Poison Princess

Poison Princess
Chapter 04


__ADS_3


Perjalanan selama seminggu melalui laut terbayarkan hari ini ketika kelompok yang berkunjung ke luar Wilayah Terlarang kembali dengan selamat. Sebuah kereta emas menanti di depan pelabuhan bersamaan dengan barisan rakyat yang menanti sang pemimpin dan calon istrinya. Tidak ada yang tidak mengenal Mikail Jester dan keluarga Vertensia. Rakyat Wilayah Terlarang sangat mengenal mereka karena merekalah pemimpin tempat itu dan memerintah dengan adil.



Kapal secara perlahan ditambatkan. Kapal berwarna putih bersih itu tampak sangat menyilaukan diterpa sinar matahari. Arak-arakan rakyat terlihat makin membahana ketika Mikail turun bersama Leia. Kana mengikuti dari belakang. Kali ini Leia mengenakan gaun berwarna nila lembut yang menonjolkan warna rambutnya yang berwarna seperti kayu mahoni. Gadis itu melingkarkan lengannya di lengan Mikail dan mereka bersama-sama membalas sapaan rakyat Wilayah Terlarang.



Melihat sambutan yang diberikan selalu seantusias ini membuat Leia terharu. Dulu ketika dia masih menjadi Lacia di Kerajaan Silvista dia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Jangankan disambut, rakyatnya bahkan enggan untuk menatapnya. Karenanya Leia bersyukur ia terjun dari tebing waktu itu dan berakhir di tempat ini. Setidaknya di sini dia lebih dihargai.



Mereka menaiki kerete emas yang telah menunggu. Leia menyempatkan diri untuk menepuk kepala beberapa anak kecil yang mencoba menyalaminya sebelum naik ke kereta. Dia duduk di samping Mikail dan memandang keluar jendela.



"Sambutannya selalu meriah, ya." Kata gadis itu sambil tersenyum, "Coba lihat apa yang diberikan anak-anak itu padaku."



Leia memperlihatkan dua buah kalung batu berkilau yang ada di tangannya dan Kana tersenyum lembut, "Itu tandanya kau dicintai, Leia. Mereka senang memiliki calon ratu sepertimu."



"Aku tahu," Leia mengangguk, "Aku akan berusaha menjadi ratu yang baik."



Mikail menepuk kepala Leia dan tersenyum samar sebelum mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Leia sendiri langsung bersandar di bahu pemuda itu dan memain-mainkan kalung batu di tangannya.



Kana yang duduk di hadapan mereka pun hanya tersenyum simpul. Diam-diam dia bersyukur Leia menjadi pendamping Mikail. Pasalnya, selama ini banyak wanita yang dicoba untuk disandingkan dengan pemuda itu berakhir tak bernyawa di kamarnya sendiri. Kekuatan Mikail yang nyaris setara dewa itu benar-benar tidak bisa dianggap remeh sehingga untuk mencari pasangan pun harus melalui seleksi yang ketat. Tak jarang para wanita yang termasuk dalam seleksi itu mengundurkan diri saat melihat kekuatan Mikail.



Hanya dengan Leia, Mikail langsung mengklaim gadis itu sebagai calon pendampingnya tanpa seleksi.



Kana sendiri mengakui, Leia bukanlah gadis biasa. Terutama karena racun di dalam tubuhnya adalah tanda bahwa dia ditakdirkan menjadi seorang pemimpin. Tetapi, Kana juga tahu, kekuatan dari racun Leia belum bisa dikendalikan sendiri oleh gadis itu, dan Mikail adalah pasangan yang cocok bagi Leia. Seolah-olah mereka memang sudah ditakdirkan bertemu dan harus bersama. Para wanita yang mendengar kisah seperti ini mungkin akan berpikiran bahwa itu adalah kisah romantis.



"Leia, setelah ini Mikail akan rapat sebentar dengan para menteri dan tetua, apa kau mau berjalan-jalan dulu di kastil pribadiku?" Tanya Kana.



"Boleh," Leia mengangguk, "Aku harus memberikan beberapa buah apel untuk King dan Queen. Mereka berdua pasti sudah menungguku."



Kana tersenyum tipis. King dan Queen adalah sepasang kuda Pegasus yang menjadi pemimpin ras kuda terbang di Wilayah Terlarang. Tak ada yang tak tahu bahwa di Wilayah Terlarang, selain memiliki kerajaan yang lebih maju dibanding kerajaan lain, memiliki hutan sihir lebat yang mengelilinginya, juga terdapat berbagai macam hewan mistis yang tinggal di dalamnya dan berbaur dengan manusia. Bahkan ras elf juga tak ubahnya seperti manusia, berinteraksi satu sama lain tanpa saling curiga.



Maka tidak heran banyak kerajaan yang ingin mengajukan kerja sama dengan Wilayah Terlarang, mengingat banyaknya keuntungan dan apa saja yang dimiliki oleh tempat itu.



Kereta emas itu sampai di kastil pribadi milik Kana yang terletak tak jauh dari istana utama yang megah. Kastil dengan warna putih dan atapnya yang berwarna merah itu berdiri megah. Dihiasi dengan berbagai macam tanaman yang membuat mata tak bosan memandang. Leia menatap kastil milik Kana dengan senyum lebar. Kana biasa merawat tanaman-tanaman di kebun pribadinya dan terkadang mengajarinya tentang tanaman obat dan racun, wanita itu juga sering membantunya mengontrol kekuatan dari racun ditubuhnya dengan merawat hewan-hewan yang datang ke kastil.



Kana dan Leia turun dari kereta sementara Mikail memperhatikan mereka.



"Aku akan berada di kastilmu nanti malam," kata pemuda itu, "Beristirahatlah dulu sebelum kita menyapa anak-anak."



Leia mengangguk. Kusir kuda menutup pintu kereta dan kemudian melajukan kereta itu pergi dari kastil Kana.



"Ayo, Leia," ajak Kana.



Mereka berdua memasuki halaman kastil dan melihat beberapa pelayan tengah merawat bunga-bunga yang sedang tumbuh mekar. Ketika melihat Kana dan Leia dating, serentak para pelayan itu menghentikan kegiatan mereka untuk member hormat pada kedua wanita itu.



"Kita langsung pergi ke taman belakang saja. Aku yakin King dan Queen sudah menunggu." Ujar Kana.



Mereka berdua berjalan memutar menuju taman belakang, di mana terdapat air mancur kecil dan taman bunga mawar putih. Kana berjalan mendekati taman bunga mawar dan bersiul. Leia menunggu ketika dia mendengar suara kepakan sayap dari kejauhan dan melihat dua ekor kuda terbang berwarna hitam dan putih terbang mendekati mereka.



Kedua kuda itu mengepakkan sayapnya yang besar dan mendarat dengan mulus di tanah berumput sebelum menundukkan kepala, member hormat.



"King, Queen," Leia menyentuh surai dua kuda itu dan tersenyum lebar, "Merindukanku?"



"Sangat, Gadis Kecil. Kau benar-benar pergi selama sebulan dan membuat kami harus meladeni anak-anakmu dan Pangeran selama kalian tidak ada di sini." Jawab si kuda putih, Queen.



Leia tertawa dan mencubit moncong Queen, "Aku sudah bilang kalau aku pergi selama sebulan dan itu bukan bohong. Dan sekarang kau malah protes?"



Queen meringkik lalu berjalan mengitari Leia sementara si kuda hitam, King, hanya diam dan memperhatikan pasangannya.



"Kau sedikit berubah. Hanya sedikit, Gadis Kecil. Apa kau makan terlalu sedikit selama kau pergi?"



"Kami pergi bukan untuk mendapatkan banyak makanan, tapi membantu orang-orang yang kesusahan," celetuk Kana, "Tidak apa-apa, Queen. Setelah ini Leia pasti akan mendapatkan nutrisi yang cukup dan akan terlihat lebih memukau ketika pernikahannya tiba."



"Ah, benar. Pernikahan." Queen meringkik senang, "Aku tak sabar membawamu di punggungku dan mengajakmu dan Pangeran berkeliling Wilayah Terlarang. Kau belum pernah pergi ke daerah para pixie, kan?"



"Memang belum. Dan aku akan menantikannya." Leia tersenyum manis, "King, kenapa kau tidak berbicara sedikit pun?"



"Aku menghargai pasanganku yang cerewet menyuarakan apa yang kupikirkan." Balas King menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kau tak tahu saja seperti apa sifat Queen, Gadis Kecil."



"Oh, terus saja kau meledekku, Sayang. Lihat saja nanti saat kita kembali ke kawanan, aku akan menendang bokongmu." Queen meringkik lagi.


__ADS_1


Leia dan Kana tertawa mendengar perdebatan dua kuda terbang itu. Di Wilayah Terlarang, semua hewan mistis bisa berbicara dengan manusia, dan kadang hewan-hewan mistis itu memilih manusia untuk menjadi familiar mereka sehingga mereka bisa berkomunikasi lewat telepati dan menyalurkan kekuatan mereka pada manusia tersebut.



King dan Queen adalah contohnya. Mereka berdua adalah familiar Mikail dan Leia.



"Sudahlah, tidak perlu bertengkar. Aku membawakan kalian apel lezat dari negeri yang kami kunjungi." Kata Leia, "Kalian mau memakannya, kan?"



"Tentu saja. Mencicipi makanan dari luar adalah hobi kami." Sambar King.



Leia kembali tergelak ketika King melesat kearah seoran pelayan yang membawakan sekeranjang buah apel merah dan besar-besar. Queen melenguh dan mengikuti King memakan apel yang diberikan pada mereka sementara Leia mengelus surai mereka berdua bergantian.



Kana berbicara sebentar dengan pelayan yang mengangguk-angguk sebelum kemudian kembali ke dalam kastil.



"Leia,"



"Hm?"



"Nanti siang Penjahit Istana akan datang untuk membantumu membuat gaun pengantin," ujar Kana, "Nina bilang dia akan datang saat tengah hari."



"Oh, begitu ..., tidak apa-apa. Dia akan menemuiku di sini, kan?"



Kana mengangguk.



"Aku masih punya waktu untuk bermain dengan King dan Queen." Leia tersenyum manis. "Apa anak-anak juga akan kemari?"



"Mereka sedang belajar di ruang belajar istana. Kemungkinan mereka akan menemuimu nanti sore saat makan malam."



"Baiklah," Leia mengangguk. "Aku tidak sabar memberikan mereka semua cinderamata yang kita dapatkan selama perjalanan."



***



Siang hari, penjahit istana yang dikatakan Kana sudah dating. Wanita muda dengan rambut disanggul dan mengenakan pakaian resmi layaknya pria itu tampak berwibawa namun ramah di saat bersamaan.



Ketika Leia dan Kana datang, wanita itu tersenyum lebar dan membungkukkan badannya dengan hormat, "Selamat siang, Lady Kana, Tuan Putri Leia. Saya datang seperti yang saya janjikan."



"Ya, terima kasih sudah dating, Nina." Kana tersenyum, "Bagaimana kalau kita langsung pergi ke ruang pakaian? Di sana kita bisa membicarakan bagaimana gaun pengantin yang cocok untuk Leia."




Nina membawa koper berukuran sedang yang dibawanya dan mengikuti dua wanita itu menuju ruangan di lantai dua. Di sana, terdapat banyak lemari-lemari dari kayu kualitas terbaik dan berderet di setiap sudut ruangan. Nina tahu itu semua adalah koleksi pakaian dan gaun milik Kana, dan bila dibandingkan dengan ruang pakaian wanita berambut perak itu, ruang pakaian Leia sedikit lebih luas dan menampung lebih banyak koleksi pakaian yang dipakai gadis itu.



"Nah," Nina meletakkan kopernya di atas sebuah meja, "Apa kita langsung mulai saja, Yang Mulia?"



"Boleh," Leia tersenyum manis.



Nina mengeluarkan beberapa kertas dan botol tinta serta pena bulu. Dia duduk di kursi di belakang meja dan menatap Leia sebentar, "Apa tidak masalah jika saya yang merancang gaun pengantin Anda?"



"Aku percaya dengan kemampuanmu. Aku akan memilih yang cocok dari setiap desain buatanmu." Balas Leia.



"Baik," Nina mulai mencoret-coret kertas itu dan memberikan beberapa yang sudah jadi pada Leia dan Kana untuk dipilih.



Kecepatan tangan Nina menggambar sketsa gaun sangat luar biasa. Dalam waktu kurang dari dua puluh menit sudah ada sepuluh sketsa kasar gaun pengantin yang sedang diperiksa oleh Leia dan Kana. Nina menunggu dengan sabar sementara pelayan mulai menghidangkan teh dan cemilan untuk ketiga wanita itu.



"Aku suka yang ini," kata Leia memperlihatkan kertas di tangannya pada Kana, "Menurutmu bagaimana, Kana?"



Kana melihat kertas yang disodorkan Leia dan melihat sketsa sebuah gaun pengantin yang tertutup dan memiliki lengan panjang. Terdapat hiasan berupa kaca-kaca kecil menyerupai bunga mawar di ujung gaunnya. Dari sketsanya, gaun itu akan membungkus tubuh Leia dengan ketat namun elegan. Sebuah tudung pengantin dengan hiasan mahkota bunga mawar dan lili juga turut disertakan dalam sketsa itu.



"Bagus. Aku menyukainya." Ujar Kana, "Bagaimana kalau yang ini, Nina?"



Nina melihat sketsa pilihan Leia dan Kana kemudian tersenyum simpul, "Ini gaun yang saya buat berdasarkan gambaran para siren. Mereka pasti bangga bila gaun pengantin Yang Mulia terinspirasi dari ekor sirip mereka."



"Benarkah? Kalau begitu aku tidak salah memilih." Leia tersenyum lebar, membuat wajahnya semakin terlihat manis.



"Kalau begitu, yang ini saja." Ujar Kana. "Bisakah kau mengerjakannya dalam waktu kurang dari dua hari? Pesta pernikahan Mikail dan Leia akan dilangsungkan dua malam lagi."



"Tidak masalah, Lady. Saya bisa membuatkannya bahkan hanya dalam waktu sehari." Balas Nina sambil tersenyum, "Kalau begitu, saya akan membuatnya sekarang."



"Baguslah." Kana mengangguk, "Aku akan menemanimu. Leia, kalau kau mau pergi jalan-jalan, pergilah sendiri. Kau bisa mengajak King atau Queen."



"Ide yang bagus." Leia mengangguk, "Terima kasih sudah mau membuatkan gaun pengantin untukku, Nina. Aku akan kembali sebelum makan siang."


__ADS_1


"Baik, Tuan Putri. Bersenang-senanglah."



Leia kemudian membungkuk sebelum keluar dari ruangan itu. Ia berjalan kembali menuju taman belakang di mana King dan Queen sedang asyik merumput dan dibersihkan oleh para pelayan kastil.



"Kalian bisa pergi, aku akan berjalan-jalan bersama mereka." Perintah Leia pada para pelayan itu.



"Baik, Yang Mulia,"



Para pelayan itu segera pergi meninggalkan gadis itu sendirian. Leia memperhatikan mereka kembali ke dalam kastil kemudian menoleh kearah King dan Queen, "Ayo kita jalan-jalan ke pantai."



"Ide bagus, Gadis Kecil. Kita bisa melihat pemandangan indah di sana di saat siang hari. Kami menemukan tempat yang bagus di mana kau bisa melihat hamparan pasir putih sepanjang mata memandang." Kata Queen.



"Benarkah?" Leia tersenyum lebar, "Kalau begitu, ayo kita ke sana!"



Gadis itu naik ke punggung Queen dan kuda itu mengepakkan sayapnya sebelum melesat ke udara diikuti oleh King. Kedua tangan Leia berpegangan pada surai kuda putih itu dan tersenyum lebar merasakan angin mengempas di kulit wajahnya. Ia sangat menyukai sensasi angin yang berhembus kencang dan menderu di telinganya.



"Pegangan yang erat, Gadis Kecil. Perjalanan kita akan sedikit keras karena kau sudah lama tidak bepergian bersama kami." Ujar Queen sambil meringkik.



"Aku suka mengambil resiko," Leia tertawa dan memegang surai Queen dengan sebelah tangan sementara tangannya yang lain direntangkan, melawan arah angin.



***



Sementara itu, di istana utama, Mikail sedang berkutat dengan berkas-berkas yang diberikan oleh para menteri dan tiga orang tetua duduk di sampingnya. Mereka membahas keamanan Wilayah Terlarang dan juga rencana jalur perdagangan melalui laut dengan relasi mereka yang berada di luar wilayah.



"Semua laporan sudah kubaca," kata Mikail sambil menunjuk berkas-berkas di hadapannya, "Aku cukup senang kalian bisa bertindak tanpa harus kuminta untuk kemajuan Wilayah Terlarang. Secara pribadi, aku menyetujui jalur perdagangan melalui laut. Walau kita dikenal mengisolasikan diri dari dunia luar, tapi kita tidak buta dan tuli soal apa yang terjadi di luar sana. Karenanya aku menyetujui rencana ini.



"Bagaimana dengan para tetua?" Tanya pemuda itu menatap ketiga tetua yang duduk di sampingnya.



"Saya juga setuju dengan keputusan Pangeran." Kata tetua wanita dengan rambut yang sebagian besar sudah memutih, "Kita hanya perlu mengubah persepsi orang-orang tentang Wilayah Terlarang yang selalu menutup diri dari dunia luar."



"Saya juga, tetapi kita harus memikirkan konsekuensi dan apa saja yang menjadi keuntungan dari rencana ini." sahut tetua lain, seorang pria yang telah tua dan mengenakan pakaian serba biru.



"Kalau boleh, biar saya yang menganalisa rencana jalur perdagangan ini," tetua terakhir mengangkat tangannya, "Saya pernah bepergian ke luar wilayah seperti Anda sebelumnya dan saya akan mencoba membicarakan hal ini dengan setiap relasi yang bekerja sama dengan Wilayah Terlarang."



"Baguslah jika semua orang setuju," Mikail tersenyum tipis, "Rapat hari ini selesai. Silakan kalian kembali ke rumah masing-masing. Terima kasih atas kehadiran kalian."



Setiap orang lalu berdiri dari kursi dan keluar dari ruang rapat. Mikail memperhatikan para menteri dan beberapa pejabat yang ikut rapat bersamanya dalam diam.



"Tetua Gary," panggil pemuda itu, "Menurut Anda, apa ada kemungkinan pengkhianat yang muncul dari mereka semua?"



Tetua Gary mengerutkan kening, "Saya tidak yakin. Setiap menteri dan para pejabat terlihat menyakinkan, bahkan kalaupun mereka berakting, saya sulit melihat sisi asli mereka."



"Bagaiman dengan kalian, Tetua Jullian, Tetua Diana?"



"Saya merasa walaupun kemungkinannya kecil, akan ada pengkhianatan di masa yang akan datang." Kata Tetua Diana, "Walau tak kentara, tapi ini pasti berhubungan Tuan Putri Leia. Sejak beliau muncul, banyak yang hanya sekedar penasaran atau ingin mendapatkan inti sari racun di tubuh Tuan Putri."



"Hmm ...," Mikail memijat dagunya, "Kuakui itu bisa menjadi batu sandungan untuk wilayah ini di masa mendatang. Tetua Gary, apa kau bisa menyelidiki siapa saja yang berpotensi menjadi pengkhianat? Agar aku bisa langsung mengambil tindakan jika diperlukan."



"Baik, Yang Mulia Pangeran." Sahut Tetua Gary.



"Kalian boleh pergi, aku akan berada di ruang kerjaku menunggu Leia untuk membahas rencana pernikahan kami dua hari lagi. Saat petang, kalian bisa langsung ke ruang kerjaku untuk bergabung."



Ketiga tetua itu mengangguk dan keluar dari ruang rapat, meninggalkan Mikail sendiri di ruangan besar itu.



Pemuda itu menarik nafas dan mengembuskannya perlahan. Dia menjentikkan jarinya dua kali dan seorang pelayan muncul dari balik pintu tersembunyi di dekatnya, "Ya, Pangeran?"



"Bawakan berkas-berkas ini ke ruang kerjaku." Perintah pemuda itu, yang langsung dilaksanakan oleh si pelayan.



Mikail berjalan keluar dari ruang rapat dan melintasi koridor. Didengarnya suara-suara tawa para gadis yang berkunjung ke istana. Ia melirik mereka sekilas sebelum melanjutkan langkah menuju ruang kerjanya. Walau para gadis itu terlihat sangat cantik dengan gaun dan perhiasan di tubuh mereka, Mikail lebih senang melihat Leia yang tampil sederhana dan jarang menyanggul rambutnya tinggi-tinggi.



Ngomong-ngomong, soal gadis itu, Mikail kepikiran akan sesuatu, terutama soal kakak kandung gadis itu, Lucius la Midford. Walau ucapan dari pemuda yang mungkin sepantaran dengannya itu terdengar main-main di telinga Leia, tetapi Mikail yakin, Lucius tidak akan menyerah. Buktinya pemuda pirang itu selalu membujuk Leia agar kembali ke Kerajaan Silvista. Bukan tak mungkin kalau tiba-tiba pangeran kerajaan itu mengutus seorang utusan untuk dating dan meminang Leia. Kalau itu terjadi, Mikail mungkin akan langsung menjebloskan utusan itu ke penjara tanpa memberitahu Leia.



Mikail tidak suka jika ada orang lain yang ingin merebut Leia darinya. Leia adalah miliknya. Ia bahkan sudah menandai gadis itu sebulan sebelum mereka bepergian ke luar wilayah waktu itu. Mikail tidak pernah merasakan perasaan suka apalagi cinta pada lawan jenis. Semenjak kematian ibu dan ayahnya, Mikail menjadi seperti boneka tak berperasaan. Bekerja tanpa henti dan tidak pernah ingat untuk mengurus dirinya sendiri.



Dan pada saat Leia muncul di kehidupannya, Mikail merasakan rasanya menjadi manusia normal. Hanya dengan gadis itu dia bisa menjadi dirinya sendiri dan tidak selalu kaku menghadapi kehidupannya. Begitu tahu Leia juga menyayanginya, Mikail sangat senang. Setidaknya ada satu orang lagi yang mengerti seperti apa sifat dan bagaimana ganasnya kekuatan yang dia miliki dan terkadang memerlukan pelampiasan.



Dan karena itulah, mana mau Mikail melepaskan Leia dan membiarkan pria mana pun merebut gadis itu darinya?



__ADS_1


__ADS_2