
Saat ini Gandi dan Friska tengah melakukan percakapan serius berdua d dalam kamar. Sedangkan Syanum kali ini tidak di ikut sertakan.
Setelah makan malam Gandi mengajak Friska ke dalam kamar karena ada yg ingin mereka bicarakan.
Semenjak ibu nya sadarkan dari pingsan, ia lebih banyak melamun.
"Sebenarnya ada apa dengan masa lalu ibu??? Kenapa setiap melihat ada mobil mewah yg datang ke kampung ini beliau histeris dan merasakan takut berlebihan??? Setiap malam dalam sholat tahajjud pun beliau terus terisak dan memohon ampun tentang masa lalu nya. Apa begitu buruk masa lalu sang ibu membuat ibu trauma dan terluka???"
Syanum hanya bisa menyimpan rasa penasaran nya dalam hati, seperti nya ia harus merelakan masa depan nya untuk saat ini .
Biarlah seumur hidup dia mendampingi ke orang tua nya.
Waktu bergulir dengan sangat cepat, suara Kokok ayam menandakan jika malam telah berganti pagi.
Sang ayah telah berangkat ke mesjid menunaikan sholat subuh.
Sedangkan Syanum dan Friska memilih sholat subuh d rumah dilanjut membaca Kalam ilahi.
Rutinitas setiap pagi yg d lakukan dalam keluarga ini.
Mereka memulai hari dari jam 3 pagi dengan serentetan ibadah yg mereka jalani.
Kegiatan yg menjadi kebiasaan bagi mereka.
Friska menutup Al-Qur'an yg ada d tangan nya menandakan kegiatan membaca murottal nya telah selesai.
"Nak,," Syanum menoleh saat nama nya d panggil dengan sangat lembut.
Syanum sekali pun belum pernah d bentak oleh ibu, ibu nya pun begitu santun kepada sang Bapak. Jadi apa sebenarnya yg membuat ibu seperti ini???
"Ya Bu???"
"Benar kamu mendapatkan beasiswa d kota???"
Syanum mengangguk
"Bagaimana jika ibu tak mengizinkan mu pergi??"
"Jika ibu tak mengizinkan, Syanum tidak akan pergi Bu"
"Lalu bagaimana dengan masa depan mu???",
"Insha Allah Syanum ikhlas Bu melepas masa depan Syanum. Bukan kah Allah yg menentukan takdir seorang hamba???"
Friska tersenyum dan mengangguk.
"Ibu dan bapak sudah membicarakan tentang ini semalam,, kita tunggu bapak pulang dulu. Biar bapak saja yg memberi tahu mu nanti"
Lagi lagi Syanum mengangguk. Jantung nya berdetak lebih cepat, takut jika ia tidak di izin kan pergi.
Walau ia berkata ikhlas tapi hati nya begitu berharap bisa menginjakkan kaki d universitas impian..
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam "
"Bapak udah pulang, ibu mau siapkan sarapan dulu. Kamu temui bapak dan tanya apa yg ingin kamu tanyakan"
"Iya buk"
__ADS_1
Syanum menyambut tangan bapak dan mencium nya dengan takzim.
"Sini nak, kita ngobrol d ruang depan" ucap Gandi yg sudah tau jika sang anak ingin mendengar keputusan nya.
Rumah sederhana yg d huni oleh keluarga kecil hanya sebesar 6x8 meter. 2 kamar tidur dan ruangan tanpa sekat menghubungkan ruang tamu, keluarga dan dapur.
Di samping dapur terdapat kamar mandi. Walau sederhana namun rumah minimalis ini penuh dengan kebahagiaan di dalam nya.
Terasa sejuk dan damai dengan beberapa pohon menghiasi halaman. Bunga bunga pun tak luput tumbuh dengan indah. Friska dan Syanum merawat nya penuh cinta.
"Ya pak"
"Bapak dan ibu sudah menentukan keputusan, dan bapak mengizinkan mu untuk pergi menimba ilmu yg lebih tinggi lagi"
Setitik air mata mengalir d pipi chubby Syanum.
"Alhamdulillah,, terima kasih banyak pak.."
"Tapi kamu akan bapak titipkan kepada keluarga pak Rafael. Beliau yg akan menjaga mu d kota, bapak harap kamu bisa menghargai beliau seperti kamu menghargai bapak"
"Maaf pak, apa bapak Rafael itu teman bapak??"
Bapak menggeleng.
"Bapak Rafael itu adalah mantan suami ibu mu, beliau lah yg mengatakan jika beliau ingin membiayai semua kebutuhan mu, karena beliau bilang jika masih ada hak ibu mu yg masih belum di kembalikan. Jadi bapak menukarkan nya dengan biaya mu selama kuliah di sana"
Syanum masih menelaah semua informasi yg d sampaikan..
Ibu punya mantan suami??? Berarti bapak bukan suami pertama ibu??? Apa lagi masa lalu yg ibu sembunyikan??
.
"Aku takut jika Irene yg datang mas"
"Gak sayang, bukan Irene yg datang. Tapi Zefa"
"Zefa???"
Gandi mengangguk, saat ini ia dan istri nya tengah ber dua dalam kamar.
"Istri Rafael???"
"Iya, Zefa dan Rafael yg datang tadi kesini."
"Ada urusan apa mas??? Aku tidak pernah menyinggung mereka lagi"
Gandi tersenyum sangat menawan membuat Friska berdesir.
Orang yg telah menyelamatkan nya ini mampu membuat nya jatuh cinta lagi dan lagi.
Orang asing yg mau menerima masa lalu kelam nya, mampu membuat nya bangkit dari keterpurukan.
"Maaf kan aku sayang, mereka sudah berkali kali datang kesini. Tapi karena kamu masih trauma dengan masa lalu, makanya aku tak memberi tahu mu. Mereka ingin bertemu dengan mu"
"Untuk apa mas?"
"Banyak yg ingin mereka sampai kan, waktu itu aku bertemu dengan mereka saat masih d sawah dan kamu sedang berbelanja. Apa kamu ingin mendengar yg mereka katakan??"
Friska mengangguk.
__ADS_1
"Mereka ingin mengembalikan semua hak mu saat masih menjadi istri Rafael "
Friska mengernyit kan dahi.
"Aku sudah tidak memiliki apa apa saat aku berpisah dengan nya mas"
"Rafael bilang jika salah satu perusahaan nya masih ada saham mu d dalam nya, butuh waktu yg sangat lama mereka bisa menemukan kita. Awalnya ia juga terkejut saat aku yg menjadi suami mu, karena saat itu Rafael tau jika aku adalah orang suruhan Irene. Rafael juga mengetahui semua rencana Irene, tapi ia bersyukur karena aku menyelamatkan mu. Dan aku sangat sangat bersyukur karena kamu menjadi pendamping hidup ku sekarang "
Gandi membelai puncak kepala Friska dengan sayang, membuat wajah Friska bersemu.
Friska membalas perlakuan Gandi dengan cara memeluk suami nya itu.
"Apa syanum sudah bercerita??"
Friska menggeleng "Cerita apa??"
"Syanum mendapatkan beasiswa di universitas kota "
Friska terdiam.. Bayangan masa lalu yg tak pernah bisa ia hilang kan dari pikiran. Kota identik dengan kata kejam.
"Mas..."
"Aku tau apa yg kamu pikirkan"
"Tapi bagaimana dengan biaya nya mas?? Aku takut kalau..."
"Ssttt.. Dengarkan aku sayang.. Allah telah menjawab doa ku untuk ini"
"Maksud mas???"
"Aku berdoa tiap sujud ku agar Allah memberikan ku jalan keluar. Awal nya aku sudah tak memikirkan saham yg d bicarakan Rafael tempo hari, tapi sepertinya kita membutuhkan uang itu saat ini. Rafael memberikan ku tawaran. Dia yg akan menyekolahkan Syanum jika kita tak mengambil uang itu. Dia juga yg akan menjamin keselamatan Syanum di sana"
Friska menitikkan air mata. Dulu ia menyia nyiakan orang sebaik Rafael, ternyata Rafael masih mengingat nya selama ini.
Tapi Friska tidak menyesal. Karena jika ia tak berpisah dengan Rafael maka ia tak akan bertemu dengan Gandi dan Syanum tentu nya.
Gandi dan Syanum adalah harta yg tak pernah ternilai.
"Baiklah mas, aku setuju dengan semua keputusan mu. Besok pagi kita bicarakan dengan Syanum"
Gandi mengangguk..
FLASHBACK OFF..
.
.
Maaf ya... Cerita nya satu satu dulu..
Besok aku akan up kisah Keano..
Mungkin agak lama hingga Syanum dan Keano bisa bertemu..
Yang penasaran dengan kisah masa lalu Friska baca dulu novel SELINGKUH...
Disana kalian bisa membaca tentang kisah Rafael, Zefa dan Friska...
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, vote dan comment..
__ADS_1
Terimakasih 🙏