Poison Princess

Poison Princess
Chapter 09


__ADS_3



"Nanny berasal dari Wilayah Terlarang?"



Leia menatap wanita tua itu dengan takjub. Dia tidak pernah tahu bahwa wanita yang selalu merawatnya ketika kecil ini berasal dari Wilayah Terlarang.



Nanny tersenyum muram sebelum kemudian mengangguk, "Ya. Saya berasal dari sana. Dan saya lahir dengan darah ras fairy di dalam tubuh saya. Ibu saya adalah seorang undine."



Karena itulah Nanny begitu lembut dan kulitnya sedikit berbeda dibandingkan manusia. Leia baru menyadarinya. Walau wajah tua Nanny terlihat sama seperti manusia biasa, namun warna kulitnya yang berbeda dan sifatnya yang terlalu lembut dan lunak bahkan ketika ia menerima ejekan dan juga cercaan karena melindungi Leia bukanlah sifat yang bisa ditunjukkan oleh manusia biasa.



Satu lagi, dulu Leia sering melihat Nanny meracik obat-obatan herbal dan minuman aneh yang mampu membuatnya sehat seperti sedia kala ketika dia terluka atau demam parah. Ras peri undine adalah tipe peri penyembuh dan sering ditempatkan sebagai tim medis dalam pasukan.



"Lalu, kenapa Nanny datang ke kerajaan ini dan merawatku?" Tanya Leia, "Kenapa tidak tinggal saja di Wilayah Terlarang? Lalu siapa nama aslimu?"



Nanny tersenyum melihat keingin-tahuan gadis itu, "Saya kemari karena memenuhi utang saya pada seseorang untuk menjaga Anda. Tetapi saya tidak pernah menganggapnya utang karena saya sendiri sangat mencintai Anda seperti anak kandung saya sendiri, Tuan Putri. Dan mengenai nama asli saya, saya akan memberitahu Anda suatu hari nanti."



"Benar? Kau janji?"



"Saya berjanji," Nanny mengangguk, "Ah, saya jadi melupakan kalau tadi membawakan makanan untuk Anda bila Anda terbangun."



Wanita tua itu menghampiri meja dan membawa nampan yang tadi dibawanya ke hadapan Leia, "Makanlah dulu, Tuan Putri. Setelahnya saya akan mengantarkan Anda ke kamar Anda."



Leia tersenyum manis dan menerima nampan itu. Ia memakan bubur itu sampai tandas dan meminum air putihnya pelan-pelan. Nanny membereskan nampan tersebut ketika Leia selesai makan dan membiarkan gadis itu berdiri.



"Di mana Pangeran Lucius?" Tanya Leia, "Tadi dia ada di sini bersamaku."



"Pangeran Lucius kembali untuk belajar di ruang belajar," jawab Nanny, "Pangeran meminta saya meminta menjaga Anda saat Anda tertidur di sini."



"Aku tidak tertidur, tapi dibius dengan obat tidur." Balas Leia, membuat Nanny terkejut, "Ada seseorang di istana ini yang ingin berbuat jahat padaku, tapi sepertinya nasib baik selalu berpihak padaku."



Nanny mengangguk setuju. Ia menggenggam tangan Leia dan menatapnya sungguh-sungguh, "Saya akan berusaha sebaik mungkin dan menjaga Anda seperti dulu, Tuan Putri. Saya juga akan ikut Anda kemana pun Anda pergi."



"Itu bagus," kata Leia sambil tersenyum, "Ayo, kita pergi. Kurasa suamiku sudah menunggu terlalu lama di kamar kami."



Nanny tertegun mendengar ucapan Leia. Dia hanya tahu kalau Leia akan datang ke Kerajaan Silvista, tapi tidak pernah tahu kalau gadis itu ternyata sudah memiliki seorang pendamping.



"Suami?"



***



Nanny mendapatkan jawaban pertanyaannya ketika Leia mengajaknya keluar dan langsung bertemu dengan Mikail. Pemuda bersurai hitam itu menatap Nanny dengan penuh selidik sebelum Leia memeluknya dan menggelengkan kepala pelan. Hanya dengan isyarat itu saja Mikail tahu bahwa wanita yang bersama Leia adalah perawat yang sering diceritakan oleh gadis itu.



"Senang bertemu dengan Anda, Nanny. Leia selalu menceritakan tentang Anda pada saya," kata Mikail, "Saya suami Leia, Mikail Jester."



"Leia?" kening Nanny berkerut, kemudian ia menoleh pada Leia, "Anda mengganti nama Anda, Tuan Putri?"



"Begitulah. Ini agar aku tidak mengingat lagi apa yang pernah terjadi di kerajaan ini." ujar Leia, "Nanny, kau kembalilah ke ruanganmu dulu. Setelahnya kau bisa melayaniku di kamarku dan Mikail."



Nanny tersenyum tipis dan mengangguk hormat. Sekilas dia memandang Mikail dan mengerutkan kening. Ia merasa pernah melihat pemuda itu sebelumnya namun dia lupa di mana.



Setelah Nanny pergi, Leia berbalik dan memandang Mikail, "Ada apa?"



"Kau pergi cukup lama. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu." Ujar Mikail jujur, "Apa ada yang terjadi tadi? Kenapa aku mencium aroma manis pembius di tubuhmu?"



"Memang ada yang terjadi, aku akan menceritakannya nanti," jawab gadis itu, "Di mana Joanne dan Jean?"



"Tertidur karena kelelahan menunggumu," Mikail tersenyum, "Tidak apa. Aku yakin mereka akan bangun saat makan malam tiba."



Leia mengangguk.



"Katakan padaku apa yang terjadi sebelumnya," kata Mikail lagi, "Aku mencium aroma aneh dari tubuhmu."



Leia menatap Mikail, kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Dia benar-benar tidak bisa merahasiakan apapun dari pemuda itu. Mikail juga bukan orang yang penyabar jika itu menyangkut dirinya, dan Leia pernah melihat Mikail nyaris meratakan satu kerajaan dengan mudah hanya karena dia hampir dijual oleh pedagang budak beberapa tahun lalu ketika mereka berkeliling ke kerajaan lain.



"Jadi," Mikail menarik pinggang Leia dan membuat tubuh mereka berdekatan, "Apa yang terjadi?"



"Kau benar-benar tidak sabaran, ya?" balas Leia, "Tadi aku dibius ketika berbicara dengan Pangeran Lucius. Kurasa mereka hendak membawaku ke suatu tempat, tetapi tidak mereka lakukan. Nanny-lah yang berada di sisiku ketika aku terbangun."



Mikail bergumam, kemudian memeluk Leia erat, "Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, aku bisa saja meratakan kerajaan ini. Tidak perlu menunggu sampai mereka bertindak."



"Tidak perlu, Mikail. Kau tahu, aku masih ingin bermain-main sedikit," Leia tersenyum manis, "Sayang Blanc dan Noir tidak ada di sini. Kalau mereka ikut, sudah pasti mereka akan bergabung untuk membuat hidup orang-orang di kerajaan ini menderita dari apa yang mereka bisa bayangkan."



Mikail tersenyum tipis, dia mencium kening Leia dan mengelus punggungnya.



"Bagaimana kalau kita jalan-jalan, sambil kau menceritakan apa yang terjadi padamu selama kau mengikuti Pangeran Lucius?" kata Mikail, "Kita bisa pergi ke taman istana. Kau tentu masih ingat jalannya, kan?"



"Tentu, lagipula aku rindu bunga-bunga yang dulu kurawat sendiri. Aku yakin Nanny menggantikanku merawat mereka selama aku tidak ada di sini."



***



"Kalian tidak berhasil membawa Lacia!?"



Ratu Iris memekik kesal menerima laporan dari bawahannya. Kedua prajurit itu mengatakan bahwa mereka tidak bisa membawa Leia ke ruangan khusus yang sudah ia sediakan sejak lama.



Dan itu semua karena anaknya sendiri, Lucius, yang memerintahkan demikian pada kedua prajurit itu!



Apa maunya anak itu? Padahal aku sedang berusaha membantunya untuk mendapatkan tahta paling sacral di kerajaan ini! geram sang ratu dalam hati.



"Yang Mulia Ratu, apa yang akan Anda lakukan pada kami, kami siap menerimanya," ujar salah seorang prajurit tersebut. "Kami sudah siap menerima konsekuensinya."



Ratu Iris menatap kedua prajurit itu, kemudian menghela nafas dengan kasar, "Untuk saat ini aku tidak akan menghukum kalian. Cukup awasi Lacia dan bila ia sedang sendirian, kalian harus bisa menggiringnya untuk pergi ke tempat yang jauh dari suaminya agar aku bisa melaksanakan rencanaku."



"Sekarang pergilah dan biarkan aku sendiri."



Kedua prajurit itu mengangguk dan pergi dari ruangan sementara Ratu Iris menggigit ibu jarinya dengan kesal.



Mengapa Lucius malah bertindak demikian? Tidakkah dia sadar bahwa apa yang kulakukan ini adalah untuknya?!



Belum lagi masalah suami Lacia, si raja dari Wilayah Terlarang. Ratu Iris mengetahui dengan pasti bahwa Mikail Jester adalah orang yang sulit dikalahkan, baik dari segi ilmu sihir ataupun pertarungan fisik. Bila ia mengerahkan seluruh pasukan di kerajaannya pun, dia belum tentu bisa menang dari Mikail Jester.



Dan Leia kini berada di sisi sang raja Wilayah Terlarang. Semua itu menambah rumit rencana yang sudah ia siapkan sedemikian rupa.



Ratu Iris mengerang frustasi. Ia menghentakkan kakinya dan menatap ke luar jendela, tepat kearah taman istana, di mana ia melihat Leia dan juga Mikail berada di sana. Matanya menyipit penuh amarah. Entah apa yang dipikirkan oleh ratu cantik itu, tapi seringai keji muncul di wajahnya.



"Mungkin satu kesempatan besar akan datang kepadaku di saat yang tepat," ujar sang ratu, "Ya. Satu kesempatan."

__ADS_1



***



Makan malam di istana adalah sesuatu yang tidak disukai oleh Leia. Sejak dulu dia selalu merasa dipandang dengan sebelah mata oleh semua pelayan dan juga keluarganya sendiri. Tapi sekarang, walaupun tatapan merendahkan itu masih ada, tetapi mereka mengenalnya sebagai orang asing. Bagi orang-orang di kerajaan ini, pemilik nama Lacia la Midford sudah t idak ada lagi.



Itu sedikit melegakan Leia, sejujurnya. Tapi tetap saja, ia selalu merasakan ada yang mengawasinya entah dari mana.



Dan dia tidak menyukainya.



Semua orang yang ada di meja makan sibuk dengan makanan mereka masing-masing ataupun mengobrol dengan teman yang duduk di sebelah mereka. Mata Leia melirik kearah Ratu Iris, yang makan dengan tenang di kursi paling ujung, begitu pula Lucius, yang duduk di samping sang ratu bersama Irina. Leia menatap makanannya yang masih bersisa banyak dengan tidak berselera.



"Ada apa, Leia? Apa makanannya tidak sesuai dengan lidahmu?" bisik Mikail yang duduk di sebelahnya.



"Makananku dibubuhi racun," jawab Leia pelan, "Racun di dalam tubuhku bereaksi dengan racun lain."



Mendengarnya pandangan Mikail menggelap, namun sebelum Mikail sempat mengatakan apapun Leia menggenggam tangannya, "Tidak apa-apa. Hal seperti ini sudah biasa bagiku."



Mikail menatap Leia lekat-lekat tetapi dia kemudian berdiri tegak, membuat semua orang menatap kearahnya.



"Apa ada masalah, Yang Mulia?" tanya salah seorang perwakilan kerajaan lain.



"Siapa yang menyajikan makanan ini?" tanya pemuda itu dengan suara dingin.



Semua orang yang mendengarnya mengerutkan kening, tak terkecuali Ratu Iris, "Apakah ada masalah dengan makanan yang kami sajikan, Yang Mulia?"



Mikail menatap sang ratu, "Apa ini pelayanan yang Anda berikan kepada kami karena kami berasal dari Wilayah Terlarang?"



Ratu Iris mengerutkan kening tidak mengerti. Joanne dan Jean yang melihat Mikail terlihat murka segera membaui makanan yang ada di hadapan Leia dan mengerutkan kening.



"Makanan Ibu diracun," ujar Joanne, "Di antara kalian pasti ingin ibu kami mati!"



Ucapan gadis kecil itu membuat para tamu wanita terkesiap kaget sementara para tamu pria tampak ketakutan, terutama melihat wajah Mikail yang begitu murka. Para pelayan yang berdiri di belakang juga ikut menggigil ketakutan merasakan aura pemuda bersurai hitam yang tampak mendominasi tersebut. Mereka tidak menduga ada yang berani membuat masalah dengan orang-orang dari Wilayah Terlarang.



"Kutanyakan sekali lagi, siapa yang berani meracuni makanan istriku?" tanya Mikail lagi.



"Yang Mulia Mikail, kita bisa membicarakan ini dengan kepala dingin," ujar Ratu Iris, "Aku yakin ada yang tidak sengaja mencoba meracuni istri Anda."



"Tidak sengaja?" Mikail tersenyum dengan sebelah bibir, "Kalau begitu ...,"



BLAARR!!



Semua orang memekik ketakutan ketika Mikail meledakkan dinding di belakang punggungnya dan membuat angin malam berembus masuk ke dalam. Ratu Iris membelalakkan matanya melihat tindakan Mikail. Sinar kemarahan jelas terpancar di matanya, tetapi dia tidak menunjukkannya lebih jauh. Sebaliknya, dia berusaha untuk tidak membuat Mikail kembali melampiaskan kemarahannya.



"Aku tanya sekali lagi sebelum aku meratakan kerajaan ini," Mikail menatap semua orang, "Siapa yang mencoba meracuni istriku?"



Tidak ada yang bersuara. Sebagian besar ketakutan dengan aura yang dikeluarkan Mikail dan tindakannya barusan.



"Tidak ada yang mengaku? Baiklah, ini kemauan kalian, aku akan meratakan kerajaan ini—"



Seorang pelayan tiba-tiba jatuh berlutut dengan tubuh gemetaran. Mikail melirik pelayan wanita itu dengan tatapan dingin.



"Y-Yang ... Mulia, s-saya yang ... yang memberikan makanan itu pada ... pada istri Anda," kata pelayan itu mendongak menatap Mikail ketakutan, "T-tapi saya tidak meracuninya! Sungguh, saya tidak—"



"Aku tidak peduli,"




Mikail menatap Ratu Iris, yang balas menatapnya dengan ekspresi tak percaya, "Yang Mulia Ratu Iris, saya menghormati Anda dan seluruh tamu di sini, tetapi saya tidak akan mentolerir siapa pun yang berusaha menyentuh orang-orang saya, termasuk Leia. Bila ada yang mencoba menyakitinya, maka kalian semua akan merasakan apa itu yang disebut putus asa dan kehilangan harapan."



Mikail mengajak Leia dan anak-anaknya untuk pergi dari ruangan tersebut. Tidak ada yang berani bersuara, namun Ratu Iris harus bertindak cepat. Dia tidak boleh sampai membiarkan Leia pergi begitu saja demi memuluskan rencananya untuk membuat Lucius menjadi raja selanjutnya.



"Yang Mulia Mikail, Nona Leia, tunggu!" panggil Ratu Iris, "Apa Anda ingin melihat wilayah perbatasan kerajaan dan berburu bersama kami?"



"Berburu?"



"Ada tradisi turun-temurun di mana sebelum kerajaan ini merayakan ulang tahun, para penduduk akan memburu kijang, rusa, kelinci, ataupun tupai untuk dijadikan bahan pangan saat hari ulang tahun kerajaan tiba."



Mikail sempat melirik kearah Leia, melihat gadis itu mengangguk pelan, pemuda itu kemudian kembali menoleh kearah sang ratu, "Sepertinya menarik. Saya jarang ikut perburuan karena di Wilayah Terlarang, hal seperti itu dilarang. Kami memakan daging hewan hanya pada saat kami mengadakan pesta saja."



"Selebihnya kalian memakan sayuran dan buah?" tanya sang ratu dengan mata membelalak, "Begitu mulia. Sepertinya kerajaan kami harus belajar seperti Wilayah Terlarang."



Tentu saja itu palsu. Mikail jelas sekali melihat kepalsuan dalam setiap kata sang ratu, pun dengan Leia yang tetap diam di sampingnya.



"Dua hari lagi kami akan berangkat ke wilayah perbatasan. Ada hutan yang dihuni oleh berbagai hewan liar termasuk kelinci dan rusa. Apa Anda berdua ingin bergabung?" tanya sang ratu lagi.



"Aku tidak berminat," jawab Mikail, "Apa yang kuharapkan dari kerajaan yang mencoba membahayakan nyawa kami?"



"Anggaplah ini sebagai permintaan maaf dari saya, mewakili siapa pun yang berusaha meracuni istri Anda," kata Ratu Iris, "Saya ingin kita menikmati pesta ulang tahun kerajaan ini dengan damai. Bukankah Anda juga demikian?"



Mikail menatap semua orang yang ada di aula makan. Auranya begitu menekan hingga membuat siapa pun tidak berani bergerak dari tempat mereka.



Pemuda itu kembali menatap Leia. Gadis itu tidak menjawab dan memilih untuk menyembunyikan wajahnya di dada pemuda itu.



"Leia," tanya Mikail, "Kau mau ikut berburu?"



"Asal tidak ada lagi yang mencoba meracuni ataupun membunuhku, kurasa aku mau." Balas Leia.



Mikail mengangguk pelan, "Kurasa aku akan menyanggupinya."



"Sempurna!" Ratu Iris tersenyum lebar, "Saya akan meminta pelayan untuk menyiapkan keperluan kalian."



Mikail tersenyum sopan dan kembali berjalan meninggalkan aula makan bersama Leia dan anak-anaknya. Di dalam kepalanya, pemuda itu memikirkan berbagai kemungkinan yang mungkin akan mereka dapati selama berburu. Dia sangat yakin, sang ratu pasti akan menggunakan berbagai cara agar Leia tertangkap dan kemudian inti racunnya diambil.



Mikail tidak akan membiarkan hal itu terjadi.



***



Dua hari berjalan terlalu cepat, dan akhirnya hari berburu pun tiba. Sedari pagi seluruh penghuni istana sedang bersiap-siap menyiapkan segala keperluan yang akan dibawa untuk berburu selama tujuh hari tersebut mulai dari perbekalan, tenda, dan berbagai hal lainnya untuk menjamu tamu-tamu kerajaan yang datang dari luar maupun bangsawan kerajaan yang ikut bergabung.



Leia duduk di tempat tidurnya sambil mendongeng untuk Joanne dan Jean. Kedua anak kembar itu tidak berminat untuk ikut berburu dan memilih untuk menahan Leia berlama-lama di kamar bersama mereka.



Nanny melihat keakraban kedua anak kembar itu dengan Leia dan merasa terharu. Tentu ia sudah diberitahu oleh gadis itu mengenai siapa Joanne dan Jean. Tetapi melihat Leia mengasuh dua anak itu membuat Nanny senang. Setidaknya Leia memiliki teman bermain seperti yang diidamkannya sejak kecil.



Mikail baru kembali dari memeriksa persiapan mereka untuk berburu. Melihat Joanne dan Jean yang seolah menyiratkan untuk tidak membawa Leia pergi bersamanya, pemuda itu menghela nafas.



"Joanne, Jean, ayo, kita harus berangkat sekarang,"

__ADS_1



"Kami tidak mau pergi berburu. Hewan-hewan di sini semuanya lucu. Kami tidak mau memburu mereka," balas Joanne.



"Apalagi sampai menguliti dan memakan mereka." Celetuk Jean.



"Tetapi kalau kita tidak pergi, maka itu adalah tindakan yang tidak sopan," bujuk Mikail, "Kita adalah tamu di sini, sudah tentu kita tidak bisa menyamakan tempat ini dengan Wilayah Terlarang. Di sini, semua orang punya aturan yang lain yang harus ditaati. Sama halnya ketika orang lain berkunjung ke tempat kita."



Joanne dan Jean menggembungkan pipi mereka bersamaan. Leia tertawa geli dan menepuk kepala kedua anak itu, "Mikail benar. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita di sini. Tempat ini bukan seperti di rumah kita di mana kita bisa bertindak sesuka hati."



Kedua gadis kembar itu saling pandang, kemudian bangkit dari tempat tidur sebelum ganti menarik Nanny yang sedari tadi berdiri memperhatikan mereka. Wanita itu tampak sekali kewalahan menangani Joanne dan Jean, tetapi beliau tetap memasang senyum saat menghadapi mereka.



Mikail membantu Leia turun dari tempat tidur dan menggendongnya bak seorang putri.



"Kau akan kuturunkan ketika kita berdua sudah di atas kuda," kata pemuda itu.



"Kita akan pakai kuda?" Leia tersenyum lebar, "Tidak dengan kereta?"



"Tidak. Aku tahu kau lebih suka berkuda dibanding menaiki kereta kecuali terpaksa." Mikail tersenyum lembut.



Leia melingkarkan kedua tangannya di leher Mikail dan membiarkan pemuda itu membawanya ke luar istana. Mereka berdua tidak memerdulikan tatapan malu-malu dari orang-orang yang mereka lewati, begitu juga ketika melihat Irina menatap dengan tatapan penuh rasa iri saat mereka tiba di luar.



Mata Leia melihat dua ekor kuda dengan punggung yang kokoh berwarna coklat dan putih. Joanne dan Jean sudah menaiki kuda berwarna putih, dan kuda warna coklat lah yang tersisa. Pandangannya kemudian tertuju pada kaum bangsawan yang menaiki kereta, bahkan tamu dari luar yang datang lebih dulu dari mereka pun memiliki kereta berlapis emas. Lucu ketika Leia memikirkan apa yang dilakukan orang-orang itu terlihat seperti ajang untuk pamer harta.



"Tuan Mikail dan Nona Leia," salah seorang pelayan membungkuk hormat, "Kami sudah menyiapkan kereta untuk Anda berdua."



Pelayan itu menunjuk sebuah kereta dengan warna emasnya yang mencolok. Kening Leia berkerut tak suka. Ia menatap pelayan itu dengan tatapan tajam sebelum mengalihkan pandangannya kearah lain.



"Aku dan istriku akan menaiki kuda," kata Mikail, "Tidak perlu repot-repot untuk memberikan tumpangan pada putri yang sudah kalian buang sejak lama."



Wajah pelayan itu memucat. Matanya menatap Mikail dan Leia dengan tatapan ketakutan saat mereka berdua melewatinya dan langsung menaiki kuda coklat di samping gadis kembar.



Ratu Iris melihat hal itu dan jujur saja, itu membuatnya semakin gelisah. Padahal dia sudah mengatur agar sebuah kereta disiapkan untuk Mikail dan Leia, tetapi sepertinya baik pemuda itu maupun sang istri tampak cerdik menerka apa yang sebenarnya di dalam kereta tersebut.



Satu rencananya telah gagal.



Lucius, di lain pihak hanya diam menatap Mikail dan Leia. Dia melihat dengan jelas Leia lebih banyak tersenyum dan tertawa ketika bersama Mikail. Dan entah kenapa itu mengusiknya.



Tidak menunggu lama untuk segera berangkat. Ketika tamu terakhir datang bergabung, rombongan itu segera bergerak menuju hutan di perbatasan wilayah kerajaan. Hutan yang dimaksud tentu saja sangat Leia kenal. Ketika ia kecil, ia sering melewati hutan itu untuk sekedar mengunjungi toko roti yang sekaligus menjual bunga di dekat sana. Dari semua orang yang membencinya di Kerajaan Silvista, hanya pemilik toko roti dan istrinya saja yang melihat Leia sebagai gadis kecil yang tak berbahaya.



Mendadak saja Leia ingin pergi ke toko roti itu, sekedar mengetahui keadaan sang pemilik toko dan membeli bunga kesukaannya di sana.



Perjalanan mereka membutuhkan waktu setengah hari, kemudian mereka harus menemukan tempat yang cocok untuk mendirikan kemah. Bagi para bangsawan dari luar mungkin hal itu bisa ditangani oleh pelayan, namun di hutan tersebut, tidak hanya mereka harus mendirikan tenda sendiri, tetapi juga harus tahu bagaimana caranya untuk membagi semua yang mereka punya untuk orang-orang yang ikut berburu. Itulah kebiasaan dan aturan Kerajaan Silvista ketika mereka mengadakan kegiatan berburu seperti ini. Sebuah hal yang patut ditiru, tapi sayangnya begitu berhadapan dengan Leia dulunya, semua itu akan lenyap tanpa bekas.



Mereka semua kejam, tidak berbelas kasihan, bahkan menganggap Leia bukanlah manusia. Satu hal mendasar yang membuat Leia membenci Kerajaan Silvista hingga ke tulangnya.



Perjalanan terus berlanjut, Leia bersandar pada dada bidang Mikail yang dibalut kemeja dan rompi kulit coklat. Ia mendongak menatap rahang tegas pemuda itu dan tersenyum simpul, "Kau kelihatan senang dengan kegiatan ini."



"Tentu saja. Siapa tahu aku bisa membawakanmu bulu-bulu kelinci dan mungkin bisa membuatkan Joanne dan Jean sepasang penghangat tangan dan kaki." Jawab Mikail.



"Kau tidak mau penghangat buatanku?"



"Tentu aku mau, tetapi aku memprioritaskan anak-anak kita terlebih dulu."



Leia tersenyum lagi dan melirik kearah Joanne dan Jean. Kedua kakak-adik itu tampak menjaga satu sama lain, dan kuda Nanny yang menggeret sebuah kereta berisi barang-barang mereka mengikuti. Diantara seluruh rombongan, hanya mereka saja yang tidak membawa banyak barang. Kebanyakan barang-barang Leia dan Mikail ditaruh di kedua sisi pelana dan juga punggung kuda. Namun, walau kuda mereka membawa beban yang sedikit berat dari yang lain, Mikail tidak menyuruh kudanya untuk berjalan terburu-buru, sebaliknya mereka bergerak lebih santai dari yang lain.



"Ibu, coba lihat di sana!" Joanne menunjuk seekor burung yang terbang di atas mereka, "Burung itu cantik sekali!"



Leia mendongak dan melihat burung tersebut. Ia memicingkan mata untuk melihat lebih jelas, "Itu burung elang."



"Elang? Burung seperti apa itu?" tanya Joanne penasaran.



Leia tersenyum kecil. Ia kemudian bersiul dan memanggil burung tersebut untuk turun. Ketika ia melakukannya, rombongan tersebut agak kaget dan menoleh kearahnya, melihat burung elang berwarna cokelat keemasan itu turun ketika Leia bersiul membuat mereka terperangah. Wajar bila mereka terperangah, karena elang yang dipanggil oleh gadis itu adalah elang pemburu paling ganas yang tinggal di hutan tujuan mereka. Hewan dengan kekuatan sihir yang begitu besar itu sulit ditangkap dan sulit pula untuk dikendalikan.



Hewan sihir termasuk langka di Kerajaan Silvista. Hanya sedikit yang mampu menguasai sihir hingga level tertinggi, tetapi itupun hanya bisa dihitung dengan jari. Berbeda dengan beberapa wilayah yang memiliki penyihir dalam jumlah besar, namun tidak bisa menyamai energy sihir yang dimiliki oleh orang-orang dari Wilayah Terlarang.



Leia menatap elang yang kini hinggap di bahu Mikail dan memperhatikan mata binatang itu menatapnya sebentar sebelum menundukkan kepalanya seolah sedang memberi hormat.



"Dia mengenalmu, Bu?" tanya Jean yang melihat sikap elang tersebut.



"Aku pernah bertemu dengannya satu kali, saat menyelamatkannya dari jebakan amatir di hutan."



Suasana tegang seketika kembali hadir diantara rombongan tersebut. Leia bisa merasakannya, tetapi ia tidak memerdulikan hal tersebut.



Elang itu menatap si gadis kembar, kemudian mengepakkan sayapnya sebelum terbang kembali ke angkasa.



"Dia masih terlalu malu untuk bicara dengan orang asing," kata Leia, "Elang itu adalah satu dari sekian hewan sihir yang ada di kerajaan ini."



"Pengetahuanmu cukup luas, Nona Leia,"



Kepala gadis itu menoleh kearah Lucius yang mendekatkan kudanya dengan kuda Mikail. Leia baru memperhatikan kalau pemuda itu menggunakan kuda, bukan menggunakan kereta.



"Terima kasih, Pangeran Lucius. Saya hanya kebetulan mengetahui hal tersebut." Balas Leia sopan sambil menyandarkan kepalanya di lekukan leher Mikail.



Sebelah tangan Mikail terangkat dan menepuk kepala Leia dengan sayang. Hal itu diperhatikan oleh Lucius dan ia hanya bisa mendecih.



"Perhatikanlah waktu dan tempat bila kalian ingin bermesraan," kata sang pangeran, "Kemesraan kalian bukan untuk tontonan kami, 'kan?"



"Memang bukan," balas Mikail, "Tapi aku hanya ingin memperlihatkan bahwa gadis yang bersamaku ini bukanlah putri yang kalian hina dan buang begitu saja."



Ucapan itu menohok keras Lucius. Raut wajah pangeran itu terlihat tidak mengenakkan. Walau ucapan Mikail hanya bisa didengar olehnya, tetapi tidak urung membuat Lucius merasa ... bersalah.



Mikail melirik kearah Lucius, "Jika kau tak keberatan, tolong tinggalkan kami sendiri."



Pemuda bersurai hitam itu memacu kudanya lebih cepat disusul oleh si kembar. Meninggalkan Lucius di belakang.



Leia sempat melihat raut wajah Lucius, "Kau ternyata bisa bersuara dengan nada seperti itu, ya?"



"Kau keberatan?" Mikail balas bertanya.



"Tidak. Aku malah senang," Leia menyentuh pipi Mikail dengan lembut, "Kau sudah banyak berubah. Aku senang."



"Dan itu berkatmu," Mikail tersenyum, "Kau yang mengubahku menjadi manusia, Leia. Sampai kita bereinkarnasi pun, aku tidak akan pernah mau mencari wanita lain selain dirimu."



"Apa itu sebuah janji?"


__ADS_1


"Benar. Sebuah janji yang tidak akan pernah hancur," Mikail menatap ke depan, "Janji seorang raja iblis pada ratunya."



__ADS_2