Poison Princess

Poison Princess
Chapter 22


__ADS_3

Leia mendesis kesakitan saat merasakan tubuhnya tidak bisa digerakkan. Membuka mata, dia mendapati dirinya berbaring di sebuah ranjang besar. Kedua tangan dan kakinya memang tidak diikat, tetapi ia merasakan seperti diikat oleh tali yang sangat kuat.



Melirik ke samping, dia melihat Lucius duduk di kursi di sebelah tempat tidur. Pria itu tengah memandang ke luar jendela dan ketika menoleh, mata mereka saling beradu.



"Kau sudah sadar," Lucius berdiri dan menghampiri Leia, "Apa kau merasakan kesakitan di sekujur tubuhmu?"



"Kau apakan tubuhku, brengsek?" tanya gadis itu.



"Aku hanya memberimu waktu untuk berpikir, Lacia. Sudah sewajarnya kau ikut aku kembali ke tanah kelahiranmu sendiri." Ujar Lucius.



"Sayang sekali, aku bukan adik kandungmu," balas Leia, "Adikmu sudah dibunuh oleh ibumu sendiri dan aku hanyalah pengganti."



Lucius terdiam, sebelah tangannya menyentuh surai Leia, "Aku tahu. Dan itu artinya tidak ada yang bisa menghalangiku untuk melakukan apapun padamu, bukan?"



Senyum yang ditunjukkan Lucius membuat Leia menggigil. Pria itu tersenyum dengan cara yang berbeda dari yang pernah ia lihat. Lucius selalu tersenyum meremehkan atau menatap sinis padanya.



Tetapi mengapa sekarang ...



Suara pintu yang diketuk mengalihkan perhatian mereka. Lucius menyilakan siapapun yang berada di luar untuk masuk ke dalam. Seorang prajurit masuk, memberi hormat dan kemudian memberikan laporan pada Lucius.



"Lapor, Pangeran. Ada pergerakan mencurigakan yang terlihat di area barat perkemahan kita. Kami menduga itu adalah pasukan Wilayah Terlarang." Lapor sang prajurit.



"Begitu? Kalau begitu katakan pada Gardos untuk menemuiku di ruang rapat."



"Baik, Pangeran."



Ketika prajurit itu pergi, Lucius kembali menatap Leia, "Sepertinya pangeran berkuda putihmu sudah datang."



"Mikail akan membunuhmu." Kata Leia.



"Aku tidak yakin itu akan terjadi, terutama karena aku bukanlah Lucius yang dulu," ujar pria itu, membuat Leia mengerutkan kening, "Kau tidak perlu berpikir terlalu keras, Lacia. Dan percayalah, aku akan membuatmu tidak bisa melihat pria lain selain aku."



"Kau gila."



"Aku memang gila, tetapi aku tidak segila Ibunda yang terobsesi menjadikanku raja dengan menumbalkan jantungmu sebagai batu sihir untuk tongkat dan mahkota kebesaranku." Balas Luvius.



Pria itu berdiri dan menepuk kepala Leia pelan sebelum keluar dari ruangan itu tanpa mengatakan apa-apa lagi. Leia hanya bisa menatap sambil berbaring. Tubuhnya masih seperti batu dan dia tidak bisa menggerakkannya dengan leluasa. Sepertinya Lucius memberikan sihir pada tubuhnya sehingga dia tidak bisa bergerak. Ia bisa saja mematahkan sihir tersebut, namun tidak bisa. Leia sudah berusaha sekuat tenaga tetapi hasilnya tetap sama.



Justru kini ia mulai merasakan napasnya sesak karena berusaha melepaskan diri dari sihir yang membelenggunya.



'Sial. Kalau terus seperti ini aku akan mati kehabisan napas!' batin Leia.



Samar-samar dia mendengar suara pedang beradu dan aura sihir yang saling berbenturan. Salah satu dari aura sihir itu adalah milik Mikail. Suaminya itu pasti sedang marah besar, menilik dari besarnya aura sihir yang dia keluarkan.



Bunyi ledakan besar membuat Leia berjengit kaget. Sepertinya perang di luar sana benar-benar tidak bisa dihindari lagi. Leia masih berusaha untuk melepaskan diri dari sihir yang mengikatnya. Namun kesadarannya juga semakin menipis karena timbal-balik dari sihir yang mengikat tubuhnya saat ini.



Kedua mata Leia nyaris menutup saat dia mendengar suara pintu yang didobrak dan kemudian sentuhan di tangannya yang membuat kesadarannya kembali dengan cepat. Napasnya pun kini menjadi normal. Ia terbatuk dan menatap siapa yang menyelamatkannya dari sihir tersebut.



"Joanne ..., Jean ..."



Joanne tersenyum dan menjentikkan jarinya. Seluruh kaca yang ada di ruangan tersebut pecah dan membuat angin yang bercampur dengan aroma darah masuk ke dalam. Ia memecahkan semua kaca tersebut agar benang-benang halus dari sihir yang mengikat Leia kembali pada pemiliknya.



"Orang itu ingin membunuhmu, Ibu," kata Joanne sambil membantu Leia duduk.



"Bagaimana keadaan di luar?" tanya Leia.



"Pasukan Kerajaan Silvista mendapat bantuan dari Gardos," kata Jean yang memperhatikan situasi dari jendela yang sudah pecah kacanya, "Mereka tidak membiarkan pasukan kita untuk menyelamatkanmu."



"Tetapi kami berhasil masuk, berkat Ridia dan Greine." Sambung Joanne.



Mata Leia memperhatikan dua harimau putih yang mengikuti kedua gadis itu dan mengangguk berterima kasih.



"Saat ini keadaan tidak memungkinkan kita untuk terus berada di sini," ujar Joanne, "Kita harus pergi, atau Ayah akan mengamuk karena tidak menemukanmu di mana-mana."



"Kalian boleh pergi lebih dulu," kata Leia, "Ada sesuatu yang ingin kupastikan sendiri dan aku tidak bisa melibatkan kalian."



"Apa maksudmu, Ibu?" tanya Jean, "Di manapun dan kapan pun kau berada, kami tidak bisa melepasmu pergi begitu saja."



"Aku tahu," Leia mengangguk, "Tapi ini tidak bisa ditangani oleh kalian berdua. Hanya aku yang bisa melakukannya."



Joanne dan Jean saling pandang, tidak mengerti apa maksud Leia. Namun gadis itu tersenyum dan menepuk kepala kedua anak itu, "Kalian tidak perlu memikirkannya. Yang kalian perlu lakukan sekarang adalah membantu Mikail. Katakan padanya aku sudah aman dan akan segera keluar dari sini."



"Kau berjanji, Bu?" tanya Joanne.



"Aku berjanji. Sekarang, pergilah!"



Joanne dan Jean mengangguk. Mereka membiarkan Leia di ruangan itu dan keluar. Leia sendiri menatap kepergian kedua anak itu dengan ekspresi lembut sebelum kemudian berubah serius. Ia menatap perang yang terjadi di bawah sana dan melangkah keluar dari ruangan.



Ia berjalan secepat mungkin, melewati koridor panjang dan kemudian sampai di sebuah pintu yang langsung dia buka. Ruangan tersebut hampir sama dengan ruangan tempanya berada sebelumnya, namun yang membedakan di sana adalah seseorang yang berdiri menatap ke luar jendela, dengan kedua tangan berada di belakang punggung.

__ADS_1



"Kukira kau akan ikut dalam perang di bawah sana." Kata Leia.



"Aku tidak terbiasa mengotori tanganku sendiri dengan darah," ujar sosok itu, "Yang kuinginkan adalah perang ini usai dan aku bisa melaksanakan rencanaku semula."



Leia menatap datar sosok yang masih memunggunginya itu, "Kau berhasil menghasut Lucius, 'kan? Tatapan matanya berbeda dari yang pernah kutahu. Dia bukan Lucius yang sama lagi."



"Apa yang kau harapkan dari seorang pria yang mulai menyadari kecantikan seorang wanita yang begitu memukau seperti dirimu?" sosok itu membalas perkataan Leia.



"Dia menatapku seolah aku adalah Lady Irina," kata Leia, "Kau memanipulasi ingatannya? Atau kau memberikan ingatan palsu bahwa aku adalah kekasihnya yang lama menghilang?"



"Teori yang menarik. Tetapi aku hanya mengatakan padanya kau adalah tiket emas agar dia terbebas dari pertunangan dengan lady menyebalkan itu."



"Kau keterlaluan."



"Itu memang sudah sifatku." Sosok itu berbalik dan menatap Leia dengan senyum menawan. Wajahnya yang tampan sedikit mirip dengan sosok maharaja di Wilayah Terlarang.



"Aku adalah iblis," sosok yang tak lain adalah Tron itu kembali berujar, "Sudah tentu aku memiliki sifat untuk memikat dan menghasut manusia untuk berbuat kesalahan, bukan?"



***



Mikail menebas satu lagi prajurit Silvista. Raut wajahnya cukup membuat orang-orang yang melihatnya bergidik ngeri. Mikail membunuh tanpa kenal ampun. Tebasan pedangnya membuat siapa pun yang melihat akan berpikir dua kali untuk mencoba menyerangnya diam-diam.



"Mikail!"



Pemuda itu menoleh, melihat Kana yang menyerang tanpa perlu menggerakkan tangannya menggunakan pedang yang ada di tangan.



Tidak, sebenarnya wanita perak itu pun menggerakkan tangannya, namun gerakan itu terlalu cepat untuk diikuti oleh mata orang awam. Kana memiliki julukan sebagai penyihir dengan pedang tak terlihatnya. Siapapun yang berurusan dengan wanita itu dan membuatnya mengeluarkan pedangnya sudah dapat dipastikan akan tewas bermandikan darah. Para prajurit yang berada dalam jangkauan pedang Kana pun sudah menjadi korban.



"Leia belum kembali," kata Kana, "Tetapi Joanne dan Jean sudah memastikan Leia aman. Dia masih berada di pondok itu."



Mikail mendengarkan laporan itu. Matanya menatap pondok yang menjadi tempat disekapnya Leia, "Perintahkan pasukan untuk menghabisi setiap prajurit Silvista. Bila kau menemukan Lucius atau siapapun yang menjadi pemimpinnya, sisakan. Biar aku yang memberikan mereka pengalaman berada di dasar neraka karena berani menculik istriku."



Kana mengangguk. Ia pun akan melakukan hal yang sama seperti Mikail. Kesampingkan bahwa Leia adalah putri kandungnya, ia sendiri memiliki alasan lain mengapa Leia disebut 'berharga'.



Ada alasan khusus mengapa Leia yang terlahir di luar Wilayah Terlarang disebut 'berharga' bahkan menjadi permata tak ternilai bagi rakyatnya.



"Kana, di belakangmu!"



Suara itu membuat Kana secepat kilat menangkis serangan yang mengarah padanya dari belakang. Ia menebas kekuatan sihir tersebut dengan pedangnya dan melihat seorang wanita dengan rambut emas dan sinar mata penuh kelicikan muncul di tengah-tengah perang.




Kana menegakkan tubuhnya, matanya menatap tajam sosok tersebut, "Sayang sekali aku tidak mati, Iris. Kau tahu aku memiliki darah yang mampu melindungiku dari ancaman bahaya di luar Wilayah Terlarang."



Ratu Iris tersenyum lagi. Wanita nomor satu di Kerajaan Silvista itu rupanya masuk ke dalam peperangan padahal sebelumnya dia mengatakan akan berada di kapal perang saja. Namun, tetap saja tidak ada yang menyadari keberadaan wanita itu selain Kana dan Mikail.



"Aku perlu menuntaskan apa yang sudah kulakukan belasan tahun lalu," kata Iris, "Membunuhmu seharusnya cukup untuk membuat priaku menjadi yang terkuat di seluruh dunia."



"Dan sayangnya hal itu tidak pernah terjadi, sebagai gantinya kau mengambil putriku!" geram Kana, "Aku tidak akan memaafkanmu karena sudah membuat hidupku dan putriku menderita!"



Ratu Iris tertawa mendengar ucapan Kana. Ia menganggap apa yang diucapkan wanita perak itu adalah hal yang lucu, "Kau benar-benar lucu, Kana Vertensia. Apa kau lupa siapa aku dulunya di matamu? Kau lupa dengan sosok yang pernah kau sebut sebagai ... saudara?"



"Kau bukan saudaraku. Namamu sudah tidak ada lagi dalam silsilah keluarga Vertensia." Ujar Kana.



Ratu Iris terkekeh, "Benarkah? Kukira aku masih bagian dari keluarga."



"Sayangnya tidak, saudariku ..., atau aku harus memanggilmu Kakak?"



"Kalian membuangku, apa aku masih pantas mendapat sebutan itu?" Iris kemudian mengangkat sebelah tangannya, "Yah ..., apapun itu, kalian semua akan mati di sini dan aku akan menjadi penguasa di tanah ini bersama pria baruku."



Mata Kana menyipit. Ia hendak membalas ucapan Iris lagi saat Mikail menepuk bahunya.



"Gunakan kepalamu dengan benar, dia hanya membual." Ujar pemuda itu.



"Aku tahu, tapi ..."



"Aku dan Leia tidak akan pernah mati di tangannya maupun di tangan pria yang menjadi pelindungnya saat ini," kata Mikail, "Kau fokus saja untuk menghabisinya, sementara aku akan menghabisi pria yang menjadi dalang semua ini."



Kana menatap Mikail sebentar, kemudian mengangguk, "Aku mengerti."



"Tidak perlu membuang semua tenagamu. Gunakan seperlunya." Mikail kembali berujar.



"Tentu saja."



Mikail mengangguk. Dia berbalik dan meninggalkan kedua wanita yang kini mulai menyerang satu sama lain.



Pertengkaran antar-saudara adalah suatu hal yang paling dihindari Mikail. Sebisa mungkin dia menghindari hal tersebut. Karena itulah dia lebih memilih diam dan mencoba melakukan segala hal yang bisa ia lakukan sendiri. Tetapi kali ini ...



"Sepertinya aku tidak bisa menghindari lagi apa yang disebut sebagai 'pertengkaran sesama saudara'," kata pemuda itu sambil menatap pondok di depannya, "Kali ini saja, aku tidak akan menyesal untuk melakukannya."

__ADS_1



***



"Apa alasanmu mengubah sifat Lucius?" tanya Leia, "Kurasa tidak ada untungnya bila kau memanipulasi pria itu."



Tron ******** senyum dan kembali menatap perang yang terjadi di bawah. Leia berjalan mendekat, namun masih menjaga jarak sekitar sepuluh langkah dari pria iblis yang tak lain adalah kakak Mikail.



"Aku membutuhkan pion lain," ujar Tron, "Pion yang dapat kugunakan agar aku bisa mendapatkan kembali apa yang sebelumnya menjadi milikku."



"Kau ingin menggulingkan kekuasan Mikail?" Leia bertanya sambil melirik Tron yang terlihat tenang.



"Kekuasaan untuk memerintah Wilayah Terlarang tidak ada dalam daftar keinginanku," jawab pria itu, "Sejak adikku lahir, dia sudah membawa tanda seorang raja, dan aku tidak bisa mengganggu gugat apa yang sudah digariskan dalam takdirnya.



"Semua makhluk hidup memiliki takdir, namun tidak selamanya takdir menjalankan kita bagaikan sebuah boneka. Dan aku sedang berusaha menentang takdirku sendiri."



Leia kini menatap Tron, "Kau ... ingin menentang takdirmu sendiri?"



"Tepat," Tron balas menatap Leia dengan senyum yang tampak lebih mengerikan dibanding sebelumnya, "Karena itu, memakan jiwa putriku sendiri termasuk bagian dari pertentanganku melawan takdir."



Leia terkesiap mendengarnya.



Apa katanya tadi?



Putrinya ... maksudnya ...



"Ya, Leia, kau adalah putriku," ujar Tron, "Hasil hubunganku dengan Kana, dan dia menyembunyikannya karena takut aku akan meninggalkannya."



"Apa?"



"Izinkan aku mengatakan satu fakta mengenai ibu kandungmu, Kana Vertensia," ujar Tron, "Sehari sebelum dia dibawa pergi dari Wilayah Terlarang untuk dipersunting pangeran Kerajaan Silvista, kami melakukannya. Hingga akhirnya dia mengandung dirimu dan tidak mengatakan apa-apa tentang penyiksaan yang dilakukan oleh kerajaan itu padanya selama kau berada di kandungannya."



"Kana adalah gadis yang keras kepala. Dia tidak akan mau menyerahkanmu kepadaku sebagai tumbal agar kekuatanku meningkat. Karena seharusnya aku memakan jiwanya, tetapi aku berbaik hati tidak memakan jiwa wanita yang kucintai, karena itu aku memilihmu sebagai makananku berikutnya."



"Mengapa kau melakukannya?" tanya Leia, "Jika aku putrimu ... mengapa kau ingin memakan jiwaku?"



Tron memiringkan kepalanya, "Kau tahu mengapa kau memiliki darah beracun di dalam tubuhmu? Selain fakta bahwa kau memiliki darah seorang Vertensi, kau juga adalah putri dari iblis terkuat kedua di Wilayah Terlarang. Darahmu berharga bagi siapapun yang berada di luar Wilayah Terlarang. Darah seorang keturunan Vertensia dan juga memiliki darah bangsawan dariku sudah tentu menjadi incaran banyak orang, bukan?"



"Dan kau ... adalah gadis yang diramalkan oleh seseorang dulu sekali sebagai pengantin Mikail, yang berarti menggulingkan posisiku sebagai satu-satunya penerus tahta."



"Apakah kau membenci Mikail?" tanya Leia lagi.



Tron memiringkan kepalanya. Tidak ada raut benci ataupun amarah di wajahnya, namun Leia bisa merasakan bahwa Tron sedang menekan aura sihirnya agar tidak lepas kendali.



"Bila aku mengatakan bahwa aku membenci kalian berdua ... apa kau akan menerimanya?"



"Itu tergantung pada Mikail," ujar Leia, "Tetapi apapun yang ada di dalam pikiranmu, seharusnya kau tahu bahwa apa yang sedang kau lakukan ini jelas adalah kesalahan."



"Aku tidak merasa pernah melakukan kesalahan," Tron mengedikkan bahu, "Lagipula jika aku bisa memakan jiwa seorang yang ditakdirkan untuk Mikail adalah suatu kepuasan tersendiri."



Kali ini Leia merasakan aura sihir Tron menguar keluar tanpa terkendali dan membuatnya menggigil. Walaupun Leia tidak memperlihatkannya, tetapi dia tahu, kekuatannya tak sebanding dengan Tron yang sepertinya sudah mulai kehilangan kendali. Mundur selangkah, tangan pria itu menariknya dan membuat Leia memekik kaget.



"Apa kau berniat kabur, putriku? Apa aku ayah yang buruk bagimu?"



"Untuk ukuran manusia, ya. Kau ayah yang buruk, Tron." Balas Leia.



"Sayang sekali ..."



Gadis itu meringis ketika merasakan cengkeraman tangan Tron pada lengannya semakin kencang dan membuat kulitnya tergores kuku pria itu.



"Cepat atau lambat, aku akan memakan jiwamu juga. Setidaknya setelah aku memakan jiwa Iris Vertensia lebih dulu."



Kening Leia berkerut mendengarnya. Iris Vertensia ...



"Apa maksudmu Ratu Iris dari Kerajaan Silvista?" tanya Leia hati-hati.



"Tentu saja. Dia adalah bibimu," Tron menyeringai, "Bibi yang tamak akan kekuasaan dan ingin membangun kerajaan dengan orang-orang kuat di dalamnya. Namun sayang sekali, seperti halnya diriku, posisinya sebagai pewaris terkuat di keluarganya bergeser pada Kana."



Mata Leia membulat mendapati fakta itu. Dia tidak pernah mengira bahwa Ratu Iris adalah bibinya. Kalau begitu putri yang sudah ditumbalkan itu juga memiliki darah separuh iblis di dalam tubuhnya ...



"Kau pasti penasaran kenapa Iris terobsesi untuk menumbalkanmu padahal dia sudah menumbalkan putrinya sendiri agar bisa mendapatkan kekuasaan di Silvista," kata Tron, "Terlihat jelas di wajahmu, Leia. Kau penasaran dengan hal itu."



"Aku tidak penasaran. Aku hanya berpikir kalian berdua memiliki sifat yang sama," balas Leia, "Kalian sama-sama tidak menghargai apa yang sudah kalian dapatkan dan masih menginginkan lebih. Kalian lebih rendah dari manusia dan bahkan iblis."



Tron terkekeh mendengar ucapan Leia. Aura sihir dari tubuhnya menguar hingga menimbulkan bayangan gelap di seluruh tubuh pria itu, "Kalau begitu, apa kau mau mencoba mencicipi rasanya neraka ke tujuh?"



"Sebelum kau melakukan itu, aku akan melemparkanmu lebih dulu ke dalam sana."



Suara itu membuat mereka berdua menoleh, bersamaan dengan terpentalnya Tron ke sisi lain ruangan dan membuat dinding di belakang punggungnya retak.


__ADS_1


Mikail masuk ke dalamruangan itu dengan raut wajah menahan amarah. Pemuda itu berdiri tepat disamping Leia dan merengkuh bahu gadis itu, "Kau ingin menjerumuskan istriku,maka aku yang akan membalasnya dua kali lipat!"



__ADS_2