
Penjaga pintu masuk bahkan berniat mengusirnya tapi berubah pikiran ketika memandangi wajah Zee, mereka yang melihat Zee dengan teliti akan merasakan adanya hawa kebangsawanan dari tubuhnya, mungkin semua itu di sebabkan oleh status Famenya yang terbilang cukup tinggi.
Di dalamnya terdapat banyak meja bulat berukuran sedang dengan empat kursi mengelilinginya, Zee lebih memilih menghampiri kursiĀ yang berhadapan dengan meja counter di sebrang tempat sang Bartender langsung.
...[ Lampord (NPC) ]...
...[ Ras : Demi-human ]...
...[ Desc. : Bartender Blacktruth ]...
"Apa yang ingin Anda pesan?" Lampord mengerenyit heran sebelum menanyakan apa yang menjadi keinginan Zee.
"Berikan aku satu gelas Tequila!"
Lampord nyaris saja mendamprat Zee karena mengira pemuda di depannya tidak akan cukup mampu untuk membayar, mengingat tampilannya seperti gelandangan tapi menghentikaannya setelah apa yang di lakukan Zee selanjutnya
Zee melemparkan satu koin emas keatas meja tepat dihadapan Lampord. "Mohon tunggu sebentar, permintaan anda akan segera aku buatkan!" Lampord tersenyum lebar, meskipun yang di tampilkan tampak seperti sebuah seringaian.
Mengingat Lampord merupakan mahluk demi-human yang mengambil bentuk manusia setengah cheetah.
Lampord mengambil satu botol kendi dari dalam etalase kaca yang tertempel didinding, menuangkannya kedalam sebuah gelas kaca berkaki tinggi kemudian memberikan sentuhan akhir irisan lemon dan setelah itu dia berikan pada Zee, "silahkan dinikmati."
Tanpa sungkan Zee meraih gelas yang disodorkan kemudian mulai menyesapnya secara perlahan, rasanya begitu nikmat terdapat sensasi rasa manis dan asam didalamnya.
"Tuan Lampord apa kau penduduk asli kota ini?" Zee mulai bertanya untuk mengusir kebisuan diantara mereka.
"Benar Petualang. Aku lahir dan tumbuh besar di kota ini." Jawab Lampord singkat.
"Seberapa jauh kau mengetahui Kota Debu Intan?" Zee kembali bertanya sambil memandangi Lampord dari atas sampai kebawah, membuat manusia setengah Cheetah itu sedikit merasa waspada.
Lampord tampak ragu untuk menjawab. Bisa dibilang seumur hidup Lampord habiskan di kota ini dan pastinya seluk-beluk dan setiap permasalahan kota Debu Intan dia ketahui semuanya.
__ADS_1
"Kurasa kau mengetahui banyak informasi penting karena menguping para tamu saat melayani mereka bukan?" Ungkap Zee dengan nada menuduh.
"Aku hanya kebetulan tau beberapa hal!" Lampor tertawa keras untuk menyembunyikan getar di tubuhnya, wajahnya mulai berubah, Lampord mulai mencium adanya bahaya dari Penyihir di depannya.
Zee mengangguk. "Tidak perlu khawatir, aku bukan ingin mempersulit mu, aku hanya ingin bertanya, apa kau tau seseorang bernama Narius, kebetulan aku sedang mencarinya?"
Lampord mengelus dagunya sambil melihat Zee dengan tatapan menilai, mengerti dengan hal itu Zee mendengus pelan sebelum kembali melemparkan empat koin emas ke atas meja.
"Tentu saja aku tau, hanya ada dua orang yang bernama Narius di kota ini, satu yang baru lahir merupakan anak ku dan satu lagi seseorang yang tinggal di ujung timur kota ini, jadi mana yang ingin Anda cari?"
Lampord berkata dengan sedikit penekanan di beberapa kalimat, Lampord sedikit curiga, meskipun di kerajaan ini melarang penduduknya untuk melakukan praktik perbudakan bukan berarti orang yang menginginkan hal itu tidak ada.
"Aku tidak berminat dengan anak mu, yang aku cari adalah orang yang satunya!" Jawab Zee terdengar malas, sepenuhnya mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh Lampord.
Lampord menghembuskan napas lega kemudian menuliskan sesuatu diatas secarik kertas lalu memberikannya pada Zee, "ini alamatnya, Anda perlu menyewa kereta kuda untuk bisa sampai kesana lebih cepat."
"Terimakasih banyak atas informasinya Tuan Lampord, aku permisi," ucap Zee kemudian bergegas pergi.
"Ya, silahkan, sering-seringlah mampir kemari Petualang!" Lampord melambaikan tangan, mengiringi kepergian Zee dengan senyuman.
"Apa kau yakin ini tempatnya?" Tanya Zee sedikit ragu pada kusir kereta.
Mengikuti saran dari Tuan Lampord, Zee memutuskan menyewa sebuah kereta kuda setelah keluar dari Bar Blacktruth, menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit dan akhirnya kereta yang di tumpang Zee sampai ketujuan.
"Benar Tuan, sesuai alamat yang tertera, rumah itu merupakan tempatnya!" sang kusir menunjuk kertas yang di pegang olehnya sambil memandang Zee bergantian.
Zee turun dari kereta setelah sebelumnya memberikan lima koin silver pada sang kusir kereta sebagai bayaran, saat ini Zee tengah berdiri di depan pintu gerbang bobrok sebuah rumah dengan papan nama yang tampak miring kekiri.
Sebenarnya tidak bisa di katakan sebagai rumah, bangunan ini secara keseluruhan lebih mirip seperti sebuah mini castle, hanya saja tempatnya sangat tidak terawat, rumput ilalang setinggi lutut hampir memenuhi halaman depan, selain itu di beberapa bagian permukaan bangunan catnya banyak yang terkelupas, di tambah dengan lantai ruangan yang berlumut.
Mini castle ini seperti sudah di tinggal penghuninya selama bertahun-tahun, membuat suasananya tampak begitu suram, Zee memberanikan diri melangkah masuk dengan langkah hati-hati.
__ADS_1
Zee sedikit tersentak saat melihat seorang gadis muda muncul dari balik pintu, gadis itu memakai pakaian berupa gaun sederhana berwarna kuning pudar.
...[ Glachy (NPC) ]...
...[ Ras : Human ]...
...[ Desc. : - ]...
Glachy sama terkejutnya saat bertemu pandang dengan Zee, gadis itu membatalkan langkahnya yang akan kembali masuk saat Zee menegurnya.
"Tunggu nona, apa benar rumah ini merupakan kediaman Tuan Narius?"
"Maaf Petualang mungkin Anda salah alamat, rumah ini adalah miliki ku dan aku tinggal sendiri, jadi orang yang Anda maksudkan tidak tinggal disini." Glachy mencoba menerangkan tapi pandangannya sedikit tidak fokus.
Hal itu menimbulkan sebuah kecurigaan dibenak Zee, menekan rasa kesalnya Zee kembali berkata sambi tersenyum lebar, "mulut mu mungkin berdusta tapi mata mu tidak bisa berbohong Nona!"
Glachy merasa tertohok, pemuda di depannya ini ternyata begitu cerdas, hanya dengan sekilas melihat ekpresi wajah lawan bicaranya dapat mengetahui sebuah kebenaran.
Glachy membuang napas kasar, tidak ada yang bisa dia lakukannya lagi, percuma jika terus di lanjutkan, sandiwaranya telah terbongkar, dan akhirnya Glachy hanya bisa mempersilakan pemuda itu masuk.
Bagian dalamnya jauh lebih baik, lantainya tertutup karpet meskipun terlihat usang, sama usangnya dengan semua perabotan yang menghiasi setiap sudut ruangan, banyak lukisan yang tertanam di dinding meskipun beberapa terlihat luntur di makan waktu.
Glachy menuntun Zee kesebuah ruangan lain yang dipenuhi dengan lilin dan beberapa patung besar kesatria berzirah, Zee menghitungnya dalam hati, keseluruhan patung itu berjumlah dua belas buah, dengan armor dan senjata yang berbeda.
"Petualang muda, apa tujuan mu datang kemari?" Sebuah suara yang terdengar serak menghentikan Zee dari aktivitasnya mengagumi sang patung.
Zee menoleh ke samping, dilihatnya seorang pria tua yang memegang sebuah tongkat tengah berdiri menatap kearahnya, meskipun pencahayaan di ruangan itu begitu kurang akan tetapi berkat skill Night Vision, Zee dapat melihat jelas pria tua itu.
...[ Narius (NPC) ]...
...[ Ras : Human ]...
__ADS_1
...[ Job : Archbishop ]...
...[ Desc. : Lord House of Librarian ]...