
Pertarungan antara Iris dan Kana seolah tidak ada habisnya. Mereka berdua sudah sama-sama terluka, namun dengan darah iblis di dalam tubuh mereka, luka-luka yang semula terdapat di kulit tubuh pun menghilang tanpa bekas.
"Aestera fiere!"
Iris mengeluarkan sihir api yang berubah bentuk menjadi naga merah yang mengarah pada Kana. Namun wanita perak itu dengan cepat menghindar dan merapalkan mantra es agar naga api itu membeku.
"Sepertinya kemampuanmu berkembang cukup pesat," kata Kana, "Kau benar-benar berbakat, Kak."
"Sudah sewajarnya, karena akulah yang seharusnya menjadi penerus keluarga!"
Iris menyerang Kana dalam jarak dekat. Di tangannya ia menggenggam sebilah pedang yang dengan lihainya ia ayunkan dan nyaris mengenai leher Kana beberapa kali.
"Seharusnya aku yang menjadi penerus keluarga, tetapi karena kau lahir kaulah yang mendapatkannya," ujar Iris, "Aku sangat membencimu, adikku tersayang. Karena itu, matilah demi diriku!"
Serangan wanita itu kini lebih ganas dibanding sebelumnya. Kana harus mengusahakan segala upaya agar tidak mati konyol di tangan Iris. Walau ia mengatakan bahwa Iris berbakat, namun sayang sekali wanita itu tidak mengimbanginya dengan tepat sehingga kini kekuatan Iris tak terkendali.
Ya. Kana bisa melihat bahwa kekuatan Iris sudah mencapai batas. Entah apa yang dilakukan oleh wanita itu, Kana tidak ingin mengetahuinya. Sebagai seorang dari keluarga Vertensia, mencapai batas kekuatan bisa berakibat fatal. Salah satunya adalah kematian, dan sepertinya Iris tidak mengetahui hal itu.
Satu serangan dari Iris menyadarkan Kana. Ia melompat mundur dan mengambil napas.
Bila seperti ini, tidak ada cara lain! Batin Kana.
"Iris, kau tahu mengapa kau diusir dari Wilayah Terlarang bahkan tidak diakui lagi sebagai bagian dari Keluarga Vertensia?" kata Kana.
"Apa aku perlu memerdulikan hal itu sekarang? Kau sebentar lagi akan mati, dan aku akan menguasai negara ini setelah aku membunuh pangeran iblis itu beserta putrimu." Balas Iris.
"Sayang sekali, Iris ..., kau terlambat."
Kana mengangkat sebelah tangannya. Aura sihir berwarna kebiruan menguar dari tubuhnya sembari ia merapalkan mantra.
"Waynd, sollune de mysthe ..., Iartha, sollune de dreste ..., Werdean, sollune de fuirlte ..., Feires, sollune de leffe ..., hiere sonde fo te longe ..."
Iris membelalakkan mata mendengar mantra yang dirapalkan oleh Kana. Wajahnya berubah pucat . Ia mengangkat tangannya, berusaha mematahkan mantra yang diucapkan oleh Kana. Namun ia terlambat selangkah ketika sulur tanaman yang mucnul dari dalam tanah membelit tubuhnya.
"Kau ... keparat!"
Kana menjentikkan jarinya, dua batang pohon muncul secara bersamaan dari dalam tanah dan mengapit Iris di dua sisi.
"Dengarkan suaraku wahai tanah yang ada di bawah kaki ini, dengarkan suaraku wahai angin yang berembus saat ini, air dan api bersatulah menciptakan neraka bagi jiwa yang tersesat di hadapanku ..."
Iris mencoba melepaskan diri dari sulur tanaman yang membelit tubuhnya. Namun sulur itu seakan memiliki jiwa sendiri. Setiap kali wanita itu berhasil memutuskan satu sulur, dua sulur akan membelit tubuhnya, hingga akhirnya pergerakannya benar-benar berhenti. Matanya menatap Kana yang kini berdiri di depannya dengan sorot kebencian.
"Jangan menatapku seperti itu, kau sendiri yang menuai apa yang semula kau tebarkan," kata Kana, "Aku hanya membantumu menuainya lebih cepat."
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Kana! Seharusnya kau tidak pernah dilahirkan!"
Kana menatap Iris yang melemparkan tatapan tajam padanya, "Aku sudah sering mendengar hal itu, dan putriku juga mendapatkan perlakuan serupa. Kau sadar bahwa kau bahkan sudah melampaui batas kemampuanmu?"
"Aku tak peduli!" jerit Iris, "Aku akan menghancurkan siapapun yang berniat menghalangi jalanku, dan—aargh!!"
Belitan sulur tanaman di tubuhnya makin erat dan membuat kulit Iris tergores di beberapa bagian. Kana kembali merapalkan mantra, menyelesaikan sihir itu hingga akhirnya kedua pohon yang ada di sisi kanan dan kiri Iris mulai membesar dan menghimpit tubuh wanita itu, yang kini menjerit kesakitan.
"Bakar jiwanya, buang tubuhnya, hancurkan segala hal yang ada pada pendosa di hadapanku ... lenyapkan keberadaannya dari dunia ini. Selamanya."
Kedua pohon itu makin membesar dan ketika sudah mencapai batasnya, tubuh Iris terhimpit di antara kedua pohon tersebut hingga tewas. Kana tidak menunjukkan ekspresi sedih. Sebaliknya, dia merasa kasihan pada Iris. Kekuatan wanita itu sangat luar biasa, tetapi sayang, menangani mantra sihir kelas menengah yang dirapalkan Kana tidak bisa ia lakukan, tanda bahwa kekuatannya menurun dengan drastis.
__ADS_1
Bahkan tidak ada yang menyadari bahwa ratu Kerajaan Silvista tewas di tengah medan pertempuran saat ini. Semua orang tengah sibuk dengan lawan masing-masing.
"Sekarang ...," pandangan Kana beralih pada pondok tempat ia merasakan aura sihir Mikail dan Leia, "Aku perlu memberikan pelajaran bagi siapapun yang berniat merusak kebahagiaan putri dan juga menantuku."
***
Leia menatap Mikail yang berdiri di sisinya dan merasa aman. Racun di dalam tubuhnya nyaris meledak keluar andai Tron mencoba melakukan sesuatu kepadanya.
Tron berdiri, mengangkat tubuhnya dengan susah payah dan mengelap darah yang mengalir dari sudut bibirnya, "Kukira kau tidak akan mengganggu, Adik Kecil."
"Bila kau mencoba menyentuh Leia lagi, maka kupastikan kau tidak akan bisa keluar dari neraka untuk selamanya." Kata Mikail dingin.
Tron tertawa. Sikap protektif Mikail membuatnya cukup terhibur, tetapi rasa lapar yang sudah begitu menguasai tidak bisa dia acuhkan begitu saja.
Mikail melihat sinar mata Tron yang terlihat seperti serigala kelaparan. Ia memeluk Leia erat dan mengangkat sebelah tangannya, "Kau berniat macam-macam, maka aku akan menyerangmu. Tak peduli kau adalah saudaraku atau bukan."
"Aku sangat menantikannya." Balas Tron sambil tersenyum miring.
"Kau ..."
"Mikail!"
Pelukannya pada Leia terlepas secara paksa karena bayangan hitam yang menarik tangan gadis itu. Mikail mengeluarkan sihir angin dan menarik Leia kembali, namun Tron mencegahnya. Sebuah tendangan melayang mengarah ke kepala Mikail, pemuda itu dengan cepat berguling menghindar bersama Leia.
"Kau tidak mungkin berusaha untuk menghindar dariku terus-menerus, bukan?" kata Tron, "Bertarunglah, Mikail!"
"Kau yang memaksaku."
Mikail menjentikkan jarinya, enam bola api biru melayang ke arah Tron dengan sangat cepat. Tetapi seperti yang diharapkan dari seorang keluarga Jester, Tron bisa menghindarinya dengan mudah dan membalikkan serangan itu kembali pada adiknya. Mikail menjentikkan jari kembali dan membuat bola-bola api itu menghilang menjadi kepulan asap.
"Aku harus membunuhnya," balas Mikail, "Bila kau menghalangiku, aku akan menghukummu!"
Leia tidak bisa berbuat apa-apa. Pemuda itu menyerang sambil melindunginya. Leia tidak suka dengan keadaannya seperti ini. Seharusnya dia membantu Mikail, bukan malah mendapat perlindungan seperti ini.
Apa karena aku lemah? Apa karena racun di tubuhku tidak lagi berfungsi dengan benar?
Namun, walaupun Mikail menyerang sambil melindungi Leia, kecepatan serta akurasi serangan pemuda itu tidak berkurang. Sebaliknya, serangan demi serangan yang dilemparkan Tron makin melemah. Hingga akhirnya ketika Tron tampak kelelahan, Mikail menggunakan mantra yang memunculkan kabut yang membuat napas seseorang bahkan iblis sekalipun, sesak.
"Cih, wanita itu pasti sudah mati," desis Tron dingin, "Sepertinya aku memilih partner yang salah."
"Kau memang selalu begitu," balas Mikail, "Kali ini aku akan memberikanmu kesempatan, Tron."
"Apa aku terlihat ingin mengambil kesempatan yang kau berikan?" kata Tron.
Pria itu menjentikkan jarinya, menguarkan aura kehitaman yang membuat kabut buatan Mikail menghilang dalam sekejap mata. Tron merentangkan tangannya, membuat kabut gelap dari tubuhnya semakin keluar.
"Leia, tutup hidung dan mulutmu," kata Mikail, "Dia menggunakan sihir yang akan mengancam jiwa manusia yang menghirupnya."
"Mikail, aku ingin membantu ...," kata Leia, "Aku tidak ingin terus kau lindungi."
"Saat ini kau memang harus dilindungi. Jangan membuat semuanya bertambah rumit, Sayang." Balas Mikail.
Sebelum Leia sempat membalas, Mikail sudah menutup hidung dan mulut Leia dan menyelimuti mereka berdua dengan jubahnya. Matanya menatap tajam Tron. Pria itu menyeringai pada mereka berdua tepat ketika kabut tersebut mengarah pada Leia.
Sial!
__ADS_1
"Dyferente!"
Mikail mengibaskan tangannya dan membuat sebagian kabut itu menghilang. Namun tetap saja, satu mantra kecil seperti itu tidak cukup. Mikail tidak bisa membahayakan Leia begitu saja. Walau di dalam tubuh Leia mengalir darah Vertensia, dia tidak mau mengambil resiko istrinya tewas di tangan Tron.
"Leia, maafkan aku."
Leia mengerutkan kening tak mengerti mendengar ucapan Mikail. Namun sedetik kemudian kesadarannya seperti direnggut paksa. Tubuh Leia yang pingsan segera ditahan oleh Mikail. Pemuda itu terpaksa menidurkan Leia agar tidak melihat wujud aslinya sebagai iblis.
"Kau membuatnya pingsan karena tidak ingin dia melihat penampilanmu saat menjadi iblis? Manis sekali, adikku sayang." Ejek Tron.
"Setidaknya aku masih lebih baik dibanding dirimu yang terjerat pada semak berduri yang sama untuk kedua kali," balas Mikail tenang, "Sekarang, bisakah kita bertarung dengan santai?"
"Tentu saja, Mikail. Bagian tubuh mana yang kau ingin aku hancurkan terlebih dulu?"
"Aku lebih memilih kepalamu." Balas pemuda itu.
"Kita lihat saja apa itu akan terjadi tak lama lagi!"
***
Kana terkesiap saat menyadari aura Mikail yang ia rasakan mulai naik drastis. Ia menatap langit-langit pondok, di mana ia merasakan aura Mikail berasal.
"Anak itu ... jangan-jangan dia ingin menggunakan wujud iblisnya untuk mengalahkan Tron?"
Kana tahu persis apa yang terjadi bila Mikail menggunakan sosok iblisnya. Dalam kondisi normal saja pemuda itu bisa menewaskan setengah Wilayah Terlarang, dan bila dia menggunakan sosok iblisnya, yang artinya Mikail akan memakai seratus persen kekuatannya ... itu sama saja dengan kehancuran dunia.
"Ini tidak bisa dibiarkan!"
***
Mikail memejamkan matanya. Sosoknya yang tampan perlahan berubah. Sepasang tanduk muncul di kepalanya. Pakaiannya pun ikut berubah seiring kabut yang lebih gelap dari milik Tron menyelimuti tubuhnya. Kuku-kuku pada jemarinya berubah panjang seperti cakar. Dan ketika kelopak matanya terbuka, bola matanya yang sewarna batu rubi menyala terang.
Tron terkekeh. Ia juga menggunakan wujud aslinya sebagai iblis. Aura keduanya membuat siapapun yang merasakan gemetar dan tanpa sadar berlutut karena kuatnya aura mereka.
"Kau siap masuk ke dalam neraka terdalam, Tron?"
"Aku bahkan siap untuk menggulingkanmu dari kekuasaanmu saat ini, adikku." Balas Tron.
Mikail mendecih. Dia meletakkan tubuh Leia yang pingsan di lantai dan mulai menyerang Tron. Pertarungan mereka membuat seisi pondok bergetar. Tidak ada yang saling mengalah, keduanya mengeluarkan kemampuan mereka dan tak peduli akibat pertarungan mereka para pasukan Silvista dan juga Wilayah Terlarang yang berada di luar pondok berlutut dan gemetar ketakutan.
Lucius yang tadinya melawan Jenderal Saldera juga ikut berlutut. Dia merasa asing dengan aura mengerikan yang menekan kekuatan semua orang termasuk dirinya, namun ada perasaan takut yang sangat besar menyadari bahwa aura tersebut berasal dari pondok.
Lacia ..., dia bisa celaka bila terus berada di sana!
Ia berusaha berdiri, namun kedua kakinya seolah menempel pada tanah. Dia tidak bisa menggerakkan kedua kakinya dan Lucius merasakan rasa takut yang amat sangat merasuk ke dalam tubuhnya.
"Sial,apa-apaan aura sihir ini?"
"Raja Mikail mengamuk," salah seorang prajurit di dekatnya berujar, membuat Lucius menoleh, "Ini kali kedua beliau mengeluarkan kekuatan seperti ini. Dan ini adalah salah kalian karena berani menculik ratu kami!"
Lucius hendak membalas ucapan itu, namun kekuatan yang ia rasakan bertambah kuat. Ia mengedarkan pandangan dan melihat banyak yang sudah pingsan karena kuatnya aura sihir yang menguar di udara. Mata Lucius kemudian kembali menatap pondok. Dia mendecih ketika menyadari dia tidak bisa berbuat apa-apa padahal dia adalah seorang penyihir yang memiliki kekuatan dan aura sihir yang cukup besar.
Tetapi menghadapi aura sihir sebesar ini, apalagi dari bangsa iblis ... sepertinya dia tidak bisa mengatasinya.
__ADS_1