
Leia membuka matanya dan merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Ia menoleh dan melihat Mikail yang sedang tertidur di belakangnya. Leia membalikkan badannya perlahan agar tidak membangunkan Mikail yang tampak sekali tertidur pulas.
Jarang sekali iblis bisa tidur dengan nyenyak.
"Leia ..."
Kedua mata Mikail membuka dan langsung bertatapan dengan mata Leia. Seulas senyum tersungging di bibir pemuda itu, "Kau tidak pergi."
"Tentu saja aku tidak akan pergi," kata Leia, "Kau terlalu khawatir."
"Aku pantas khawatir," Mikail mengeratkan pelukannya di sekeliling tubuh Leia, "Aku takut kau meninggalkanku."
Leia tersenyum tipis. Dia mengelus kepala Mikail, "Aku tidak akan melakukannya."
"Apa kau sekarang membenciku?"
"Tidak. Setelah kau memperlancar proses membuat bayi kita, bagaimana aku bisa membencimu."
Senyum Mikail makin lebar ketika mendengarnya. Dia kemudian bangun dan membantu Leia mengenakan gaun tidurnya. Ia kemudian mengecup kening Leia, "Kalau begitu, hari ini kau bisa pergi bersamaku ke wilayah timur?"
"Kapal perang Kerajaan Silvista ada di sana?"
Mikail mengangguk, "Tengah malam kemarin salah seorang peri pelayan Kana mengatakan bahwa mereka ingin kau kembali bersama mereka. Yang kutebak, mereka berusaha menjadikanmu tumbal lagi."
"Aku masih tidak mengerti mengapa Ratu Iris menumbalkan putrinya sendiri," kata Leia, "Jika benar bayi yang dikandung Ratu Iris ia tumbalkan, lalu mengapa aku juga ..."
Leia tidak mengerti jalan pikiran Ratu Iris. Entah apa yang direncanakan wanita licik itu, tetapi diam-diam Leia bersyukur bahwa Ratu Iris bukanlah ibu kandungnya. Itu artinya Lucius pun bukan saudara kandungnya. Mereka hanya kebetulan memiliki ciri fisik yang mirip seperti rambut pirang dan mata biru.
"Leia," Mikail menarik perhatian Leia dengan menyentuh surainya, "Kau mau ikut, 'kan?"
"Iya," Leia mengangguk, "Aku mau ikut."
***
Kana mengembuskan napas dan menatap simbol di lengan bagian dalam kanannya. Warna merah pada bunga mawar yang dibawa burung raven itu hanya tersisa satu kelopak. Ia menggigit bibir bawahnya, itu artinya hanya satu rahasia lagi yang masih ia simpan rapat-rapat.
Ini juga berarti Leia sudah tahu bahwa ia adalah ibu kandung gadis itu.
"Kana,"
Kana menoleh dan melihat jenderal perangnya, Jenderal Saldera memasuki tenda. Pria salamander itu membungkuk hormat sebelum memasang sikap tegak seorang prajurit.
"Apa ada perkembangan dari dua kapal perang musuh?"
"Mereka benar-benar ingin mengajak kita berperang," ujar Jenderal Saldera, "Sudah ada pasukan yang menangkap mata-mata mereka berusaha masuk ke Wilayah Terlarang."
"Mereka benar-benar mencari mati," Kana mengungkapkan persetujuannya, "Kalau begitu, bila mereka kembali menyerang, tidak perlu ragu untuk membalas. Jika yang tersisa di antara mereka kurang dari dua puluh orang, biarkan mereka mundur dan memberikan peringatan pada kerajaan itu."
"Baik, Nona Kana," kata Jenderal Saldera, "Dan ada satu hal lagi."
"Apa itu?"
"Yang Mulia Raja Mikail dan Yang Mulia Ratu Leia sudah berada di perkemahan ini."
Kana terdiam mendengarnya, "Izinkan mereka masuk."
Jenderal Saldera mengangguk, kemudian membukakan pintu tenda untuk dua orang yang menunggu di luar.
Mikail dan Leia masuk ke dalam. Pakaian Mikail tergolong biasa dengan kemeja putih, rompi biru tua, serta celana hitam. Sepatu bot hitam juga melengkapi penampilan pemuda itu. Leia sendiri memakai gaun sutra biru biasa tanpa hiasan dan menggerai rambut cokelatnya yang dihiasi satu jepit rambut mutiara putih bersih.
"Mikail, Leia," Kana tersenyum kecil. Tatapannya sempat tertahan pada Leia yang juga menatapnya lekat-lekat.
"Kulihat kau akan memulai perang di sisi timur," ujar Mikail, "Apa mereka begitu keras kepalanya?"
"Sangat," Kana mendesis, "Aku sudah memerintahkan pasukan untuk menyerang mereka tanpa ampun bila mereka tetap pada kekeras-kepalaan mereka."
"Aku sepakat untuk hal itu." Mikail mengangguk.
"Lalu, apa yang membuat kalian datang kemari?" tanya Kana.
__ADS_1
Mikail melirik Leia yang berdiri di sampingnya. Gadis itu hanya diam dan menatap Kana saja.
"Aku akan meninggalkan kalian berdua," kata Mikail, "Ada yang harus kalian bicarakan secara pribadi, bukan?"
Baik Kana maupun Leia hanya diam. Pemuda itu mengangguk pelan dan keluar dari tenda, meninggalkan kedua wanita itu sendiri.
Kana menatap kepergian Mikail dan berdeham, "Jadi, Leia ..., apa yang ingin kau bicarakan?"
"Aku ingin memastikan sesuatu," ujar Leia, "Kana ...,"
"Hm?"
"Kau ... ibuku, 'kan?"
Kana terdiam sebentar, kemudian mengangguk, "Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku adalah ibu kandungmu karena keadaan. Lagipula penampilanmu tidak terlalu mirip denganku dan lebih mirip ayahmu."
"Kau marah padaku, Leia?" tanya Kana.
"Entahlah," Leia mengedikkan bahu, "Terlalu banyak informasi yang kuterima dari Mikail. Aku bahkan tidak tahu apa aku masih marah padanya atau tidak karena merahasiakan hal sepenting ini dariku."
Kana meringis mendengarnya. Dia menatap ke arah lain ketika berbicara, "Aku memang ibu yang buruk."
"Kurasa tidak. Kau sudah merawatku sampai menjadi seperti ini saat menemukanku di dasar jurang," ujar Leia, "Jadi kurasa ... kau tidak perlu lagi merasa bersalah."
"Aku masih merasa bersalah pada ayahmu karena tidak membunuhnya saat itu juga," Kana melihat Leia tampak terkejut, "Jangan terkejut begitu, Leia. Beginilah sifat asliku. Aku licik dan kejam, seperti iblis karena darah yang mengalir di dalam tubuhku pun juga separuh iblis."
"Itu berarti aku juga," Leia tersenyum simpul, "Kita berdua benar-benar ibu dan anak, Kana."
Kana kembali tersenyum. Ia menghampiri Leia dan merentangkan tangannya sebelum memeluk gadis itu.
"Akhirnya ...," wanita berambut perak itu mendesah, "Aku bisa memelukmu selayaknya seorang ibu."
***
Mikail menunggu di luar tenda sambil mengawasi perkemahan para prajurit. Ia juga menanyakan bagaimana kondisi saat ini dan mendapat informasi bahwa kapal perang dari Kerajaan Silvista terus menyerang tanpa henti.
Mikail mengangguk mengerti, "Apa ada hal lain yang kalian temukan ketika mereka menyerang?"
"Ada, Yang Mulia," ujar Jenderal Marina bersuara, "Saya menemukan ini ketika berhasil menghabisi prajurit mereka.
Jenderal Marina mengeluarkan sesuatu dari saku pakaiannya dan memperlihatkannya pada Mikail. Pemuda itu menatap benda tersebut dengan ekspresi datar sementara yang lain tampak terkejut melihat benda itu.
"Apa kau yakin ini ada pada prajurit itu?" tanya Mikail lagi.
"Sangat yakin. Benda ini terjatuh dari prajurit itu sebelum tumbang dan diserap oleh peri tanah." Jawab Jenderal Marina.
"Yang Mulia, benda ini ..."
"Tidak perlu mengucapkannya, aku sudah tahu, Jenderal Kires," kata Mikail, "Rahasiakan benda ini dari Kana dan juga Leia. Mereka berdua tidak boleh sampai melihat benda ini."
"Dan juga, aku memberi kalian kuasa untuk melakukan apapun agar mereka pergi dari Wilayah Terlarang. Aku takkan mentolerir kegagalan, paling tidak besok pagi aku tidak ingin melihat dua kapal perang Silvista ada di perairan kita."
"Kami mengerti!"
Mikail mengangguk mendengar jawaban mereka. Ia lalu pergi ke luar perkemahan dan menatap ke kejauhan, tepat ke arah dua kapal perang yang terlihat begitu kecil dari tempatnya berdiri sekarang.
"Mereka tidak akan menyerah dengan mudah, terutama dengan benda yang diperlihatkan Marina tadi ...," Mikail mengetatkan genggaman kedua tangannya, "Mereka mencari mati dengan Negara ini."
***
Leia dan Kana sudah merasa cukup melepaskan beban mereka sebagai ibu dan anak. Dan setelah merasa lebih baik, kali ini Leia menatap Kana dengan sorot berbeda.
Ia memiliki ibu kandung, dan ibunya adalah sosok yang sangat mengagumkan. Leia tidak bisa tidak tersenyum memikirkan kenyataan itu. Ini bahkan lebih baik dibandingkan memiliki ibu sejahat Ratu Iris.
"Tetapi aku masih tidak mengerti," kata Leia, "Bila aku bukan putri kandung Ratu Iris, mengapa ia bersikeras menumbalkanku padahal dia sendiri sudah mengorbankan putrinya sendiri?"
"Aku juga tidak tahu, tetapi yang pasti aku tidak akan membiarkannya menyentuhmu," Kana mengelus surai Leia, "Kau permataku yang paling berharga. Bila ia mencoba mengambilmu dariku, akan kupastikan dia akan masuk ke dasar neraka yang paling dalam."
Leia tersenyum. Tidak hanya Mikail yang menjanjikan demikian, Kana pun begitu. Mereka berdua sama-sama menghargainya.
__ADS_1
"Sekarang, ayo kita pergi keluar dan melihat apa yang dilakukan Mikail," kata Kana, "Aku yakin dia sedang memerintah pasukanku."
Leia tertawa. Gadis itu mengikuti Kana dan memang, seperti yang dikatakan wanita itu bahwa Mikail tengah mengomando pasukan Kana. Wajah pemuda itu tampak serius memerintah pasukan yang berjumlah lebih dari lima ratus orang itu.
"Mikail," Leia menghampiri pemuda itu dan memeluk lengan Mikail, "Kau benar-benar mengambil alih pasukan Kana."
Mikail menoleh dan menepuk kepala Leia, "Ada beberapa hal yang membuatku merasa harus ikut andil dalam hal ini."
"Oh ya? Apa itu?"
"Keselamatanmu, tentu saja," Kana yang berdiri di belakang mereka menyahut, "Dari pantauan kami, mereka benar-benar serius menginginkanmu kembali ke Silvista."
Leia merapatkan bibirnya dan menatap laut di kejauhan, "Bisakah kita musnahkan saja mereka?"
"Aku memberi perintah pada pasukan bila ada dua puluh orang pasukan mereka yang berhasil selamat, aku akan membiarkan mereka pergi hidup-hidup." Ujar Kana.
"Mengapa?" tanya Leia.
"Karena aku ingin mengajak perang Ratu Iris," seulas senyum lebar tersungging di bibir wanita itu, "Dan kurasa Mikail juga setuju dengan ideku."
Leia mengalihkan pandangannya pada Mikail yang menunjukkan senyum, "Kalian berdua benar-benar kejam ..., tapi aku menyukainya."
"Itu bisa menjadi tanda bahwa kita tidak akan segan-segan untuk menghabisi siapapun yang ingin mengganggumu, ratu kami." Balas Mikail.
"Sekarang mari kita lihat ..., apa mereka akan menyerang dalam waktu dekat?"
***
Sementara di dalam salah satu kapal perang Silvista, duduk seorang wanita yang tengah mengamati daratan di kejauhan. Wanita itu adalah Ratu Iris. Ia sendiri yang memimpin kedua kapal tersebut dan memerintahkan untuk menyerang kawasan di sekitar Wilayah Terlarang. Dia ingin melihat sampai mana kerajaan itu mengawasi kedua kapal ini hingga mengambil tindakan selanjutnya.
Bisa dibilang, semua ini hanyalah jebakan yang ia buat dengan sempurna.
"Bagaimana?" seseorang bertanya di belakangnya.
"Sepertinya dugaanku benar. Mereka juga mengawasi kita dan sedang mempersiapkan serangan yang mungkin akan ditujukan kemari tak lama lagi." Ujar Ratu Iris.
"Kalau begitu apakah kau memerlukan bantuan lain?" tanya sosok itu lagi.
"Tidak perlu. Kali ini kau cukup berada di sini dan tunggu perintahku selanjutnya," Ratu Iris memberi titah.
"Baiklah, sesuai keinginanmu, My Lady."
Ratu Iris melirik sosok itu sekilas kemudian kembali menatap daratan. Beberapa saat kemudian Lucius datang. Pangeran itu terlihat gagah dengan zirah keemasan yang ia kenakan. Rambutnya yang panjang dikucir ke belakang. Melihat ibunya tengah mengamati daratan, ia menghampiri dan berdiri di samping beliau.
"Apa ada pergerakan lain dari mereka, Ibunda?"
"Tidak, seperti yang kau lihat, Pangeran Lucius," jawab Ratu Iris, "Apa kau sudah siap untuk menyerang wilayah itu?"
Pangeran Lucius mengangguk. Alasan ia mengenakan zirah saat ini adalah bagian dari rencana sang ibunda. Ia akan ikut dengan kapal yang jauh lebih kecil yang berada di belakang kedua kapal perang ini. Kapal itu sengaja disembunyikan agar tidak diketahui oleh orang-orang Wilayah Terlarang, terutama dari kaum siren dan duyung yang berada di perairan mereka. Kedua makhluk itu bisa dengan mudah mendeteksi kapal kecil tersebut andai tidak dibantu oleh seseorang.
"Aku masih tidak mengerti," kata Lucius, "Mengapa kau memerlukan Lacia sebagai tumbal."
"Ia adalah kunci agar kau bisa meraih tahtamu di Kerajaan Silvista, Pangeran Lucius," balas Ratu Iris, "Jantungnya akan menjadi permata yang akan disematkan di dalam mahkota dan juga tongkat kebesaranmu."
"Apa hal seperti itu bisa terjadi?"
"Tentu saja. Buktinya ayahmu pernah membunuh saudaranya sendiri agar mendapatkan tahtanya sebagai raja di istana."
Lucius terdiam. Sejarah keluarga Kerajaan Silvista bisa dibilang dipenuhi oleh pertumpahan darah. Ia juga tidak akan heran bila nantinya dia akan membunuh Lacia, saudarinya sendiri.
Hanya saja ... entahlah. Lucius tidak mengerti mengapa ada tradisi seperti itu di kerajaan yang kelak akan ia pimpin.
"Sudah saatnya," Ratu Iris berkata, "Sekarang pergilah ke kapal yang telah disiapkan. Bawa Lacia ke hadapanku dan selanjutnya kita akan pergi dari sini."
"Aku mengerti. Apa orang itu juga akan ikut serta?" tanya Lucius sambil melihat sosok yang berada di belakang ibunya.
Ratu Iris menoleh, "Tentu saja. Ia akan ikut karena dia hafal seluk-beluk Wilayah Terlarang," katanya, "Gardos akan memandumu menuju ke tempat Lacia karena gadis itu sudah ia tandai dengan baunya sehingga tidak sulit untuk menemukannya dengan mudah."
__ADS_1