Pinang Aku Dengan Keimanan Mu

Pinang Aku Dengan Keimanan Mu
Rasa syukur


__ADS_3

Setelah sarapan pagi itu, Syanum langsung bersiap untuk ke kota.


Saat ini Rafael dan Zefa sudah duduk d ruang tamu minimalis rumah Gandi. Beberapa pengawal beserta supir menunggu d halaman.


Mereka kesini ingin menjemput Syanum, yg katanya akan pergi bersama mereka.


"Maaf, rumah kami sempit" Gandi memulai pembicaraan.


"Tidak, rumah ini sangat nyaman menurut saya" balas Rafael.


"Sebelumnya saya minta maaf tentang kejadian masa lalu" Friska menunduk kan pandangan.Ia tak ingin menatap Rafael yg sekarang bukan lagi muhrim untuk nya.


"Saya sudah memaafkan dan menutup semua kisah masa lalu"


"Terimakasih masih mengingat saya"


"Saya tidak akan mengambil apa yg bukan menjadi hak saya Fris, karena semua itu adalah hak mu "


Friska mengangguk.


"Tolong jaga anak kami Zefa,, saya percaya dengan mu" Ucap Friska dengan mata berembun.


"Pasti mbak, mbak bisa pegang kepercayaan itu. Aku akan menganggap Syanum sebagai anak ku sendiri. Kalau mbak rindu, mbak bisa datang ke rumah kami"


Friska menggeleng, air mata yg ia tahan akhirnya keluar. Ia sangat takut jika kembali ke kota itu,, penuh dengan cerita yg kelam.. Dan Rafael tau apa yg dipikirkan oleh Friska.


"Kamu tidak usah mengkhawatirkan Irene lagi, perusahaan nya sudah bangkrut dan ia tidak tinggal d negara ini lagi. Saya akan menjamin jika dia tak bisa berbuat apa pun kepada kalian." ucap Rafael tegas. "Sudah saat nya kalian bebas tanpa bayangan masa lalu"


Friska tersenyum, "Terima kasih Rafael " ucap nya tulus.


Friska dan Gandi mengantar anak semata wayangnya hingga menaiki mobil Rafael.


Tak henti henti nya kata syukur ia panjatkan kepada Allah SWT.


Telah mempertemukan nya dengan orang orang baik.


.


.


Sementara itu, mobil yg membawa keluarga Rafael telah tiba d rumah mewah milik Rafael.


Syanum terpana melihat keindahan d depan mata nya, rumah ini bak istana dalam dongeng yg pernah ia tonton.


Tepukan pelan d bahu membuat lamunan nya buyar.


"Kamu anggap rumah sendiri ya, jangan sungkan. Dan anggap aku ibu mu juga" ucap Zefa lembut.


Syanum mengangguk.


"Terimakasih Tante"


"Bukan Tante, tapi mama"

__ADS_1


Syanum tersenyum d balik cadar nya.


"Baiklah ma"


"Nah, gitu kan enak d dengar nya"


"Yuk masuk, mama mau tunjukkin kamar kamu"


Zefa membawa Syanum berkeliling rumah. Mengenal kan Syanum kepada para pegawai yg bekerja d rumah Zefa. Berhubung anak anak Zefa belum pulang, maka Zefa berencana akan mengenalkan mereka saat makan malam nanti.


Syanum d antar salah satu art ke kamar yg sudah di siap kan untuk nya.


"Terima kasih bu"


"Jangan panggil mbak non, panggil bik atau mbok aja"


"Saya gak enak"


"Tapi emang saya d panggil seperti itu"


Syanum hanya tersenyum dan membuka niqab yg ia pakai.


"Wah,, si non cantik sekali atuh."


"Astaghfirullah, aku pikir si mbok udah keluar" Syanum kembali memakai niqab nya.


"Hehe maaf non kalau bibi lancang, apa non gak gerah pakai cadar??"


Syanum menggeleng, "Saya sudah terbiasa dari kecil mbok"


Syanum mengangguk "terima kasih sekali lagi ya mbok"


Syanum menutup pintu, memastikan jika ia tinggal sendiri d dalam kamar.


Membersihkan diri dan menyusun barang barang yg ia bawa ke dalam lemari yg sudah d sediakan.


Kamar ini sangat luas , Sebesar rumah nya d kampung. Dengan fasilitas yg juga mewah..


Dan Syanum bersyukur bisa merasakan sebagian nikmat yg sudah Allah berikan untuk nya.


"FABIAYYIA LAA IRABBIKUMAA TUKAZZIBAN. Maka nikmat Tuhan mana lagi yg kau dustakan".


.


.


Syanum menjalani hari nya dengan bahagia, ia tak perlu lagi merasakan sakit menahan lapar..


Tak perlu lagi berjalan kaki berkilo kilo meter untuk mencapai tempat tujuan..


Semua yg ia butuh, sudah d sediakan.. bahkan untuk tamu bulanan nya pun Zefa yg membeli setiap bulan nya..


Tak ada lagi bully an, tak ada lagi cemoohan dan tak ada lagi perlakuan tidak menyenangkan..

__ADS_1


Hanya ada beberapa orang yg melihat nya sedikit berbeda, mungkin karena penampilan Syanum yg tertutup..


Tapi mereka tidak bully, bahkan mereka mendekat dan mengulurkan tangan untuk berteman..


Allah mendengar doa yg selalu ia panjat kan d seperti tiga malam..


Harapan nya menjadi kenyataan melalui tangan tangan yg di pilih oleh Allah..


Selama ini bukan ia tak bersyukur, tapi setiap manusia biasa tak luput dari dosa bukan???


"bagaimana nak??? Apa kamu betah tinggal Disana??? Tanya Friska kala itu melalui sambungan telepon..


"Alhamdulillah Bu,, aku betah di sini.. Semua orang terlihat baik"


"Alhamdulillah, ibu senang dengar nya nak.."


"ibu kapan mau ke sini??? Aku kangen ibu" ucap Syanum lirih...


"nanti ya nak,, habis bapak panen.. Ibu dan bapak udah berencana ke sana"


"Mudah mudahan panen bapak lancar Bu,,,"


"Aamiin Allahumma Aamiin "


"Ya sudah,, ibu mau antar makan siang bapak dulu.. Nanti di sawah , ibu telfon lagi.. Katanya si bapak rindu"


"Iya Bu,, sekarang aku mau siap siap mau ke kampus dulu,, qAssalamualaikum Bu"


"waalaikum salam nak"


Setiap hari Syanum selalu bertukar kabar dengan orang tua nya di kampung..


Ia tak ingin di katakan kacang lupa kulit.. Walaupun ia hidup dalam kemewahan, Syanum tak akan melupakan orang tua sendiri..


Bahkan Syanum juga menyisipkan jajan yg di beri kan Rafael untuk mereka...


Tentu saja Friska menolak,, karena kata nya di sini bapak Gandi masih bekerja..


"kamu cukup saja bapak sudah senang nak,, tak perlu pikirkan bapak dan ibu mu,, untuk makan sehari hari sudah sangat cukup untuk kami..."


"Nanti kalau panen bapak sukses, bapak akan menjenguk mu ke sana,. Bapak sudah rindu dengan anak bapak "


"Ingat.. Anggap tuan Rafael dan nona Zefa orang tua mu.. Sayangi mereka seperti kamu menyayangi kami"


Dan masih banyak lagi petuah bijak yg di sampaikan oleh kedua orang tua Syanum.


Syanum bertekad untuk belajar yg rajin dan membuka usaha nya sendiri agar orang tua nya tak lagi kesusahan.. Dan si bapak tidak usah ke sawah lagi.


Tinggal disini membuat Syanum mengetahui semua masa lalu Friska,, Secara garis besar saja dan tidak terlalu detail.


Zefa yg bercerita waktu itu saat Syanum menemani nya membuat kue. Zefa yg tau Syanum pintar memasak, sering mengajak nya untuk bermain tepung di dapur... Tepung yg akhirnya menjadi sebuah kue yg lezat ..


Terkadang Syanum merasa tidak enak hati saat Zefa mulai membandingkan dia dan Devani yg sedikit malas..

__ADS_1


Tapi untung lah Vani tak membenci diri nya.. Bahkan Devani sering mengajak Syanum saat dia kumpul dengan teman teman sebaya nya..


Devani bahkan mengenalkan Syanum sebagai sepupu.. dan berkata jika bahagia karena memiliki teman di rumah..


__ADS_2