Pinang Aku Dengan Keimanan Mu

Pinang Aku Dengan Keimanan Mu
Salah paham.


__ADS_3

Sementara itu d sebuah perusahaan ternama Devan duduk d bangku singgasana nya.


Ia terlihat sangat fokus membalik satu persatu dokumen yg ada d hadapan nya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat fokus nya teralihkan, dan sekretaris nya masuk setelah ia mempersilahkan.


"Maaf pak, mas Dion Bimantara ingin bertemu"


Devan mengernyit, untuk apa Dion kesini??? Bukan nya tidak ada hal yg harus di bahas mengenai perusahaan.


"Ya sudah, persilahkan dia masuk"


Sekretaris Dion mengangguk dan keluar.


Tak lama Dion masuk dengan wajah yg tidak bisa d baca.


"Silahkan duduk Dion, ada angin apa yg membuat mu ingin bertemu??? Apa ada masalah???"


"Ya, ada sedikit masalah "


"Apa itu??? Apa tentang surat kontrak???"


"Bukan, tapi ini masalah pribadi. Dan maaf aku membicarakan nya di sini, karena jika drumah aku takut akan ada peperangan antara kamu dan istri mu"


Devan bingung dengan semua perkataan Dion, sedikit pun ia tak mengerti.


"Maaf Dion, aku benar benar tak mengerti maksud mu. Bisa kau jelaskan???"


"Devan, apa kau benar-benar ingin berpoligami???"


Lagi lagi pertanyaan Dion menambah kebingungan Devan.. Apa Dion akan mengenalkan seseorang kepada nya??


"Sedikit pun aku tidak berniat menduakan istri ku, mendapatkan nya saja sudah setengah mati. Dan sekarang aku ingin menduakan nya??? Itu sesuatu yg tidak mungkin dan tak akan pernah"


Kali ini Dion yg mengernyit bingung.


"Lalu untuk apa kau meminta nomor telepon dan memberikan Syanum ponsel mahal ini???"


Dion meletak kan paper bag di atas meja kerja Devan.


"Astaghfirullah" Devan menyugar rambut dengan kedua tangan nya.


"Kamu salah paham Dion, aku memang meminta nomor sepupu mu itu. Tapi bukan untuk ku"


"Lalu???"


"Kau ingat sepupu ku waktu kita d cafe tempo hari???"


Dion tampak berfikir dan ia sudah mengetahui jawaban atas pertanyaan nya. "Jadi???"


Devan mengangguk dan tersenyum..


"Ya , untuk dia. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sepupu mu itu"


"Oh , maaf kan aku Devan.. Aku pikir kau yg merayu Syanum dan ingin menjadi kan nya istri kedua"


Dion pun tak habis pikir dengan pikiran bodoh nya..


"Tidak apa apa Dion, aku juga akan berpikir sama jika aku berada d posisi mu"


"Lalu dimana sepupu mu itu???"


"Hah" Devan menghela nafas berat dan menyandar kan punggung nya d kursi.


"Dia sekarang berada d Jepang, tempat asal nya. Aku tidak tau harus bercerita dari mana, tapi aku rasa mereka tidak akan bersatu" ucap Devan lirih.


"Kenapa bisa kau berpikir seperti itu???"


"Kita dan dia berbeda Dion"


"Apa yg membuat kita berbeda??? Tahta???"


Devan menggeleng.


"Agama"


Dion terdiam,,


"Jadi bagaimana menurut mu??? Aku ingin yg terbaik untuk sepupu ku" tanya Dion ingin mendengar pendapat Devan.


"Kita lihat saja jika mereka berjodoh maka Keano akan berusaha kembali"


Lagi lagi Dion diam tak mengerti.


"Memang nya dia kemana??? Apa begitu sulit untuk kembali kesini??"


"Ya, sangat sulit.. Karena jika selamat dari maut, maka ia akan kembali kesini tapi jika ia tak selamat maka ku rasa dia bukan jodoh adik mu"


"Aku tak mengerti "


"Susah untuk ku jelaskan Dion, yg penting semua nya berurusan dengan maut dan kelompok mafia.. Maaf aku hanya bisa memberikan mu sedikit informasi ini.. Ku harap kau mengerti "


"Baiklah jika begitu Devan,, aku minta maaf atas ke salah pahaman ini"


Devan mengangguk.


"Lebih baik , kau berikan lagi ponsel ini kepada Syanum. Karena harga ponsel ini sangat mahal"


Devan tergelak..


"Aku bisa membelikan lebih mahal dari ini" gerutu Dion.


"Kau tidak tau saja Dion, dia harus mengeluarkan uang sepuluh kali lipat demi mendapatkan ponsel ini"


"Maksud mu??"


"Ya, karena istri ku yg mengantar nya, bahkan istri ku memborong satu toko karena telah membantu Keano memilih satu ponsel. Lebih ke perjuangan nya lah"

__ADS_1


"Haha, aku jadi ingin melihat wajah sepupu mu itu saat menemani wanita belanja"


"Aku mendengar nya mengomel semalaman, karena kaki nya sakit saat ikut ber keliling "


"Baiklah Devan, aku pergi dulu. Sampaikan salam ku untuk sepupu dan istri mu. Aku menunggu kabar baik yg akan kau berikan "


.


.


Dion meletakkan paper bag atas meja belajar Syanum d dalam kamar.


Syanum yg sedari tadi fokus dengan buku bacaan nya mendongak melihat Dion.


Sebenarnya Syanum sedikit risih berada di rumah ini. Apalagi dengan Dion. Ia seenak nya saja keluar masuk kamar Syanum tanpa meminta izin..


Tidak ada yg salah karena ini adalah rumah nya,, tapi Syanum merasa tidak punya privasi sama sekali..


Bahkan Syanum selalu memakai niqab nya dalam kamar,, kecuali jika pintu kamar sudah ia kunci..


Lagipula orang orang drumah ini seperti menganggap hal ini suatu hal yg biasa mereka lakukan.


"Kok ada disini mas???"


"Katanya aku harus memberikan nya padamu"


"Tapi aku tidak ingin menjadi orang ke tiga dalam rumah tangga mereka mas"


"Tidak akan, karena yg memberi mu hadiah ini bukan Devan"


Syanum hanya diam...


"Seseorang yg kamu maksud itu yg pernah bertemu kita d cafe kan??" tanya Dion.


Syanum mengangguk..


"Yang pakai baju biru atau hitam???"


Syanum mencoba mengingat..


"Seperti nya baju hitam mas"


"Yang matanya sipit??"


Syanum mengangguk..


"Dia adalah Keano, berasal dari Jepang.. Saat ini ia di Jepang karena ada urusan keluarga. Dan seperti nya banyak rintangan yang akan kamu hadapi jika Kamu menyukai nya num"


"Maksud mas???"


Dion melangkah ke arah ranjang Syanum dan duduk di sana.


Sedangkan Syanum hanya memutar badan agar bisa melihat Dion.


"Dia non muslim, sedang kan kamu muslim yg taat"


Lagi lagi Syanum diam tak bisa berkomentar..


Syanum menunduk..


"Tapi jika kamu bisa membuat nya pindah ke agama kita maka itu akan lebih baik..Sangat besar pahalamu Num"


"Tapi aku ingin dia pindah agama karena Allah mas, bukan karena aku "


"Nah maka dari itu, kamu bisa mengenalkan Allah kepada nya,, agar hati nya tersentuh dan bisa memeluk Islam "


"Apa bisa mas???"


"Gak ada yg gak mungkin num, jika Allah sudah berkehendak. Allah yg maha membolak balik kan hati manusia"


Dion bangkit dan berlalu dari hadapan Syanum. Sedangkan Syanum hanya diam seraya menunduk.


Tidak tau apa yg akan ia lakukan setelah ini..


Dion kembali dan membuka pintu..


"Num, katanya dia ingin kamu menghubungi nya,, nomor nya sudah d simpan dalam ponsel itu. Tinggal kamu aktifkan"


Syanum mengangguk..


Ia mengeluarkan ponsel itu dari kotak , mencoba mengaktifkan dan memencet nomor yg satu satu nya ada tersimpan..


"Suami"


Satu kata yg membuat Syanum tersipu malu.. Ia ragu saat akan memencet tombol panggil.


Tapi jika say hello saja tidak masalah bukan??? Lagian aku hanya ingin mengembalikan ponsel ini...


Di balik pintu, Dion terdiam meresapi sakit yg terasa di sudut hati nya..


Ia sudah menyerah sebelum berjuang.


Saat melihat gerak tubuh Syanum tadi ia bisa memastikan jika Syanum juga menyukai Keano..


Kenapa Syanum harus lahir dari rahim mantan istri pertama papa nya???


Memang tidak salah, dan mereka sah sah saja menikah.. Tapi seperti nya Syanum hanya menganggap nya kakak..


Ahh Keano....


Jika kau tak bisa membahagiakan Syanum,, aku yg akan menjadi orang pertama membunuh mu...


Dion pergi menuju kamar nya dengan langkah gontai..


.


.


Drrt..

__ADS_1


Ponsel yg sedari tadi d tangan nya bergetar, Keano melotot melihat nama yg tertera di layar.


"Yomesan calling" ( istri)


"Hallo" ucap Keano bersemangat.


Sengaja Syanum tidak memberi salam, karena ia sudah tau jika Keano non muslim.


"Maaf jika menganggu"


"Tidak, tidak menganggu sama sekali. Kenapa menelpon?? Apa kau merindukanku?"


"Tidak.." Jawab Syanum tegas..


"Apa maksud mas membuat nama mu d sini Suami???"


"Ya karena kamu adalah calon istri masa depan ku"


BLUSH... Pipi Syanum memerah.. Ia tersipu malu..


"Maaf, aku menelpon karena ingin mengembalikan ponsel ini. Aku sudah memiliki ponsel, jadi kurasa tidak memerlukan nya lagi"


"Jangan d kembalikan, karena aku sudah memberikan nya sebagai hadiah.."


"Hadiah perpisahan???" tanya Syanum lirih.


"Bukan, itu adalah hadiah untuk pertemuan kita"


"Tapi kata mas Dion mas sedang d Jepang "


Keano menyenderkan punggung nya d Sandaran sofa yg ia duduki..


"Ya, aku memiliki sedikit urusan penting".


" Semoga urusan mas bisa secepatnya selesai, agar kita bisa bertemu lagi"


Syanum menepuk nepuk pelan mulut nya yg terlanjur berucap, ia bahkan menganggap dirinya seperti wanita murah an. Lalu ia menyebut istighfar.


"Maaf mas, maksud ku..."


Punggung Keano yg tadi nya lemas menjadi bersemangat.


"Kamu tau jika janji adalah hutang bukan??? Saat ini aku berjanji padamu bahwa aku akan kembali.. Dan saat itu bersiap lah karena aku akan melamar mu"


"Hah ??? Maksud mas???"


"Ya, aku akan menikahi mu"


"Jika aku tak mau???"


"Maka aku akan memaksa dengan cara ku agar jawaban mu adalah YA"


"Kamu sangat pemaksa" Syanum memainkan jari nya di atas paha sambil tersipu..


"Ya ,, kata kata ku adalah apa yg akan ku lakukan "


"Mmmm..." Syanum tak bisa lagi menjawab, ia kalah telak.. Tapi sisi hati nya sedikit berbunga.. Siapa yg tidak akan terpesona dengan pria tampan yg sedang mengobrol dengan nya saat ini..


Pria tampan d segala sisi.. Tidak ada celah..


"Kamu pernah mendengar Cinta pada pandangan pertama???"


"Ya, lalu??"


"Kamu percaya???"


"Mmmm,, tidak begitu percaya. Biasa nya hanya pria gombal yg sering mengatakan nya"


"Bagaimana jika pria itu belum pernah terlibat kisah cinta???"


"Tidak mungkin"


"Tidak ada yg tidak mungkin, kamu tau??? Kamu yg pertama dan satu satu nya mendapat cinta itu"


Syanum seakan melayang d udara...


"Mm sudah dulu ya mas,, nanti kita sambung lagi.."


"Baiklah.. Tapi jangan pernah hubungi aku, sebelum aku menghubungi mu"


"Kenapa???"


"Karena aku percaya jika kamu akan mengikuti nya. I love you Syanum"..


Tut Tut Tut.


Senyum Keano terkembang dengan lebar...


"Sudah lebih baik???" Leo yg sedari tadi mendengar percakapan mereka mencebikkan bibir nya..


Pria yg patah hati ini tidak mau dan tidak akan memulai kisah percintaan.. Cinta nya tidak bisa pindah dari Haruka,, walau begitu banyak wanita yg mendekat tapi tak menyurutkan niat nya untuk selamanya sendiri..


Keano menoleh ke arah Leo dan mengangguk..


"Kau harus merasakan jatuh cinta paman" ucap Keano dengan senyum mengejek.


"Sudah, dan tak akan lagi"


Keano mencebik.


"Bersiaplah Keano,, kau harus menepati janji mu yg akan kembali ke Indonesia. Kau juga bilang jika janji adalah hutang bukan??? Dan asal kau tau, dalam kelompok kita, tidak pernah mengingkari janji"


Setelah Leo mengatakan itu , ia melangkah menuju pintu. Kemudian dia berbalik dan menatap Keano.


"Matikan ponsel mu, aku tak ingin ada yg menganggu konsentrasi mu"


Keano mengangguk malas dan akhirnya mengikuti langkah Leo..


.

__ADS_1


.


__ADS_2