Pindah Lapak Ke Oren

Pindah Lapak Ke Oren
Game


__ADS_3

Hari minggu di awal bulan oktober, waktu dimana negeri tropis di belahan Asia Tenggara memasuki musim penghujan.


Sejak semalam hujun deras terus mengguyur bahkan sampai ke sebuah Apartemen sederhana dipigiran ibukota.


Penghuninya masih terlelap seoalah tak ingin berpisah dari dunia mimpi, dialah Andri, manusia introvert yang lebih memilih menyibukan diri di dalam kamar saat libur tiba, daripada hangout keluar rumah, tanpa teman dan cukup rebahan ditemani gadget canggih sudah membuatnya bahagia.


Sebenarnya hari sudah memasuki pagi, tapi matahari enggan menampakan diri, dan lebih memilih bersembunyi dibalik awan gelap.


"Setelah enam hari penuh sibuk bekerja, akhirnya aku bisa bermalas-malasan juga, benar-benar kenikmatan yang hakiki!" Ucapnya diakhiri dengan menguap lebar.


Andri menarik kembali selimut tebal sampai menutup wajah, akan tetapi saat akan kembali terlelap bau menyengat merangsak masuk indra penciuman, seketika membuat Andri melompat bangun.


"Bau apa ini?" Andri membuka mata, kesadarannya kembali pulih, ia mengedarkan pandangan kesekeliling, dilihatnya kepulan asap hitam nan tebal mulai memenuhi seisi ruangan.


Andri seperti tersadarkan, dia menduga belum mematikan kompor yang sempat di gunakan tadi malam, karena hanya dapur yang berpotensi menyebabkan semua ini, seketika alam bawah sadarnya memberikan peringatan adanya bahaya, membuatnya langsung diserang rasa panik.


"Waaa! Toloooong... Kebakaran! Kebakaran! Kebakaran!"


Andri berteriak kencang, menghambur kearah pintu depan, memutar tuas kunci secepat kilat kemudian menarik pintu itu sekuat tenaga, tapi tidak seperti harapannya pintu itu sulit terbuka.


Wajahnya berubah pucat, Andri menggedor-gedor pintu dengan kasar berusaha untuk keluar!


"Toloooong! Siapa pun tolong, aku tidak mau mati disini, ya tuhan setidaknya biarkan aku menikah dulu lalu mendapatkan banyak anak dan cucu, memiliki rumah mewah dengan lusinan mobil keluaran terbaru. Please help me, i don't want to get killed. Hiks! Hiks! Hiks!" Andri meracau tidak jelas, tangannya terasa kebas setelah memukul daun pintu tanpa henti, air matanya tumpah dengan ingus ikut keluar, ia tampak begitu menyedihkan.


Sosok siluet seorang pemuda tampak berdiri di balik kepulan asap, terdengar suara batuknya yang cukup keras, di tangan kirinya dia membawa sebuah piring yang sepertinya berisi sebuah makanan, sementara tangan kanannya sibuk mengibas-ngibaskan sehelai kain mencoba mengusir asap di sekitarnya.


"Apa yang di lakukan si bodoh itu, apa dia lupa dengan pintu rumahnya sendiri. Jelas-jelas itu pintu geser, dasar idiot?!" Gumamnya cukup jelas terdengar oleh Andri, dia pun mulai berjalan. "Kejutan!" Serunya berteriak riang di belakang punggung Andri sambil menahan tawa.

__ADS_1


Andri berbalik badan dengan gaya dramatis, dia seperti mendengar suara seseorang yang dikenalnya, 'tapi itu tidak mungkin!', orang itu berada beribu mil jauhnya dari sini, mungkinkah seseorang yang sengaja tuhan kirimkan untuk menolongnya?


"Siapa kau?" Andri menyipitkan mata, pandangannya sedikit tidak jelas karena terhalang kabut asap.


"Sepertinya banyak tidur membuat otak mu bergeser sehingga melupakan teman mu sendiri." Selorohnya ringan, begitu saja lalu berbalik tubuh kemudian mendudukan dirinya pada sebuah kursi yang ada di sana, tampak tidak peduli dengan kepulan asap yang menyebar.


"Kau! Samuel, sialan. Apa yang kau lakukan dirumah ku, Tunggu. Kenapa bisa berada di dalam dan bagaimana caranya bisa masuk ke rumah ku. Sejak kapan kau ada disini?!"


Andri memberondong dengan serentetan pertanyaan, dia begitu heran dengan situasinya karena dia masih ingat sebelumya sudah mengunci pintu.


"Pertanyaan mu banyak sekali, bisa tidak tanyanya satu-satu, kau membuat ku pusing?" Keluh samuel, pura pura terlihat kesulitan sambil memijat keningnya.


"Oke pertama, kenapa kau bisa berada didalam?" Andri mendengus pelan lalu berdiri sambil berkacak pinggang, sebelah tangannya mengusap ingus yang sempat keluar.


"Bagiku itu bukan hal sulit kawan, menyelinap masuk kedalam apartemen bobrok mu ini, benar-benar mudah. Kau tau, hal itu seperti membuang upilku sadja?!"


"Kau benar-benar keterlaluan, disini tidak seperti di negara mu yang bisa masuk ke rumah orang sembarangan, dasar tidak sopan." Omel Andri dengan nada tinggi, dia menarik serbet yang menutup wajahnya dengan kasar.


"Aku, tidak sopan?" Samuel tertawa keras sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "ups, dulu pernah coba bersikap sopan dan sifat jelek ku sempat hilang tapi akhirnya aku di tindas lagi, jadi aku begini aja, hidup ku tidak tertekan lagi, tidak teraniaya lagi." Samuel menyisir rambutnya menggunakan jari tangan, dia tidak ambil perduli dengan kalimat bernada sarkas yang dilontarkan Andri.


Andri hanya bisa menghela napas kasar mendengar ocehan tidak jelas pemuda di depannya. Namanya adalah Samuel Arsène, dia tinggal di Denmark, pertemuannya dengan Andri terjadi satu setengah tahun yang lalu, saat itu terjadi Andri masih kuliah di sana, secara tiba-tiba Samuel masuk kedalam apartemen miliknya.


Samuel Arsene meminta pertolongan untuk memberi tumpangan agar bisa bersembunyi dari beberapa orang yang mencarinya, merasa tidak keberatan Andri bersedia membantunya dan sejak saat itu akhirnya mereka berteman.


Jika dilihat dari penampilan, Samuel Arsène memiliki bentuk tubuh yang proposional, dengan bola mata coklat berkilat terang, Ia begitu terlihat manis.


Sementara dirinya adalah Andri Poulsen, Secara keseluruhan tubuhnya tampak cukup berisi, dengan rambut segelap malam di tambah dengan bola mata unik sehijau zamrud membuatnya terlihat tampan, tentu saja cukup unik mengingat orang-orang yang tinggal di sekitarnya kebanyakan memiliki bola mata berwarna coklat gelap dan hitam.

__ADS_1


Andri merupakan anak tunggal dari keluarga pengusaha pemilik pabrik tekstil di indonesia, hidupnya sangat bahagia. Segala Keinginan bisa di dapatkan dengan mudah, selain itu Andri juga mendapatkan limpahan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya.


Setidaknya itu dulu sebelum peristiwa menyedihkan itu terjadi, Ayahnya di ketahui berselingkuh, lalu ayah dan ibunya berpisah, sang ayah pindah ke negara asalnya, tidak lama sang Ibu mengakhiri hidupnya sendiri karena depresi akut yang di deritanya, meninggalkan Andri sendiri di sini.


Andri tidak begitu menyukai cermin, alasanya cukup sederhana karena setiap kali dirinya berkaca seolah sang ayah yang sangat dia benci tengah berdiri menatapnya


Kabar lainnya Andri memiliki sebuah Cafe di dekat tempat tinggalnya, usaha itu Ia rintis semenjak masih duduk di bangku SMA.


Saat ada waktu luang Andri selalu menyempatkan diri membuat karya tulis di aplikasi noveltoon, meskipun dukungan yang dia terima jauh dari harapan, akan tetapi Andri tetap melakukannya.


"Lupakan saja, kau memang menyebalkan!" Andri mencibir, dia berjalan kesana kemari membuka setiap jendela di apartemennya, agar asap yang terkurung di dalamnya keluar.


"Setidaknya kau sangat beruntung mendapatkan kunjungan langsung dari pria luar biasa dan tampan ini." UJar Samuel Arsène terlihat narsis.


"Memangnya kau siapa, anak tetua Gengster?!" Andri menunjukan gesture seolah ingin muntah sebelum masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci wajah.


Samuel Arsène hanya menyeringai lebar mendengar itu, kenyataannya memang demikian hanya saja Andri tidak mengetahuinya.


"Seharusnya kau bilang jika ingin berkunjung kemari, aku bisa menjemputmu di bandara!" kata Andri saat muncul dari balik pintu, kini wajahnya terlihat segar.


"Itu tidak perlu, lagi pula jarak dari rumah mu ini ke bandara tidak terlalu jauh." Samuel Arsène mengibaskan tangan.


"Kau tidak mengabari ku sebelumnya, apakah ada tugas yang mendadak?" Tanya Andri saat mengganti pakaian.


"Ya begitulah, aku hanya sebentar untuk mampir, ngomong ngomong apa kau sudah mendengar tentang sebuah game, dream miracle online?"


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2