu kemari, akan aku ajarkan bagaimana bekerja disini."
__ADS_1
Aku pun menurut dan beranjak menuju ke dapur. Ku buka tudung saji di meja makan lalu mengambil piring serta menyendokkan nasi ke piringku. Hari ini menunya oseng ati ampela dan sayur asem. Aku segera menghabisakan makananku karena aku tidak mau Mbak Su menunggu lama.
Setelah makan aku mencuci piring bekas makanku dan segera kembali ke depan. Ku lihat disana sudah ada beberapa orang yang datang. Ku lihat pakaiannya serba rapi dengan celana kulot hitam, kemeja, dan dasi, yang akhirnya ku tau mereka adalah karyawan Bank Pokemon di sebelah barat warung ini.
Aku segera menghampiri Mbak Su yang sedang mengaduk secangkir kopi lalu memberikannya kepada lelaki itu.
"Anak baru ya Mbak?" tanya lelaki itu yang tersenyum menatapku. Aku hanya tertunduk malu seraya membantu Mbak Su mengaduk dua cangkir kopi.
"Iya mas Rian... si Ani mau menikah jadi gak bisa bekerja disini lagi," kata Mbak Su seraya membawa nampan berisi dua cangkir kopi.
"Biar aku saja Mbak," kataku mengambil alih nampan.
"Baiklah, berikan pada dua pemuda yang duduk di depan ya, yang pakai kaos hitam dan hijau."
Aku segera membawa cangkir itu kedepan. Ku lihat dua orang pemuda yang ku perkirakan berumur dua tahun di atasku sedang duduk santai sambil menghisap rokoknya.
Ku tarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, mengusir rasa grogi yang kini membuat tanganku bergetar. Ini pertama kalinya aku bergaul dengan laki-laki, karena selama ini aku tidak pernah dekat dengan laki-laki. Dan kini aku bekerja di tempat dimana laki-laki sering menghabiskan waktu senggangnya.
"Monggo mas." ucapku tersenyum sambil menatap mereka sekilas. Aku segera berbalik ketika ku rasakan sebuah tangan menarik tanganku.
"Eh... Cantik siapa namamu?"
Ku lihat pemuda berkaos hitam itu memegang tanganku sembari tersenyum. Aku menatapnya dengan Risih.
"Erin....Panggil saja Erin." Aku berusaha tersenyum walaupun hatiku berkecamuk. Aku tidak pede berhadapan dengan seorang lelaki apalagi orang yang tidak ku kenal.
"Aku Aris, salam kenal ya," katanya seraya mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku segera menjabat tangannya dengan canggung. Jantungku berpacu dengan keras sehingga aku merasa bisa mendengar debarannya. Tak terasa tanganku berkeringat.
"Aku Nobel," kini giliran pemuda berkaos hijau itu yang mengulurkan tangannya. Aku balas menjabatnya lalu berpamitan ke dalam untuk mengembalikan nampan. Mereka tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Baru dua orang pemuda, tapi aku rasanya sudah mau mati. Padahal cuma menemani mereka ngobrol saja, karena selama ini aku tidak terbiasa sedekat ini dengan laki-laki. Tapi mulai saat ini aku harus membiasakan diri. Bagaimana juga sekarang ini jadi pekerjaanku.
__ADS_1
Aku menaruh kembali nampan itu diatas meja disamping etalase minuman.
"Erin sini deh yuk duduk sini dulu," Mbak Su memanggilku untuk bergabung dengannya yang tengah duduk di kursi bersebelahan dengan Mas Rian.
Aku pun segera menghampiri mereka lalu mengambil tempat duduk di samping Mbak Su. Aku menatap Mas Rian yang juga sedang menatapku, lalu ku tundukkan kepalaku karena merasa malu.
"Erin, hari ini kamu membantu Mbak mengantarkan kopi, biar Mbak saja yang buat kopinya. Dan juga kamu temani semua pelanggan ya. Ajak mereka ngobrol bergantian biar adil. Jangan sampai membuat pelanggan kecewa karena nanti mereka tidak mau balik lagi kesini dan warung jadi sepi,"
"Iya Mbak,"
"Temani Mas Riyan ya, setelah itu gantian temani pelanggan yang di depan. Mbak mau ke belakang dulu. Kalau ada pelanggan baru, panggil saja mbak."
Aku pun mengangguk menatap Mbak Su yang kini menghilang di balik pintu. Suasana jadi semakin canggung. Aku memilin2 ujung kaosku dengan gelisah.
"Erin aslinya tinggal dimana?" tanya Mas Rian mencairkan suasana.
"Kota Ledre Mas."
"Owalah, deket juga. Kog bisa kerja disini?" tanya Mas Rian seraya menyeruput wedang kopinya.
"Pak Imam datang ke Kotaku mencari karyawan dan bertemu dengan tetanggaku. Lalu Ia bilang ke Ibuku dan akhirnya disinilah aku sekarang."
"Apa kamu udah gak sekolah? kamu terlihat seperti anak yang masih sekolah. Kog udah kerja sih." Mas Rian kembali bertanya, mungkin Ia heran dan penasaran melihat seorang gadis kecil jadi pelayan di sebuah warung kopi.
"Sebenarnya aku masih kelas satu SMK, tapi Orang tuaku udah gak bisa membiayai sekolahku Mas, jadi aku terpaksa bekerja. Itupun karena Ibuku yang memaksaku bekerja disini. Kalau tidak, tak mungkin aku berada disini sekarang." mataku kembali menerawang, teringat kejadian waktu itu saat aku berselisih dengan Ibu.
"Oh jadi gitu, Yaudah kamu jalani saja dulu. Kerja disini gak terlalu buruk kok. Yang penting kamu harus bisa jaga diri. Masa depanmu masih panjang."
"Iya Mas, aku ke depan dulu ya Mas." kataku seraya bangkit dari dudukku, karena aku harus gantian menemani dua orang pelanggan di depan.
"Oke, Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Aku bekerja di Bank Pokemon sebelah situ kok jadi aku bisa sering-sering kesini." Mas Rian tersenyum lalu kembali menyeruput kopinya yang tingal sedikit.
Aku segera beranjak ke depan, menghela nafas sejenak, lalu menemui mereka dengan senyuman yang tersungging di wajahku karena pekerjaan ini tidak seburuk yang ada dalam bayanganku.
__ADS_1