Pindah Lapak Ke Oren

Pindah Lapak Ke Oren
Sial !


__ADS_3

"Apa hubungan mu dengan Tuan Odinius?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Miguel, meskipun intonasinya terdengar ramah tapi tidak dengar air mukanya yang mengeras.


"Aku hanya kebetulan bertemu dengannya, di tengah hutan saat dia melawan seekor iblis." Zee melangkah mundur perlahan, entah kenapa dirinya merasakan adanya ancaman yang berbahaya.


"Apa yang terjadi, apakah Tuan Odinius berhasil selamat?" Ucap Miguel terdengar khawatir, Miguel bangkit dari posisi duduknya lalu menghampiri Zee lebih dekat.


"Aku tidak tau, dia menghilang setelah berhasil mengalahkan iblis itu, memangnya apa hubungan Bibi dengannya?"


"Syukurlah, semoga saja Tuan Odinius selamat!" Miguel menghembuskan nafas panjang, pandangan matanya kembali menyipit, "dan berhenti memanggil ku Bibi, asal kau tau Tuan Odinius adalah guru ku! apakah dia meninggalkan pesan sebelum pergi?"


"I-iya, dia hanya menitipkan surat ini untuk di berikan pada seseorang yang berada di ibu kota." Kata Zee, dia mengganguk cepat, sembari memperlihatkan sebuah amplop surat yang disegel mengunakan sebuah lilin.


"Siapa yang ingin kau temui?" Miguel melihat amplop itu sekilas sebelum kembali bertanya pada Zee.


"Tuan Narius." Jawab Zee cepat.


Miguel mengangguk pelan lalu menyuruh Zee untuk pergi, Zee yang tidak ingin berlama-lama disana langsung saja keluar dari ruangan itu, setelah mengucapkan terimakasih kembali pada gadis demi-human penerima tamu, Zee pergi dari Job Center.


...[ Title Genius player di dapatkan ]...


...Desc. Instruktur Miguel menilai tinggi bakat sihir mu, Title yang di dapatkan pada pemain yang mempunyai kemampuan bertarung tanpa mengikuti class pelatihan....


...Fame +100...


"Bibi terimakasih!" Zee berteriak di depan bangunan Job Center mengejutkan gadis demi-human dan beberapa pemain pemula yang ada di sana.


Zee langsung saja berlari kencang untuk menghindar, ketika tiba-tiba saja bola api besar datang entah dari mana menargetkan dirinya, bola api itu terus melayang mengejar Zee, bayangan saat kembali di kejar oleh Rabbit Blood Fangs kembali berputar di otaknya.

__ADS_1


Membuat seluruh tubuh Zee terasa panas dingin, Karena terlalu panik Zee tidak memperhatikan jalan yang di laluinya, kakinya tersandung batu lalu jatuh dalam posisi yang memalukan.


"Bibi Tua sialan, akan ku balas suatu saat nanti, Log-out!" Zee mengumpati Miguel sebelum memutuskan untuk keluar dari game, wajahnya terasa melayang entah kemana karena insiden ini, dirinya sangat malu karena di perhatikan oleh banyak orang.


Andri langsung melepas helm Vr yang terpasang di kepalanya, lalu duduk di tepi ranjang sambil menutup wajahnya dengan dua tangan.


"Sial! Sial! Aku malu sekali ya tuhan."


Andri mencoba tenang kembali dengan cara menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan, tidak bisa di pungkiri Dream Miracle Online merupakan game terbaik dari semua game yang pernah Andri mainkan.


Game yang Andri maksud adalah Game di ponselnya, tapi tentu saja akan berbeda situasinya baik itu dari segi kualitas atau pun perasaan puas ketika memainkannya.


Andri berencana untuk tidak memainkan game Dream Miracle dalam waktu dekat, dirinya tidak mau menjadi badut tontonan dan di tertawakan oleh banyak orang.


Andri merasa perutnya lapar sekali, dia melirik jam yang menggantung di dinding, dilihatnya waktu sudah melewati jam makan siang.


Satu jam di dunia nyata tiga jam di dunia Dream Miracle, Zee bangkit dari tempat tidurnya menuju dapur, saat membuka lemari pendingin, disana sudah tidak ada lagi bahan makanan mentah yang tersisa hanya ada beberapa makanan siap saji saja.


"Makan mie instan juga bosan, lebih baik aku makan di luar saja!" Andri bergumam pelan, lalu kembali kedalam kamarnya untuk mengambil jaket dan topi.


Udara di luar terasa sangat dingin, mungkin sebelumnya sudah turun hujan, Zee melipat kedua lengannya erat sambil berjalan memasuki tempat yang banyak menjual makanan.


Tempat itu seperti food court dimana banyak sekali kedai berjejer rapi dengan banyak bangku panjang di tengahnya.


Andri terus berkeliling melewati beberapa kedai yang menjual berbagai jenis makanan dan minuman, dia terus mencari makanan yang sekiranya dapat menarik minatnya.


Saat tengah asik memperhatikan deretan makanan yang di pajang dalam etalase, Andri tidak menyadari seseorang melangkah cepat ke arahnya dalam posisi tengah menunduk, hingga kemudian orang itu menabrak Andri dengan keras, sehinga mereka berdua mundur kebelakang lalu jatuh terduduk.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja? Maaf aku tidak sengaja menabrak mu!" Ucap orang itu sambil membatu Andri untuk berdiri.


"It's oke, tidak apa-apa aku mengerti." Andri mencoba bersikap ramah, meskipun di dalam hatinya sangat jengkel, tidak di dunia nyata atau pun dunia game dirinya selalu terkena sial. "Hm, jadi siapa nama mu?"


"Oh perkenalkan, nama ku Aldino, kau sendiri" Aldino meraih tangan Andri untuk mengajaknya berjabat tangan.


"Andri, panggil saja Andri, apa yang sedang kau lakukan disini, apa sama seperti ku untuk mencari makanan juga?" Andri melepaskan jabatan tangannya lalu memperhatikan Aldino lebih lekat.


"Seperti yang kau lihat, aku sedang mencari receh dengan berkeliling memgamen!" Aldino berkata ringan sambil menunjuk gitar di belakang punggungnya.


"Benar kah? kau tidak tampak seperti seorang pengamen." Ujar Andri, setaunya pengamen itu pasti berpenampilan urakan, dengan pakaian dekil yang seolah tidak pernah di cuci selama seabad.


Aldino hanya tertawa menanggapinya, penampilannya bisa di katakan sangat rapih, dengan kaos oblong berwarna putih yang di lapisi kemeja tangan panjang di tambah dengan bawahan memakai celana jins membuatnya terlihat rapih. ( tadi udah bilang kan ya?).


"Bagai mana kalau kau menyanyikan sebuah lagu, setelah menemani ku makan tentunya?" Andri mengajak Aldino ke sebuah meja di dekat sana, stelah sebelumnya memesan dua porsi makanan berporsi jumbo, menurutnya makan bersama akan terasa jauh lebih enak daripada makan sendiri.


"Ide yang bagus, asalkan bayarannya tidak mengecewakan!" Aldino terkekeh pelan lalu mengikuti langkah Andri di belakang.


"Aku pastikan kau tidak akan menyesal." Andri sambil tersenyum samar menanggapinya, tidak lama pesanan Andri datang di antarkan oleh seorang pelayan.


Mereka berdua makan dengan lahap, sesuai janjinya setelah selesai makan, Aldino mulai memainkan satu buah lagu yang di iringi dengan petikan gitarnya.


Ternyata suara pemuda itu cukup enak di dengar, terbukti dengan banyaknya pengunjung food court yang menghentikan obrolan mereka lalu fokus mendengarkan nyanyian yang di bawakan oleh pengamen itu.


Saat lagu selesai di nyanyikan, tepuk tangan riuh mulai terdengar, Aldino hanya tersenyum lebar sambil membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai respon ucapan terimakasih.


"Suara mu cukup bagus, mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk menjadikan mu penyanyi tetap di cafe ku, bagai mana, apa kau tertarik?" ucap Andri.

__ADS_1


__ADS_2