Poison Princess

Poison Princess
Chapter 18


__ADS_3

Setelah melihat dan mendengar percakapan di ruangan itu, Leia mengikuti Kana yang dipanggil menuju ruangan lain di mana kedua orangtuanya sudah menunggu. Kana menduduki sebuah sofa di depan kedua orangtuanya dan menunggu mereka berbicara.



"Aku tidak percaya pada pemuda itu," kata ibunya tanpa basa-basi, "Dia kelihatan berbahaya. Aku merasakan dia memiliki rencana tersembunyi dibalik maksud ucapannya."



"Tidak, Marie. Aku rasa kau salah," ujar ayahnya menyela, "Pemuda itu cukup baik untukku."



Kana menatap kedua orangtuanya yang berdebat dan menghela napas. Perdebatan ini akan sangat panjang, mengingat ibunya tidak akan menyerahkannya pada sembarang pria.



Sifat yang sangat ingin ditiru oleh Kana.



"Ayah, Ibu," Kana mendapatkan perhatian mereka, "Aku tidak menyukai pemuda itu. Bisakah kalian membatalkan perjodohan ini?"



"Kau tidak menyukainya?" tanya ayahnya, "Dia seorang pangeran. Ini kesempatan yang bagus untuk memperluas koneksi keluarga kita."



"Aku tidak menyukainya," tegas Kana, "Dia terlihat licik dan aku membencinya."



Marie tersenyum puas pada ucapan Kana dan menatap suaminya, "Sudah diputuskan. Kita akan menolak perjodohan itu."



"Tapi, Marie, Kana ...," Alger menghela napas. Bila ibu dan anak itu sudah pada keputusannya, tidak ada yang akan bisa mengubahnya.



"Tetapi ...," Kana terdiam, "Aku ingin tahu ada apa di dunia luar sana. Hanya menjelajahi tempat yang sudah menjadi tempat bermain sejak kecil rasanya membosankan."



"Jadi, kau mau menerima lamaran pemuda itu?" Marie menyipit menatap putrinya.



"Aku tidak mau menerimanya, tetapi bila dia akan membawaku ke dunia luar, kurasa bukan masalah."



Kana tidak berbohong. Seumur hidupnya, ia tidak pernah keluar dari Wilayah Terlarang. Ia hanya pernah mendengar kisah-kisah tentang tempat-tempat di luar Wilayah Terlarang dari Tron atau teman-temannya yang diperbolehkan keluar untuk ... 'mengacau'.



Well, bukan mengacau, hanya saja kata itu yang paling tepat menggambarkan apa yang dilakukan Tron dan teman-temannya.



"Berarti sudah diputuskan," Alger tersenyum, "Kau akan menerima lamarannya."



"Aku tidak mau menerima lamarannya, Ayah," Kana memutar bola matanya, "Aku hanya ingin pergi ke dunia luar. Aku tidak akan menerima lamarannya."



"Aku akan membawa Marina dan Chloe bersamaku. Mereka berdua sudah cukup untuk menjadi pelayan pribadiku ketika di sana." Ujar Kana lagi.



"Tapi—"



"Alger, sudahlah," sela Marie, "Putri kita perlu mengenal dunia luar. Sudah cukup kita mengurungnya di sini tanpa mengajarinya tentang apa yang ada di luar Wilayah Terlarang."



"Lalu apa yang harus kita katakan pada pemuda itu? Ia menunggu jawaban kita esok pagi." Balas Alger.



"Katakan saja sejujurnya," ujar Marie, "Lebih baik kita jujur daripada masalah menghampiri."



Alger menatap Marie lekat-lekat. Istrinya itu hanya membalas tatapannya dengan senyum simpul.



"Baiklah," pria itu mengangguk, "Marina dan Chloe akan mendampingimu. Jika terjadi sesuatu, kau harus menghubungi kami sesegera mungkin."



Kana tersenyum puas, dia mengangguk anggun mendengar ucapan ayahnya, "Tentu, Ayah."



Leia merasa seperti ditarik lagi, kali ini dia membuka matanya setelah menghadapi rasa pusing yang luar biass. Matanya menangkap pemandangan taman istana di Kerajaan Silvista. Di sana ada Kana dan juga Marina, Nanny-nya. Mereka berdua berdiri di dekat sebuah danau buatan.



"Nona Kana,"

__ADS_1



Kana menoleh dan Leia dibuat tertegun melihat sorot mata Kana yang tampak kosong. Raut wajahnya pun datar ketika menatap Marina.



"Anda harus beristirahat," Marina tersenyum pedih melihat kondisi nonanya, "Sudah waktunya Anda meminum obat Anda. Mari, saya antarkan ke kamar ..."



"... pulang," bibir Kana bergetar, "Aku ingin pulang, Marina. Aku ingin pulang!!"



Gadis berambut perak itu jatuh terduduk dan menjambaki rambutnya. Marina dengan sigap menghentikan kedua tangan cantik Kana yang hendak menyakiti diri sendiri lagi.



"Aku benci tempat ini! Aku benci pria itu!" ujar Kana histeris.



Marina menelan ludah. Dia melihat ke kanan dan kiri, tidak Chloe di sini. Entah di mana pelayan Kana yang satu lagi itu.



"Siapapun, tolong ...," Kana melirih, mendadak tubuhnya terasa lemas, "tolong aku ..."



"Nona," Marina mengerjapkan mata, "Anda tidak boleh menyerah. Pasti ada cara agar kita bisa pergi dari kerajaan ini."



Kana terdiam. Dia memejamkan mata dan membiarkan Marina memeluknya. Walaupun status mereka adalah pelayan dan majikan, tetapi Kana menganggap Marina sebagai kakak, begitu juga Chloe, pria dari ras Salamander yang menjadi pengawal pribadinya.



"Tetapi penjagaan di sini terlalu ketat," bisik Kana, "Pria itu berusaha mengambil sesuatu dariku. Dan wanita itu ... wanita ular itu ..."



Wanita ular? Leia mengerutkan kening. Dia masih tidak percaya Kana pernah ke Kerajaan Silvista sebelumnya bersama sang Nanny, berarti yang dimaksud oleh Nanny-nya adalah ... ini?



"Anda tidak perlu khawatir," Marina tersenyum, "Saya dan Chloe akan menjaga Anda. Tidak akan kami biarkan wanita licik itu menyentuh Anda dan merenggut bayi yang kini tumbuh di perut Anda."



Kana hanya diam. Dia menyentuh perutnya yang datar dan menghela napas, "Anak ini tidak boleh berada di kerajaan ini. Wanita itu akan merenggutnya dan memberikannya sebagai persembahan kesejahteraan kerajaan ini."



Leia merasakan bulu kuduknya merinding. Jadi dia memang dibuat untuk dijadikan persembahan oleh orangtuanya sendiri? Betapa kejam ayahnya membuat Kana hamil dan berniat menumbalkan bayi itu. Leia juga yakin, wanita yang disebut-sebut oleh Kana adalah Ratu Iris, ibundanya yang jahat.




Suara itu membuat Leia menoleh. Dia melihat Ratu Iris dan Lucius kecil berdiri di koridor dan memandangi Kana dengan senyum pongah.



"Dia menangis lagi," kata Lucius, "Dia cengeng sekali."



"Dia memang lemah, Sayang. Tetapi itu tidak penting. Setidaknya dia tidak memiliki status yang berarti di istana ini." Balas Ratu Iris.



Lucius bergumam dan memperhatikan perut ibunya yang membesar, "Apa adikku merepotkan ibunda?"



Ratu Iris menatap perutnya yang besar dan tersenyum pada Lucius, "Adikmu tidak merepotkanku, Lucius. Dia bayi yang kuat. Sekuat dirimu dan ayahmu."]



Lucius tersenyum senang, "Aku berharap adikku adalah perempuan. Aku ingin sekali bisa melindunginya seperti aku melindungi Ibunda."



Ratu Iris terdiam mendengar ucapan Lucius. Dia akhirnya mengangguk pelan dan menepuk kepala Lucius yang tingginya hanya mencapai pinggang, "Kau tentu akan menjadi kakak yang hebat."



"Tentu saja!"



Pemandangan itu membuatnya sakit. Lucius pernah berjanji akan melindunginya? Hah! Yang dilakukan pemuda itu adalah mengejarnya dan ingin membuatnya menjadi tumbal.



Tunggu sebentar. Sebuah pemikiran memenuhi kepala Leia. Bila Kana mengandung seorang anak yang akan dikorbankan, lantas, kenapa dia yang menjadi putri kandung Ratu Iris juga harus dikorbankan? Dan masalah racun di tubuhnya ...



"Apa ... apa aku adalah anak Kana? Lalu bayi yang dikandung oleh Ibu itu ... bagaimana nasibnya?"



***

__ADS_1



Mikail melihat kedua kelopak mata Leia membuka perlahan. Gadis itu langsung bertatapan dengan matanya yang sehitam malam.



"Sepertinya kau punya banyak pertanyaan," kata Mikail.



Leia hanya diam. Mikail mengambil segelas air dan meminumkannya pada Leia yang menurut. Pemuda itu meletakkan gelas yang isinya tinggal setengah itu kembali ke atas meja dan menatap Leia.



"Tanyakan,"



"Apa maksud dari kenangan yang kau perlihatkan padaku? Itu kenangan milik Kana, bukan?" tanya Leia.



"Benar. Itu kenangan milik Kana," Mikail mengangguk, "Tetapi kau hanya melihat sebagian kenangan itu. Kana tidak pernah mau berbagi rahasia terkelamnya ketika dia berada di Kerajaan Silvista."



"Berarti ... Kana memang pernah ke Kerajaan Silvista? Karena itulah Nanny bilang dia menjagaku karena janji pada seseorang. Orang itu Kana, 'kan?"



"Aku tidak tahu, tetapi aku memiliki satu Moonlit lagi." Mikail memperlihatkan sebuah botol kecil dengan cairan berwarna ungu pucat.



Leia menatap botol kecil itu dan menatap balik Mikail, "Itu kenangan milik siapa?"



"Kenanganku," jawaban Mikail membuat Leia mengerjap, "Aku perlu memberitahumu tentang bagaimana kau bisa ditemukan olehku ketika terjun dari tebing, masa lalumu yang lain, dan ... kebenaran tentang siapa kau sebenarnya."



"Bukankah aku putri dari Kerajaan Silvista? Ah, benar, bagaimana nasib putri Kana?"



"Kau akan tahu sendiri jawabannya," Mikail membuka tutup botol itu dan meminumnya, Mikail kembali merenggut leher Leia dan mencium istrinya.



Leia nyaris tersedak karena gerakan tiba-tiba Mikail namun tidak dapat berbuat banyak. Cairan ungu pucat itu mengaliri tenggorokannya dan sebagian menetes dari sudut bibirnya. Ketika Leia sudah meminum semua ramuan itu, Mikail mencium kening Leia.



"Untuk kenangan yang ini, kuharap kau tidak membenciku." Bisik Mikail sebelum mata Leia terasa berat dan kegelapan kembali menelannya.



***



Kana menatap perwakilan dari kapal perang Kerajaan Silvista dengan mata setajam elang. Walaupun dia wanita, kedudukannya di Wilayah Terlarang sama tingginya dengan raja dan ratu Negara tersebut. Karenanya aura yang dikeluarkan Kana pun tampak agung dan mendominasi sehingga membuat dua orang prajurit di belakang perwakilan itu mengkeret ketakutan.



"Jadi," Kana mengetuk-ngetuk lengan kursi yang didudukinya, "Mengapa kau ada di sini dengan dua kapal perangmu?"



Perwakilan itu meneguk ludah. Bahkan suara Kana mengandung wibawa setara seorang raja.



"Kami ingin Wilayah Terlarang mengembalikan putri kami yang diculik, Putri Lacia la Midford." Ucap perwakilan itu.



"Tidak ada putri bernama Lacia di sini," ujar Kana tersenyum sinis, "Kau mengada-ngada, Sir. Kami tidak pernah menculik siapa pun dari dunia luar ke Negara kami. Jika iya, maka kami akan mendapatkan hukuman dari raja dan ratu iblis yang menguasai tanah ini."



Perwakilan itu mulai gemetar. Kana berdiri dan menghampiri pria itu, "Kau tahu, aku masih memendam dendam pada kerajaanmu. Raja dan ratumu membuatku terpenjara di kerajaan kalian dan memetik sesuatu yang harusnya kuberikan pada seseorang.



"Dan dengan dendam itu, kalian pikir kalian berani menginjakkan kaki di tanah ini? Apa kalian tidak punya otak?"



"Kami hanya menjalankan perintah. Ratu Iris meminta kami menjemput putrinya yang kalian culik," ujar perwakilan itu, "Jika Anda tidak ingin menyerahkannya baik-baik, kami akan menggunakan kekerasan.



"Oh, silakan," Kana terbahak, "Aku ingin tahu, apa kalian bisa mengimbangi kekuatan kami. Dan untuk ratumu itu ... aku punya pesan khusus untuknya bila kau selamat sampai ke kerajaan terkutukmu."



Kana menatap perwakilan itu dan dua prajuritnya, "Aku akan mengambil jantungnya dan mempersembahkannya pada iblis yang menanti jantung seorang pengkhianat."




__ADS_1




__ADS_2