
Hari pernikahan Mikail dan Leia akhirnya tiba. Setiap rakyat Wilayah Terlarang menyambut suka cita pernikahan tersebut. Seluruh makhluk mistis yang tinggal di Wilayah Terlarang pun menyambut pernikahan itu dengan gembira. Hari ini istana dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menyaksikan upacara pernikahan sang pemimpin Wilayah Terlarang, juga mereka ingin melihat calon ratu mereka lebih dekat.
Sementara itu di kamar di kastil pribadinya, Leia duduk di depan meja rias sementara para pelayan meriasnya. Gaun pengantin buatan Nina yang ia kenakan membungkus tubuhnya dengan pas, menunjukkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Rambut kecokelatannya digelung dan diberi hiasan mutiara-mutiara kecil yang membuatnya makin terlihat cantik. Sepasang sarung tangan putih membungkus tangannya. Dan walaupun cuaca di luar cukup panas, gaunnya terbuat dari bahan yang dingin sehingga dia tidak kepanasan.
Ketika pelayan memasangkan tudung pengantin di kepalanya, Kana masuk. Wanita berambut perak itu mengenakan gaun berwarna biru tua dan menyanggul rambutnya. Kana tampak memukau dengan riasan yang menonjolkan matanya yang berwarna keemasan. Ia lalu mendekati Leia dan menyuruh para pelayan untuk keluar.
"Kau tampak cantik, Leia." Kana tersenyum lembut, "Gaunnya cocok utukmu."
"Terima kasih, Kana." Leia membalas senyum wanita itu, "Rasanya aku gugup sekali. Apa ini wajar, ya?"
"Sangat wajar." Kana tertawa kecil, "Kau akan menikah dengan Mikail dan setelahnya akan pindah ke istana utama."
"Aku tahu. Aku akan merindukan kastilku untuk beberapa lama." Leia mengedikkan bahu, "Tetapi menjadi ratu harus bisa menerima semua yang sudah disediakan dan menjaganya dengan baik, kan?"
"Benar sekali." Kana mengangguk, lalu mengatur kembali tudung pengantin Leia, "Kau sudah siap sekarang, ayo, kita segera ke istana."
Leia mengangguk. Dia menerima uluran tangan Kana dan bersama-sama mereka keluar dari ruangan ke luar kastil dan berangkat menuju istana menggunakan kereta yang diatur sedemikian rupa. Beberapa kereta kecil yang memuat anak-anak asuhnya dan Mikail menemani. Pandangan mata Leia tertuju pada sepasang anak perempuan kembar yang balas menatapnya dengan senyum lebar. Mata kedua anak perempuan itu berbeda satu sama lain, begitu pula warna rambut mereka.
"Joanne, Jean, kalian siap mendampingi Leia?" Tanya Kana pada kedua anak kembar itu.
Mereka berdua mengangguk bersamaan, "Kami akan memandu Ibu menuju altar, begitu juga yang lain." Jawab Joanne, anak perempuan dengan rambut perak.
Kana tersenyum mendengarnya, lalu membantu Leia untuk naik ke kereta. Dia lalu naik setelah Leia duduk di atas kereta. Dan mereka pun berangkat.
Suasana di istana sedikit heboh ketika rombongan Leia datang. Beberapa orang yang melihat rombongan itu tidak bisa tidak berdecak kagum. Kereta serba putih dengan hiasan emas dan bunga lili, serta anak-anak yang kemudian membentuk barisan di depan sang mempelai wanita. Mereka bahkan melayangkan pujian melihat gaun pengantin Leia yang begitu indah dan tudung pengantinnya yang agak tebal membuatnya tampak misterius.
Mikail yang berdiri di altar bersama seorang pendeta dan ketiga tetua tersenyum melihat kedatangan Leia. Kana mengawal di samping Leia karena ia bertindak sebagai wali dari keluarga Vertensia. Anak-anak yang berada di paling depan barisan menyebarkan kelopak bunga mawar putih dan merah di sepanjang karpet yang mengarah langsung ke altar. Begitu mereka sampai di sana, mereka menempati posisi masing-masing di sisi kanan dan kiri altar.
Kana menaiki satu tangga menuju altar, Mikail sejenak, "Kuserahkan dia padamu, Mikail." Ujar wanita itu sambil mengulurkan tangan Leia pada Mikail.
Mikail mengangguk dan menerima tangan Leia. Ditatapnya sebentar wajah Leia yang tertutup tudung pengantinnya, kemudian menoleh kearah pendeta, "Kita bisa memulai upacaranya sekarang."
Pendeta itu mengangguk. Kemudian dia memulai upacara pernikahan tersebut.
"Di sini, di hadapan Tuhan, saya akan mengambil janji kalian, menjadi saksi ikatan kalian yang akan terjalin dalam ikatan pernikahan," mulai sang pendeta, "Apa kau, Mikail Jester, bersedia menerima Leia Vertensia sebagai istrimu, pendampingmu dalam suka maupun duka hingga waktu memisahkan kalian berdua?"
"Saya, Mikail Jester, menerima Leia Vertensia sebagai istri dan pendamping saya. Saya berjanji akan selalu menyayanginya dalam suka maupun duka hingga waktu memisahkan kami." Ucap Mikail.
"Dan bagaimana denganmu, Leia apakah kau bersedia menerima Mikail sebagai suamimu, menjadi pendampingnya dalam suka maupun duka hingga waktu memisahkan kalian berdua?" Tanya pendeta lagi.
"Saya, Leia Vertensia, menerima Mikail Jester sebagai suami dan pendamping saya dan berjanji akan selalu menyayanginya dalam suka maupun duka." Jawab Leia.
"Dengan ini, kunyatakan kalian sebagai suami-istri." Ucap sang pendeta, "Silakan bertukar ciuman sebagai sepasang suami-istri yang sah!"
Mikail membuka tudung yang menutupi wajah Leia dan menatap wajah gadis yang sedang tersenyum kearahnya itu. Perlahan ia menundukkan kepalanya dan mencium bibir Leia. Bibir gadis itu terasa hangat dan lembut.
Setelahnya Mikail dan Leia dilantik menjadi raja dan ratu oleh ketiga tetua. Kemudian pesta pun digelar. Seluruh rakyat Wilayah Terlarang berpesta dan berinteraksi satu sama lain. Mikail dan Leia juga turut dalam pesta itu. Mereka membaur dengan masyarakat Wilayah Terlarang dan saling bercengkerama.
"Setelah ini kita akan pergi dengan King dan Queen ke suatu tempat," kata Mikail.
Leia yang berdiri di sebelahnya mengangguk.
Setelah beramah-tamah dengan para tamu undangan dan rakyat, Mikail dan Leia berjalan kearah pintu gerbang istana, di mana King dan Queen munggu di sana. Queen meringkik ketika melihat kedua pasangan itu datang dan langsung menghampiri mereka.
"Kita pergi sekarang, Gadis Kecil?" kata Queen.
Leia mengangguk sambil tersenyum dan naik ke punggung Queen. Mikail juga sudah duduk di punggung King, dan sedetik kemudian mereka sudah melesat terbang di angkasa. Leia tersenyum lebar merasakan angin menerpa wajahnya. King yang ditunggangi Mikail terbang di samping Queen.
"Pegangan yang erat, kalian berdua. Perjalanan ini akan panjang." Kata Queen lagi.
"Kami tahu," balas Mikail.
Mereka terbang melewati hutan sihir lebat di bawah mereka menuju pantai yang pernah dikunjungi Leia sebelumnya. Ketika mereka tiba di salah satu tempat yang agak sepi, mata Leia melihat ada sekelompok siren yang sepertinya tengah menunggu mereka.
Mikail turun dari punggung King dan menggandeng tangan Leia. Bersama-sama mereka menghampiri sekelompok siren tersebut. Salah seorang dari para siren melihat kedatangan mereka dan membungkuk hormat.
"Yang Mulia Raja dan Ratu," hormat mereka.
"Selamat pagi, kalian semua," sapa Leia. "Apa kalian menunggu kami?"
"Ya, Yang Mulia Ratu. Kami menunggu Anda berdua untuk memberikan hadiah pernikahan." Ucap siren yang sepertinya adalah pemimpin kelompok itu.
__ADS_1
"Benarkah? Aku akan menerima hadiah kalian dengan senang hati," balas Leia sambil tersenyum.
Siren itu mengangguk, kemudian mengisyaratkan anggota kelompoknya untuk bersiap. Mereka mulai melantunkan nada-nada yang indah, menyanyikan sebuah lagu yang sangat memukau. Leia tersenyum simpul. Siren dikenal hebat dalam bernyanyi. Di antara makhluk mistis laut lainnya, siren memiliki kekuatan untuk menghipnotis manusia dengan nyanyian dan membuai mereka untuk masuk ke dalam dunia bawah air. Di Wilayah Terlarang, siren tidak hanya bernyanyi untuk memikat musuh dan menghancurkan mereka di kala perang, tetapi mereka menjadi penyanyi bagi peduduk Wilayah Terlarang saat mereka mengadakan pesta dan jamuan.
Mikail mengajak Leia untuk duduk dan menikmati nyanyian para siren. Gadis itu bersandar di bahu Mikail dan menonton para siren bernyanyi untuk mereka. Nada-nada yang mereka nyanyikan begitu lembut, liriknya juga romantis. Leia menyukai ketika salah seorang siren mendekat kearah mereka dan mengambil wujud manusia untuk memberikan sebuah kotak dari kayu yang berisi dua buah gelang dari mutiara dan batu alam yang ada di dasar lautan.
"Ini adalah hadiah pernikahan dari Raja dan Ratu Lautan Dalam," ujar siren tersebut, "Gelang ini dibuat dari mutiara dan batu terbaik hanya untuk Yang Mulia Ratu Leia."
"Terima kasih," Leia menerima kotak itu dan tersenyum. Jarinya mengelus mutiara-mutiara tersebut, "Ini sangat indah."
Siren itu membungkuk hormat sebelum kembali kearah kelompoknya dan melanjutkan nyanyian.
Leia menyimpan kotak itu di dekat kakinya, "Nyanyian mereka sangat indah." Ujarnya lirih.
"Dan mereka bernyanyi untukmu," Mikail mengeratkan pelukannya.
Leia mengangguk sambil tersenyum. Mereka tetap berada di sana sampai nyaris menjelang malam. Ketika sudah waktunya, Leia berterima kasih pada para siren karena sudah menyanyikan lagu yang sangat indah.
"Kita kembali ke istana. Masih ada jamuan makan malam yang harus kita hadiri." Ujar Mikail.
"Ya, ayo kita kembali."
King dan Queen kembali membawa mereka terbang menuju istana. Diiringi nyanyian para siren, hari ini menjadi hari paling membahagiakan bagi Leia.
***
Malam sudah menjelang dan pesta masih digelar. Pesta untuk memeriahkan pernikahan raja dan ratu baru Wilayah Terlarang dilaksanakan selama beberapa malam. Para penduduk bersuka cita, dan bergaul dengan raja dan ratu mereka layaknya teman. Tidak ada perbedaan yang membuat mereka tampak berbeda dan Leia menyukainya. Suasana seperti ini sangat menyenangkan dan dia tidak pernah bosan mengobrol dengan rakyatnya yang terkadang mengeluhkan suatu hal.
Bagi Leia, itu tanda bahwa rakyat percaya padanya.
"Yang Mulia Ratu," seorang anak kecil berjalan menghampiri Leia. Wajah anak kecil itu tampak manis dan sedikit malu-malu ketika sampai di hadapan Leia.
"Ada apa, anak manis?" Tanya gadis itu sambil tersenyum.
"Kami berasal dari ras vampire dan ingin mempersembahkan ini pada Yang Mulia," anak itu memberikan sebuah kalung perak dengan bandul berbentuk bunga mawar hitam. "Mawar hitam dikenal karena warnanya yang berhubungan dengan kematian, tapi mawar ini juga memiliki arti lain. Hati kami, ras vampire akan selalu terpaut pada satu orang pemimpin, yaitu Anda dan Yang Mulia Raja. Karena arti lain dari mawar hitam adalah kesetiaan pada satu hati."
"Suatu kehormatan bagi kami, Yang Mulia Ratu," anak kecil itu tersenyum manis, "Nama saya Keenan Chrusade dan berasal dari keluarga bangsawan vampire Chrusade."
"Terima kasih, Keenan. Sampaikan rasa terima kasihku pada keluargamu dan juga ras vampire lainnya."
"Tentu, Yang Mulia." Keenan tersenyum, kemudian kembali pada kedua orangtuanya yang menunggu di salah satu sudut pesta.
Leia kembali duduk di samping Mikail yang sedang mendengarkan secara serius obrolan seputar militer di sekitar Wilayah Terlarang. Kepalanya disandarkan di bahu pemuda itu dan menarik perhatiannya.
"Ada apa? Apa kau lelah?" Tanya Mikail lembut.
"Tidak, lanjutkan pembicaraan kalian. Aku hanya ingin bersandar di bahumu." Jawab gadis itu tak kalah lembut.
Mikail tersenyum tipis. Dia tahu Leia sudah mulai mengantuk. Dikecupnya kening gadis itu dan menggendongnya dengan gaya bridal style, "Maaf, aku ingin mengantar Leia ke kamar terlebih dahulu. Jika kalian mau, berpestalah tanpaku." Katanya pada para jenderal yang berbicara padanya tadi.
"Silahkan, Yang Mulia. Semoga negeri ini segera mendapat penerusnya." Ucap salah satu jenderal dengan senyum dikulum.
Leia tertawa malu mendengarnya dan membiarkan Mikail membawanya ke kamar di lantai dua. Suara bising dari pesta nyaris tak terdengar lagi ketika mereka berada di lantai dua. Mikail membuka sebuah pintu kayu besar dengan ukiran malaikat di taman bunga dan melihat dua pelayan pribadi Leia sudah menunggu di sana.
Mikail menurunkan Leia dan menepuk kepala gadis itu, "Bergantilah, aku akan kembali sebentar lagi."
Leia mengangguk sekali lalu menghampiri kedua pelayan pribadinya, yang segera melaksanakan tugas mereka masing-masing. Ia memang meminta hanya dua pelayan untuk melayaninya bukan karena tak mau, tapi Leia beranggapan dua pelayan saja sudah cukup untuk melayani kebutuhannya sehari-hari selama di istana. Bila di luar, dia akan dikawal oleh empat orang pelayan sekaligus pengawal pribadi. Bahkan sebenarnya Leia memiliki criteria khusus terkait pelayan dan pengawal yang berada di sekitarnya, mengingat kondisinya sebagai racun hidup dan sekarang menjadi istri Mikail.
Sepuluh menit kemudian Leia sudah berganti pakaian dengan gaun tidur sutra berwarna putih lembut. Kedua pelayannya keluar dari kamar setelah Leia mengatakan tidak membutuhkan apa-apa dan Mikail kembali masuk. Pemuda itu mengajak Leia ke tempat tidur dan merebahkan kepala mereka berdua di atas bantal.
"Apa kau akan menandaiku lagi?" Tanya gadis itu tersenyum geli.
Mikail menatap gadis kecil di pelukannya dan mencubit hidung Leia dengan gemas, "Kau berniat menggodaku di malam pertama? Menandaimu waktu itu tidak sama seperti yang harus kita lakukan di malam pertama pernikahan."
"Benarkah?" mata Leia mengerjap sekali. Dia pikir tindakan 'menandai' yang dilakukan Mikail dulu sama seperti yang akan mereka lakukan pada malam pertama pernikahan. "Lalu, yang harus kita lakukan di malam pertama itu seperti apa, Mikail?"
Pemuda itu tertawa melihat kepolosan Leia. Walau Leia dijuluki Putri Racun, terkenal karena kekejamannya ketika membunuh orang lain, tetapi di balik itu semua Leia tetap gadis polos dan lembut ketika orang-orang bersikap baik dan tanpa memakai topeng kepalsuan di wajah mereka.
Leia menanti dengan sabar penjelasan dari Mikail, tetapi kemudian menjerit kecil saat Mikail menindihnya dan jarak wajah mereka berdua tak lebih dari dua senti.
__ADS_1
"Yang kulakukan waktu itu hanya 'menandai' dengan meminumkan darahku padamu agar racun di tubuhmu terikat padaku begitu pula sebaliknya," jelas Mikail, "Dan yang kita lakukan di malam pertama pernikahan adalah sesuatu yang lebih ... intim. Hanya dilakukan oleh kita berdua, tanpa campur tangan orang lain, dan setelahnya hanya keberuntungan dan kerja keras yang akan membuat kita mendapatkan bayi-bayi lucu nan menggemaskan di masa depan."
Penjelasan Mikail membuat pipi Leia memanas dengan cepat. Memikirkan apa yang akan mereka lakukan membuat gadis itu malu dan hendak menyembunyikan wajahnya namun dicegah oleh Mikail, "Jangan menyembunyikan wajahmu. Sekarang kutanya sekali lagi, apa kau mau menggodaku di malam pertama ini?"
"A-aku yang harus menggodamu lebih dulu?" Tanya Leia gugup.
"Kalau kau mau, biar aku yang menggodamu lebih dulu." Balas Mikail, kemudian mencium bibir Leia dengan lembut.
***
Pagi sudah menjelang dan Leia membuka matanya ketika merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Dia menoleh dan mendapati wajah Mikail yang sedang tertidur di belakangnya. Otak Leia mengingat kejadian semalam dan mau tidak mau membuatnya merasa malu namun juga bahagia di saat yang sama. Dengan gerakan pelan dia berbalik dan menatap wajah Mikail. Pemuda itu tidur dengan tenang, nafasnya pun terdengar teratur. Membuat Leia ingin mengerjai Mikail.
"Mikail, bangun," bisik Leia sambil menyentuh hidung Mikail.
Mata pemuda itu membuka sedikit, tapi kemudian kembali menutup dan menarik Leia lebih erat ke dalam pelukannya, "Bangunkan aku lima menit lagi. Aku masih mengantuk, Sayang." Katanya serak.
"Tapi kau perlu mengurus pekerjaanmu sebagai raja, Mikail. Bangunlah." Kata Leia lagi. "Mikail, ayo bangun. Kalau tidak para menteri dan jenderal akan lama menunggumu."
"Aku mau bangun asalkan beri aku kecupan selamat pagi," balas Mikail tanpa membuka mata.
Leia memutar bola matanya dan mengecup pipi pemuda itu, "Sekarang, bangunlah, Pangeran Tidur. Pekerjaanmu menunggu."
"Baiklah," Mikail membuka matanya dan membantu Leia bangun. Matanya sempat melihat tubuh bagian atas Leia yang hanya ditutupi selimut tebal, "Kau terlihat cantik seperti ini. Jangan pernah memperlihatkan tubuh molekmu itu pada orang lain atau aku akan mencongkel mata mereka."
"Kau pikir aku mau? Sudahlah, cepat kau bersiap. Aku akan menemanimu menemui para menteri dan jenderal. Jadwal kita berdua hari ini cukup padat."
"Baik, Ratuku,"
Mikail bangkit dari tempat tidur dan Leia memanggil pelayan yang berjaga di luar untuk membantu mereka bersiap. Dua pelayan pribadi Leia kembali masuk bersama sekitar enam pelayan lain yang mengerjakan tugas mereka masing-masing.
***
Seperti yang dikatakan Leia. Pekerjaan mereka hari ini menumpuk. Karena itu setelah sarapan, Leia dan Mikail sudah berada di ruang rapat Istana Utama, kemudian berkunjung ke beberapa wilayah elf, undine, dan makhluk-makhluk mistis lain yang ada di Wilayah Terlarang. Baru pada sore hari mereka berdua bisa pulang dan memeriksa surat-surat dan undangan yang masuk ke istana.
"Kau istirahat dulu, biar aku yang memeriksa surat-surat yang masuk," kata Mikail.
"Aku ingin melihat surat-surat dan undangan itu," balas Leia, "Tidak apa-apa, Mikail. Aku tidak lelah, kok."
Mikail tidak lagi memaksa gadis itu untuk beristirahat. Mereka berdua sama-sama menuju ruang kerja Mikail dan disambut oleh salah satu penasihat kerajaan. Pria berusia paruh baya itu membungkuk sebelum meletakkan nampan berisi sekitar tiga ikat surat dan undangan yang masuk ke istana.
"Apa ini sudah semuanya?" Tanya Mikail, penasihat kerajaan mengangguk.
Mikail dan Leia lalu duduk di balik meja kerja dan memeriksa semua surat tersebut. Sesekali Mikail memberitahu Leia tentang surat-surat yang tidak perlu dibalas atau yang tidak perlu dibaca. Leia melaksanakan ucapan pemuda itu dengan patuh, sambil memikirkan apa yang akan mereka lakukan nanti malam, Leia mengambil sebuah amplop dan tertegun melihat cap stempel lilin yang ada di sana.
"Mikail,"
Mikail mendongak dari surat yang ia baca dan melihat amplop yang disodorkan oleh istrinya. Sebuah amplop dengan segel lilin bercap tiga pedang dan bunga lili. Lambang Kerajaan Silvista.
"Kau memikirkan apa yang kupikirkan?" Tanya gadis itu, "Bacalah. Kurasa kau yang lebih tahu apa yang harus kita lakukan terhadap surat ini."
Pemuda itu mengambil amplop itu dari tangan Leia. Dibukanya amplop itu dan membaca surat yang ada di dalamnya, kemudian menghela nafas.
"Apa yang tertulis di surat itu, Mikail?" Tanya Leia lagi.
"Mereka, Kerajaan Silvista mengundang kita untuk menghadiri pesta perayaan ulang ahun kerajaan tersebut. Pestanya dilaksanakan kurang dari dua bulan lagi." Kata pemuda itu.
"Oh,"
"Bagaimana, Leia? Apa kau mau menghadiri pesta itu?" Tanya Mikail balik.
"Aku terserah padamu saja, Mikail. Kau yang menentukan karena kau adalah suamiku." Balas Leia, "Lagipula, aku yakin mereka ingin bermain-main dengan kita. Seingatku, ulang tahun kerajaan itu berlangsung di akhir musim dingin. Ini masih musim semi bulan kedua."
"Begitu ...," Mikail manggut-manggut, "Sepertinya Lucius benar-benar berniat menikahimu. Menurutmu, apa yang harus kulakukan pada pria itu jika bertemu dengannya?"
Leia hanya tersenyum manis. Dia menggenggam sebelah tangan Mikail yang ada di atas meja, "Aku tidak akan membiarkan seorang pun membuatku teralihkan darimu. Kau tahu aku mencintai siapa, Mikail. Kau tidak perlu khawatir."
Mikail tersenyum lembut mendengarnya. Dikecupnya punggung tangan Leia yang menggenggam tangannya, "Kalau begitu, kita bisa pergi ke sana dan melihat permainan apa yang ingin mereka mainkan."
Leia tertawa geli mendengarnya. Dia menatap surat undangan dari Kerajaan Silvista. Sorot matanya berubah dingin seketika. Kerajaan yang membuangnya ingin mencoba beramah-tamah lagi dengannya? Itu hanya dalam mimpi. Leia tidak akan semudah itu melupakan apa yang sudah dilakukan oleh mereka padanya dulu. Dan surat undangan ini ... ini kesempatan yang bagus. Dia bisa melihat kondisi kerajaan itu dan juga melihat raut wajah kedua orangtua yang menginginkannya mati. Apa yang akan mereka pikirkan kalau tahu dia masih hidup?
__ADS_1