
Enam tahun kemudian
Wilayah Terlarang masih terlihat sama seperti dulu, dengan beberapa perubahan termasuk pembangunan untuk kemajuan negara tersebut. Dibandingkan dengan negara ataupun kerajaan lain, Wilayah Terlarang memang memiliki cara tersendiri untuk memajukan dan memakmurkan rakyatnya.
Mikail tengah mengawasi pembangunan sebuah menara yang nantinya akan digunakan sebagai sumber tenaga angin. Pembangunan menara itu dilakukan di berbagai titik yang memiliki potensi angin yang besar. Nantinya sumber tenaga angin tersebut akan digunakan untuk mencoba temuan baru salah satu penemu di Wilayah Terlarang.
Mikail tidak berubah dari segi fisiknya. Ia masih tampak seperti remaja, namun dengan sikap tegas dan berwibawa. Ia memberikan arahan pada para pekerja dan mengikuti saran dari sang penemu mengenai lokasi pembangunan menara. Dia baru akan kembali memeriksa tempat yang lain saat Ryenie muncul di dekatnya dan memberi hormat.
"Apa terjadi sesuatu pada Leia?" tanya Mikail langsung begitu melihat peri itu.
"Yang Mulia Ratu sudah melahirkan, Yang Mulia," ujar Ryenie, "Kali ini seorang putri telah hadir dalam keluarga kerajaan."
Mendengar berita itu, Mikail mengerjapkan matanya. Ia menoleh kepada Jenderal Saldera yang menemaninya, ""Gantikan tugasku."
Jenderal Saldera mengangguk, paham dengan maksud Mikail karena mendengar pembicaraan barusan.
Pemuda itu sendiri segera menghampiri kudanya dan menuju istana secepat yang ia bisa. Para pengawal di belakangnya mengikuti. Merasakan antusiasme yang sama dengan sang raja perihal lahirnya anggota keluarga kerajaan yang baru.
Kedatangan Mikail yang tiba-tiba sempat membuat kegaduhan, namun Mikail tidak memerdulikan apapun tentang penyambutannya dan menuju ruang persalinan di mana para pelayan sibuk mondar-mandir.
"Ayah!"
__ADS_1
Mikail menoleh, tepat kearah seorang anak laki-laki yang berlari dengan Nanny—wanita yang merawat Leia dari kecil.
Anak laki-laki kecil itu memukau semua orang yang melihatnya. Dengan rambut hitam dan juga mata berwarna biru membuatnya terlihat lebih menawan. Struktur wajahnya mirip dengan Mikail. Putra pertamanya itu sendiri sudah menyita perhatian seluruh rakyat Wilayah Terlarang sejak hari ia dilahirkan.
Bukan tidak memungkinkan bahwa anak keduanya juga demikian.
"Kiryuu, sudah kukatakan untuk tidak berlarian di koridor." Tegur Mikail pada putra pertamanya.
Anak laki-laki dengan surai hitam itu memberengut begitu mendapat teguran dari sang ayah, "Aku khawatir pada Ibu. Katanya adik bayi sudah lahir? Bolehkah aku ikut melihat?"
Mikail memicingkan matanya, "Jangan lakukan hal-hal sembrono. Ibumu saat ini pasti sedang dalam masa pemulihan."
Kiryuu mengangguk kuat. Saat pelayan memberitahu bahwa adik kecilnya sudah lahir, dia sangat antusias. Dia tidak sabar mendapatkan teman baru untuk bermain dan diperhatikan. Kiryuu kecil diam-diam selalu iri dengan kedekatan kedua orangtuanya sehingga ia menginginkan seorang adik perempuan agar dia bisa bersaing dengan kedua orangtuanya. Ia mengikuti Mikail dan melihat kesibukan para pelayan yang ikut dalam proses persalinan Leia. Tidak ada yang menyadari kehadiran keduanya hingga seorang pelayan melihat mereka.
Semua aktivitas terhenti dan para pelayan segera membungkuk hormat melihat kedatangan Mikail.
"Di mana istriku?" tanya Mikail tanpa basa-basi.
Pandangan pemuda itu langsung tertuju pada ranjang berkanopi yang ada di sudut ruangan. Seorang pelayan sedang menggendong seorang bayi yang tampak tenang. Bayi itu memiliki wajah yang sangat manis. Siapapun yang melihat pasti akan langsung jatuh cinta pada bayi itu.
Sang ibu bayi terbaring lemas di atas ranjang. Pandangannya langsung tertumbuk pada Mikail. Seulas senyum tersungging di bibir Leia.
__ADS_1
Mikail menghampiri sisi tempat tidur dan mengecup kening Leia, "Kau sudah berusaha keras."
"Terima kasih, Mikail." Balas Leia dengan senyumnya.
"Ibu, apa itu adikku?" tanya Kiryuu
Leia mengangguk pelan menanggapi pertanyaan putranya, "Benar. Itu adikmu. Kau senang mendapat adik baru, bukan?"
"Sangat senang!" Kiryuu tersenyum lebar, "Dia sangat cantik. Aku ingin mengelus pipinya. Bolehkah?"
"Nanti. Adikmu baru saja lahir dan minum susu dariku," kata Leia, kemudian ia melirik pelayan yang menggendong anaknya, "Bawa dia ke kamarnya dan ..."
"Di mana orang yang melahirkanku?"
Suara itu membuat semua orang kembali terdiam, membeku di tempat. Mikail dan Leia saling pandang bingung dan kemudian menatap si bayi perempuan yang menggendong anak mereka berdua.
"Y-Yang Mulia ..., anak ini ..." pelayan itu tampak ketakutan. Sorot matanya memelas sambil sesekali melirik sang putri kecil.
Leia mengisyaratkan pelayan itu memberikan bayinya. Pelayan itu buru-buru melaksanakan perintah dan mundur setelahnya. Kali ini Leia dan Mikail bisa melihat kedua mata bayi itu membuka sepenuhnya, menampakkan sepasang bola mata berwarna keunguan yang bersinar jernih. Mata bayi itu menatap tepat ke wajah Leia.
"Apakah kau ibuku?"
__ADS_1